Home Editorial Narkoba di Tengah Budaya Permisif

Narkoba di Tengah Budaya Permisif

43
0

SEMUA sepakat jika penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) akan menimbulkan masalah sosial yang besar. Narkoba umumnya menyasar kelompok usia produktif. Upaya masif pemerintah dalam memberantas narkoba belum juga mampu menghapus barang haram ini.

Modus penyelundupan narkoba dan pemasarannya kian canggih. Saat ini narkoba yang paling disukai adalah shabu-shabu. Ini jenis narkoba anorganisk. Berbeda dengan ganja, shabu konon jauh lebih dahsyat sensasinya. Fantasi yang ditimbulkan oleh narkoba jenis ini sangatlah dahsyat. Begitu juga dengan efek samping lainnya. Seperti umumnya para pengguna narkoba yang cenderung bersikap negatif, shabu dengan cepat mempengaruhi penggunanya. Tidak memerlukan waktu lama untuk mengarahkan penggunanya melakukan tindakan negatif yang merugikan diri sendiri dan lingkungannya.

Belum lama ini kita baru saja disuguhkan kejadian meledaknya bom rakitan di Desa Ujong Pacu, Muara Satu, Lhokseumawe. Para pengedar narkoba sudah sangat berani berhadadapan dengan masyarakat. Mereka sudah berkonfrontasi langsung dengan warga. Ini bukti bahwa mereka sudah sangat berani menunjukkan dirinya. Bisa saja para pengedar itu juga pengguna, sehingga keberanian mereka lebih karena pengaruh zat adiktif yang telah mengalir dalam darah mereka.

Namun kita harus melihatnya sebagai sebuah upaya perlawanan warga terhadap narkoba. Sebab, tanpa peran masyarakat pemberantasan narkoba menjadi sangat sulit. Aparatur negara seperti polisi atau anggota Badan Narkotika Nasional jelas tidak mampu memberantas tanpa peran warga. Selama ini keberhasilan aparatur negara menangkap pengedar atau bandar tak lain karena informasi dari masyarakat.

Masalahnya saat ini warga yang peduli soal ini sangat sedikit. Di samping para banda yang juga punya kekuatan menakut-nakuti warga. Para bandar dan pengedar terkesan menjadi orang kuat di tengah lemahnya keberanian warga. Nah, apa yang dilakukan warga Ujong Pacu patut diacungi jempol. Mereka mampu mendeteksi para pengedar narkoba. Mereka mampu menindak dan mempersempit ruang gerak para penyalahguna narkoba di desanya.

Ini seharusnya dicontoh warga desa lain di segenap penjuru negeri ini. Mengharap pemberantasan narkoba hanya kepada aparat negara jelas tidak mungkin selesai. Mereka punya personel terbatas. Punya daya penetrasi atau akses informasi yang juga terbatas. Masyarakat sendiri jelas dengan mudah mendeteksi lingkungan mereka. Karena umumnya para bandar muda dikenali warga. Mereka ini umumnya punya uang berlimpah walau pekerjaannya cenderung tidak jelas. Pengedar apa lagi, dengan mudah dikenali.

Namun selama ini warga cenderung cuek. Bilapun ada anggota keluarganya yang mengonsumsi narkoba cenderung menutupi. Tak lain karena faktor malu dan faktor lainnya. Hampir semua kasus narkoba di Indonesia umumnya terkait dengan Aceh. Pelakunya umumnya warga Aceh. Para bandar bahkan umumnya tinggal di kampung-kampung. Mereka lebih muda dikenal dari perilaku sosialnya.

Kita berharap apa yang sudah dicetus warga Ujong Pacu menjadi model gerakan masyarakat dalam membasmi narkoba. Gerakan menolak narkoba harus lahir dari masyarakat itu sendiri. Sehingga para bandar dan pengedar menjadi dari masyarakat. Jangan beri mereka ruang hidup di lingkungan kita. Sesungguhnya mereka perusak yang luar biasa. Melebihi dari yang lain. Bukan ingin membenarkan perilaku salah yang lain, tapi bila kita urutkan maka narkoba adalah raja diraja atas semua perilaku negatif lainnya. Sebab narkoba menyebabkan pemakainya melakukan semua kejahatan. Penggunanya menjadi manusia tanpa batas untuk melakukan kejahatan lain.

Horor di Ujong Pacu seperti kisah dalam film-film. Kondisi ini membuka mata kita tentang pentingnya penguatan masyarakat untuk melawan bromocorah narkoba. Upaya masyarakat di sana harus didukung dan dijadikan model. Agar di tempat lain di negeri ini, para bandar dan pengedar tidak lagi leluasa berada di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat tidak boleh apatis. Masyarakat harus menjadi ujung tombak dalam memerangi narkoba.

Aparat negara harus masif memberi pengetahuan tentang bahaya narkoba kepada masyarakat. Mengajarkan masyarakat cara mendeteksi dini gejala para pemakai narkoba. Ciri-ciri bandar dan pengedar. Yang pasti dukungan aparat akan menyebabkan masyarakat berani bertindak. Tentu saja tindakan yang tidak menimbulkan pelanggaran hukum lainnya.

Aceh darurat narkoba. Maka mari segenap komponen bergerak untuk menghapus status ini. Jangan sampai ke depan kita dipimpin oleh para penikmat narkoba. Ayo selamatkan Aceh. Selamatkan generasi muda kita dari humbalang keganasan narkoba. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Ayo bergerak!!!