Darah Untuk Aceh kampanye 10 for 1 Thalassemia

GUNA terus membantu penyediaan stock darah untuk memenuhi kebutuhan para penderita thalassemia, Komunitas Darah Untuk Aceh (DUA)  terus gencar mengkampanyekan program 10 for 1 thalassemia.

Founder Darah Untuk Aceh (DUA), Nurjannah Husien,  mengatakan program ini dicetuskan untuk bisa membantu pemenuhan kebutuhan darah untuk penderita thalassemia (thallers). Program 10 for 1 thalassemia ini dimaksudkan mengumpulkan 10 orang pendonor untuk 1 pasien thalassemia.

“Artinya setiap 1 penderita akan mendapat 10 kakak asuh atau pendonor atau yang kita sebut dengan blooders. Sehingga setiap bulan thallers butuh darah stocknya sudah ada. Dan keuntungan lainnya dari program ini adalah setiap pasien akan mendapatkan darah dari orang yang sama setiap bulan sehingga tubuhnya dengan mudah beradaptasi,” jelas perempuan yang akrab disapa Nunu ini.

Dengan menjalankan program ini juga, sebut Nunu, ini juga akan terus meminimalisir beberapa dampak yang dirasakan pasien saat menerima transfusi darah, seperti demam, alergi dan lain-lain.

Program 10 for 1 ini terus diperkenalkan kepada para pendonor pemula, sehingga bisa terus menambah jumlah blooders di Aceh. “ Pendonor pemula disini sasarannya adalah para generasi muda yang sudah berusia 18 tahun, selain bertujuan untuk menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi untuk membantu sesama, ini juga sekaligus mengkampanyekan untuk hidup sehat, sehingga mereka terbebas dari narkoba bahkan merokok sekalipun,” ujar Nunu.

Untuk mengkampanyekan program 10 for 1 thalassemia, DUA jiga menyelanggarakan berbagai kegiatan, diantaranya gathering bersama penderita thalassemia se-aceh yang dilaksanakan di kawasan pantai Ujong Kareung, Ladong, Aceh Besar pada Minggu (17/3/2013).

Panitia Pelaksana gathering, Dedy Saputra Jalil, mengatakan dalam kesempatan ini juga disosialisasikan juga tentang penyakit thalassemia, karena penyakit ini masih minim dikenal dimasyarakat, bahkan sebagian besar warga yang anaknya menderita thalassemia masih percaya pada mitos bahwa ini adalah penyakit kutukan dan tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Saat ini sebut Dedy, jumlah penderita tahlassemia di Aceh yang terdata di Komunitas Darah Untuk Aceh, berjumlah 150 orang, dengan rincian penderita dengan golongan darah A berjumlah 28 orang, Golongan darah B berjumlah 43 orang, Golongan darah O berjumlah 70 orang dan penderita dengan golongan darah AB berjumlah 9 orang. Sedangkan jumlah blooders tetap saat ini berjumlah 500 orang.

“Kalau untuk kebutuhan darah, kita membutuhkan darah sebanyak 500 kantong setiap bulan, namun saat ini baru bisa terpenuhi sekitar 300-400 kantong saja, jadi masih butuh para pendonor yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan darah bagi penderita thalassemia,” jelas Dedy.

Tentang Darah Untuk Aceh (DUA)

Darah Untuk Aceh (DUA) adalah suatu wadah perkumpulan para pendonor darah sukarela dan tetap yang berdomisili di Aceh, resmi dibentuk pada tanggal 24 April 2012. Komunitas ini semula adalah kumpulan relawan pencinta lingkungan yang sangat perhatian pada kegiatan sosial seperti donor darah. Mengingat pemenuhan ketersediaan darah di PMI sangat minim, maka relawan-relawan tersebut membentuk komunitas ini yang dilegalkan dengan akte pembentukan dari notaris Lila Triana, SH, Nomor 26, tanggal 18 Mei 2012 di Banda Aceh dengan nama “Darah Untuk Aceh” atau disingkat menjadi DUA.

Darah Untuk Aceh yang memiliki tagline “Darah Sehat Selalu Ada Untukmu“ berkomitmen untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan darah di PMI Aceh dengan mengundang semua masyarakat untuk menjadi anggota sukarela dan siap mendonorkan darah serta mengampanyekan pentingnya donor darah untuk kesehatan pendonor maupun keselamatan bagi penerima transfusi darah.

Dalam perjalanannya, DUA menemukan bahwa ada kebutuhan yang sangat khusus akan kebutuhan darah, yaitu untuk penderita Thalassemia. Thalassemia adalah salah satu jenis anemia hemolitik dan merupakan penyakit keturunan yang diturunkan secara autosomal yang paling banyak dijumpai di indonesia dan Italia. Enam sampai sepuluh dari setiap 100 orang Indonesia membawa gen penyakit ini.

Provinsi Aceh adalah provinsi dengan penderita thalassemia tertinggi nasional yaitu 13,8 % (Depkes 2010) dari populasi penduduk. Berdasarkan hal ini, maka akhirnya DUA berfokus untuk memenuhi kebutuhan darah bagi penderita Thalassemia dalam program “10 for 1 Thalassemia”, di samping juga membantu kebutuhan darah lainnya.

Kegiatan komunitas Darah Untuk Aceh dalam berkampanye dan mengajak masyarakat sadar untuk melakukan donor darah dan menginspirasi teman-teman di daerah lain, sehingga saat ini sudah diresmikan Darah Untuk Lampung (dengan akun twitter: @DarahUntukLampung), Darah Untuk Jogja, dan akan menyusul Darah Untuk Surabaya.

Tentang Thalassemia :

Thalasemia adalah penyakit herediter (keturunan) yang paling sering muncul setelah penyakit infeksi dan gangguan gizi.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh Weatherall (1981), Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang disebabkan oleh kurangnya produksi hemoglobin (protein pada sel darah merah yang mengikat oksigen). Hal ini terjadi akibat terjadinya gangguan dalam proses pembentukan rantai sel darah karena kerusakan gen dalam tubuh. Akhirnya, penderita thalasemia akan mengalami anemia; yaitu kadar hemoglobin (Hb) yang rendah sehingga oksigen dalam darah pun berkurang. Jenis anemianya adalah hemolitik, di mana sel darah merah yang seharusnya rusak dalam waktu 120 hari tetapi pada penyakit ini sel darah hancur dalam waktu yang lebih cepat (hemo: darah, litik: rusak). 

Secara umum ada dua jenis Thalasemia, yaitu mayor dan minor. Penyakit Thalasemia mayor berarti si pasien memang menderita penyakit tersebut dan gejalanya sudah tampak sejak bayi atau bahkan dalam kandungan. Penderita tidak memiliki haemoglobin yang cukup dalam darah mereka. Agar tetap bertahan hidup, mereka harus menjalani transfusi darah setiap bulan beserta perawatan medis. Akibat transfusi yang berulang, zat-zat besi pun menumpuk di tubuh. Untuk membersihkannya harus dilakukan suntikan kelasi atau pembersihan zat-zat besi.

Orang dengan Thalasemia minor adalah orang-orang sehat tetapi dapat meneruskan membawa gen/sifat penyakit Thalasemia mayor kepada anak- anak mereka.[]

YAYAN ZAMZAMI, relawan DUA

  • Uncategorized

Leave a Reply