Harmaini Hanyut, di Mana para Pemimpin?

KABAR duka datang dengan ditemukannya Harmaini dalam kondisi yang sudah tak bernyawa pagi kemarin. Sehari sebelumnya remaja laki-laki yang masih berusia 16 tahun itu hanyut di Krueng Paya Rabo, Kecamatan Sawang, Aceh Utara.

Merujuk pada ketentuan negara, Harmaini masih tergolong anak di bawah umur. Di pagi naas itu Harmaini harusnya ada di ruang kelas untuk belajar. Tapi saat anak-anak lain seusianya sedang bergelut dengan pelajaran, Harmaini justru sedang bergelut melawan arus sungai. Karena tak bisa berenang ia pun terseret arus dan tenggelam.

Kita tak perlu bertanya lagi untuk apa Harmaini nekat mengarungi sungai. Jawabannya sudah jelas karena faktor ekonomi. Ia harus bekerja sebagai buruh pengangkut pasir.

Kita memang tidak bisa mengutuk takdir. Tapi kematian Harmaini mengusik ruang batin kita. Betapa kemiskinan sudah semakin brutalnya dan siap memangsa satu persatu generasi muda kita. Meugrak jaroe meu ek gigoe, bisa jadi kiasan yang tepat untuk menamsilkan kejadian ini. Harmaini sudah mengorbankan masa remajanya. Ia sudah melupakan haknya untuk mendapatkan pendidikan. Kemiskinan telah merenggut cita-citanya. Ia harus meugrak jaroe (bekerja) agar meu ek gigoe (makan). Namun Allah telah mengambilnya.

Harmaini bisa jadi potret dari sekian anak-anak di negeri ini yang berasal dari keluarga miskin. Mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara namun terabaikan. Pemimpin banyak yang lupa, bahwa tak hanya perut sendiri yang harus dikenyangkan.

Di bumoe Seuramoe Meukkah ini, anak-anak seperti Harmaini bertebar di setiap sudut. Anggaran Aceh yang melimpah ternyata tidak mampu menyelamatkan mereka dari bayangan masa depan yang suram. Yang mereka butuhkan tentunya bukan hanya biaya sekolah saja, tapi juga biaya hidup. Kebutuhan hidup yang mengancam membuat banyak anak putus sekolah. Mereka kemudian bekerja demi meringankan beban orang tua.

Selama belum ada kesejahteraan masyarakat, anak terlantar dan putus sekolah akan terus bertambah. Di sinilah peran pemerintah menjadi lebih dominan. Pemerintah harus memeras otak menciptakan program pengentasan kemiskinan.

Aceh Utara, tempat Harmaini berasal merupakan daerah dengan anggaran terbesar di Aceh. Ironisnya berdasarkan data statistik justru daerah ini punya penduduk miskin paling banyak. Bagaimana kita menghubungikan antara anggaran yang melimpah ruah dengan penduduk miskin terbesar?

Kabupaten Aceh Utara sejak reformasi telah dipimpin oleh enam bupati. Jika diakumulasi sejak 2001 hingga 2008, APBK daerah ini lebih dari Rp 20 triliun. Tapi mereka yang berada di tampuk pimpinan semuanya orang ‘cacat’ yang tak mampu mendengar, tak mampu bicara dan tak mampu melihat. Kemiskinan absolut terjadi di sini. Bahkan di sepanjang ladang gas penghasil devisa negara. Anggaran berlimpah menjadi alat foya-foya bagi pemimpin.

Kematian Harmaini harusnya menjadi tamparan bagi pemimpin. Tapi apakah mereka tersentuh dan prihatin? Apakah mereka merasa berduka dan merasa bersalah? Mungkin iya, jika ada yang bertanya. Tapi kita ragu itu jawaban yang muncul dari lubuk hati mereka. Sebab apa yang mereka katakan tidak pernah ada tindak lanjut.

Lihatlah perilaku bupatinya dalam pekan-pekan terakhir ini. Pascamuncul banyak kritikan yang ditayangkan media ini, ia bukannya mengevaluasi kinerja pemerintahannya. Tapi malah mengumpulkan penjilat untuk meng-counter kritikan. Miris!

Mari sejenak kita memutar ulang memori masa tiga tahun lalu, mengenang janji-janji kampanye di pilkada 2012. Hampir di setiap panggung orasi di hadapan rakyat apa yang paling mereka teriakkan? Pasti tentang janji pengentasan kemiskinan dan janji kesejahteraan. Ini memang jualan dan bualan paling asyik. Tapi lihatlah hari ini, apakah janji-janji itu sudah ditepati?

Ketika dilantik mereka juga disumpah dengan kitab suci di atas kepala. Mengikat diri atas nama Tuhan. Tapi apakah mereka menepatinya? Jangankan kepada rakyat sebagai manusia, kepada Tuhan yang disembah saja mereka berbohong. Kesejahteraan yang dijanjikan hanya untuk segelintir saja, seperti keluarga dan kroninya.

Tak peduli pada halal haram asalkan pundi-pundi rupiah terus mengalir ke kantong pribadi. Sementara Harmaini dan anak-anak miskin lainnya harus berjuang tanpa memedulikan rasa takut demi sesuai nasi. Rakyat hanya bisa menyaksikan pemimpin tidur di kasur empuk berbulu angsa di dalam istananya yang megah.

Harmaini adalah potret anak negeri atas abainya kehadiran negara. Abai dalam memberikan kenyamanan dari sisi ekonomi. Kemiskinan rakyat justru menjadi ‘sumber daya’ yang bisa dieksploitasi untuk mendapatkan anggaran. Untuk proyek.

Bocah malang itu telah mensahihkan betapa sebenarnya pemerintah tidak pernah hadir untuk kaum papa. Rakyat miskin seolah tak punya hak untuk mendapatkan secuil perhatian. Mereka tak berhak meminta belas kasih dan perhatian negara.

Di Aceh masalah ini tentu lebih miris lagi. Mereka yang miskin dan hidup di kampung-kampung adalah korban utama saat konflik dulu. Mereka juga yang menjadi tameng bagi kaum pejuang. Tapi setelah damai mereka tetap menjadi tumbal. Jika dulu mereka menjadi ‘bemper’, kini mereka adalah ‘hidangan’ untuk orang yang pernah mereka lindungi. Kemiskinan menjadi komoditas untuk dijual pada punggawa istana, di gedung-gedung eksekutif dan legislatif.

Selamat jalan Harmaini. Engkau adalah pahlawan bagi keluargamu. Martil bagi mereka yang ‘sekasta’ denganmu. Engkau telah membuka mata dan mengetuk hati kami. Kepergianmu semoga menjadi vaksin bagi wabah tuli, bisu dan butanya para pemimpin. Bersaksilah di depan Tuhan tentang kezaliman para pemimpin. Agar mereka, keluarga dan kroninya mendapat pengadilan Tuhan. Atas perilaku mereka yang mencuri hak-hakmu dan saudaramu.[]

Foto: proses pencarian Harmaini yang dilakukan warga dan pihak terkait pada Rabu, 29 Juli 2015.

Leave a Reply