Sikap Danrem dan “Tamparan” untuk Pemimpin Kita

KUNJUNGAN Danrem Lilawangsa ke rumah keluarga Nurdin Ismail alias Din Minimi patut mendapat pujian. Model dan gaya seperti ini terasa lebih menyejukkan. TNI memang dilatih untuk bertempur. Namun sebagai sesama anak bangsa, pertempuran adalah pilihan paling akhir.

Pasca terbunuhnya dua TNI di Nisam, aparat penegak hukum terus mencari kelompok Din Minimi. Kelompok ini dituding menjadi pelaku pembunuhan dua TNI. Belakangan kelompok ini bergeser ke Pidie. Dalam tiga kali kontak tembak di Pidie, empat tewas, dan beberapa orang ditangkap.

Kejadian itu menimbulkan reaksi publik yang beragam, umumnya menyesalkan tindakan penindakan yang memakan korban. Rakyat trauma dengan letusan senjata. Kita semua membenci kematian di ujung bedil. Banyak pihak menyarankan ditempuh jalan persuasif. Mereka memang kriminal. Tapi kejadian ini tidaklah berdiri sendiri. Pelaku adalah mantan kombatan. Artinya mereka bagian konflik masa lalu. Sehingga pendekatan kekerasan diyakini banyak pihak tidak akan menyelesaikan masalah pokok. Malah akan menjadi pemicu konflik baru dengan membesarnya kelompok ini.

Pengalaman masa lalu membuktikan bahwa kekerasan tidak menyelesaikan persoalan Aceh. Maka kita harapkan langkah Danrem Lilawangsa kemarin merupakan policy pendekatan TNI atau polisi dalam menangani persoalan seperti ini.

Langkah ini dipastikan akan mendatangkan simpati. Proses persuasif akan lebih kecil efeknya. Akan menghindari jatuh korban dan dendam. Persoalan pelanggaran hukum menjadi domainnya pengadilan. TNI dan polisi jelas lebih dewasa. Lebih cerdas dan lebih mumpuni mengelola kondisi. Kelompok Din Minimi hanya rakyat kecil yang kecewa. Kecewa dan kalah bersaing menghadapi kenyataan hidup. Itu kemudian membuat mereka memilih jalan pintas dan melanggar hukum. Tapi menumpas kelompok ini dengan senjata bukan solusi yang tepat.

Polisi bisa memperkecil ruang gerak mereka. Menekan dan membujuk mereka dengan berbagai cara. Apa yang sudah ditempuh Danrem harus terus dipupuk dan diupayakan sukses.

Kita yakin Din Minimi cs juga menyadari senjata bukan jalan penyelesaian masalah. Mereka harus sadar bahwa sikap mereka malah merusak damai. Mereka hanya menjadi kuda tunggangan orang lain yang ingin Aceh kembali konflik. Tanpa sadar kelompok ini telah dimanfaatkan banyak pihak untuk mencari popularitas.

Dalam kasus Din Minimi ternyata TNI lebih cepat sadar. Kemudian mereka memilih jalan persuasif. Anehnya Pemerintah Aceh menganggap perlawanan Din Minimi sebagai angin lalu. Tidak kita dengar langkah apapun dari Pemerintah Aceh untuk turut membujuk Din Minimi. Minimal mencari jalan tengah. Ini benar-benar menyedihkan.

Kita patut bertanya ada apa dengan Pemerintah Aceh. Kenapa diam seribu bahasa. Kenapa tidak melihat ini sebagai bentuk kritik atas kegagalan mengayomi.

Tindakan Danrem mengunjungi dan membujuk din Minimi seharusnya menjadi tamparan bagi Pemerintah Aceh. Begitu juga bagi Bupati Aceh Timur dan Aceh Utara. Tempat dimana kelompok ini berwara wiri selama ini. Apakah kalau sudah salah jalan langsung dibuang dari kelompok. Tidak dianggap teman lagi?

Mereka memang membangkang, tapi ingat mereka juga teman masa lalu. Lagipula mereka warga Aceh. Seharusnya langkah seperti Danrem sejak jauh hari dilakukan pemimpin Aceh. Namun anehnya sampai sekarang itu tidak ada.

Kunjungan yang dilakukan Danrem seharusnya dianggap sebagai teguran. Semoga besok langkah Danrem segera diikuti para pemimpin lain di Aceh. Ingat, mereka adalah “anak” yang tersesat. Sangat mungkin dibawa kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Jangan berpangku tangan. Jangan terus dininabobokkan oleh kekuasaan. Ada tugas wajib atas kuasa itu. Kursi empuk itu untuk memudahkan berpikir dan berbuat, bukan malah membuai tidur panjang dan mimpi-mimpi di surga.[]