Agustus dan Bendera

AGUSTUS di Aceh adalah bulan penuh gejolak. Sepanjang 70 tahun bangsa ini merdeka, sepanjang itu pula Agustus menjadi bulan paling tidak nyaman di Aceh. Pasca perdamaian bulan Agustus menjadi tambah penuh riak. Persoalan utama riak Agustus selalu menyangkut urusan bendera.

Sebelum damai soal bendera dan Agustus menjadi sangat sakral. Pada masa itu kekerasan yang terjadi terkait bendera sangat tinggi. Siapa saja bisa jadi korban persoalan bendera yang tidak sesuai keinginan pihak-pihak yang bertikai. Di masa damai bendera kembali menjadi soal. Yang membedakan adalah ranah domainnya.

Kalau dulu pendekatan yang dilakukan lebih ke pendekatan keamanan dan militeristik. Sekarang pendekatannya politis. Polemik soal bendera Bintang Bulan terus mengharu biru. Sejak disahkan oleh DPR Aceh pada 2013, nasib bendera Bulan Bintang jadi bola liar. Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Aceh terkesan membiarkan ini mengambang.

Agustus ini kedua bendera itu membuat sejarah. Dalam waktu hampir bersamaan keduanya berkibar dalam kisah yang tidak umum. Sang saka Merah Putih dikibarkan di Cot Khan Gunung Halimun, Pidie. Mengapa di sini?

Gunung di pedalaman Pidie ini punya sejarah. Di sinilah Gerakan Aceh Merdeka diproklamirkan oleh Hasan Tiro. Namun sejak itu tempat ini tidak pernah lagi digunakan. Hanya dicatat dalam kisah-kisaha GAM. Namun entah apa yang mendasari TNI bersusah payah mengibarkan bendera Merah Putih di lokasi ini.

Secara psikologis bagi masyarakat yang mulai hidup normal tindakan ini malah tidak baik. Tindakan ini malah seperti mengangkat batang terendam. Memunculkan kembali kenangan dan memori masa silam yang mulai redup. Alasan TNI atau apa yang disampaikan mantan petinggi GAM Zakaria Saman, terasa hanya sebagai pembenaran.

Kita tidak bisa memahami logika TNI membangkitkan romantisme kisah perlawanan itu. Sejarah bisa dilupakan kalau tidak dikenang. Munculnya tindakan ini seperti mencongkel luka yang sudah berparut. Banyak yang melihat kasus ini sebagai upaya merusak suasana batin masyarakat yang mulai melupakan konflik.

Selanjutnya pengibaran bendera Bulan Bintang di depan Islamic Centre Lhokseumawe oleh anggota DPRK. Para anggota dewan dari Partai Aceh asal Aceh Utara dan Lhokseumawe menjadi pelaku. Mereka menganggap pengibaran itu sudah sah. Karena Pemerintah Pusat tidak pernah bersikap resmi sesuai undang-undang dalam menyatakan perihal sah atau tidak sahnya bendera Bintang Bulan.

Peristiwa ini membuat situasi politik di Aceh panas. Kedua kasus terkait bendera ini menghiasi Agustus kali ini. Agustus bagi Aceh adalah bulan luka penuh duka. Kita berharap hidup di negeri kesatuan ini sama dengan wilyah lain di negeri ini. Jangan lagi melihat Aceh dengan paradigma lama yang penuh kecurigaan.

Lihat saja pengibaran Merah Putih di seluruh Aceh. Apakah bisa dibuktikan nasionalisme orang Aceh? Sementara di wilayah lain tidak ada pengibaran bendera semasif itu. Rasa cinta atau sayang itu tidak bisa dipaksakan, harus datang dengan kerelaan. Kedua pihak ‘pendewa’ bendera harus memperbaiki cara pandang mereka.

Siapapun butuh simbol sebagai identitas. Tapi ada ruang damai yang harus dijaga, damai membutuhkan komitmen. Simbol atau bendera bukanlah agama yang harus takluk atas logika apapun. Sebagai manusia beragama para pihak harus sadar, ada hal lain yang diperintahkan yang wajib dijunjung yaitu persaudaraan. Persaudaraan dan nilai penghormatan sesama manusia lebih mendekatkan manusia ke syurga, bukan karena lembaran bendera.

Jangan lagi menggunakan bendera untuk memancing kekeruhan. Memancing pecahnya persatuan dan kesatuan. Maka jangan jadikan bendera sebagai iman atau agama. Karena bisa berujung pada kesyirikan yang menyeret seseorang ke neraka.[]

Foto: bendera Merah Putih raksasa di Cot Khan Gunung Halimun Pidie @istimewa

Leave a Reply