Cerita mahasiswa Aceh tentang lebaran di Australia

BAGI umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Aceh, hari raya Idul Fitri momen paling dinanti-nantikan setelah menjalani puasa selama sebulan penuh. Mereka merayakan hari spesial ini dengan penuh kegembiraan bersama keluarga dan teman di kampung masing-masing. Namun bagaimana perasaan mahasiswa Aceh yang merayakan hari kemenangan di negeri orang?

Berikut pengalaman mahasiswa Aceh yang merayakan Idul Fitri jauh dari kampung halamannya.

Canberra, Australian Capital Territory (ACT)

Mahlil, mahasiswa Master TESOL di Universitas Canberra, Australia mengaku perasaannya campur aduk, senang dan juga sedihnya. Dengan merayakan Idul Fitri di Ibu Kota Australia ini, ia mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya, karena ini pertama kali ia berada di luar negeri.

Pengalaman baru inilah yang membuat hatinya senang. Namun perasaan sedih juga tidak bisa dipungkiri. Biasanya ia merayakan hari besar ini bersama keluarga dan teman-temannya di Kutablang dan Jeunieb, Biereun. Namun kali ini ia harus merayakannya jauh dari mereka semua.

Di Canberra, mayoritas masyarakat Indonesia melaksanakan salat Ied di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), meskipun ada beberapa tempat lain seperti di Mesjid Spence, EPIC Exhibition, dan Australian Aquatic Center. Masyarakat Indonesia memilih untuk melaksanakan shalat Ied di KBRI karena setelah salat bisa langsung bertemu dengan masyarakat Indonesia dan mencicipi makanan khas Indonesia.  

Mahlil mengatakan kebiasaan yang dilakukan mahasiswa Aceh di Canberra yaitu berkumpul di satu rumah keluarga Aceh untuk mengadakan “open house”. Sementara untuk masyarakat Indonesia secara umum open house-nya diadakan di rumah Dubes RI.

Aktivitas saat berkumpul adalah mencicipi menu lebaran seperti lontong, plus kue-kue khas Aceh seperti timphan. Meski makanan khas Aceh ini tersedia di sana, namun rasanya tidak seperti di Aceh karena bahan kuenya yang tidak semuanya tersedia.

Armidale, New South Wales (NSW)

Kata pertama yang diucapkan Siti Sarah saat menyatakan perasaannya merayakan Idul Fitri adalah Homesick! Kata ini menggambarkan betapa dia merasakan kehilangan sekali apa yang biasa dilakukan saat lebaran.

Siti Sarah adalah mahasiswa S3 fakultas pendidikan yang sedang melakukan riset tentang metacognitive strategies dalam membantu mahasiswanya memahami teks bacaan.

Sarah, begitu panggilan akrabnya, sudah berada di kota ini selama dua tahun. Namun ini pertama kali ia merayakan Idul Fitri di Armidale. Tahun lalu, ia merayakannya di Banda Aceh.

Ia mengaku sedih lebaran ini karena jauh dari orang tua dan saudara-saudaranya yang lain di Aceh. Namun, rasa sedih ini terobati sedikit karena Sarah masih bisa berkumpul bersama suami dan dua anaknya.

Di Armidale, tepat jam 7 pagi ini, semua umat Islam dari berbagai negara melaksanakan salat Ied bersama, di gedung Wright Center di Universitas New England (UNE). Jamaah yang hadir ada yang berasal dari Arab Saudi, Lybya, Banglades, Indonesia dan Pakistan. Mayoritas dari mereka adalah mahasiswa di universitas itu.  

“Yang pasti, kegembiraan berlebaran di negeri orang tidaklah sama dengan yang dirasakan di Aceh. Kalau di Aceh, dengan gema takbir yang tidak henti-bentinya dikumandangkan oleh masyarakat sudah membuat hati gembira, tapi di Armidale hal itu tidak terjadi. Inilah yang membuat saya semakin rindu suasana lebaran di Aceh” ujar Sarah.

Adelaide, South Australia

Dayan Abdurrahman, mahasiswa master bidang pendidikan, Universitas Adelaide mengatakan suasana lebaran di kota kecil Adelaide tidaklah meriah jika dibandingkan dengan suasana di Aceh.

Pagi ini, mayoritas kaum muslim Indonesia menjalankan salat Ied di Lapangan Bedford Park, South Australia. Acara halal bihalal ala Indonesia dilaksanakan setelah salat. Rasa haru dan suara tangis dari mahasiswa Indonesia ini tak terbendungkan, terutama yang belum pernah merayakan hari raya di negeri nonmuslim dan juga jauh dari keluarga.

“Saya sendiri, seperti mahasiswa lain, merasakan ada kesedihan tersendiri jauh dari suasana biasa di kampung halaman dan jauh dengan keluarga dan sanak saudara” ujar Dayan.

Namun, ia punya cara untuk mengobati rindu yaitu dengan langsung mengangkat telepon selulernya dan mengucapakan selamat hari raya. Selesai salat dan halal bihalal semua mahasiswa berpamitan dan langsung melanjutkan kewajibannya yaitu mengikuti  kuliah.  Meski hari ini, hari raya Ied Fitri, namun universitas tidak libur, beda dengan di Aceh.

Tak bisa dipungkiri kebanyakan mahasiswa Indonesia merasakan hari raya di negeri nonmuslim tidaklah menyenangkan. Namun, tetap menyadari bahwa mereka mempunyai tugas mulia di kota ini: menimba ilmu untuk mengembangkan daerahnya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply