Cerita korban gempa yang gagal berjabat tangan dengan SBY

KUNJUNGAN SBY pada Selasa 9 Juli 2013, ternyata menyimpan berbagai cerita mendalam dari para pengungsi di posko pengungsian, Desa Kute Gelime, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Warga di sana sangat berharap bisa melihat dan menjabat tangan orang nomor satu tersebut.

Sama halnya dengan Yanti, perempuan berusia 27 tahun ini telah melakukan persiapan dengan baik menjelang datangnya SBY bersama Ani Yudhoyono. Pagi-pagi sekali ia telah bangun dan duduk di depan barak pengungsian yang di dalamnya diisi oleh warga dari Desa Serempah, Kecamatan Ketol.

Ia dan ibu-ibu di sana mengira SBY akan mengunjungi semua tenda yang ada. Sehingga ia rela berdesakan dengan ibu-ibu yang lain dan berjejeran di depan tenda. Bersama seluruh warga Serempah lainnya, ia telah merapikan tenda tersebut serapi mungkin. Namun sayang, SBY bersama rombongan tak memasuki barak dimana Yanti tidur.

“Berharap SBY masuk tenda ini. Kami semua sudah duduk berjejeran di depan tenda dan sudah rapi-rapi,” ujar Yanti, saat ditemui ATJEHPOSTcom di barak pengungsian, Selasa malam, 9 Juli 2013.

Ia mengaku kecewa SBY tidak masuk kedalam baraknya. Namun ia tetap merasa bangga dengan kehadiran orang nomor satu tersebut.

Kata dia, kekecewaannya sedikit terobati dengan kedatangan SBY, meski tidak masuk ke sini, ia tetap bangga kepada SBY yang telah datang.

“Kecewa, namun terobati. Senang juga dia udah datang, melihat kondisi kami, mendengar keluhan kami. Meski kami hanya diwakili oleh kepala desa, saya senang dia mau menginjakkan kakinya ditanah Gayo ini,” kata Yanti dengan sumringah.

Melalui ATJEHPOSTcom, Yanti menyampaikan terimakasih kepada SBY. “Semoga Pak presiden mendengarkan ini. Kami bangga Bapak Presiden telah datang. Terimakasih Bapak presiden yang sudah mengunjugi kami di tenda pengungsi ini,” kata Yanti.[] (mrd)

  • Uncategorized

Leave a Reply