Home Editorial Selamatkan Anak Aceh!

Selamatkan Anak Aceh!

117
0

KEMARIN, para aktivis Aceh mengadakan aksi damai untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap kasus-kasus yang menimpa anak. Hal ini dilakukan para aktivis setelah maraknya kasus kekerasan yang menimpa anak-anak Aceh di 2015 ini.

Teranyar pada September ada tiga kasus yang melibatkan anak-anak sebagai korban atau pun pelaku kekerasan. Selain itu ada juga kasus pemerkosaan terhadap anak yang dilakukan oleh orang dewasa. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan di tengah Aceh memberlakukan syariat Islam.

Beberapa pakar menyebutkan kasus kekerasan terhadap anak disebabkan oleh kurang pedulinya lingkungan pada masa pertumbuhan sang anak. Hal ini menyebabkan anak-anak berada di luar kontrol pihak keluarga. Selain itu, warga yang ada di lingkungan tertentu juga mulai tidak memperdulikan sikap seseorang anak. Apakah dia cenderung pendiam, kerap menangis atau melakukan hal-hal yang tidak wajar dilakukan oleh seorang anak.

Ada beberapa faktor penentu yang menyebabkan kasus kekerasan terhadap anak di Aceh meningkat. Salah satunya adalah pesatnya tayangan-tayangan hiburan ataupun siaran televisi yang tidak mendidik. Selain itu, faktor lainnya yang menyebabkan kasus kekerasan terhadap anak meningkat adalah faktor kesenjangan sosial penduduk.

Tingginya angka pengangguran dan tingginya biaya hidup terkadang membuat sikap seorang ayah atau ibu menjadi tidak terkontrol. Akibatnya marak diberitakan di media soal perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, pembunuhan dan perampokan yang turut mempengaruhi psikologis seorang anak di lingkungan tersebut.

Hal ini diperparah dengan perilaku orang-orang dewasa yang menganggur, dan memberikan contoh buruk bagi kehidupan seorang anak. Di sisi lain, lembaga pendidikan juga menjadi faktor penentu membentuk karakter seorang anak atau turut mengontrol kehidupan sosial si anak selama proses belajar mengajar.

Namun ada juga para pihak yang menyebutkan saat ini banyak guru yang tidak lagi memerhatikan hal itu. Guru sekarang disebut-sebut lebih disibukkan dengan target jam belajar untuk mengejar sertifikasi. Akibatnya guru tidak lagi menjadi pendidik seperti pada periode-periode sebelumnya.

Sudah saatnya Pemerintah Aceh menyikapi meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak ini dengan serius. Gubernur Aceh maupun wakilnya harus menjadikan hal ini sebagai prioritas kerja mereka di paruh akhir kepemimpinannya.

Anak Aceh adalah masa depan daerah Aceh. Menyelamatkan mereka adalah sebuah kewajiban bagi kita semua. Namun dalam hal ini, Pemerintah Aceh memiliki tanggung jawab besar untuk menjawab hal tersebut. Jika tidak, Aceh akan kehilangan satu generasi di masa mendatang.[]