Dua Tokoh Muslim Aceh Ini Beda Pendapat Soal Menyentuh Anjing

DUA tokoh muslim Aceh punya pandangan berbeda berbeda terkait hukum bersentuhan dengan anjing. Mereka adalah Ketua Nahdhatul Ulama (NU) Aceh Teungku Faisal Aly dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Profesor Yusni Saby. 

Keduanya dimintai pendapat secara terpisah oleh ATJEHPOST.Co terkait hukum bersentuhan dengan anjing dalam Islam.

Menurut Teungku Faisal Ali, anjing tergolong najis yang memberatkan. Katanya, yang dimaksud dengan najis adalah seluruh tubuh hewan tersebut, termasuk bulu.

“Bersentuhan dengan anjing harus disamak dan harus menggunakan tanah. Jadi tak benar yang bernajis pada anjing itu hanya air liur. Itu perlu diluruskan,” kata pria yang akrab disapa Lem Faisal ini.

Pendapat ini, kata Lem Faisal, berdasarkan Mazhab Syafi'ie yang berlaku secara kebanyakan di Aceh.

Namun, kata Lem Faisal, ada juga salah satu mazhab yang tidak menganggap seluruh tubuh anjing adalah najis. “Tetapi mazhab itu juga mengharuskan disamak jika bersentuhan dengan anjing,” katanya.

Pandangan berbeda disampaikan oleh Profesor Yusni Sabi. Menurutnya, yang dianggap najis dari anjing adalah cairan yang keluar dari mulut dan hidung serta berhubungan dengan tempat makan minum manusia.

“Itu baru bernajis. Kalau anjing itu menjilat tanaman biasa saja. Kenapa cairan yang keluar dari mulut dan hidung anjing itu harus disamak? Karena dikhawatirkan ada virus disana,” kata Yusni Sabi.

“Selebih dari itu silahkan diartikan sendiri. Anjing itu hewan. Sejak dulu jadi teman manusia seperti cerita Ashabul Kahfi. Bahkan ada ulama yang diberi nama dengan nama anjing,” ujarnya lagi.

Cerita Ashabul Kahfi yang dimaksud Yusni adalah tentang sejumlah pemuda yang tertidur di gua bersama anjingnya selama 309 tahun hijriyah atau 300 tahun masehi. Kisah ini termuat dalam al-quran Surah Kahfi ayat 22. Terjemahan Kementerian Agama mengartikan bunyi surah itu sebagai berikut,"Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka."

Saat ditanya hukum bersentuhan dengan anjing, Yusni Sabi mengatakan boleh. “Kalau ada yang berbeda pendapat silahkan temui saya. Biar saya perlihatkan kitabnya,” kata Yusni Sabi.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply