Cerita Fakinah Mencari Kuburan Duta Aceh di Belanda

NAMANYA Fakinah Nailan Edward. Ia anak dari pasangan Ir H Neilan Edward A.S dan Ir Hj Cut Nur Ikhsan. Lahir pada 4 Juni 1991, anak kedua dari lima bersaudara ini tinggal bersama orang tuanya di Jalan Mesjid Al Qurban Lam Ara Banda Aceh.

Sejak dibangku sekolah Fakinah telah meraih beberapa pengalaman lomba menulis dan melukis. Kini Fakinah sedang menggali ilmu di bidang arsitektur pada Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala sejak 2009.

Sesuai ilmu yang ia tekuni, dara ini pernah menjadi juara satu Lomba Lukis Warna Warni Arsitektur pada 2006. Ia juga pernah menjadi Juara 1 Lomba Lukis Tingkat Banda Aceh dan Juara Harapan 1 Lomba Lukis Tingkat Provinsi pada tahun yang sama.

Selain piawai melukis, Fakinah juga pernah jadi Juara 3 Olimpiade Astronomi Tingkat Banda Aceh pada 2007, lalu ia meraih peringkat yang sama pada tahun berikutnya.

Seabrek prestasi lain pun pernah ia torehkan yang kalau disebutkan mungkin terlalu panjang. Namun, dari deretan prestasi itu, Fakinah masih menyimpan kenangan kala ia menjejakkan kaki di Belanda. Di Negeri Kincir Angin ini, Fakinah pernah bernapak tilas mencari jejak sejarah pendidikan Aceh.

Kala itu ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia dan beberapa temannya kebagian tugas sebagai penerjemah. Fakinah bercerita, ketika ia tiba di Bandara Internasional Schipol, Amsterdam, Belanda, waktu itu pukul tujuh pagi.

Suasana gelap. Ia melihat kabut di landasan pacu. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya. "Ternyata seorang penjemput dari Kedutaan Indonesia di Belanda," ujar Fakinah.

Setelah menyelesaikan administrasi di Bandara, ia dan timnya naik mobil mercy yang dikirim Kedutaan Indonesia. "Kami diantar ke mess tamu Kedutaan Indonesia di daerah Kerkehout, Den Haag.”

Setelah beristirahat sejenak, siangnya ia dan tim diantar ke kantor kedutaan. Di sini mereka diperkenalkan dengan seorang duta besar bidang pendidikan. Lalu sang duta mengenalkan mereka kepada seorang dosen di Universitas Leiden yang berdarah Indonesia murni tapi sudah berkewarganegaraan Belanda.

"Dosen tersebut yang mengantarkan kami ke Universitas Leiden, tepatnya ke KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde).  Dari beliau juga saya mempelajari seluruh rute dan akses yang bisa digunakan di Belanda,” ujar Fakinah.

Selama di Belanda Fakinah kerap bolak-balik ke KITLV untuk mencari jejak sejarah pendidikan Aceh. "KITLV sendiri merupakan semacam sebuah pusat arsip yang mudah dijangkau bagi siapa saja."

Bahkan, kata Fakinah, sejarah Indonesia di KITLV bahkan lebih lengkap ketimbang riwayat yang terdapat di arsip Indonesia sendiri.

"Jadi tidak heran kalau di KITLV banyak orang Indonesia yang sedang melakukan riset sejarah.  Waktu itu bahkan ada seorang wanita yang sudah menghabiskan tiga bulan setiap hari di KITLV untuk menyelesaikan risetnya mengenai Keraton Surabaya. Bahkan petugasnya saja bisa bahasa Indonesia,” ujar Fakinah.

Di KITLV itu, kata Fakinah, ia mengkopi seluruh buku dan dokumen tentang Aceh. Yang menarik ia juga menemukan lukisan Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-'Alam yang dilukis oleh seorang pelukis Belanda yang pernah melihat ratu.

"Saya bertemu banyak orang di KITLV, termasuk seorang dosen Aceh yang sedang sekolah di sana. Beliau banyak membantu kami," ujarnya.

Fakinah juga banyak berlalu-lalang di Leiden University, masuk ke satu perpustakaan ke perpustakaan lain, bahkan ke toko buku. Karena tinggal di Mess Indonesia, Fakinah sering pulang pergi menggunakan kereta api atau bis.

"Mulanya saya mencatat seluruh kode bis, lama kelamaan dalam satu hari semuanya terhafal dengan mudah. Bisnya jangan dibandingkan dengan bis di sini. Bis di sana terlalu bagus."

Mess Indonesia yang dimaksud Fakinah ialah rumah besar sumbangan dari seorang warga Belanda. Rumah itu dibagi dua. Satu bagian untuk mess dan sisanya sebagai asrama bagi siswa SIN (sekolah Indonesia Netherland).  Mess sendiri terdiri terdiri dari delapan kamar. Rumahnya, kata Fakinah, bergaya klasik.

Saat Fakinah datang sedang musim dingin. Ia berada di kamar lantai pertama. Kaus kaki dan sweater merupakan barang yang wajib selalu dipakai.

"Saya selalu membuat teh dan tidak lupa menghidupkan api lilin di bawahnya," ujar Fakinah. Ia terkadang tidak mandi hingga berhari-hari karena dingin yang menyengat.

Di mess tersebut, Fakinah mendapat banyak teman yang bersekolah di SIN. Umumnya mereka anak duta besar dari berbagai negara di Eropa yang tidak dapat masuk sekolah umum di Belanda karena masalah bahasa. "Ada yang dari Hungaria, Brussel, dan lain-lain."

Pada suatu akhir pekan, ditemani seorang petugas kedutaan Fakinah dan beberapa temannya pergi ke Middelburgh, sekitar tiga kilometer dari Leiden. Mereka ingin mencari lokasi kuburan seorang duta besar pertama dari Kerajaan Aceh untuk Asia bernama Abdul Hamid.

Duta tersebut dikirim Sultan Almukammil untuk menemui petinggi Belanda. Abdul Hamid dikabarkan meninggal karena sakit dan tidak tahan dingin setelah tiba di Belanda sekitar abad 16.

Saat itu, Belanda belum sepenuhnya merdeka dan sedang berperang melawan Spanyol yang dikenal dengan Perang 80 Tahun.

Kedatangan Abdul Hamid saat itu itu untuk memberi pengakuan secara de jure terhadap Belanda. "Jadi Aceh memberi peranan sangat besar dalam berdirinya negara Belanda."

Namun perjalanan mencari kuburan sang duta besar tak membuahkan hasil. Saat itu hari Minggu. Kota Middelburgh sepi. Rombongan tidak bisa menanyakan kepada penduduk kota di mana kuburan Hamid berada. Menurut sumber yang mereka dapat, kuburan Abdul Hamid berada di dekat sebuah gereja.

Dari sederet pengalaman lain itu Fakinah mengatakan, seindah apapun negeri orang belum memberikan kehangatan senyaman di kampung sendiri.

Saat pulang, ia tak lupa berpamitan dengan teman-temannya di SIN. Termasuk ibu asrama yang baik hati.

Dalam kabut pagi yang tebal, Fakinah kembali ke Aceh dari Bandara Schipol. Keindahan Belanda ia bawa pulang dalam ingatan.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply