Home Editorial Peran Legislasi Dewan Mandul?

Peran Legislasi Dewan Mandul?

126
0

FUNGSI legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) tahun ini dinilai lemah jika tidak ingin dikatakan mandul. Dari 13 rancangan qanun yang masuk program legislasi, baru satu yang terselesaikan. Selain itu, dari 13 Raqan tersebut, baru tiga raqan yang telah melewati proses Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU), yaitu Raqan Tata Cara Ganti Kerugian Aceh, Raqan tentang Badan Penguatan Perdamaian Aceh dan Raqan BPRS Mustaqim.

Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar masyarakat kepada DPR Aceh. Apakah dewan yang diutus oleh masing-masing partai politik tersebut tidak mampu berperan sesuai tugas dan fungsi jabatan yang diemban? Apakah partai harus mengocok kembali peran mereka di DPRA? Yang terpenting adalah apakah rakyat salah telah memilih mereka?

Padahal Badan Legislasi kali ini “dihuni” oleh orang-orang yang dianggap kompeten dari fraksi masing-masing di DPRA. Sebut saja di antaranya Iskandar Usman Al Farlaky, Buhari Selian, M Saleh, Kautsar M. Yus, Adam Mukhlis, Djasmi Has, dan Bardan Sahidi. Selain mereka ada juga Abdullah Saleh, yang pada periode sebelumnya menjabat Ketua Badan Legislasi DPR Aceh. Badan Legislasi juga diperkuat oleh Muhammad Tanwier Mahdi, yang notabenenya adalah mantan Wakil Ketua DPR Aceh pengganti antar waktu periode lalu.

Lantas kenapa fungsi legislasi begitu lemah? Sementara perjalanan waktu saat ini sudah hampir meninggalkan September. Apakah para dewan kita yang terhormat sudah pasrah dengan kondisi seperti ini? Apalagi jika berpijak pada kasus-kasus sebelumnya, dimana produk legislasi yang dilahirkan menjadi qanun menuai polemik dan belum terselesaikan hingga sekarang.

Sebut saja di antaranya seperti Qanun Bendera dan Lambang Aceh yang masih terganjal di pusat. Belum lagi Qanun Lembaga Wali Nanggroe yang kemudian diprotes oleh banyak pihak. Hal yang paling fatal adalah saat qanun-qanun tersebut tidak digubris oleh eksekutif. Tentu akhirnya berimbas pada marwah legislatif yang konon katanya memiliki fungsi legislasi.

Publik Aceh tentu sangat berharap para dewan untuk serius bekerja di parlemen. Selain di bidang pengawasan, mereka juga harus sigap dengan fungsi-fungsi dewan lainnya yang bisa mensejahterakan rakyat Aceh. Kita berharap banyak pada mereka atas nama kemakmuran Aceh. Termasuk di antaranya memproduksi qanun sebagai pedoman hukum dalam pelaksanaan pemerintahan di nanggroe ini.

Semoga saja momentum Idul Adha mampu membawa para dewan untuk berkorban lebih banyak memikirkan hal ini. Sehingga apa yang dinikmati oleh mereka sekarang tidak sia-sia dan mendatangkan mudharat baginya kelak. Tentu saja lagu Iwan Fals soal wakil rakyat itu pernah didengar oleh mereka yang saat ini ada di parlemen. Pak, kami memilih Anda karena percaya saudara adalah orang-orang hebat. Bukan kumpulan teman-teman dekat, apalagi sanak family.

Pak, kami memilih Anda bukan karena lotere. Kami memilih Anda bukan untuk diam di parlemen, tapi untuk berbicara, bekerja dan berbuat untuk Aceh. Jika hanya karena tuntutan ini kemudian Anda mengeluh, Anda menceritakan padatnya agenda kerja di parlemen, dan kemudian Anda meminta kami selaku rakyat untuk mengerti, ini adalah aneh. Karena pada dasarnya Anda dipilih ke parlemen itu untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Bukan untuk tidur waktu sidang soal rakyat.

Maaf pak dewan, hari ini kami mengingatkan Anda. Mengingatkan fungsi Anda dipilih untuk di parlemen. Meski pun kami mengingatkan Anda di hari yang penuh hikmah ini. Hari dimana para muslim merayakan kemenangan pengorbanan Ibrahim dan Ismail terhadap keimanannya pada Allah. Karena kami ingin Anda selamat dunia akhirat. Supaya Anda tidak terus menerus dihujat oleh rakyat. Selamat Idul Adha pak Dewan. Semoga momen hari Qurban kali ini bisa memacu adrenalin Anda untuk berfikir dan berbuat bagaimana agar peran legislasi itu berjalan.[]