DPR Kita

Menurut warta, saat ini DPR Aceh  sedang pada tahapan penyusunan tata tertib. Semoga hadir tata tertib yang tidak sekedar sesuai peraturan tapi juga yang dapat menghindarkan politisi dari serangan sakit mental mendadak.

Dengan sepenuh hati kita menyerukan berpolitiklah mengedepankan nilai-nilai yang membangun aspresiasi kawan, juga lawan. Jadilah anggota dewan yang bisa bersama untuk rakyat,  mesti tidak bisa sama karena memang beda perahu dan haluan politik.

Hindarilah siasat yang menyesakkan hati, apalagi sampai menyesatkan langkah politik kawan bahkan lawan politik. Jangan juga jadikan politik dewan sebagai belantara penuh semak belukar yang bila dimasuki oleh rakyat tak tahu jalan masuk yang benar dan tak tahu jalan keluar yang tepat, alias kebijakan yang tidak pro rakyat.

Terus terang, kita gerah menyaksikan dagelan politik tandingan yang dimainkan oleh politisi senayan. Kita ingin, anggota DPR Aceh tidak terkena virus sakit mental mendadak sebagaimana yang dialami oleh sebagian wakil rakyat di Senayan. Kemenangan pihak lain atau kekalahan pihak lain tidak boleh membuat wakil rakyat menjadi pelawak politik yang membuat orang lain tertawa tapi membuat diri sendiri dilihat sebagai pesakitan mental.

Gerakan revolusi mental yang sedang dijalankan oleh Presiden kita tidak boleh sampai berubah menjadi gerakan sakit mental mendadak dikalangan politisi.  Politisi adalah wakil rakyat yang terhormat dan harus menjadi pribadi terhormat agar membangun rasa hormat semua orang.

Kita harus ingatkan para wakil rakyat terhormat bahwa dibawah karpet demokrasi kita tersimpan kemarahan, jeritan dan air mata akibat politik kekerasan dan kecurangan yang berlangsung di musim pemilihan.

Dan, ketika tangan-tangan penegak hukum tidak mampu membasuhnya dengan pasal-pasal berkeadilan, maka sepantasnya kita sembuhkan semua luka dan penderitaan politik yang menimpa rakyat itu dengan gerakan politik yang miminal membuat senyum rakyat mengembang.

Untuk itu DPR kita wajib hadir total untuk rakyat. Wakil rakyat harus berani mengedepankan peran politik heart-share ketimbang mind-share agar muncul human spirit yang menggerakkan semua orang untuk bersatu dalam satu tarikan nafas pembangunan Aceh.

Sudah saatnya wakil rakyat mendekatkan pohon harapan Aceh yang berkesempatan, berkeadilan dan berkesetaraan sedekat mungkin agar semua rakyat bisa memetik dan menikmatinya.

Sudah tiba waktunya bagi DPRA sebagai bagian Pemerintahan Aceh menyuguhkan kinerja yang menjamin pelayanan publik yang cepat, mudah dan murah. Semua qanun-qanun yang menghambat pertumbuhan ekonomi segera diamputasi sebagai cara memotong gurita premanisme proyek pembangunan yang terus menggelisahkan.

Kita juga menantang DPR Aceh untuk "memotong tangan" para pencoleng (koruptor) lewat pisau kebijakan, pengawasan, dan transparansi. Tidak ada salahnya Aceh menjadi pelopor bagi munculnya pejabat yang berinisiatif diperiksa kekayaannya sebagai iktikat kesiapan menjadi pelayan rakyat.

Kita sangat paham bahwa identitas teristimewa Aceh itu adalah tegaknya hukum Allah di bumi Serambi Mekkah ini. Itulah sebabnya, kita semua harus malu hati bila banyak rakyat kecil harus dihukum karena melakukan pelanggaran hukum Allah.

Bisa menghukum rakyat jangan dijadikan prestasi apalagi dijadikan anak tangga untuk menang suksesin. Maka itu, DPR kita harus lebih tertantang untuk menghindarkan rakyat dari buta pendidikan, kesulitan ekonomi, hukum yang timpang, birokrasi yang rawan korupsi, anggaran yang tidak transparan, kebijakan yang rumit, dan pelayanan yang berbelit.

Dengan kata lain, yang kita inginkan adalah DPR kita mampu mewujudkan Aceh berhukum, bukan Aceh  menghukum. Dengan Aceh berhukum target utama kita adalah hadirnya kesejahteraan dan keadilan sehingga seluruh pintu menghukum tidak kita buka karena memang tidak ada yang perlu kita hukum.

Terakhir, marilah kita semua "mencambuk" jiwa keacehan kita agar setiap langkah kita semakin membantu membaikkan Aceh. Bukankah ini negeri tempat kita lahir, hidup, dan mati? Mari sedini mungkin kita usung "keranda" penyesalan bila dari jiwa kita tidak memancar rasa cinta terhadap Aceh. Mari kita tunggu pancaran cahaya cinta dari DPR kita. []

  • Uncategorized

Leave a Reply

DPR Kita

MENURUT warta, saat ini DPR Aceh  sedang pada tahapan penyusunan tata tertib. Semoga hadir tata tertib yang tidak sekedar sesuai peraturan tapi juga yang dapat menghindarkan politisi dari serangan sakit mental mendadak.

