Di Aceh Utara Ada Pemotongan Dana PSKS Rp 100 ribu

Di Aceh Utara Ada Pemotongan Dana PSKS Rp 100 ribu

LHOKSUKON – Sejumlah warga Meunasah Geudong, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara mengeluhkan pemotongan dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) oleh aparat desa setempat sebesar Rp 100 ribu per Rumah Tangga Sasaran (RTS).

Salah seorang warga Meunasah Geudong, Jarjani Cut Hasan, 44 tahun, kepada portalsatu.com, Senin 4 Mei 2015 mengatakan, pemotongan uang Rp 100 ribu itu ada yang dipangkas langsung di Kantor Pos saat penarikan. Namun ada juga yang diambil di desa oleh kepala dusun masing – masing.

“Setelah dipotong, masing – masing RTS hanya menerima Rp 500 ribu. Dikatakan sejumlah aparat desa, dana yang dipotong itu akan disisihkan bagi warga miskin lainnya yang tidak masuk dalam RTS. Selain itu juga untuk biaya administrasi. Di desa kami terdapat 101 RTS,” katanya.

Penjabat (Pj) Geuchik Meunasah Geudong, Zulkarnaini, saat dikonfirmasi via telepon seluler secara terpisah mengatakan, dirinya hanya berstatus sebagai Pj geuchik. Terkait penarikan Rp 100 ribu per RTS ia mengaku hanya diberitahukan sepintas.

“Masalah proses penarikan saya tidak begitu paham. Yang lebih tahu Geuchik Bahagia (baru terpilih dan belum dilantik) serta kepala dusun. Saya diberitahukan sepintas di warung kopi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Tuha Peut Meunasah Geudong, Lukman Hasan, juga mengaku tidak ikut serta dalam proses penarikan uang Rp 100ribu tersebut. Namun demikian, penyisihan dana tersebut telah disepakati bersama saat penerimaan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) lalu.

“Penyisihan Rp 100ribu itu bukan sebuah keharusan atau kewajiban, jika memang ada warga yang tidak mau kasih ya sah-sah saja. Itu kebijakan dari geuchik saat penarikan dana sebelumnya. Kan tidak mungkin setiap ada penerimaan, selalu digelar rapat. Uang itu disisihkan untuk warga kurang mampu lainnya yang tidak terdaftar sebagai RTS,” kata Lukman.

Ia menambahkan, keberatan itu bukanlah dari masyarakat karena memang sudah ada rapat bersama. “Hanya ada sejumlah oknum warga yang keberatan, bukan masyarakat. Karena baru dapat disebut masyarakat jika berjumlah banyak. Sementara perorangan itu hanya oknum saja,” katanya.[] (ihn)

Leave a Reply