Home Ekbis ‘Kebutuhan Konsumsi Aceh Bergantung Pasokan Luar Daerah’

‘Kebutuhan Konsumsi Aceh Bergantung Pasokan Luar Daerah’

90
0

BANDA ACEH – Bank Indonesia (BI) menyatakan defisit neraca perdagangan Aceh atau net impor memberikan dampak sangat signifikan. Pada triwulan II tahun 2015, impor Aceh mencapai Rp 14,6 triliun atau 52% dari total PDRB Aceh. Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar kebutuhan konsumsi rumah tangga Aceh sangat bergantung pada pasokan luar daerah.

Berdasarkan hasil kajian BI terhadap Ekonomi dan Keuangan Regional  Provinsi Aceh Triwulan II 2015 yang diperoleh portalsatu.com, Senin, 24 Agustus 2015, menyebutkan, komponen perdagangan Aceh memberikan kontribusi terbesar terhadap terkontraksinya perekonomian Aceh.

“Defisitnya neraca perdagangan Aceh atau dengan kata lain net ekspor yang negatif (net impor) ini memberikan dampak yang sangat signifikan yaitu sumbangan kontraksi sebesar -4,75%. Angka tersebut didapat dari total kontribusi ekspor dan impor yang masing-masing sebesar -1,65% dan 3,10%,” tulis BI.

BI menyebut ekspor Aceh masih mengalami kontraksi. Pertumbuhan ekspor Aceh pada periode laporan (triwulan II 2015) tercatat mengalami kontraksi -4,02% (yoy), terkontraksi lebih besar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

“Komponen ekspor sangat berpengaruh terhadap ekonomi Aceh karena memiliki pangsa yang sangat besar dalam struktur ekonomi Aceh. Pada triwulan laporan, ekspor Aceh mencapai Rp 11,5 triliun atau 41% dari total PDRB Aceh. Ekspor Aceh terdiri dari ekspor antardaerah dan luar negeri. Dalam kurun lima tahun terakhir, pangsa ekspor antar daerah Aceh rata-rata sebesar 82% dari total keseluruhan ekspor Aceh, sementara 18% sisanya merupakan ekspor luar negeri,” tulis BI.

BI menjelaskan, menurunnya ekspor Aceh berasal dari subkomponen ekpor luar negeri akibat telah berakhirnya ekspor LNG. Ekspor luar negeri Aceh mengalami kontraksi sebesar -80,47% dengan kontribusi kontraksi sebesar -0,86%. Sementara itu, ekpor antardaerah memberikan kontribusi positif dengan tumbuh 7,17%(yoy) dan kontribusi 2,87%.

Berdasarkan data ekspor hasil rilis BPS Aceh, menurunnya ekspor luar negeri Aceh tercermin dari tidak adanya ekspor migas pada triwulan laporan. Sementara itu, ekspor nonmigas Aceh mengalami peningkatan. Ekspor nonmigas Aceh terbesar disumbang komoditas bahan bakar mineral dan bahan kimia anorganik dengan tujuan ekspor utama India, Vietnam dan Thailand.

“Peningkatan ekspor antardaerah Aceh diperkirakan dipicu oleh peningkatan ekspor gabah Aceh ke Medan. Produksi padi pada triwulan laporan meningkat karena kondisi cuaca yang lebih baik dibandingkan tahun lalu dan juga adanya upaya khusus (UPSUS) terhadap ketahanan pangan terutama komoditi padi di tahun 2015 yang  meningkatkan luas panen dan produksi padi tahun 2015,” tulis BI.

Di sisi lain, menurut BI, impor Aceh mengalami pertumbuhan sebesar 5,97% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,70%(yoy) dan juga triwulan II tahun 2014 yang sebesar 3,83%. Dengan pertumbuhan yang cukup besar tersebut, impor Aceh memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Aceh yaitu sebesar -3,10%.

“Pada triwulan laporan, impor Aceh mencapai Rp 14,6 triliun atau 52% dari total PDRB Aceh. Nilai tersebut merupakan nilai terbesar setelah konsumsi rumah tangga yang nilainya mencapai Rp 15,9 triliun atau 57% dari total PDRB. Hal ini mencerminkan besarnya kebutuhan konsumsi rumah tangga Aceh yang dipenuhi dari luar Aceh,” tulis BI.

Impor Aceh terdiri dari impor antardaerah dan impor luar negeri. Dalam kurun lima tahun terakhir, pangsa impor antar daerah Aceh rata-rata sebesar 97% dari total keseluruhan impor Aceh, sementara 3% sisanya merupakan impor luar negeri.

“Meningkatnya impor Aceh disebabkan oleh meningkatnya impor antardaerah. Impor antar daerah yang memiliki pangsa 97% dari total impor tumbuh sebesar 7,27%(yoy) dan memberikan kontribusi kontraksi sebesar -3,90% terhadap kontraksinya ekonomi Aceh pada triwulan laporan. Sementara itu, impor luar negeri Aceh justru mengalami penurunan yang signifikan yang kontraksi sebesar -28,88%(yoy),” tulis BI.

BI melanjutkan, berdasarkan data impor hasil rilis BPS Aceh, impor luar negeri Aceh pada triwulan laporan tercatat sebesar 32,7 Juta USD atau setara kurang lebih Rp 245,6 miliar. Nilai tersebut sebenarnya mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan triwulan II 2014.

Sumber peningkatan impor luar negeri tersebut berasal dari impor nonmigas. Impor nonmigas didominasi komoditas mesin peralatan listrik dan pesawat mekanis serta perabot-alat penerangan yang sebagian besar di impor dari negara Finlandia,” .

“Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada triwulan laporan tercatat mengalami defisit sebesar -19,8 Juta USD atau setara -Rp 257 miliar. Kondisi neraca perdagangan Aceh pada triwulan laporan tercatat lebih baik jika dibandingkan dengan defisit triwulan lalu yang mencapai -Rp 342 miliar,” tulis BI lagi.

BI memperkirakan ekspor Aceh pada triwulan III 2015 masih akan mengalami kontraksi, namun sedikit mengalami perbaikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.  Berhentinya penjualan gas yang memiliki share yang cukup besar dalam ekspor luar negeri Aceh diproyeksikan tetap akan menyebabkan perlambatan ekspor.

“Selain itu tren penurunan harga komoditas dunia, khususnya komoditas pertanian unggulan seperti kelapa sawit, coklat dan kopi dapat menurunkan minat pengusaha untuk melakukan produksi,” tulis BI.

Menurut BI, perbaikan kinerja ekspor diperkirakan akan masih dipicu peningkatan ekspor gabah Aceh ke Sumatera Utara seperti pada triwulan II 2015. Sementara itu, pertumbuhan impor barang dan jasa antarprovinsi diperkirakan meningkat pada triwulan III 2015 seiring dengan peningkatan konsumsi rumah tangga yang mengandalkan pemenuhan pasokannya dari luar Aceh.

“Aktivitas pembangunan pembangkit listrik geothermal dan bendungan Keureuto juga berpotensi meningkatkan impor luar negeri, terutama terkait dengan pengadaan mesin-mesin/pesawat mekanik dan mesin/peralatan listrik. Sepanjang bulan Januari s.d Juni 2015 telah dilakukan impor kedua kelompok komoditi tersebut sebesar USD 65,8 juta dan masih belum menunjukan indikasi penurunan pada triwulan III-2015. Pada periode yang sama tahun sebelumnya tidak terdapat impor barang pada kedua kelompok komoditas tersebut,” tulis BI.

Baca juga:

Pertumbuhan Ekonomi Aceh Melambat Apa Saja Pemicunya

Foto ilustrasi.