Diduga Terbebani Uang Pembangunan, Siswa SMKN 2 Langsa Empat Hari Tak Pulang

LANGSA – Yusri, 17 tahun, warga Gampong Meurandeh, Langsa Lama, yang juga siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Langsa Kelas II Jurusan Las, sejak Jumat 1 Juni 2012 hingga hari ini belum pulang ke rumah dan tidak diketahui keberadaannya.

Samsiah, kakak Yusri, kepada The Atjeh Post, Senin 4 Juni 2012, menduga adiknya tidak pulang karena belum membayar uang pembangunan senilai Rp100 ribu.

"Informasi yang kami terima, wali siswa mengancam apabila tak dibayar, maka Yusri tidak dibenarkan masuk sekolah," kata Samsiah. Ia dan Yusri adalah anak yatim.

Pada Jumat lalu, kata Samsiah, Yusri pamit dari rumah dengan ibu kandungnya pergi ke sekolah untuk mengikuti ujian kenaikan kelas. Seperti biasa, kata Samsiah, sekitar pukul 14.00 WIB, Yusri harusnya sudah berada di rumah.

Namun hingga sore itu, Yusri tak kunjung pulang. Keluarga dibantu warga setempat mencoba mencari ke rumah teman-temannya. Tapi sejumlah teman Yusri tak tahu juga keberadaan Yusri.

Malah mereka menginformasikan bahwa Yusri Jumat tak masuk ujian. Sedangkan diketahui Yusri pada Jumat itu permisi dari rumahnya untuk pergi ke sekolahnya di SMKN 2 Langsa.

Berdasarkan keterangan dari teman Yusri, kata Samsiah, pada Kamis 31 Mei 2012, Yusri sempat dipanggil di ruang kelas usai ujian oleh salah seorang guru.

Saat itu Yusri diminta membayar sisa uang pembangunan kelas I senilai Rp100 ribu. Karena Yusri tidak membawa uang maka ia meminta waktu hingga Senin untuk membayar uang tersebut.

Namun guru tersebut, menurut keterangan teman-teman Yusri, tidak mau dan mengharuskannya membayar pada Jumat. Bila tidak dibayar maka Yusri tak dibenarkan masuk ujian.

Masalah uang Rp100 ribu itu, kata Samsiah, Yusri tidak mengadukan kepada dia dan ibunya. Diakui Samsiah tak seperti biasa pada Kamis itu Yusri memang murung. "Kami pikir ia kecapean apalagi sedang melaksanakan ujian."

”Yusri anaknya sangat pendiam dan tak pernah membantah dan selama ini tak pernah mau membolos sekolah, tapi kami tak menyangka ia ada memendam persoalan di sekolahnya,” katanya.

Samsiah yakin kenapa Yusri tidak melaporkan soal uang itu, karena sayang melihat kondisi ibunya yang sudah sangat tua dan hanya bekerja ke sawah membantu orang kampung demi memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

"Sehingga ia merasa terbeban dan tak mau memberatkan ibunya dan meminta uang Rp100 ribu itu."

Apalagi sehari sebelumnya, kaya Samsiah, Yusri baru saja meminta uang Rp250 ribu, dan uang itu dibantu oleh kakak dan abangnya.

Samsiah mengatakan kini ibu kandungnya selalu menangis karena Yusri tak diketahui. ”Kami sangat cemas di mana dia sekarang, dan apabila ada yang mengetahui keberadannya agar menghubungi nomor handphone ini, 082164015049,” kata Samsiah.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply