Dari Korban Bom Hiroshima ke Tsunami Aceh

SEORANG lelaki tua berbicara kepada sejumlah anak sekolah yang mewawancarainya. Wawancara itu juga direkam oleh anak-anak yang menggunakan seragam sekolah. Lelaki tua itu, salah satu korban selamat dari bom Hiroshima Jepang saat Perang Dunia Kedua, menceritakan kesaksiannya. Hasil wawancara itu lalu dimasukkan sebagai salah satu arsip digital yang dapat diakses secara online. Ketika sudah tersaji online, para siswa pembuat video itu lalu mendatangi rumah sang kakek, dan menontonnya bersama dengan wajah ceria. 

"Ini bagian dari upaya merawat sejarah sekaligus membuat para remaja yang akrab dengan dunia internet memahami sejarah mereka," kata Profesor Hidenori Watanave, perancang arsip digital itu ketika berkunjung ke kantor ATJEHPOST.CO, Selasa, 16 Desember 2014. 

Hidenori adalah perancang "Arsip Digital Hiroshima", sebuah program yang menggabungkan teknologi Google Earth dengan foto-foto sejarah dan kesaksian orang-orang yang pernah mengalami kejadian pada 6 Agustus 1945 itu. Hidenori, profesor berusia 40 tahun itu, ingin kaum muda tidak melupakan sejarah mereka. Namun, ia juga paham benar, sejarah seringkali dibuat dengan metode yang membosankan bagi kaum muda. Itu sebabnya, Hidenori yang pernah bekerja di perusahaan perancang games online merancang arsip digital yang bisa diakses melalui komputer atau smartphone yang digandrungi kaum muda. 

Arsip digital itu menuai sukses di Jepang. Koran Jepang The Asahi Shimbun membuat laporan tentang arsip digital Hiroshima dengan judul "Tokyo professor creates digital maps of A-bombed cities."  

Dibuat tahun 2012, program ini dapat diakses di http://hiroshima.mapping.jp/

Arsip serupa itulah yang kini sedang digarap Hidenori untuk tsunami Aceh. Di kantor ATJEHPOST.CO, profesor dari Tokyo Metropolitan University itu memperlihatkan hasil rancangannya yang mulai dirancang sejak dua tahun terakhir. 

Arsip ini sudah bisa diakses di alamat: http://aceh.mapping.jp. 

Di halaman depan ada tulisan "Aceh Tsunami Archive is a pluralistic digital archives whic tells Banda Aceh's memories of disaster and revival to the world (Arsip Tsunami Aceh adalah sebuah arsip digital yang menceritakan kenangan Banda Aceh tentang bencana dan kebangkitannya kepada dunia."

Di situ muncul sebuah peta tiga dimensi, lengkap dengan foto-foto sebelum dan sesudah tsunami. Ada juga kesaksian orang-orang yang mengalami musibah tsunami. Untuk bisa mengakses arsip ini, perangkat komputer atau smartphone harus terlebih dahulu diinstal Google Earth. 

"Kami akan mengajarkan anak-anak sekolah di sini, agar mereka juga bisa membuatkan arsip seperti ini. Sehingga mereka juga mendapatkan pembelajaran dari bencana besar ini," kata Hidenori yang didampingi Nurjannah, perempuan Aceh yang sedang mengambil program doktoral di Tokyo Metropolitan University. 

Hidenori lalu menyentuh salah satu dari sekian banyak foto di peta Google Earth. Itu adalah foto Kapal Apung, salah satu situs tsunami di Punge, Banda Aceh. Tangannya lalu bergeser ke sisi kiri atas. Di sana, ada satu tombol yang memungkin orang-orang melihat kondisi tempat kapal itu berada saat sebelum dan sesudah tsunami. 

"Lihat, tahun 2004 sebelum tsunami, tidak ada apa-apa di sini, hanya rumah-rumah penduduk. Sekarang sudah berubah menjadi taman yang cantik," kata Hodenori. 

Saat ini, belum begitu banyak kesaksian yang muncul di sana. Namun Hidenori dan timnya sedang mengupayakan menambah kesaksian orang sebanyak mungkin. "Besok kami akan mengajak puluhan anak sekolah untuk ikut membuat arsip seperti ini agar mereka juga punya pemahaman terhadap pentingnya arsip sejarah ini," kata Hidenori. 

Dalam arsip buatan Hidenori itu muncul beberapa kesaksian mereka yang selamat dari bencana. Salah satunya adalah Damiati binti Adam yang memberi kesaksian, "Hari itu, saat terjadi gempa, saya bersama suami, anak dan adik sepupu berada di rumah kontrakan, seputar Kelurahan Peulanggahan, yang kira-kira berjarak satu kilometer dari garis pantai. Kami berhamburan dan bersimpuh di halaman rumah sambil berzikir…" 

Seringkali, kata Hidenori, sebuah sejarah ditulis dalam bentuk buku tebal dan menggunakan bahasa akademis. Tentu saja itu sangat membosankan bagi sebagian kaum muda. Itu sebabnya, Hidenori membuat arsip sejarah versi digital yang bisa diakses secara online dari mana saja. "Apalagi saya lihat di sini banyak orang muda yang pakai smartphone," katanya. 

Itu sebabnya, Hidenori berharap, upaya membuat Aceh Tsunami Arsip ini bisa merawat ingatan, sekaligus pembelajaran bagi kaum muda jika kelak bencana serupa kembali melanda.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply