Home Editorial Pemimpin Peniru Penghibur

Pemimpin Peniru Penghibur

51
0

KEMARIN sejumlah korban kapal karam tiba di Aceh. Seperti kejadian tahun lalu, kemudian pemerintah Aceh membuat sedikit seremoni sebagai bentuk perhatian dan menyantuni keluarga korban dengan sedikit uang.

Sepertinya pemerintah sekedar peniru atau pengulang. Tentu saja ini layak kita apresiasikan.

Pemerintah hadir saat begini. Korban dapat perhatian. Tentu saja sedikit mengurangi beban mereka. Mengobati sedih mereka dan Ini cara paling mudah bagi pemerintah menunjukan mereka ada.

Namun apakah cara begini menyelasaikn masalah? Ingat bahwa korban menyambung nyawa ke sana dari pada mati kelaparan disini. Artinya untuk tidak terulang kasus ini maka harus dicarikan jalan keluar.

Selama ini ke sana (Malaysia) untuk sebuah harapan perbaikan hidup. Pemimpin di sini gagal memberi mereka sekedar harapan. Gagal membagi mereka sedikit uang walau anggaran berlimpah. Itu konsep pencegahan. Artinya bila di sini mereka bisa cari makan, pasti mereka tidak mengambil resiko besar untuk sekedar “pok seumpom” di Malaysia.

Makanya tugas pemerintahlah membuka lapangan kerja. Mendorong terjadinya pemanfaatan sumber daya. Bagaimana lahan yang maha luas di sini bisa menghasilkan. Ini hanya satu contoh. Selanjut bagi mereka yang sudah di sana, terutama yang berstatus ilegal. Mereka juga butuh peran pemerintah Aceh. Misalnya memfasilitasi mereka pulang ke Aceh setiap tahun menjelang puasa atau Idul Adha.

Caranya mereka difasiltasi membuat paspor sekali jalan. Biasanya di sebut Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Mereka didata dan didaftarkan ke Kedubes dan otoritas di sana.

Artinya mereka yang mau pulang tidak perlu mengambil resiko yang amat besar. Mereka bisa pulang lewat jalur resmi dan terjamin. Pasti para warga Aceh disana menyambut baik. Dua cara di atas memang menjadi tanggungjawab pemerintah sehingga apa yang dilakukan hari ini hanya sekedar menghibur korban dan cari muka kepada publik. Bukan menyelesaikan masalah pada sumbernya.

Nah terhadap dua hal ini, apakah pemerintah Aceh tidak tahu? Lupa? Atau tidak peduli?  para pejabat, pembisik dan orang orang dekat gubernur tidak tahu atau tidak paham? Atau mereka buta dan tuli. Ataukah mereka takut mengurusi rakyat kecil akan mengurangi rejeki mereka. Apakah hati dan perasaan mereka telah mati? Karena terlalu banyak makan hak hak orang lain. Tidakkah mereka tahu tugas mereka melayani dan bukan melayani sang tuannya saja, tapi melayani rakyat. Untuk itu mereka diberi banyak fasilitas dan gaji besar. Mengapa juga mereka tidak punya rasa iba. Tidak sedikit berempati atas penderitaan rakyat. Tidakkah mereka bisa berandai, bagaimana bila korban itu adalah keluarganya.

Kasihan sekali gubernur kita, kembali ke negerinya, merebut kuasa dengan alasan demi melanjutkan perjuangan dalam bentuk lain. Sayangnya beliau dinina-bobokkan oleh orang yang beliau pilih untuk membantu. Membantu mewujudkam cita cita beliau dan melanjutkan perjuangan beliau. Tapi apa daya publik hari ini kecewa. Gubernur sedang berada di menara gading. Para pembantunya menutup matanya. Menyumpal kupingnya sehingga beliau cuma simbol.

Kasihan sekali Aceh punya pemimpin yang bukan memimpin, tapi malah dipimpin oleh si pembusuk di sekelilingnya.

Kasihan sekali gubernur menghancurkan sendiri reputasinya. Manghancurkan nama baiknya. Hanya karena mengikuti hawa nafsu para pembisiknya.

Kasihan sekali Aceh ditakdirkan terus dizalimi oleh orang yang di beri mandat.

Kasihan sekali Aceh ditakdirkan punya pejabat tanpa nurani. Ya Allah ampuni saudara kami, selamatkan mereka. Beri mereka syurga. Tunjuki pemimpin kami jalan yang benar. Jauhkanlah para penjilat busuk dari sekeliling pemimpin kami. Amin. [] (mal)