Home Editorial Jualan Kecap Ekonomi Aceh

Jualan Kecap Ekonomi Aceh

63
0

SECARA tradisional tidak sulit melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Dari tingkat daya beli dan ketersediaan lapangan kerja sudah menjadi indikator.

Untuk hal ini tidak membutuhkan sebuah analisis yang rumit. Tidak membutuhkan pakar yang amat khusus.  Aceh, misalnya, apakah daya beli meningkat? Apakah rakyat dengan mudah mendapat pekerjaan?

Dari sini saja dapat dengan mudah kita tarik kesimpulan. Bahwa ekonomi kita sedang sakit. Tingkat ketergantungan ekonomi kita pada belanja pemerintah amatlah tinggi. Ini bukti swasta belum berperan dominan dalam ekonomi Aceh.

Bila begini seharusnya pemerintah di Aceh lebih kreatif. Artinya karena ekonomi digerakkan oleh APBA/APBK maka program pemerintah harus tepat guna, cepat dan kreatif.

Kenyataan sekarang banyak hasil pembangunan tidak berguna. Pencairan APBA selalu lambat. Ini bukti tidak tepat guna. Bappeda selaku ‘juru masak’ seharusnya meramu bumbu agar lebih nikmat.

Kenyataannya Bappeda Aceh, “lage sipo pantee alee, tapoh han saket ta caret han male“.  Kritikan dan makian tidak mengubah mereka. ‘Bos-nya’ Bappeda Aceh kayak penjual obat kaki lima. “Jualan obat kurap tapi badan berpanu.”

Sepanjang beberapa tahun ini beliau lebih banyak “jualan kecap” daripada kerja yang tepat sasaran. APBA seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi. Menjadi sumber kehidupan berkesinambungan bagi Aceh.

Bappeda tidak menjadi peracik yang bagus bagi kebangkitan ekonomi Aceh via APBA. Salah siapa sehingga begini? Kesalahan utama adalah pemimpin pemerintahan Aceh. Gubernur dalam hal ini gagal paham tentang buruknya kinerja ‘kokinya’. Akhirnya semua kegagalan ini tertimpa kepada Gubernur.

Padahal para pembantu beliau yang gagal. Disisa pemerintahan ini seharusnya para pejabatnya jangan lagi sibuk ‘jual kecap’. Para kepala SKPA jarus banyak banyak introspeksi. Banyak berpikir. Banyak melihat dengan mata telanjang. Jangan pakai ‘kacamata kuda’.

Jangan percaya laporan yang baik-baik. Takutnya cuma laporan ‘asal bapak senang’. Jangan senang yang baik-baik. Tapi senangilah tantangan dan banyak  tafakkur sebab jabatan itu amanah. Ada tanggung jawab disana. Jangan sibuk mengumpulkan pundi-pundi haram. Sibuklah memenuhi janji dan sumpah jabatan.

Pemerintah menunjuk Anda untuk menyelesaikan urusan rakyat. Bukan menyelesaikan urusan keluarga atau kroni. Sehingga ke depan rakyat terlayani. Mereka terangkat dari jurang kemiskinan sehingga suatu hari ekonomi Aceh moncer alias maju. Jadi tak perlu lagi pejabat pemerintah ‘jualan kecap’ untuk sekadar penyedap pendengaran. Tapi sebenarnya perut rakyat keroncongan.

Malulah kepada rakyat yang sudah membayar mahal untuk membantu mereka. Tapi malah Anda menganiaya pemilik uang dan kedaulatan. Menipu rakyat berarti Anda menipu kerabat, sahabat dan negeri Anda.[]