Home Ekbis Apa Permasalahan Pertanian Aceh? Ini Kata Dekan FP Unsyiah

Apa Permasalahan Pertanian Aceh? Ini Kata Dekan FP Unsyiah

209
0

BANDA ACEH – Dekan Fakultas Pertanian Unsyiah, Dr. Ir. Agussabti, M.Si., menilai permasalahan pertanian di Aceh saat ini terletak pada sistem irigasi yang belum mumpuni.

“Sekarang masalah pertanian itu ada pada irigasi. Saat hujan tidak ada, sawah kering, saat musim penghujan datang, sawah malah banjir karena sistem irigasi yang belum mumpuni,” ujar Agussabti menjawab portalsatu.com di kantornya, Rabu, 2 September 2015.

Agussabti menyebut persoalan fundamental dalam membangun pertanian di Aceh adalah dengan memperbaiki irigasi. “Berbicara masalah pertanian tidak terlepas dari permasalahan air, dalam hal ini sistem irigasi, dan itu sangat fundamental untuk membangun sistem pertanian yang modern,” katanya.

Menurut Agussabti, tanpa irigasi yang memadai maka sulit membangun pertanian yang modern. Sebab irigasi menjadi masalah pokok dalam dunia pertanian. Itu sebabnya, ia menyarankan pemerintah membangun sistem irigasi yang benar-benar memadai untuk mengairi lahan pertanian yang ada di Aceh.

“Pak gubernur harus punya program irigasi prioritas. Kita tidak mungkin sekaligus membangun, namun harus ada prioritas, dan itu menjadi program jangka panjang Pemerintah Aceh,” ujar Agussabti.

Selain itu, menurut Agussabti, benih pertanian juga menjadi hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan sistem pertanian di Aceh agar lebih berkembang.

“Setelah ada air dan benih yang berkualitas, baru kita berbicara tentang teknologi, baik itu teknologi pertanian maupun teknologi pengolahan hasil pertanian,” kata Agussabti.

Ia berharap pemerintah memperhatikan segala aspek untuk memajukan pertanian yang ada di Aceh.

Modern dan Merata

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) dalam hasil kajiannya tentang Ekonomi dan Keuangan Provinsi Aceh Triwulan III-2014 lalu, telah merekomendasikan kepada Pemerintah Aceh agar “Pembangunan sistem irigasi yang terpadu dan modern serta merata di seluruh daerah produksi pertanian hendaknya perlu diprioritaskan untuk membuat kinerja sektor pertanian menjadi lebih baik”.

Dalam hasil kajian tersebut yang dipublikasikan lewat laman resmi BI, disebutkan kinerja sektor pertanian (triwulan III-2014) menunjukkan perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari 4,1% (yoy) menjadi 2,2% (yoy).

“Cukup besarnya perlambatan sektor pertanian ini merupakan satu penyebab melambatnya ekonomi Aceh. Hal tersebut terjadi karena share yang dimiliki oleh sektor pertanian terhadap ekonomi Aceh cukup tinggi yaitu 27%, dengan andil pertumbuhan kedua terbesar terhadap ekonomi Aceh yaitu 0,59%. Namun, kontribusi tersebut turun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,1%,” tulis BI.

BI menyebut kekeringan di Aceh pada tahun 2014 menjadi faktor utama melambatnya kinerja sektor pertanian, terutama pertanian bahan pangan. BI mengakui saat itu (triwulan III-2014), pemerintah daerah Provinsi Aceh sudah melakukan langkah anitisipasi terhadap kekeringan dengan mengoptimalkan pompa-poma air.

Namun, menurut BI, infrastruktur yang tersedia di Provinsi Aceh belum optimal dalam memitigasi lahan produksi yang mengalami kekeringan. Itu sebabnya, BI merekomendasikan, “Pembangunan sistem irigasi yang terpadu dan modern serta merata di seluruh daerah produksi pertanian hendaknya perlu diprioritaskan untuk membuat kinerja sektor pertanian menjadi lebih baik”.

Masih menurut BI, seiring pertumbuhan sektor pertanian yang tumbuh melambat, kredit pertanian yang disalurkan perbankan juga mengalami perlambatan. Pada triwulan III-2014, kredit sektor pertanian berada pada posisi Rp1,3 triliun. Kredit sektor pertanian pada triwulan itu tercatat mengalami perlambatan dari 63% (yoy) pada triwulan lalu menjadi 53% (yoy) pada triwulan laporan.

“Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia Provinsi Aceh juga menunjukkan bahwa realisasi sektor pertanian juga tercatat mengalami perlambatan yang sejalan dengan pertumbuhan sektor pertanian (PDRB Sektor Pertanian) pada triwulan III-2014,” tulis BI.

Pertanyaannya kemudian, apakah Pemerintah Aceh mengevaluasi persoalan sektor pertanian tahun 2014 tersebut agar kinerja tahun 2015 ini lebih baik?[]

Laporan M. Fajarli Iqbal

Foto ilustrasi.

Baca juga:

Gubernur Aceh Ajak Semua Pihak Majukan Pertanian Aceh

 Enam Imbauan Zaini Abdullah tentang Program Ketahanan Pangan