Ditawarkan Mi Aceh, Warga Myanmar Bilang No! Tapi Suka Boh Rom-rom

Ditawarkan Mi Aceh, Warga Myanmar Bilang No! Tapi Suka Boh Rom-rom

LHOKSUKON –  Selama tiga hari berada di Kota Lhoksukon, Aceh Utara, warga Myanmar mulai akrab dengan masyarakat setempat. Mereka sering diajak minum kopi atau makan siang di warung dan rumah makan yang ada di Lhoksukon, salah satunya Canden Kupi. Namun anehnya, mereka selalu menolak saat ditawarkan mi Aceh.

“Biasanya jika makan di sini mereka memesan martabak dan nasi. Untuk minum biasanya air putih dan teh dingin. Ada juga beberapa yang suka kopi hitam. Tapi mereka selalu mengatakan, ‘no’ saat ditawarkan mi Aceh. Kelihatannya mereka tidak suka,” ujar Fina, 27 tahun, petugas kasir di Canden Kupi Lhoksukon, kepada portalsatu.com, Rabu 13 Mei 2015.

Akan tetapi, kata Fina, mereka suka timphan asoe kaya dan onde-onde atau boh rom-rom. Saat makan, warga Rohingya itu ada yang berbaur bersama pengunjung lain. Namun ada juga yang memilih duduk terpisah.

“Rata-rata mereka datang karena diajak masyarakat, baik itu warga Lhoksukon atau dari luar Lhoksukon. Ada juga yang datang sendiri. Semua makanan dan minuman mereka dibayar oleh pengunjung lain, meski terkadang mereka ingin membayar sendiri dengan uang hasil sumbangan masyarakat,” bebernya.

Fina mengaku kesulitan untuk berbicara dengan mereka, mengingat bahasa yang digunakan memakai isyarat seperti berkomunikasi dengan orang bisu.

“Terkadang secara kebetulan ada pengunjung yang bisa bahasa Inggris, sehingga sedikit memudahkan komunikasi. Saat diajak minum kopi dan makan, ada juga pengunjung yang membelikan rokok dan uang. Banyak juga pengunjung yang menyuruh mereka merapikan rambutnya ke tukang pangkas,” kata Fina.

Amatan di lokasi, pasca warga Myanmar dievakuasi ke Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Kota Lhoksukon terlihat sedikit lengang dan kembali seperti biasanya. Begitu juga kondisi di GOR Lhoksukon, hanya terlihat sejumlah petugas yang duduk santai dengan sampah yang berserakan.[]

Leave a Reply