Dari “Cet Langet”, Melawak, Hingga Orasi Berapi-api

LHOKSEUMAWE – Sebelas pasangan calon walikota-wakil walikota Lhokseumawe menyampaikan visi-misi dan programnya dalam rapat paripurna istimewa DPRK, Kamis, 22 Maret 2012. Rata-rata visi-misi mereka hampir sama, bedanya hanya soal “cet langet”.

Pantauan The Atjeh Post, dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRK Saifuddin Yunus alias Pon Pang, pasangan calon memperoleh kesempatan menyampaikan visi misi sesuai nomor urut calon dan masing-masing hanya diberikan waktu paling lama lima belas menit. Meski waktu terbatas, tapi sebagian besar pasangan calon menghabiskan waktu lima hingga hampir sepuluh menit untuk memberi penghormatan satu per satu kepada tamu undangan yang hadir.

Pasangan nomor urut 1, T Sofyansyah-T Faisal Tjut Ibrahim mengawali dengan paparan gambaran umum Kota Lhokseumawe. Sofyansyah juga mengulas database kota gas ini. Lalu mantan Kepala Bappeda Lhokseumawe ini menjelaskan potensi dan isu-isu strategis. “Reservoir (waduk raksasa-red) jangan sampai jadi lubang sampah terbesar di dunia,” kata Sofyansyah.

Ketika Sofyansyah tengah berapi-api menyampaikan programnya, Ketua DPRK Pon Pang dengan tegas mengingatkan waktu sudah habis. “Masih banyak yang ingin kami sampaikan, tapi mengingat waktu terbatas harus kami akhiri. Yang kami sampaikan data-data maka butuh waktu lama, kalau sekedar ngomong asal-asalan mungkin cukup 15 menit,” katanya.

Pasangan nomor urut 2, M Yusuf Ismail Pase-Mahyeddin Saad menyatakan pihaknya pasti menang. Yusuf Pase mengaku ingin menghadirkan para pendukungnya, namun terkendala kapasitas ruangan rapat paripurna itu. “Lhokseumawe tidak boleh lagi punya gedung DPRK seperti ini, harus gedung yang representatif dan modern,” kata Yusuf Pase yang lebih banyak bicara tanpa teks.

Lalu, Yusuf Pase menyebutkan dirinya bercita-cita membangun Kota Lhokseumawe seperti Singapore dan Hongkong. Pernyataan ini membuat sejumlah tamu undangan terkekeh. Yusuf Pase juga menyatakan sengaja memilih Mahyeddin Saad sebagai calon wakil walikota karena sudah berpengalaman dua periode di DPR Lhokseumawe. “Mahyeddin akan meramu ‘makanan’ dari berbagai bahan yang berbeda,” katanya.

Pasangan nomor urut 3, Rachmatsyah-Mursyid Yahya, memulai dengan persoalan disiplin waktu. Rachmatsyah mengaku ia yang datang paling cepat sesuai jadwal rapat paripurna. “Kalau kami terpilih, pertama saya benahi soal disiplin waktu dalam bekerja, bagaimana kita bisa maju kalau tidak disiplin,” kata Rachmatsyah yang pernah menjadi Penjabat Walikota Lhokseumawe sebelum Pilkada 2006 lalu.

Rachmatsyah juga mengkritik alokasi APBK selama ini yang lebih banyak anggaran aparatur daripada dana publik. Jika pihaknya terpilih, Rachmatsyah berjanji mengupayakan alokasi APBK yang berimbang. Usai berbicara lebih sepuluh menit tanpa teks, Rachmatsyah memberi kesempatan kepada pasangannya, Mursyid Yahya melanjutkan visi-misi. Mursyid menyebutkan pihaknya ingin mewujudkan Lhokseumawe sebagai kota pendidikan.

Selesai Mursyid, Rachmatsyah kembali mengambil alih. Sebelum menutup visi-misinya, ia menyatakan pihaknya siap kalah dan menang. “Dan, harus diingat bahwa segala sesuatu yang diperoleh secara tidak wajar akan berakhir dengan tidak wajar,” kata Rachmatsyah yang mengulang dua kali kalimat itu.

Pasangan nomor urut 4, Tarmizi Daud-Amrizal J, Prang alias TaPrang, mulanya bicara dengan gerakan lumayan lambat. Sehingga Ketua DPRK Pon Pang mengingatkan, “Pak Tarmizi jangan lambat kali, waktu tinggal sikit lagi”, yang kemudian disambut tawa tamu undangan. Tarmizi yang hanya sekali-kali melihat teks, lebih banyak bicara dengan bahasa Aceh. Pernyataan-pernyataannya berulang kali mengundang tawa peserta rapat karena banyak kesan lawak (humor). Amrijal Prang ikut tersenyum terkulum.

“Kalau kami terpilih, saya akan tes calon para kepala dinas untuk tinggal satu bulan di rumoh tireh (rumah beratap bocor), pajoh trasi (makan terasi),” kata Tarmizi Daud. “Database harus jelas, bek lheuh tajok bantuan hana meu ho dum, lagee dipajoh lee lumbili,” kata Tarmizi lagi yang kemudian sejumlah tamu undangan terpingkal-pingkal. Ia juga mengaku meutot-tot tu-ot (lutut bergetar) dan seakan-akan ingin melompat ke arah tamu undangan. Terakhir, beberapa tamu undangan menyebutkan, “bereh-bereh”.

Pasangan nomor urut 5, Nazaruddin Ibrahim-Zoelbahry Abubakar, membuat peserta rapat menyimak dengan tekun. Bicara tanpa teks tapi teratur dengan kalimat tersusun rapi, Nazaruddin yang mantan Ketua KPU Lhokseumawe dan kemudian kuliah di Amerika Serikat, menyatakan keinginannya untuk mewujudkan Lhokseumawe sebagai kota perdagangan internasional. “Terbangunnya Lhokseumawe sebagai gerbang kejayaan Aceh,” katanya.

“Kita yang hadir si sini bukanlah orang-orang yang menistakan sejarah, kita akan kembali kepada kejayaan dengan melihat masa lalu. Sekarang kita tidak lagi butuh peluru, tapi butuh pemimpin yang kuat dan komunikatif untuk membangun daerah ini dengan cara-cara yang super dan luar biasa. Secara konsep pembangunan, Lhokseumawe harus terintegrasi dengan daerah lain di pantai timur ini,” kata Nazaruddin Ibrahim.

Pasangan nomor urut 6, Fuady Sulaiman-Helmi Musa Kuta, menyebutkan pihaknya akan menata kehidupan masyarakat dan pemerintah dengan nilai-nilai Islami, memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, juga memaksimalkan fungsi Masjid Islamic Center Lhokseumawe sebagai pusat kajian Islam. “Menyediakan internet sehat kepada masyarakat, dan menyediakan database agar tidak ada lagi manipulasi data. Mendorong kreatifitas masyarakat dan industri tepat guna,” kata Fuady yang juga anggota DPR Aceh dari PKS.

Pasangan nomor urut 7, Munir Usman-Suryadi, mengatakan pihaknya akan melanjutkan pembangunan, karena sudah berpengalaman memimpin Lhokseumawe selama lima tahun terakhir. “Tentu melanjutkan pembangunan bersama rakyat, makmur, sejahtera dan beradat. Juga penguatan perdamaian, karena hal itu yang paling penting agar program pembangunan bisa berjalan maksimal,” kata Munir Usman yang turun tahta dari jabatan Walikota Lhokseumawe pada 5 Maret lalu.

Pasangan nomor urut 8, Marzuki M Amin-Hafifuddin, juga bicara tanpa teks seperti beberapa pasangan calon lainnya. Marzuki mulanya mengaku heran karena visi-misinya sama dengan Munir Usman-Suryadi. “Siapa yang ceplak, saya atau Pak Munir. Ini pantas dipertanyakan,” katanya. Lalu, Marzuki melanjutkan, “saya tidak mau cet langet. Syariat Islam jalan apa nggak, begitu juga pendidikan dan kesehatan, itu yang perlu kita pikirkan, bukannya malah cet langet”.

Marzuki juga menyindir nomor urut 7 dan membanggakan nomor urut 8. “Nuraka tujoh, surga lapan, lam surga na budiadari,” katanya. Ia juga menyindir pasangan calon lain terkait program memberi santunan kematian. “Sekarang saya sudah kasih santunan kematian Rp1 juta untuk satu orang, apa di sini ada yang mau meninggal, biar saya kasih Rp1 juta”.

Pasangan nomor urut 9, Muhammad Saleh-Jafar, mengawali visi-misi dengan sejumlah pertanyaan yang dinilai menjadi tantantangan bagi pemimpin Kota Lhokseumawe ke depan. Selain 22 tahun menjadi jurnalis, Saleh mengaku juga pernah sebagai staf ahli sejumlah pejabat negara sehingga ia memiliki pengalaman yang akan menjadi modal untuk membangun Lhokseumawe kalau terpilih nantinya.

“Pilkada proses pembelajaran politik kepada rakyat, bukan hanya merebut kekuasaan, tapi juga perlu redesign konsep agar jangan sampai ada pemerintah bayangan,” kata Saleh yang bicara tanpa teks.

Pasangan nomor urut 10, Suaidi Yahya-Nazaruddin, mengawali dengan data tahun 2010 terkait jumlah kemiskinan dan pengangguran di Kota Lhokseumawe yang menjadi tantangan bagi pemimpin ke depan. Setelah itu, Suaidi mengulas tentang MoU Helsinki dan UUPA. “Yang paling penting saat ini kedamaian dan ketentraman, tanpa ini maka semua hal yang ingin kita lakukan tidak akan berjalan,” kata mantan Wakil Walikota Lhokseumawe ini.

Pasangan nomor urut 11, Alfian Lukman-Amri Bin Ibni alias Atok, yang bicara tanpa teks langsung menggebrak dengan menyatakan masih banyak masyarakat belum merasakan kedamaian karena sering terjadi kekerasan maupun intimidasi menjelang Pilkada ini. “Damai Pak Kapolres, tapi masyarakat tidak damai. Kalau seandainya rakyat kita jadikan kambing dan pemimpin menjadi singa, apa jadinya,” kata Alfian dengan suara bak seorang orator.

“Kalau UUPA hari ini tidak selesai dan wewenang Aceh belum pasti, nyan hana peu cet langet. Tanyoe walikota hanya pijet sagai, maka jangan sampai rakyat dikorbankan demi ambisi meraih kekuasaana. Semuanya sudah ditentukan oleh Allah, kalau tidak terpilih itu berarti sebagai hikmah,” kata Alfian yang beberapa kali diingatkan oleh Ketua DPRK Pon Pang agar tidak bicara dengan bahasa Aceh.

Dengan nada berapi-api, Alfian Lukman yang mantan aktivis ini menantang para pasangan calon lain supaya tidak hanya bicara damai di mulut. “Pada masa kampanye ini akan kita lihat, ada tidak orang yang lempar batu. Ada tidak orang bertopeng yang akan mengintimidasi rakyat beberapa hari menjelang pemungutan suara,” kata Alfian.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply