Home Editorial Pemimpin Tiong

Pemimpin Tiong

91
0

TIONG adalah nama jenis burung dalam bahasa Aceh. Dalam bahasa Indonesia disebut beo. Burung ini sangat lincah dan disukai sebagai hewan peliharaan. Kelebihan burung ini adalah pandai meniru suara manusia, atau suara-suara lain yang sering didengarnya. Jika berada di alam bebas tidak diketahui apakah tiong juga bisa meniru suara di sekitarnya.

Ada hal yang menarik, masyarakat Aceh tempo dulu sering menjadikan tiong sebagai rujukan bertanya jika ada yang kehilangan. Jak keumalon istilahnya. Banyak yang percaya dan menerjemahkan apa yang diucapkan si tiong.

Di zaman modern saat ini tiong sangat langka. Celakanya, sifat tiong yang suka meniru kemudian bermetamorfosa dalam tingkah laku manusia, khususnya para pemimpin. Suka meniru, suka berkicau. Bahkan karena cuma peniru laksana tiong, kicauannya meusipak bola lam gon droe.

Pemimpin gaya ini memang suka hidup dalam sangkar. Bukan sangkar biasa tapi sangkar emas. Sehari-harinya kebanyakan hanya memasang kuping; menghafal dan berkicau. Tidak ada pertimbangan dan hasil olah pikir. Para pengeja alias pembisik bertugas ‘mengajari’ tiong sesukanya. Mereka selalu nampak sayang, hormat, dan penuh takzim kepada sang tiong. Sama persis dengan perilaku pemelihara tiong sebenarnya.

Para pemimpin gaya tiong ini berotak burung. Alias hanya berfungsi untuk mendeteksi ancaman kepada dirinya, keluarganya dan kelompoknya. Mereka sekadar punya naluri lapar dan mencari makan. Segala kicauannya hanya sekadar menunjukkan dirinya untuk jadi pusat perhatian. Bersuara merdu untuk menarik perhatian walau cuma peh tem soh.

Maka jangan heran jika kicauannya kontradiktif antara satu dengan lainnya. Langkahnya tidak bisa diterka tapi sangat kentara kalau sedang ngambek. Perlu ilmu khusus untuk membuat tiong terus berkicau merdu. Pemimpin gaya tiong benar-benar menjadikan dirinya pusat perhatian. Bukan karena dia populer dan disenangi, tapi lebih karena pengurusnya ingin menjadikan sang tiong sebagai media untuk mencari keuntungan.

Mereka rajin memandikan tiong, bahkan kadang dengan cara menjilati bulu tiong agar tampak terus mengkilap. Untuk menyilaukan para pemburu rente dan para pengabdi setan kekuasaan.

Jika mau jujur sebenarnya bukanlah tiong yang menjadi penguasanya. Pemilik sangkar dan pengurusnyalah yang menjadi penentu kuasa sang tiong. Sayangnya sang pemimpin ya memang tiong. Sehingga tidak sadar sedang dimanfaatkan.

Semoga kita dijauhkan dari pemimpin model ini. Bisa saja pemimpin model ini bertebaran di sekitar kita. Kita hanya bisa berdoa agar Allah membebaskan tiong dari sangkar kekuasaan dan mengembalikannya ke habitat aslinya. Amin.[]