Home Editorial Merdeka dari Narkoba, Mungkinkah?

Merdeka dari Narkoba, Mungkinkah?

49
0

KODIM 0104/Aceh Timur kemarin mendeklarasikan kemerdekaan dari narkoba yang dinyatakan dalam apel gabungan bersama sejumlah komunitas, OKP dan Ormas di Lapangan Merdeka Langsa. Hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70 dinilai momentum yang tepat untuk menyatakan kemerdekaan dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Seruan serupa sudah sering kita dengar. Bukan hanya ajakan dari kalangan TNI saja, tetapi juga dari pemerintah dan segenap unsur masyarakat. Segala komponen bangsa memang harus bersatu padu dalam menumpas musuh bernama narkoba. Peredaran barang haram itu telah menyusup ke seluruh pembuluh darah bangsa ini. Melumpuhkan organ-organ vital bangsa ini yaitu generasi bangsa. Indonesia kini darurat narkoba!

Tak hanya TNI dan pemerintah saja yang sudah geram dengan semakin bergentayangannya hantu narkoba. Masyarakat juga, seperti halnya yang ditunjukkan oleh warga Gampong Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Sejak beberapa bulan lalu warga Ujong Pacu menggalakkan Gampong Anti Narkoba. Mungkin inilah satu-satunya gampong di Aceh yang berani melawan narkoba terang-terangan.

Di desa mereka terpasang spanduk berisikan kesiapan warga dalam memberantas narkoba sampai ke akar-akarnya. Bukan hanya itu, warga juga melakukan razia dan telah menangkap beberapa warga setempat dan warga luar desa mereka yang diduga memakai dan memiliki narkoba untuk diserahkan pada pihak berwajib. Mereka juga rutin melakukan pembinaan terhadap para remaja dan pemuda setempat.

‘Perang’ terbuka pada narkoba yang dilakukan warga ternyata membuat sekelompok orang resah. Dua teror bom melanda Gampong Ujong Pacu dalam dua bulan terakhir. Bom kedua yang meletus pada pekan lalu menyebabkan delapan orang luka-luka. Satu di antaranya terpaksa dirawat inap.

Apa yang dilakukan warga Ujong Pacu mendapat apresiasi dari anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil. Nasir menyarankan agar pihak terkait seperti Badan Narkotika Provinsi maupun Badan Narkotika Kota Lhokseumawe menjadikan Ujong Pacu sebagai desa percontohan dalam melawan narkoba. Jika ini berhasil bukan tidak mungkin menjadi contoh positif bagi Indonesia dalam memberantas narkoba.

Bukan hanya itu, keterlibatan lembaga negara akan membuat rakyat merasakan hadirnya negara bersama mereka. Ini sesuai dengan poin pertama Nawa Cita Presiden yang berbunyi “menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara”.

Namun, apa yang dipaparkan Nasir berikutnya membuat kita menjadi pesimis. Apakah bangsa ini benar-benar bisa merdeka dari narkoba, seperti yang diinginkan semua pihak? Pasalnya, narkoba justru bisa beredar dengan leluasa karena diduga mendapat dukungan dari oknum aparat penegak hukum. Para mafia narkoba sengaja mendekati oknum-oknum yang dinilai punya kekuatan dan bisa mereka beli.

Apapun ceritanya bisnis narkoba sangatlah menggiurkan bagi sebagian orang. Tidak peduli pada nasib buruk yang akan menimpa bangsa ini, yang penting bagi mereka adalah setoran alias peng tamong.[]