CERPEN: Perempuan Batu

NAMAKU dipanggil pada urutan ke empat ratus lima belas. Suara panggilan itu sedikit memberi rasa lega, setelah menunggu selama satu setengah jam. Hingar-bingar suara pengunjung dan semua yang ada di ruang itu tak mengingatkan aku pada apa pun, kecuali dia. Dia tak datang pada hari wisuda. Untung saja Ama (Ayah) dan Ine (Ibu) beserta beberapa adik-adikku datang dari jauh hanya untuk mendengar dan melihat aku mengenakan baju toga. Semua tersenyum gembira.

Namun, Ama yang tidak dapat tersenyum lebar, ia masih merasakan penat dan letihnya perjalanan. Hanya Ama saja seorang laki-laki di dalam keluarga kami, selebihnya perempuan.

Pengorbanan untuk mendapatkan apa yang selayaknya kutemukan hari wisuda, tidak berarti tanpa dirinya. Lelaki itu. Lelaki yang datang saat aku memerlukannya, saat aku merindukannya. Namun, sekali lagi ia tegaskan ia tidak datang pada hari wisudaku. Aku menangis, ia hanya mengantarku di tempat sepi saja pagi itu, tidak membawaku ke keramaian para wisudawan dan wisudawati.

Ia berkata: “Kita masih belum punya ikatan, membawamu di depan mereka, akan menimbulkan keraguan bahkan fitnah”. Namun kutegaskan : “Yang kubutuhkan hanyalah dirimu pada hari yang berbahagia ini, demi cinta, demi suka cita yang kita gapai bersama”. “Aku tetap tak datang. Kebahagiaan ini adalah murni kebahagiaan keluargamu, Aku tak perlu ikut campur dalam kebahagiaan mereka, kecuali setelah memiliki ikatan. Peluh ayah ibumu lebih berhak mengguratkan kebahagiaan di wajah mereka.” Katanya tegas. Aku menatapnya saat sepeda motornya menjauh. Ia menghilang.

Aku mengutarakan perihal kedekatan kami kepada Ine, namun Ine memiliki alasan lain agar aku menunda pernikahan dengan lelaki itu. Katanya: “Kamu terlalu muda”. Kubantah :“Dalam pernikahan yang dibutuhkan adalah kedewasaan”. Ine menyahut: “ Aku merestui pernikahan apabila telah mendapat pekerjaan tetap;  kamu dan lelaki itu” Kukatakan : “Lelaki itu telah memiliki pekerjaan meski tidak tetap”. Tapi Ine mengurung angan cintaku terhadap laki-laki itu dengan mengatakan : “Ine memerlukanmu untuk menolong ekonomi keluarga kita dan membiayai adik-adikmu…”

Lelaki itu terlihat gundah setelah mendengar perihal penundaan pernikahan itu. Ia hanya mengatakan : “Semua alasan yang dikemukakan oleh orang tuamu, aku bisa memahami. Hanya saja, aku mengharapkan bahwa semua alasan itu bukanlah upaya lain untuk menolakku..”.

Keputusan Ine untuk menunda pernikahan yang kami rencanakan, kemungkinan mengusik pikirannya. Namun aku tetap yakin dengan cintanya. Kemudian ia pergi dari pandanganku. Aku berjanji akan menunggunya dan ia berjanji akan menjemputku. Aku terjerembab pada satu kata ‘menanti’ lelaki yang menjadi kekasihku itu.

Tiga ratus lima puluh hari aku menunggu telangkee dari pihaknya datang untuk pinangan yang dijanjikan. Namun yang datang hanyalah mimpi tentang dirinya, yang selalu mengincar malam-malamku dan menjalani kehidupan alam bawah sadar bersamanya.

Melihat kondisiku yang masih sendiri, banyak lelaki lain yang datang, namun semua kutolak dengan alasan aku ingin bekerja, tapi belum mendapatkan pekerjaan. Padahal yang kuinginkan hanya lelaki itu. Aku selalu menangis saat mengenangnya. Aku putus asa saat matahari terbenam. Lalu pagi hari berharap ia hadir kembali dengan kesetiaannya, meski kusadari penantian ini sepertinya penantian tak berujung.

Sementara itu, konspirasi keluarga dimulai. Bisik-bisik keluarga besar mulai menunjukkan ketidaksenangan terhadap perasaanku dan lelaki itu. Rasa dengki keluarga lain juga mulai mengambil posisi untuk mengacaukan hubungan ini. Berbagai hujatan terhadap hubungan ini mulai digelar. Logika-logika yang tidak masuk akal mulai silih berganti untuk menghancurkan rasa cintaku.

Ama Kul (Abang dari Ayah) berkata, “Dia bukan dari orang yang punya nama  (nama baik) dan kita keturunan Muyang Petukel, seharusnya engkau menikah dengan keturunan Muyang Kute atau Muyang Gerpa. Tidak sewajarnya kita menerima laki-laki tersebut dalam keluarga besar kita. Kujawab dalam hati, “Logika keturunan yang tidak pernah masuk dalam akal sehatku”.

Ibi Encu (Bibi paling bungsu dari pihak ayah) meradang: “Kau lihat bibimu yang menikah ke daerah Toa? (Arah barat Kota Takengon),  karena bandel tidak mendengarkan petuah keluarga besar, dia sekarang menjadi perempuan yang suka kawin dan cerai, kawin dan cerai lagi.  Kata hatiku: Pendapat yang tidak mampu menjungkalkan pendirian hatiku”.

Cek Ucak (Paman bungsu dari Ayah) berujar “Jika dia setia, tentu ia tidak membiarkanmu tidak bekerja, namun sepertinya ia tidak peduli dengan keluarga kita.  Kutentang dalam hati: “Yang kubutuhkan adalah hidup bersamanya, serta menapaki angan cinta yang telah kami rencanakan berdua”. Pon Ungel  (Adik laki-laki Ibu tunggal) berkata “ Dia tidak mampat (tidak menarik). Untuk hujatan ini, hatiku menangis.

Mulutku tetap terkunci dan diam. Meski mataku menunjukkan ketidaksetujuan. Aku yakin bahwa itu adalah ulah kedengkian tetangga yang tidak suka kalau keluarga kami akan lebih unggul dari mereka karena menjalin hubungan dengan laki-laki yang berpendidikan dan terhormat secara religius dan akademis. Namun ibuku tersulut dan terbakar oleh dengki mereka.

Konspirasi pertama gagal. Konspirasi kedua dijalankan. Rasa penantian cintaku harus diadu dengan ritual setan dan jin: nama kekasihku dan namaku ditulis dalam abjad Arab seadanya pada lipatan daun kiri dan kanan daun sirih. Dijampi-jampi setelahnya. Kemudian dirobek antara dua nama kami itu. Diletakkan di tanah yang sudah digali di bekas WC  pada dua arah mata angin yang berlawanan;  timur dan barat. Lalu  dikubur di tanah yang tidak suci itu. Tidak saja itu, tuba-tuba pengasihan ditabur dalam garam yang biasa kugunakan dalam memasak agar aku melupakan laki-laki yang kutunggu itu.

Bisikan malaikat mengabarkan tentang semua prilaku mereka dalam mimpiku. Aku terjaga, beristigfar dalam gulita malam. Aku berpaling pada wajah Ine yang terbaring di sampingku. Yang kini ia juga sebagai bagian dari konspirasi busuk itu. Tampak gundah dalam terlelapnya. Mimpi buruk berulang: Seakan laki-laki itu meninggalkanku, menghujatku dan mencampakkanku. Aku menangis merintih, tertahan, agar kepedihan itu tidak terdengar. Meratap dalam hati. Sesungguk hanya mengalirkan air mata yang membasahi seprei dan bantal kumal.

Untuk menangkal fitnah jin serta setan kiriman mereka, kubacakan surat Qulhu, Ayat Kursi, Ayat Tujuh dan wirid-wirid pilihan. Untuk mengobati rasa rinduku, kubaca surat-surat Alquran yang mengisahkan romansa nabi-nabi; mulai dari kisah Yusuf dengan Zulaikha, Musa dengan anak perempuan Syuaib, juga kisah Sulaiman dengan Balqis. Tidak itu saja, aku juga mentilawahnya dengan berbagai irama qiraat;  Bayathi, Tsaury, Nahawand, Hijaz, Saba’ dan sebagainya. 

Bila aku merasa lelah, aku mentartilnya dengan gaya Syeikh Sudais, Syeikh Syuraim dan Ali Hudzaifi setelah setiap magrib dan subuh dan tidak lupa melihat terjemahan dan tafsirnya. Tiada berapa lama, aku jatuh sakit. Sakit  keras yang akibatnya merontokkan sebagian besar rambutku. Sakit yang hanya aku sendiri yang tahu penyebab dan penawarnya.  Semua mata yang memandangku terbujur, menunjukkan kasihan yang amat sangat.  Namun mereka tidak tahu betapa bahagianya aku karena setiap detik kulalui dengan kelebatan angan cinta dengan lelaki yang kucintai. Perlahan-lahan  berkat ruh cinta itu aku sembuh dan beraktivitas seperti biasa. 

Konspirasi cinta tidak berhenti sampai di sana, saat seorang laki-laki bersih, seorang Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di Kecamatan dikenalkan untuk menjadi suamiku, yang tiba-tiba dihadapkan di antara para punggawa syarat pernikahan dan perwalian. Namun aku hanya terdiam. Tak menyahut saat meminta persetujuan dariku.  Lalu bisik-bisik terdengar bahwa aku bergeming. Teori Ushul Fiqh ‘al-sukut yadullu ‘ala al-ridha’ (diamnya perempuan berarti rela), tak mungkin diterapkan pada tubuh dan hatiku.

Hari berganti bulan, tugas harian sebagai anak yang patuh tetap kujalankan dengan telaten; mencuci baju, menyetrika pakaian, mencuci piring dan menyiapkan makanan untuk  keluarga. Namun, itu hanyalah kewajiban, sedangkan perasaanku tak pernah terjajah oleh dengki, rencana busuk iblis dan penistaan terhadap naluri hati. Aku yakin mereka akan kalah,  setelah konspirasi  keji bertubi pasti selesai tanpa hasil.

Kemudian tiba-tiba mereka tersentak dan terdiam, saat aku menjelma seperti batu. Duduk bersimpuh di ruang tengah rumah. Tak berbicara sepatah pun. Tak beringsut sedikit pun. Tak berkedip sekalipun. Hanya pandangan kosong yang menerawang.  Mereka berunding untuk ‘menghidupkanku’ yang dianggap telah ‘memfosil’ dalam penantian. Caranya adalah dengan mendatangkan lelaki yang kutunggu ratusan hari itu. Tak berapa lama, wujud tubuhnya digelar di hadapanku untuk dinikahkan denganku.

Wajah itu, membuatku tersentak tergeletar. Rasa cinta, kerinduan, penantian, tangis, tawa, bahagia, duka, kemanjaan  dan balutan kisah masa lalu meringkus hatiku dan terbiasa pada rona wajahku. Namun hanya sesaat saja, hanya dua kali tarikan nafas.  Setelahnya rinduku tiba-tiba lenyap, cintaku buyar, pengharapan musnah, masa lalu menggelepar mati.  Lalu aku tersenyum saat kutahu bahwa  kebusukan hati dan konspirasi mereka sia-sia dan usaha licik mereka kalah. Tiba-tiba mulutku yang sekian lama terkunci, sekarang terbuka sendirinya dan berbicara dengan lancar: “Yang kucintai dari laki-laki ini adalah masa lalunya saat bersamaku. Sekarang aku tak membutuhkannya lagi. Karena bagiku, dia yang sekarang dan dia yang dahulu adalah dua sosok yang berbeda. Aku berdosa jika aku menikahinya sekarang. Karena aku berselingkuh dengan perasaannya sekarang yang tidak kukenal. Sedangkan perasaannya yang terdahulu telah menikah dengan usiaku dalam penantian”.

Tiba-tiba aku bisa bergerak. Kugelengkan kepala dengan gelengan kepala yang mantap. Mengatakan “Tidak”. Lalu aku menuju dapur, mencuci piring-piring perjamuan yang kotor, setelah mengambilnya dari hadapan mereka.  Ada ratusan perasaan tak puas yang keluar dari kepala orang yang hadir. Terdengar gemuruh gerutuan yang memenuhi ruang dari mulut mereka. Terdengar ucapan samar-samar putus asa, ‘Nge mugile Ipak ni… (Sudah gila anak perempuan ini). Pada sudut lain  Ine berteriak menjerit, meratap lalu tak sadarkan diri. Tak bergerak setelah terjungkal ke lantai.

Aku memenangkan seluruh perjuangan perasaanku. Pada langit-langit rumah kulihat malaikat cinta tersenyum dengan tingkah putus asa keluarga besarku. Aku sadar bahwa mencintai masa lalunya, hanya menjadi rutinitas hati tanpa arti.  Sedangkan keharusan menikahinya sekarang adalah konsekuensi paling tepat walau terlambat. Begitu pun, pilihan pertama lebih membuatku bahagia.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply