Cerita Joki Cilik Kalahkan Rasa Takut Demi Jadi Penunggang Kuda

Seekor kuda pacu biasanya ditunggangi oleh orang dewasa. Namun di dataran tinggi Gayo, anak-anak berusia tujuh hingga 12 tahun banyak sudah mahir menunggangi kuda. Mereka biasanya juga tak mau ketinggalan dalam lomba pacuan kuda yang diselenggarakan setiap tahunnya.  

Tahun ini, lomba pacuan kuda kembali dibuat di Lapangan Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Lomba ini dibuat untuk memeriahkan HUT RI yang ke 69.

Salah satu peserta lomba itu adalah joki cilik asal Aceh Tengah. Namanya Riko, usianya baru 10 tahun. Bocah itu mengaku sangat senang menjadi joki pacuan kuda, apalagi acara itu sudah menjadi tradisi tahunan di daerah berhawa dingin itu.

“Kita di sini memang dilatih oleh joki yang sudah profesional atau joki dewasa pada kita semua. Kalau prose belajarnya butuh waktu yang sangat lama dan perlu keberanian yang sangat besar karena banyak tantangan,” ujar Riki pada ATJEHPOST.co Minggu, 24 Agustus 2014.

Diakui Riko, ini merupakan lomba pertama yang diikutinya. Beberapa teman sebayanya ada yang sudah ikut sampai tiga kali.

“Pertama belajar memang ada rasa ketakutan karena itu tantangan besar. Walaupun saya baru pertama kali mengikuti pertandingan ini tapi rasanya tidak ada hambatan dan rasa takut lagi,” katanya gembira.

Riko senang sebab ia baik-baik saja saat mengikuti lomba pertamanya itu. Yang terpenting selama menunggang katanya harus bisa mengontrol keseimbangan tubuh. Ia berharap pengalaman pertamanya ini menjadi ilmu baru baginya dalam menunggang kuda. Ia juga senang karena bisa bertemu dengan teman-teman baru dalam perlombaan yang diikuti tiga daerah di dataran tinggi itu.

Sementara itu ketua panitia Amir Hamzah mengatakan, setiap event lomba pacuan kudang memang diperbolehkan para joki cilik untuk ikut serta.

“Tujuannya supaya mereka bisa memaknai atau mengenal tradisi di daerahnya sendiri, bagaimana nantinya merekalah yang menjadi ujung tombak di masa yang akan datang,” katanya.

Sejauh ini kata Amir, antusias para joki cilik untuk mengikuti lomba sangat tinggi. Mereka dinilai memiliki keberanian yang kuat dan diharapkan menjadi penerus budaya tersebut.

“Itu juga tidak terlepas dari dorongan atau dukungan kita bersama untuk mendidik mereka guna memajukan daerah itu sendiri,” kata Amir Hamzah.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply