Di Aceh, Salat dan Korupsi Bisa Bersatu

Di Aceh, Salat dan Korupsi Bisa Bersatu

MIRIS kita membaca komentar warga luar terhadap kondisi Aceh hari ini. Maklum setiap pemberitaan yang muncul tentang Aceh selamat ini, baik media lokal maupun nasional, pasti berurusan soal korupsi, hingga narkoba.

Peredaran ganja di Aceh nomor satu. Demikian juga dengan korupsi. Nah, untuk dua kasus ini, pembaca di tingkat nasional pasti selalu mengait-gaitkan dengan pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

Mereka sering bertanya, mengapa pemimpin Aceh yang katanya menerapkan syariat Islam, tetapi juga masih korupsi. Ini dibuktikan dengan indeks korupsi yang tertinggi di Indonesia.

Mengapa mafia ganja dan narkoba asal Aceh juga masih tertinggi? Dimana kita ketahui, setiap penangkapan mafia ganja di tanah air, pasti ber-KTP Aceh atau ada sangkut-pautnya dengan Aceh.

Memang persepsi warga luar ini ada salahnya. Karena korupsi bukan hanya terjadi di Aceh, tapi hampir di seluruh dunia.

Namun sebagai daerah Aceh yang menerapkan syariat Islam, semestinya korupsi bisa diminimalisir. Apalagi agama kita (Islam-red) melarang keras seseorang mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Ya, korupsi hukumnya haram. Demikian juga dengan narkoba.

Namun kembali ke pertanyaan tadi, kenapa juga masih terjadi di Aceh? Kita beragama Islam dan juga melaksanakan hukum syariat Islam. Semestinya, korupsi dan narkoba menjadi musuh nomor satu di Aceh, serta bukan malah untuk bidang korupsi dan narkoba, kita menjadi juara satu di nusantara.

Apakah kondisi ini terjadi karena agama hanya menjadi symbol? Salat kita hanya menjadi rutinitas belaka? Dimana seseorang berpakaian muslim hanya fashion belaka.

Bagaimana mungkin salat dan korupsi bisa bersatu! Di mulut kita berkata korupsi itu dosa, sementara perbuatan korupsi terus kita lakukan setiap harinya.

Seharusnya kita belajar dari Jepang. Pemimpin yang ketahuan korupsi di sana memilih mundur karena malu. Bahkan ada yang bunuh diri dengan cara harakiri. Padahal, Jepang adalah negara yang tak menjadikan agama sebagai pondasi hidup.

Tradisi di Jepang seharusnya bisa terjadi di Aceh. Di Aceh, narkoba dan korupsi seharusnya menjadi aib nomor satu. Pemimpin yang ketahuan KKN seharusnya mundur dan mengakui salah. Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Para pemimpin di Aceh, justru melakukan korupsi berjamaah dan pada saat yang bersamaan meminta masyarakat untuk taat beragama.

Ya, hanya ada di Aceh, kalau salat dan korupsi bisa bersatu. Inilah ciri-cira pemimpin munafik. Semoga ke depan ada pembaikan. Ber-syariat Islam secara kaffah, lahir dan batin.

Leave a Reply