Di Lhokseumawe, Puluhan Mahasiswa Gayo Unjuk Rasa Soal Qanun Wali Nanggroe

LHOKSEUMAWE – Puluhan mahasiswa Gayo yang kuliah di Lhokseumawe, berunjuk rasa menolak Qanun Lembaga Wali Nanggroe, di Bundaran Simpang Jam, kota Lhokseumawe, sore tadi sekitar pukul 15.30 WIB, Jumat, 16 November 2012.

Pengunjuk rasa tergabung dalam Perkumpulan Mahasiswa Asal Tanah Gayo (Pematang) itu menilai qanun tersebut belum berpihak kepada kepentingan kaum minoritas, khususnya masyarakat dataran tinggi Gayo.

Koordinator aksi unjuk rasa, Surya Apra mengatakan terdapat beberapa hal yang menjadi dasar bagi masyarakat dan mahasiswa Gayo menolak qanun itu. Di antaranya, selain belum mengakomodir kepentingan suku-suku minoritas yang ada di Aceh, qanun itu juga belum mampu menciptakan keharmonisan khasanah budaya yang ada di Aceh.

“Ini dapat kita lihat pada subtansi pasal-pasal yang tertuang dalam Qanun Lembaga Wali Nanggroe, di mana hanya menampilkan karakter bahasa, adat istiadat dan budaya suku Aceh sendiri, sedangkan kami suku minoritas sama sekali tidak terakomodir di dalamnya," kata Surya Apra.

Oleh karena itu, kata Surya Apra, mahasiswa Gayo menolak qanun tersebut jika klausul bahasa Aceh yang fasih menjadi salah satu syarat. Mereka juga menolak kalau klausul sistem pemerintahan tidak mengakomodir sistem pemerintahan suku minoritas. "Gubernur Aceh dan DPRA hendaknya dapat merevisi kembali klausul tersebut," tutur Surya Apra.(iip)

  • Uncategorized

Leave a Reply