Jika Kurs Rupiah Sentuh 15 Ribu, Industri Makanan Kolaps

Jakarta – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia, Adhi S. Lukman, berharap nilai tukar rupiah tak terus melemah. Sebab nilai 1 dolar AS setara Rp 15 ribu ditaksir Adhi sebagai titik kritis bagi industri makanan dalam negeri.

“Sekarang saja (dengan kurs Rp 14.680) sudah ada peningkatan harga,” ujar Adhie di Jakarta, Jumat, 25 September 2015. Melemahnya rupiah, tutur Adhi, mengakibatkan naiknya beaya dalam membeli bahan baku.

Adhi mengatakan banyaknya impor yang dilakukan para pengusaha makanan saat ini dilakukan semata-mata tak ada pasokan bahan baku yang bagus di dalam negeri. Bahan baku seperti gula, susu, terigu, hingga konsentrat buah-buahan harus didatangkan dari luar negeri karena berkualitas bagus dan ketersediaan barang yang lebih baik.

Dampak pelemahan rupiah, kata Adhi, sudah cukup terasa berdampak terhadap margin keuntungan para pengusaha makanan. Para pengusaha dihadapkan dilema menaikkan harga tapi kehilangan pelanggan dan meningkatkan inflasi, atau mempertahankan harga dengan menekan operasional.

“Yang sampai tutup saya belum dengar, tapi penguragan jam kerja sudah marak terjadi,” kata Adhi. Begitu pula dengan pemecatan karyawan meskipun dalam skala yang tergolong kecil.

Adhi mengatakan beban semakin dirasakan dengan tuntutan buruh yang meminta kenaikkan upah sebesar 22 persen bulan Mei lalu. “Kami sangat keberatan, para serikat pekerja kami minta jangan memikirkan diri sendiri,” katanya.

Deputi Bidang Pengembangan Iklim Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal, Farah Indriani mengatakan soal formula UMR sudah akan selesai. Kementerian Tenaga Kerja sedang merumuskan formula finalnya setelah mendapat masukan semua pihak yang berwajib. “Penetepannya formulanya lima tahun sekali,” kata Farah. Meskipun formula ditetapkan lima tahun sekali, Farah berucap jika setiap tahunnya upah riil yang diterima pekerja¬† akan mengalami kenaikkan berdasarkan tingkat inflasi dan kebutuhan hidup masyarakat yang tak terprediksi setiap tahunnya. | sumber: tempo