Cerita Operasi Staf Ahli Gubernur Bungkam ATJEHPOST.Co

KEBIJAKAN redaksi ATJEHPOST.Co yang intens memberitakan dugaan korupsi dan nepotisme Gubernur Aceh Zaini Abdullah ternyata direspons kalangan Meuligoe Gubernur dengan melakukan serangkaian ‘operasi’ untuk membungkam media ini.

Informasi yang dihimpun menyebutkan operasi ini dipimpin Wakil Ketua Tim Asistensi Gubernur Aceh, Adli Abdullah. Adli yang juga pengusaha rental mobil sekaligus dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala mendapat tugas menyiapkan langkah-langkah untuk membungkam ATJEHPOST.Co. Mulai dari lobi-lobi pendekatan personal, menyebarkan kabar bohong bahwa Direktur ATJEHPOST.CO adalah broker proyek, hingga menyiapkan langkah hukum.

Salah satu yang tindakan Ådli yang terendus adalah menggelar pertemuan dengan pakar hukum pada suatu hari di akhir Januari 2015, tiga hari setelah majalah The Atjeh Post terbit dengan cover “Misi Keruk Uang Rakyat”. Pertemuan digelar di warung kopi Cut Nun di kawasan Lampineung, Banda Aceh.

“Yang diajak bertemu adalah staf ahli  gubernur bidang hukum M Jakfar dan Zaini Djalil. Adli dan Jakfar masing-masing memegang majalah The Atjeh Post,” kata sumber ATJEHPOST.Co yang mengetahui pertemuan itu.

M Jakfar adalah mantan tim ahli gubernur semasa Irwandi Yusuf. Ia kemudian direkrut oleh Adli untuk masuk ke dalam staf ahli gubernur Zaini Abdulah. Sementara Zaini Djalil adalah Ketua Partai Nasdem Aceh yang bersama-sama Gubernur Zaini menjadi tim sukses Jokowi saat pemilihan presiden tahun lalu.

“Tapi Zaini Djalil menolak dilibatkan untuk menghantam ATJEHPOST.Co,” kata sumber itu.

Dikonfirmasi soal ini,  Zaini Djalil yang juga mantan pengacara membantah terlibat. Katanya, ia tidak pernah ikut pertemuan membahas laporan ATJEHPOST.Co.

“Kalau ketemu di warung kopi ya biasalah. Adli dan Jakfar adalah kawan saya. Saya tidak pernah milih-milih orang untuk ngopi bersama. Tetapi tidak ada pembahasan soal ATJEHPOST,” kata Zaini ketika dihubungi, Senin, 17 Februari 2015.

Entah terkait pertemuan itu atau tidak, pada 16 Febuari 2015, ATJEHPOST.Co menerima surat protes dari Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh Dr. Mahyuzar yang memprotes  pemberitaan dugaan korupsi dan nepotisme Gubernur Zaini. Surat itu antara lain ditembuskan ke Dewan Pers dan PWI Aceh.

Tak hanya itu, awak redaksi media ini juga mendapat serangkaian teror, mulai dari ancaman via telepon hingga ancaman pluek kulet ulee (menguluti kulit kepala) di Facebook Messenger. Belum diketahui pasti apakah ancaman ini juga bagian dari operasi pembungkaman media. Yang jelas, ancaman demi ancaman itu masuk setelah media ini gencar memberitakan dugaan korupsi dan nepostime Gubernur Zaini.

Pada 7 Februari 2015, dalam sebuah perdebatan di dinding Facebook anggota DPR Aceh Abdullah Saleh, Zaini dan Adli Abdullah kompak ‘menyindir’ Direktur Utama ATJEHPOST.Co, Nurlis E. Meuko. Adli menyebut Nurlis sebagai broker proyek.

“Nurlis siapa yang menjilat? Lebih baik daripada ngaku idealis sok bersih tapi jadi broker proyek. Tanya kenapa?,” tulis Adli Abdullah.

Pernyataan itu kemudian dibalas Nurlis. “Ka geutumee data soal broker proyek, nyan  menarik that teungku..neubi keunoe data nyan teungku…Tentu sekaligus kisah lobi untuk jabatan di Idul Adha. Kiban na gap peukara? Leubeh got lom neupublikasi mantong broker proyek nyan teungku, bek meu-unyet-unyet bak Facebook sagai,” jawab Nulis meminta data itu dipublikasikan.

Adli membalas tantangan itu dengan jawaban,”data han jeuet tajok beurangkahoe cuma ta eu keadaan eunteuk (data tidak bisa dipublikasikan sembarangan, kita lihat keadaan nanti).”

Dikonfirmasi kembali soal pernyataannya itu hari ini,  17 Februari 2015, Adli mengatakan pernyataannya di Facebook tidak benar, melainkan hanya main-main saja.

Bueuet meu’en-meu’en nyan. Bek that serius tanyoe lam udep nyoe (main-main saja itu, jangan terlalu serius dalam hidup ini). Musuh dalam politik bukan berarti musuh dalam silaturrahmi,” kata Adli.

Sebelum diskusi itu terjadi, Adli Abdullah beberapa kali menelepon Nurlis meminta agar media ini meredam pemberitaan tentang dugaan korupsi dan nepotisme Gubernur Zaini Abdullah. Namun, permintaan itu ditolak Nurlis. “Kami menulis apa yang kami dapatkan, bukan untuk tujuan transaksional,” kata Nurlis.

Menjawab pernyataan Adli yang mengatakan penyataannya di Facebook soal Nurlis sebagai broker proyek hanya main-main saja, Nurlis mengatakan pernyataan itu sangat keji.

"Di Facebook itu dibaca ribuan orang, dan tidak ada klarifikasi di sana. Seolah-olah saya memang broker proyek. Gara-gara itu saya mendapat telepon dari banyak orang," kata Nurlis.

"Saya kira dia orang yang memiliki ilmu agama Islam yang baik, tetapi saya tidak mengerti jika perbuatan itu juga halal baginya. Atau mungkin saya belum tahu apakah dalam Islam dibenarkan seperti itu. Sepengetahuan saya dia juga punya pesantren yang pendanaannya dari apa-apalah..," tambah Nurlis

Informasi yang diperoleh ATJEHPOST.Co, Adli Abdullah yang sebelumnya mendukung Muhamamd Nazar dalam Pilkada 2012, ditarik menjadi staf ahli gubernur setelah dianggap berhasil meredam isu masuknya nama orang yang sudah meninggal dalam daftar pejabat yang akan dilantik pada 2013 lalu.  Adli dikabarkan memberi masukan setelah bertemu Zaini Abdullah di sebuah rumah sakit di Malaysia. Ketika itu, Adli yang belum dikenal oleh Zaini Abdullah datang menjumpainya bersama seorang aktivis Aceh.

Catatan ATJEHPOST.CO, saat itu Gubernur Zaini memang diberitakan menjawab pertanyaan soal masuknya nama orang yang sudah meninggal dalam daftar pejabat yang dilantik ketika sedang berada di Malaysia.

Koran Serambi Indonesia edisi Senin, 11 Februari 2013 menyebutkan Gubernur Zaini Abdullah menanggapi isu itu lewat surat elektronik dari Malaysia.

"Tujuan dan sabotase yang dilakukan oleh para oknum itu jelas, yaitu ingin memperkeruh suasana dan menciptakan instabilitas terhadap Pemerintahan Aceh di bawah kepemimpinan saya dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf,” tulis Gubernur Zaini Abdullah, dalam wawancara via surat elektronik (email) dengan Serambi, Minggu (10/2) pagi. Tapi menjelang Magrib tadi malam, Gubernur Zaini yang sedang berada di Kuala Lumpur, Malaysia, menelepon Serambi," tulis Serambi Indonesia.

Menurut sumber ATJEHPOST.CO, sejak itu, Adli adalah orang yang dimintai pendapat oleh Gubernur Zaini, termasuk dalam hal keputusan politik, menyusun konsep pidato, dan membuat pernyataan ke media massa atas nama Zaini.

Lantaran berhasi merebut hati Zaini Abdullah, kata sumber lain di lingkungan Meuligoe, sejumlah orang yang sebelumnya di lingkaran terdekat Gubernur Zaini terdepak.

Adli juga disebut-sebut piawai mengelola konflik dan mengambil keuntungan dari perpecahan antara Gubernur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf. "Jika hubungan mereka baik-baik saja, maka tidak ada lagi peran kita," kata Adli suatu ketika seperti dituturkan sumber ATJEHPOST.Co.

Adli Abdullah belum dapat dimintai komentar terkait tudingan ini. Tadi malam, setelah media ini menaikkan berita tentang lobi seorang kepala dinas di rumahnya, Adli menghapus kontak Blackberry Messenger dengan salah satu awak redaksi media ini. []

Baca juga:
Diakah Si Pembisik Gubernur Zaini Itu 

Ini Kata Rektor Soal Status Adli Abdullah di Unsyiah

Lobi Jabatan Kadis di Rumah Staf Ahli Gubernur Zaini  
 

  • Uncategorized

Leave a Reply