Doa Anak Babahnipah Menjangkau Langit

Inilah tulisan takziah anak “selatan” usai tanah bertuahnya dikunyah gergasi laut, humbalang tsunami,  tujuh tahun lalu. Takziah ritual, seperti dituliskan oleh wartawan senior Darmansyah,  dalam lima bagian reviewnya, selalu menggetarkan. Getar dari keindahan tanah eksotik,  yang ia katakan bagaikan butir kecil  kerikil  “surga” yang dicampakkan ke bumi. Menyambung tulisan pertama, dan kedua, inilah bagian ketiga perjalanannya.
_____________________________________________________
Hari  itu  awal Januari. “Takziah”  kami baru saja dimulai. Takziah perjalanan  sepanjang 150 km antara Banda Aceh-Calang,  yang usai tsunami enam tahun lalu lintasannya raib menjadi lautan, dan kini  bereinkarnasi sebagai jalan raya terbaik di Indonesia, sekelas jalan bebas hambatan tidak berbayar,  berkat bantuan Us-Aid, lembaga donor Pemerintah Amerika Serikat.

Jalan mulus itu, di hari pertama perjalanan kami, sedang memasuki tahap “finishing, di ujung penyelesaian akhirnya.

Di hari  itu pula, sensasi rakit Lambeusoi, Babahnipah ataupun Kuala Unga, yang sering mengubur hari kepastian tiba dan menjadi buah bibir dari  kumpulan kisah klasik dari romantisme  perjalanan anak-anak negeri pantai barat ini telah dijemput kematian.

Kisah sedih dan duka  dari  eksistensinya  selama enam tahun merampas kepastian tiba  para penumpang, berakhir “happy ending” di  jembatan kerangka baja jenis hamilton. Bersama jembatan baja itu hilang pula sensasi “rambate rata” hempasan balok “tim” di langit malam Lambeusoi, Kuala Unga maupun Babahnipah. Hilang pula nyanyian hikayat “Malem Dewa” yang sering disenandungkan mandor rakit di ujung perahunya. Dan telah raib dengung halakah erangan mesin Yanmar pendorong rakit menuju penyeberangan.

Bersama itu  tak ada lagi  koor, satoo…. duaaaa…tigaaa…bersama dentum hempasan  jembatan penghubung rakit Semuanya telah hilang ditelan awan langit bersama tabik salam lembaran Rp 20 ribu untuk pembayar ongkos penyeberangan sekali jalan. Ongkos pengganti biaya perawatan perahu, walau pun pekerja dan rakitnya milik dinas pekerjaan umum.

Begitu pula dengan eksistensi jembatan “kartika,” sebuah jembatan “perang” dari rangka baja milik zeni tentara yang dibangun usai bencana, yang selama enamtahun baktinya rutin menjadi “news,” tanpa direportase dengan utuh, di koran-koran lokal, karena sering  “amblas” dan membuat antrian kendaraan berbaris berkilometer, telah tutup buku.

Jembatan yang dikenang penumpang dengan “erotis” karena ulah “kenakalan”nya menyebabkan para pemudik sering “membangun” tenda dapur umum di sepanjang pinggir jalan sembari membagi sebungkus mi instan untuk dimakan satu keluarga.

Ulah jembatan ini pula  yang  memaksa truk sering  berenang di alur sungai untuk kemudian kandas dan berdampak pada  melambungnya harga sembako, seperti telur, gula sampai minyak goreng di pantai barat itu. 

Juga tak ada lagi badan jalan berlumpur  melumeri “body” mobil  yang beringsut dengan pantat melenggang karena gigitan bannya tak mencengkeram  permukaan jalan yang bagaikan bubur “kanji rumbi” itu, licin.

Kenangan kepedihan perjalanan itu, seperti dikomentari seorang kawan, anak Calang yang malang melintang jadi pejabat di level provinsi, “telah  menjadi masa yang pahit.”  Masa itu telah tamat atau tutup buku.  “Kini,” katanya, “muncul babak baru dari reinkarnasi jalan projabam versi baru.”  

Sang mantan pejabat itu ingin  mengenang masa sebelum tsunami ketika jalan lintas Banda Aceh-Meulaboh, yang dulunya diberi nama “Projabam” (Proyek Jalan Banda Aceh-Meulaboh), program bantuan “grant” pemerintah Kanada,  CIDA, pernah  menjadi ruas terbaik saat itu dan menghapus sebuah istilah “ketidakpastian sampai.”

“Kalau jalan sekarang sudah bisa dikatakan jalan luxury,” katanya menerawang membayangkan bagaimana sulitnya dia  sampai ke Calang pasca tsunami untuk mencari jejak sanak saudaranya yang raib.

Lintasan jalan ini pula yang, di awal pembangunannya, pernah menuai perdebatan dalam menentukan opsi trasenya. Ada dua opsi, kala itu, diperdebatkan. Kembali menyusur pantai atau menyingkir ke bukit-bukit pengunungan. Sebuah perdebatan kotroversial, yang kedua kubu punya argumentasi kuat untuk memenangkan pendapatnya. Pilihan ke pedalaman didukung pertimbangan “keamanan” jangka panjang, tsunami baru atau abrasi, serta murahnya biaya pembebasn lahan karena menyusur bukit.

Sedangkan argumentasi lain menyatakan tetap di pesisir dengan alasan, tsunami tak akan berulang dalam waktu dekat, tapi bermasalah dengan ganti rugi lahan. Dan persoalan ganti rugi memang menghadap sepanjang pembangunannya hingga kini, ke tahap finishing.

Akhirnya diputuskan, setelah  sebuah “consultan” independen yang ditugasi US-Aid melakukan kajian mendalam dikaitkan dengan  komitmen pembiayaan yang menjadi tanggungan lembaga donor itu. Keputusannya, “woebaksot,” kembali ke asal. Menyusur pantai. Final.

Usai keputusan final itu seorang staf Us-Aid, pihak penyandang dana, bercerita kepada kami, kala  menyertai perjalanannya ke Calang awal pembukaan trase, “tidak ada pilihan lain selain lintasan pantai.”
Dia bahkan menyerang kami dengan sebuah pertanyaan khas bule,“Anda pernah ke California?” Kami menggeleng. “Terlalu bodoh kalau ruas ini dipindahkan. Jauh lebih indah dari pantai di California,” katanya dengan senyum dikulum, sembari menambahkan, “California Beach  tidak seindah Rigah dan Kuala Unga.” Ia menyebut dua kawasan pantai sepanjang perjalanan itu. Jadi tidak ada pilihan. “No independent,” katanya terbahak. Ini jalan “United State.”

Itulah pilihan “bijak” setelah  hitungan dollar bantuan lembaga Paman Sam itu bisa menggelembung berlipat-lipat, kalau trasenya diubah. “Yang pasti tidak akan sanggup membayar harga jalan “standar” Texas itu  sekiranya menghindar garis pantai,” tutur seorang teman yang terpaku dengan  hitungan harga satuan perkilometernya tanpa pernah mengetahui hasil keputusan tim consultan yang tidak independen itu.

Ini juga, bagi kami, sebuah pilihan “kemenangan.” Kemenangan atas dipertahankannya  eksistensi eksotisnya perjalanan “trade mark,” belahan Geureute. Sebuah kawasan yang berkontur  pantai, bentangan laut samudera, pulau-pulau kecil, pendakian menanjak bergunung batu dan  melintasi 76 perkampungan di lekuk teluk dan kaki bukit.

Ini juga yang membedakannya  secara ekstrim dengan perjalanan lembah Seulawah, Pidie hingga Aceh Tamiang, dengan kontur rata, petak sawah, rawa bangka dan “neuhun,” tambak-tambak, berair payau dan berbau lagang.

Perjalanan Lembah Geureute adalah  sebuah “traveling” dari eksotisnya birahi samudera, nyanyian laut, ombak berderai dan bisikan angin tentang sebuah tragedi pedih yang pernah datang. “Tak pernah akan saya maafkan bila trase ini mengalami perubahan,” kata Ashari, anak Krueng Sabe,  yang mengikhlaskan keluarga besarnya bersemayam di laut lepas dan rawa gambut tanpa pernah dikafankan dan kini lelaki itu “woebaksot,” kembali ke asal, membuka bengkel sembari membangun kebersamaan dengan sisa anak “aso lhok.”

Sepanjang perjalanan kami mengalami ekstase ketika kilas balik menyergap kenangan ke-enam tahun silam. Kenangan, ketika ayak gempa dan auman “hantu” laut, tsunami,  berlarian membentuk bah untuk kemudian  mencabik pantai, memorak-porandakan setiap halangan dan mengepit pesan maut di ketiaknya untuk menjemput kematian ratusan ribu penduduk sepanjang pantai ini. Kematian dengan ”jirat,” berkubur, lautan ataupun rawa-rawa “bakdah” tanpa bisa dipungut jenazahnya. Jenazah, yang direlakan oleh setiap kepala keluarga fardhu kifayahnya kepada Illahi, setelah hukum darurat atas nama kehendak-Nya diterima secara ikhlas.

Tidak hanya anak cucu penduduknya bersemayam tanpa kuburan. Ribuan kilometer tanahnya juga musnah dipeluk laut dan  meninggalkan monumen keajaiaban berupa keindahan baru yang menakjub sepanjang garis pantai. Keindahan dari abrasi yang membentuk pulau-pulau kecil di laut lepas. Bahkan di beberapa lokasi menyembul pulau beton, dari kerangka besi jembatan, yang diterjang tsunami hingga nun jauh di ujung tubir membuat “karang” baru dan hari itu sedang digelitik gelombang sebagai  “gosong” baru tempat ombak berkecipak.

Itulah sebuah “footnote,” catatan kaki perjalanan sensasi kami. Catatan yang memadukan keindahan “sepotong surga” yang dicampakkan langit ke bumi dengan rasa  nyeri sebuah  tragedi yang tidak pernah diumpatkan sebagai kutukan “aneuk nanggroe. Tragedi bermaklumatkan syahid dan syahidah. Tragedi yang dikhotbahkan sebagai kehendak alam untuk  mengambil persembahannya atas nama Tuhan. []

  • Uncategorized

Leave a Reply