Home Editorial Bodohkah Kita?

Bodohkah Kita?

99
0

perusahaan kontraktor minyak dan gas atau migas PT Ratu Prabu Energi Tbk. Foto Dok Ratu Prabu Energi

Bak meurak dicong bak bak murong dicot,bungong jeumpa got Kalhueh tak tanda, rab jeut keu atra ka dijok le gob,soe yang han meuhob ci cuba kira.

September ini menjadi bulan yang suram bagi Aceh. Sejumlah sumur “seureudok” gas di Aceh dialihkan kepemilikan tanpa keterlibatan pemerintah Aceh.

Selanjutnya konsensi blok Pase yang telah sepenuhnya di serahkan oleh pemerintah pusat ke Aceh, juga diperjual belikan oleh kontraktor bagi hasil juga tanpa kita tahu.

Dalam kasus Aceh mengalami kisah yang amat tragis. Pasalnya sejak di serahkan Aceh belum dapat apapun. Tapi sang kontraktor sudah memperdagangkan konsensi itu. Triangle sudah menjual milik kita. Artinya kemarin ketika pemerintah Aceh menyerahkan kelola sumur itu ke mereka. Nyatanya mereka bukan mengelolanya,tapi malah menjual.

Betapa tragisnya nasib kita. Ketika harta yang kita miliki,belum kita nikmati. Malah orang lain sudah mendapat untung dengan menjual punya kita. Apakah ini salah?

Dalam perdagangan modren ini tidak salah. Tapi ini benar benar menunjukkan kebodohan yang nyata bagi kita. Bagaimana mungkin harta kita malah diperjualbelikan oleh orang lain. Sedangkan kita menyerahkan ke mereka untuk diusahakan serta bukan untuk diperjual belikan. Dimanakah kesalahan kita sehingga bisa” dicok suep” oleh orang lain. Beberapa tahun lalu Triangle sudah melobi pemerintah Aceh untuk mendapat konsensi mengurus sumur gas tua itu. Awalnya isu yang beredar Pemerintah Aceh menolak perusahaan miskin ini. Belakangan juga beredar kabar bahwa mereka melakukan lobi via keluarga gubernur. Akhirnya beberapa bulan lalu mereka mendapatkan “boh manok mirah” itu.

Namun sejak konsensi mereka terima mereka gagal menyetor kewajiban pemerintah pusat. Sehingga operasional perusahaan inipun senin kamis. Belakangan malah mereka menerbitkan pengumuman via bursa Australia bahwa mereka menjual konsensi itu ke perusahaan Indonesia. Acehpun “dipasoe lam si token bulut.”

Bodohkah kita? Kalau iya maka perlu kita kerucutkan. Siapa sebenarnya yang amat bodoh? Maka patut di duga pemegang otoritas pemerintah Aceh lah yang perlu persalahkan. Kebodohan mereka mempermalukan dan menghambat kemajuan Aceh. Merusak masa depan Aceh dalam bisnis belum tentu anda pemilik barang yang menikmati hasil terbesar. Bisa saja barang anda tapi keuntungan terbesar milik orang lain. Itu lebih bagaimana anda mengelola harta itu. Sehingga tidak dikadali orang.

Dalam sejumlah kasus “harta” Aceh yang masih gagal dimanfaatkan, kesalahan terbesar berada ditangan Gubernur. Beliau lebih mendengar keluarganya, kroninya daripada orang orang profesional. Padahal orang yang beliau dengar tak lebih para pemburu rente kelas “agen keubeu”. Hanya sekadar cari makan. Mereka lupa diri. Benar benar memanfaatkan keluguan gubernur. Yang paling kita kasihani gubernur kita. Sekian banyak kegagalan tidak juga menyadarkan beliau.

Seharusnya mereka yang sudah mengarahkan beliau menghancurkan reputasi beliau,”kajeut geureutok u krueng” agar Aceh tidak terus dirugikan serta lebih baik membayar mahal para profesional. Daripada kasus begini terus berulang. Dalam bisnis migas bukan bisnis lembu atau kambing. Itu bisnis yang rumit. Sedikit longgar negosiasi maka kita langsung masuk jurang. Maka jangan dengar penasehat sekelas pekerja tukang baut di perusahaan Migas walaupun itu keluarga beliau. []