Dari Pramugara Menjadi Pendidik

AWALNYA dia berprofesi sebagai pramugara di salah satu maskapai penerbangan Aceh Seulawah Airlines dan Batavia Airlines. Tak lama, dirinya banting stir menjadi pendidik mengikuti jejak ayahnya, sebagai dosen bahasa Inggris di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.

Namanya Hanif, M.Pd, dia merupakan putra seorang guru di salah satu sekolah di Lhoksukon, Aceh Utara. Dia akrab disapa Teungku Hanif. Setelah hengkang dari pramugara, dirinya membuka lembaga kursus Bahasa Inggris, Hanna English School di Panton Labu, tepatnya di bibir Jalan Banda Aceh-Medan.

Putra bungsu dari tiga bersaudara pasangan Alm. M. Saleh Irsyad dan Cut Fatimah ini awalnya sama sekali tidak pernah mau mengikuti jejak almarhum ayahnya sebagai pendidik. Berbekal keahlian dalam berbahasa Inggris dan menguasai ilmu public speaking, Hanif telah menyimpan sejuta kenangan dengan mengasah bakatnya menjadi seorang pramugara.

Dia juga mendulang banyak prestasi lewat keahlian serta bakatnya di dunia social entrepreneur. Hal ini pula yang mengantarkannya berkeliling ke beberapa negara seperti Singapore, Malaysia, dan China.

Cita-cita menjadi pramugra sudah tertanam kuat sejak dirinya kecil. Alasannya, cuma satu yaitu agar bisa mencicipi nikmatnya duduk di kursi empuk di dalam burung besi sambil melihat indahnya pesona alam dari atas ketinggian.

“Jujur aja, dari kecil aku pengen jadi pamugara karena alasannya cuma sepele doang, yaitu bisa naek pesawat,” ujarnya terkekeh ketika ditemui ATJEHPOSTcom di salah satu cafe kampus Unsyiah awal Mei 2014 lalu.

Menekuni profesi sebagai pramugara dengan honor bayaran tinggi dan hidup serba kecukupan tidak membuat pria kelahiran 17 November 1979 silam tersebut merasa bahagia. Mengapa demikian?

Hal tersebut dimulai saat dirinya menginjakkan kaki di salah satu perkampungan di Jawa Timur. “Pas nyampe ke sana, aku iri banget dengan sistim pendidikan di sana. Hampir di setiap sudut warga desa di sana berbicara Bahasa Inggris. Seolah-olah sudah seperti bahasa kedua di sana,” ujarnya.

Sejak itu niat menjadi pendidik mulai merasukinya. Dia mulai mendiskusikan hal tersebut dengan anggota keluarganya yang kemudian mendukungnya. Tak lama kemudian, tepatnya pada Juni 2011, ia membuka sebuah kursus bahasa Inggris bernama Hanna English School.

Di lembaga tersebut, dirinya memberikan kelonggaran untuk siswa-siswa yang berasal dari keluarga miskin dan anak yatim akan belajar dengan gratis. “Setiap minggu saya beserta tentor-tentor lain selalu memberikan paket khusus kelas gratis bagi siswa yang kurang mampu. Mulai basic conversation hingga TOEFL,” katanya.

“Hidup kita di dunia ini cuma sekali, maka hiasilah kehidupan kita ini dengan penuh bermakna dan bisa bermanfaat bagi anak dan cucu kita kelak,” ujar Hanif, meniru ucapan almarhum ayahnya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply