Cerita Irhana dan Gubuk Reotnya

GUBUK itu sudah reot. Tiangnya tak lagi berdiri sejajar. Atapnya dari daun rumbia. Namun  setengah atap juga sudah jatuh akibat lapuk dimakan usia.

Dinding gubuk terbuat dari susunan kayu hutan. Jarak antar papan  terdapat celah sebesar tiga jari. Masyarakat dan warga desa yang melintas di dekat gubuk itu akan dengan mudah melihat aktivitas pemiliknya dari luar.

Di sanalah Nurliyah, 37 tahun, warga Desa Asan Kumbang, Kecamatan Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya, menghabiskan hari-harinya.

Gubuk yang luarnya hanya tiga kali rentangan tangan itu adalah rumah bagi Nurliyah selama 14 tahun terakhir.

Tak ada listrik dan televisi di sana. Penerangan satu-satunya ketika malam tiba adalah lampu teplok.

Namun warga miskin itu tetap semangat menjalani hidup. Bersama Irhana, 15 tahun, anak semata wayangnya, Nurliyah mencoba untuk tetap tegar.

"Rumah ini dibangun warga 14 tahun lalu. Namun sekarang sudah reot. Sekarang lagi musim hujan. Jadi kardus itu basah akibat hujan. Biasanya kardus ini mamak gunakan untuk menutup celah dinding jika malam tiba," kata Irhana kepada ATJEHPOST.co yang berkunjung ke sana, Senin sore, 22 September 2014.

Saat itu Irhana menunjuk tumpukan kardus basah di gubuknya. Di dekat pintu masuk juga ada jemuran beberapa helai baju yang belum kering.

"Ini juga basah karena hujan semalam. Atap rumah setengah memang sudah jatuh," ujarnya pelan.

Kata Irhana, rumahnya itu digunakan sebagai kamar tidur, dapur serta tempat belajar dan salat.

"Kalau hujan ya bergeser ke sudut lain. Kalau terlalu deras ya tinggu di rumah tetangga atau emperan toko orang," kata siswi SMP Ulee Glee ini.

Biarpun dengan keterbatasan ekonomi, Irhana mengaku tetap bersekolah untuk masa depannya. Dia termasuk siswa berprestasi sehingga mendapat beasiswa pendidikan.

"Mamak biasanya mengemis di jalanan. Sedangkan Bapak tidak tinggal di sini karena sudah lama cerai," katanya.

Irhana berharap Pemerintah Aceh dapat memberikan bantuan rumah layak huni kepada dia dan orang tuanya agar tak lagi basah kuyub saat hujan turun.

Doto Zaini Terharu

Gubernur Zaini Abdullah dan rombongan bertandang ke rumah Irhana dan orang tuanya, Nurliyah, Senin sore, 22 September 2014. Setiba di sana, raut muka orang nomor satu di Aceh itu tampak sedih. Doto Zaini beberapa kali mengamati gubuk tersebut dari arah dekat.

"Ini harus dibantu. Harus," ujarnya berulang-ulang.

Kedatangan Gubernur Zaini ke Desa Asan Kumbang geger. Dalam sekejap rumah Irhana dipenuhi oleh warga. Karena takut rumah tersebut roboh, Doto Zaini memilih berdialog di jalan kampung.

"Mohon dibantu Pak Gubernur. Mamaknya Irhana sedikit stres. Kasihan gadis itu tinggal di gubuk seperti ini," ujar warga desa setempat. Sedangkan gubernur hanya mengangguk ringan.

Sebelum meninggalkan lokasi, Gubernur Zaini juga menyerahkan santunan melalui Irhana.

"Tolong diberikan juga beasiswa kepada anak ini," ujarnya lagi kepada beberapa kepala SKPA yang menyertai rombongan.

Sementara itu, Kepala Dinas Cipta Karya Aceh Hasanuddin, mengatakan dirinya akan memprioritaskan bantuan rumah dhuafa untuk Irhana dan orang tuanya pada APBA 2015.

"Namun syaratnya harus ada keterangan surat kepemilikan tanah dari desa. Rumah yang akan dibangun ber tipe 36," ujarnya kepada ATJEHPOST.co

Seriuskan Cipta Karya Aceh membantu Irhana? Bisakah Irhana bertahan setahun lagi untuk menunggu rumah dhuafa Pemerintah Aceh? Hanya Allah yang tahu.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply