Niat Serius Khairul Membumikan “Ija Kroeng” Made in Aceh

KAIN sarung bagi orang Aceh adalah kebutuhan. Tidak ada orang Aceh yang tidak memilikinya, bahkan dalam seserahan asoe talam pengantin selalu menyertakan kain sarung di dalamnya. Kebiasaan-kebiasaan orang Aceh inilah yang kemudian menginspirasi Khairul Fahri Yahya, atau biasa disapa Cek Loe, membuat usaha kain sarung merk “Ija Kroeng.”

Selain itu, kain sarung menjadi pakaian yang paling disukai Cek Loe sejak kecil. Menurutnya kain sarung memiliki multi fungsi sejak masa perang dulu. Jika di hutan kain sarung selain sebagai pakaian juga bisa dipergunakan untuk beribadah, dan fungsi itu tidak berubah walau dunia kian moderen.

Prinsip mendirikan usaha Ijakroeng bagi Cek Loe cukup simple, yakni melengkapi penampilan sehari-hari. Berkain sarung juga bagian penting dari fashion, sekalian fahion dalam beribadah. Tentu bukan hanya itu, “Ija Kroeng” karya Cek Loe pun dikemas menggunakan bahan katon asli 100 persen. Tujuannya supaya pengguna kain sarung merasa nyaman, baik untuk fashion maupun busana ibadah.

Tidak hanya sampai di situ, Ija Kroeng juga mengeluarkan produk dalam standar dunia, baik dari kerapian maupun warna yang dipilih. Hitam dan putih adalah warna khas Ija Kroeng. Namum juga terdapat warna spesial tergantung selera.

Cek Loe mengatakan pihaknya menyiapkan edisi khusus bagi pencinta kain sarung dalam cetakan terbatas untuk hari-hari besar Islam.

“Seperti lebaran Idul Fitri lalu kami memproduksi warna-warna polos dan bagus, seperti marun, hijau, dan abu-abu, itu hanya diperuntukan untuk hari-hari besar saja dengan warna khusus pula,” kata Khairul Fahri Yahya, pemilik usaha Ija Kroeng ketika ditemui di tempat usahanya di Residen Danu Broto No. 13, Geuce Kaye Jato, Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Produksi Ija Kroeng sebenarnya juga punya kekhususan luar biasa, bahan katon 100% didatangkan dari luar Aceh dan diproduksi di Aceh. Ukuran disiapkan untuk dewasa dan anak-anak. Cukup bagus bila menjadi fashion sarung keluarga.

Tidak sampai di situ, berbahan sama, Ija Kroeng terus mengkreasikan produk fashion lainnya. Salah satunya adalah Godi Bag (tas kain), Balum Chut (Tas Ikat), syal putih polos, dan T-Shirt (belum rilis).

Ija KroengCek Loe mengatakan Ija Kroeng akan terus bergerak memperkenalkan ornamen yang dimiliki suku-suku di Aceh. Pada tahun pertama pihaknya sedang mempersiapkan ornamen dari Gayo, mulai Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, hingga Alas, Aceh Tenggara. Ornamen itu akan ditemui di setiap produk Ija Kroeng selama setahun penuh. Setelah itu, kata dia, tahun berikutnya akan berubah dengan ornamen lainnya dari suku yang ada di Aceh.

“Kita ingin menduniakan kekakyaan ornamen di Aceh lewat kain sarung,” ujar Cek Loe.

Namun ayah satu orang anak ini mengaku masih harus terus berjuang mempersiapkan kebutuhan produksi Ija Kroeng. Terutama soal sumber daya manusia yang sulit, bahkan sakin sulitnya Cek Loe harus turun ke kampung-kampung untuk mencari tenaga penjahit. Pasalnya di balai pelatihan tidak tersedia tenaga tersebut.

“Beberapa penjahit yang sempat bergabung mengaku tidak sanggup dengan standar mutu yang diminta,” kata Cek Loe.

Walau agak sulit membangun usaha di Aceh, CV Berlindo, perusahaan milik Cek Loe yang memproduksi “Ija Kroeng” tidak menyerah. Memulai usaha di Aceh pada awal 2015, Cek Loe optimis jika “Ija Kroeng” made in Aceh dapat menembus pasar dunia. Alasannya, hasil penelusuran yang dilakukan Cek Loe membuktikan, belum ada produksi kain sarung di Indonesia yang mengutamakan kualitas, terutama kualitas bahan untuk membuat kain sarung.

“Ija Kroeng diproduksi dengan kualitas kain berdaya tahan kuat, selain itu dibuat dengan “handmade” (buatan tangan-red) yakni bukan menggunakan mesin, termasuk dalam memberi motif yang dilukis langsung dengan cat kain berkualitas dan tidak luntur,” ujar pria kelahiran 1980 silam di Geuce Kaye Jato Banda Aceh ini.

Sebagai lulusan mahasiswa Politeknik Lhokseumawe dan menyandang gelar sarjana teknik di Unsyiah tidak membuat Cek Loe takut membangun usaha “Ija Kroeng” di Aceh.

Ija Kroeng fb
@Dok Ija Kroeng

Sebelumnya Cek Loe bekerja di International Federation Redcross (IFR) di Banda Aceh pada 2007. Melalui lembaga ini dia kemudian dikirim mewakili Aceh ke Jerman di bidang mechanical engineering. Namun tidak lama Cek Loe mengundurkan diri dari IFR dan memilih magang di Bloomberg, sebuah perusahaan pengolahan limbah secara bio. Dia kemudian meneruskan pelatihan di Aqua Nostra, sebuah perusahaan yang mengelola pengolahan limbah.

Dia kemudian kembali ke Aceh tidak beberapa lama mengikuti pelatihan di Aqua Nostra. Sesampainya di Aceh, IFR meminta Cek Loe kembali bekerja. Namun kali ini Cek Loe diminta memilih bekerja di Aceh atau Jogjakarta.

Suami Rakhila Atien ini kemudian memilih bekerja di Jogjakarta meskipun tidak lama kemudian mengundurkan diri. Dia lantas kembali ke Jerman untuk beberapa lama guna melanjutkan studi.

Cek Loe mengaku sudah menekuni pembuatan kain sarung sejak 2006. Namun saat itu produksi kain sarung miliknya hanya untuk kebutuhan pribadi. Hasil olahan tangannya ini diminati oleh beberapa rekannya, termasuk Senator Aceh, Rafly Kande. Musisi ini termasuk orang pertama yang menggunakan karya Cek Loe dan menjadikannya sebagai fashion favorit hingga sekarang. Rafly turut membantu Cek Loe mempromosikan Ija Kroeng hingga ke Inggris dalam pementasan Kande Band beberapa waktu lalu.

Kini Cek Loe disibukkan mencari formula baru agar produknya dapat diterima masyarakat. Dia juga mengaku kondisi pemasaran di Aceh masih terbilang lemah lantaran Cek Loe sadar betul apabila mencari tenaga profesional untuk itu masih sangat terbatas. Dia berharap Pemerintah Aceh mau mempromosikan Ija Kroeng made in Aceh tersebut agar bisa mendunia.

Di sisi lain, Cek Loe mengaku produksi Ija Kroeng tersebut masih terbatas pada 15 helai per harinya. Jumlah produksi tersebut diakuinya masih kurang maksimal.

Sementara untuk promosi, Cek Loe turut menggunakan fasilitas gratis yang diberikan sosial media seperti Facebook, Twiteer, dan Instagram. Selain itu, dia juga memanfaatkan even-even yang digelar di Banda Aceh seperti pameran dan sebagainya. Sedangkan promosi terbuka belum dilakukan.[](bna)