Dengan sepenuh hati kita menyerukan berpolitiklah mengedepankan nilai-nilai yang membangun aspresiasi kawan, juga lawan. Jadilah anggota dewan yang bisa bersama untuk rakyat,  mesti tidak bisa sama karena memang beda perahu dan haluan politik.

Hindarilah siasat yang menyesakkan hati, apalagi sampai menyesatkan langkah politik kawan bahkan lawan politik. Jangan juga jadikan politik dewan sebagai belantara penuh semak belukar yang bila dimasuki oleh rakyat tak tahu jalan masuk yang benar dan tak tahu jalan keluar yang tepat, alias kebijakan yang tidak pro rakyat.

Terus terang, kita gerah menyaksikan dagelan politik tandingan yang dimainkan oleh politisi senayan. Kita ingin, anggota DPR Aceh tidak terkena virus sakit mental mendadak sebagaimana yang dialami oleh sebagian wakil rakyat di Senayan. Kemenangan pihak lain atau kekalahan pihak lain tidak boleh membuat wakil rakyat menjadi pelawak politik yang membuat orang lain tertawa tapi membuat diri sendiri dilihat sebagai pesakitan mental.

Gerakan revolusi mental yang sedang dijalankan oleh Presiden kita tidak boleh sampai berubah menjadi gerakan sakit mental mendadak dikalangan politisi.  Politisi adalah wakil rakyat yang terhormat dan harus menjadi pribadi terhormat agar membangun rasa hormat semua orang.

Kita harus ingatkan para wakil rakyat terhormat bahwa dibawah karpet demokrasi kita tersimpan kemarahan, jeritan dan air mata akibat politik kekerasan dan kecurangan yang berlangsung di musim pemilihan.

Dan, ketika tangan-tangan penegak hukum tidak mampu membasuhnya dengan pasal-pasal berkeadilan, maka sepantasnya kita sembuhkan semua luka dan penderitaan politik yang menimpa rakyat itu dengan gerakan politik yang miminal membuat senyum rakyat mengembang.

Untuk itu DPR kita wajib hadir total untuk rakyat. Wakil rakyat harus berani mengedepankan peran politik heart-share ketimbang mind-share agar muncul human spirit yang menggerakkan semua orang untuk bersatu dalam satu tarikan nafas pembangunan Aceh.

Sudah saatnya wakil rakyat mendekatkan pohon harapan Aceh yang berkesempatan, berkeadilan dan berkesetaraan sedekat mungkin agar semua rakyat bisa memetik dan menikmatinya.

Sudah tiba waktunya bagi DPRA sebagai bagian Pemerintahan Aceh menyuguhkan kinerja yang menjamin pelayanan publik yang cepat, mudah dan murah. Semua qanun-qanun yang menghambat pertumbuhan ekonomi segera diamputasi sebagai cara memotong gurita premanisme proyek pembangunan yang terus menggelisahkan.

Kita juga menantang DPR Aceh untuk "memotong tangan" para pencoleng (koruptor) lewat pisau kebijakan, pengawasan, dan transparansi. Tidak ada salahnya Aceh menjadi pelopor bagi munculnya pejabat yang berinisiatif diperiksa kekayaannya sebagai itikad kesiapan menjadi pelayan rakyat.

Kita sangat paham bahwa identitas teristimewa Aceh itu adalah tegaknya hukum Allah di bumi Serambi Mekkah ini. Itulah sebabnya, kita semua harus malu hati bila banyak rakyat kecil harus dihukum karena melakukan pelanggaran hukum Allah.

Bisa menghukum rakyat jangan dijadikan prestasi apalagi dijadikan anak tangga untuk menang suksesi. Maka itu, DPR kita harus lebih tertantang untuk menghindarkan rakyat dari buta pendidikan, kesulitan ekonomi, hukum yang timpang, birokrasi yang rawan korupsi, anggaran yang tidak transparan, kebijakan yang rumit, dan pelayanan yang berbelit.

Dengan kata lain, yang kita inginkan adalah DPR kita mampu mewujudkan Aceh berhukum, bukan Aceh  menghukum. Dengan Aceh berhukum target utama kita adalah hadirnya kesejahteraan dan keadilan sehingga seluruh pintu menghukum tidak kita buka karena memang tidak ada yang perlu kita hukum.

Terakhir, marilah kita semua "mencambuk" jiwa keacehan kita agar setiap langkah kita semakin membantu membaikkan Aceh. Bukankah ini negeri tempat kita lahir, hidup, dan mati? Mari sedini mungkin kita usung "keranda" penyesalan bila dari jiwa kita tidak memancar rasa cinta terhadap Aceh. Mari kita tunggu pancaran cahaya cinta dari DPR kita. []

  • Uncategorized

Leave a Reply