Doto Zaini: Tidak Ada Ekstrimis Islam di Aceh

JAKARTA – Gubernur Aceh Zaini Abdullah menilai pihak-pihak yang memberitakan adanya ekstrimis Islam di Aceh terjadi akibat salah pengertian dan salah memberi keterangan. Hal tersebut disampaikan Zaini Abdullah di Jakarta, usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat menjawab pertanyaan wartawan tentang penutupan gereja di Singkil beberapa waktu lalu, Senin, 23 Juli 2012.

“Rakyat Aceh rakyat yang beragama. Kami bertoleransi atas segala agama apapun, dan itu sudah terjadi sejak dahulu. Cuma yang perlu diketahui adalah semua menurut pahamnya sendiri, berjalan di atas rel. Kemudian yang memblow up ini, yang membuat berita ini sampai ke luar negeri misalnya, mengatakan ada ekstrimis Islam di Aceh itu tidak benar,” ujarnya.

Namun, hal itu tidak disampaikan Zaini Abdullah kepada Presiden melainkan sudah dijelaskan kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Saat bertemu Presiden, Gubernur Zaini didamping Wakil Gubernur Muzakkir Manaf dan sejumlah staf. Sedangkan Presiden Yudhoyono didampingi Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, Menko Polhukam, Djoko Suyanto, Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam.

Doto Zaini membenarkan ada peristiwa penutupan gereja, tetapi menurutnya pemberitaan tersebut terlalu berlebihan dan dibesar-besarkan oleh media massa. Saat ini, kata Zaini persoalan itu sudah diatasi dengan baik oleh pihak otoritas terkait di Aceh.

“Saya kira itu hal yang dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu tetapi itu sudah terkelola semua, saya kira tidak ada persoalan lagi. Nanti lihat saja berita-berita di internet mereka tentu sudah menulis. Faktanya memang ada tetapi itu tergantung kepada siapa yang memberitakan tersebut. Siapa yang memberitakan tersebut, kemudian orang-orang yang tidak mengetahui soal itu. Saya sudah datang ke sana (ke lokasi penutupan gereja),” ungkap Zaini.

Menurut perkiraannya ada sekitar 15 tempat ibadah yang ditutup di Singkil, namun menurutnya jika setiap pihak mendirikan tempat ibadah sesuai aturan tentu tidak akan diprotes dan ditutup.

“Saya kurang ingat, tetapi menurut apa yang sudah ada itu satu gereja kan? Kemudian sejenis surau-surau (gereja-gereja kecil), pokoknya di atas 15 lebih, padahal itu tidak akan menjadi persoalan seandainya semua pihak berjalan di atas rel (aturan). Ternyata mereka-mereka ini membikin tanpa melihat apa kriteria dan syarat-syaratnya untuk membikin ini. Kemarin mereka sudah setuju semua, supaya jangan berjalan di atas relnya sendiri-sendiri,” ujar Zaini.

Kepada pers ia tegaskan pula, bahwa persoalan penutupan gereja itu bukan berarti masyarakat Aceh intoleran kepada umat beragama lain. Dalam hal ini, media diminta untuk bersikap proporsional.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply