Dari Wali Selendang ke Wali Nanggroe

Dari Wali Selendang ke Wali Nanggroe

Kata wali merupakan kata yang sudah akrab terdengar. Kata tersebut semakin menjadi ‘primadona’ ketika istilah wali nanggroe didengungkan akhir-akhir ini. Sejak kata tersebut dimunculkan, banyak orang mencoba mendefinisikannya. Ada yang mengatakan wali nanggroe adalah ‘penjaga negara’. Ada pula yang mengatakan wali nanggroe adalah ‘wali negara; gelar adat, budaya, dan juga keagamaan’.

Terlepas dari adanya perbedaan definisi tentang arti kata wali pada wali nanggroe, kata wali dalam bahasa Aceh sebenarnya memiliki beberapa pengertian lain dan juga digunakan berdampingan dengan kata lain. Dalam Kamus Aceh Indonesia yang ditulis Aboe Bakar, dkk. (1985) disebutkan bahwa ada beberapa pengertian wali dalam bahasa Aceh.

Kata wali dalam bahasa Aceh bermakna ‘saudara laki-laki, yang terdekat sebelah ayah, seorang perempuan yang harus menghadiri upacara pernikahan perempuan itu’ atau ‘saudara laki-laki sebelah ayah seorang perempuan yang menurut urutan tertentu berhak menikahkan perempuan itu sekiranya saudara-saudara yang disebut itu tidak hadir disebabkan oleh suatu halangan. Berdasarkan pengertian ini, ada beberapa jenis wali, di antaranya wali meuteulak ‘wali mutlak’, wali mojeuba ‘wali paksa’, ‘wali hakim’,  ‘wali tahkim’, dan ‘wali raja’.

Lebih lanjut, disebutkan dalam kamus tersebut bahwa wali juga bermakna ‘gubernur sebuah provinsi, wali negeri, wakil raja, yang memerintah suatu negeri atau daerah’. Selain itu, wali juga bermakna ‘sehelai kain kecil bermakna kuning yang disandang ke bahu jika berhadapan dengan raja’. []

 

Leave a Reply