Category: Travel

[Foto]: Pantai Romantis di Aceh Besar

[Foto]: Pantai Romantis di Aceh Besar

JANTHO- Media sosial Facebook menghebohkan netizen kaula muda dengan munculnya Pantai Romantis, Romance Bay. Heboh di kalangan Facebooker sejak kemarin dengan ragam foto yang di upload atas nama akun Pantai Romantis, Romance Bay, Selasa, 22 September 2015.

Akun tersebut menuliskan sedikit keterangan terkait foto-foto yang di upload. “Yang tinggal di Aceh, khususnya Banda Aceh buruan dateng ke Pantai Romantis Aceh. Lokasi di Jl. Banda Aceh Meulaboh, Pantai Ceumara Pulo Kapok, Lhoknga, Aceh Besar. Buruan jadi yg pertama mengunjungi pantai romantis Aceh. Info dan reservasi 081262003216,” tulis di beranda.

Pernyataan tersebut kebanyakan disambut hangat dan positif oleh netizen, namun juga terdapat segelintir orang berpersepsi negatif terhadap Pantai Romantis, Romance Bay.

“Heleh paling bertahan cuma bebrapa saat aja, ntar juga bakalan di gusur am WH,” tulis komentar atas nama akun Teuku Anshar.

Berikut foto-foto Pantai Romantis di Aceh Besar:

pantai romantis 1

pantai romantis 2

pantai romantis 3

pantai romantis 4

Wow, Ada Pantai Romantis di Aceh Besar

Wow, Ada Pantai Romantis di Aceh Besar

JANTHO- Media sosial Facebook menghebohkan netizen kaula muda dengan munculnya Pantai Romantis, Romance Bay. Heboh di kalangan Facebooker sejak kemarin dengan ragam foto yang di upload atas nama akun Pantai Romantis, Romance Bay, Selasa, 22 September 2015.

Akun tersebut menuliskan sedikit keterangan terkait foto-foto yang di upload. “Yang tinggal di Aceh, khususnya Banda Aceh buruan dateng ke Pantai Romantis Aceh. Lokasi di Jl. Banda Aceh Meulaboh, Pantai Ceumara Pulo Kapok, Lhoknga, Aceh Besar. Buruan jadi yg pertama mengunjungi pantai romantis Aceh. Info dan reservasi 081262003216,” tulis di beranda.

Pernyataan tersebut kebanyakan disambut hangat dan positif oleh netizen, namun juga terdapat segelintir orang berpersepsi negatif terhadap Pantai Romantis, Romance Bay.

“Heleh paling bertahan cuma bebrapa saat aja, ntar juga bakalan di gusur am WH,” tulis komentar atas nama akun Teuku Anshar.

“Bentar lagi kyknya di Aceh bakal ada yg bikin resepsi di pantai juga kyk di Bali. haha,” tulis komentar dengan akun Pocut Shaliha Finzia di wall yang sama. Serta beberapa lainnya yang nge like dan mengomentari menanyakan dimana tempatnya dan mengatakan keren.

Namun juga terdapat beberapa netizen yang anggapan berbeda mengomentari kalau begini suasana di Aceh, akan hilang nilai islaminya Aceh jika digunakan untuk pacaran. Juga ada yang mengomentari “Berapa tiket masuk…so swett ya.. cocok bwt reunian..,” yang ditulis atas nama akun Adeirma.

Wall Facebook Romance Bay, Pantai Romantis pada tanggal 18 September 2015 juga menuliskan di dindingnya “Horeee Kini Romance Bay – Pantai Romantis telah hadir di Lhoknga – Aceh loh guys. Rasakan suasana Romantis di Romance Bay Aceh, Terdapat lebih dari 8 spot poto, 20 rumah kelambu, mini bar, premium area, mini aula dan pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Yukk dateng ke Romance Bay Aceh, di Jl. Banda Aceh Meulaboh, Pantai Ceumara Pulo Kapok, Lhoknga – Aceh Besar. Sttttttttt kami ada souvenir menarik loh bagi 100 pengunjung pertama di Romance Bay Aceh. Buruan jadi yang pertama datang ke Romance Bay Aceh,” tulisnya.

Informasi yang diperoleh portalsatu.com, biaya tiket masuk ke tempat yang ber tagline Aceh Feel The Heaven of Sumatera itu seharga Rp35 ribu. []

Ayo Nikmati Keindahan Air Terjun Blang Kolam

Ayo Nikmati Keindahan Air Terjun Blang Kolam

LHOKSEUMAWE – Sepuluh tahun lalu, tidak ada yang berani berkunjung ke Desa Sido Mulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Padahal, kawasan itu menyimpan “surga” alam nan mempesona, air terjun Blang Kolam.

Ketika konflik bersenjata mencengkeram Aceh, tak warga tak berani berkunjung ke lokasi yang sebenarnya indah itu. Kontak tembak antara aparat keamanan dan gerilyawan kerap terjadi di sekitar Blang Kolam.

Namun, itu cerita lama. Kini, setelah konflik bersenjata berakhir, warga kembali mengunjungi obyek wisata tersebut. Untuk menuju ke sana, pengunjung bisa memilih jalur Simpang Cunda Lhokseumawe menuju Kuta Makmur yang berjarak sekitar 20 kilometer.

Sayangnya tidak ada angkutan umum yang menuju lokasi itu, sehingga pengunjung harus menggunakan kendaraan pribadi. Saban akhir pekan puluhan orang mengunjungi obyek wisata di lokasi bekas perang itu. Ketika tiba di sana, pengunjung harus menuruni 99 anak tangga kusam tanpa cat sebelum menemukan keindahan air terjun Blang Kolam.

Setelah letih menuruni tangga, maka debur air yang jatuh seakan langsung menyembuhkan semua penat di tubuh. Di bagian atas air terjun, terdapat genangan air seakan ditampung di dalam sebuab cawan raksasa.

Air itu berasal dari alur dan sungai kecil daerah tersebut. Sekitar empat tahun lalu, mantan Wakil Bupati Aceh Utara, Syarifuddin membuat kebun binatang mini di kawasan itu. Belakangan kebun binatang itu ditutup. Namun, bekas kandang aneka hewan masih berada di sana.

Penutupan kebun binatang itu dilakukan seiring imbauan Bupati Aceh Utara kala itu, Ilyas A Hamid untuk tidak mengunjungi lokasi wisata. Larangan itu dikeluarkan karena dikhawatirkan pelanggaran Syariat Islam di obyek wisata tersebut.

Kini, meski obyek wisata ini tidak dibuka secara resmi oleh Pemerintah Aceh Utara. Namun, masyarakat terus datang mengunjunginya. Pesona yang ditawarkan obyek wisata ini sungguh alami. Air yang yang berbalut lumut tipis memantulkan cahaya kehijauan. Seakan air itu berwarna hijau.

Di sini juga terdapat tebing setinggi empat meter. Kaum muda penyuka ketegangan biasanya menguji nyali dengan cara meloncat dari tebing itu dan ke dalam air. Teriakan  terdengar ketika mereka meloncat, tapi sekejap kemudian tawa membuncah merasakan kepuasan.

Bagi Anda penggemar air terjun, obyek wisata air terjun Blang Kolam yang berketinggian 10 meter ini patut dimasukkan dalam daftar kunjungan. Salah seorang masyarakat setempat, Mahadir kepada KompasTravel, Rabu (23/9/2015) berharap Pemerintah Aceh Utara mengelola obyek wisata itu secara serius.

“Di era 1990-an, obyek wisata itu sudah menjadi destinasi favorit wisatawan lokal dan mancanegara jika berkunjung ke Aceh. Soal penerapan syariat Islam, mungkin bisa dicari pola yang bagus agar tidak terjadi pelanggaran syariat,” sebutnya.

Selain itu, Mahadir menyebutkan jika obyek wisata itu “dihidupkan” kembali lengkap dengan segala fasilitasnya tentu akan membawa rezeki tersendiri bagi masyarakat lokal. “Semoga ini juga turut dipikirkan oleh pemerintah,” ujarnya.[] Sumber: kompas.com

 

Pesta di Tengah Deru Kaki Kuda

Pesta di Tengah Deru Kaki Kuda

PACU kuda tradisional di dataran tinggi Gayo bukan sekadar adu lari. Warga memilih tidak bekerja, mengusung tenda, menginap di samping kandang kuda, bermandi peluh dan debu di tepi arena, serta memberi sorakan paling membahana demi kuda jagoannya. Rakyat berpesta….

Debu membubung tinggi mengaburkan pandangan ketika kuda-kuda itu berlari seperti dikejar singa. Ribuan penonton malah merangsek ke tengah lintasan pacuan tak takut kuda-kuda itu kapan saja dapat menendang mereka. Sebagian lagi berdiri berimpit pada pagar lintasan pacu. Di belakang sana, ribuan penonton lain memicingkan mata menahan terik matahari sembari meneriakkan nama-nama kuda jagoannya.

”Agung Kelana… Satria Lut Tawar… Kala Berkune…,” teriak penonton bersahutan di arena pacuan kuda Belang Bebangka, Takengon, Aceh Tengah, pertengahan Agustus.

Kegembiraan meluap tatkala kuda jagoannya menang. Tetapi, yang kalah pun tak lama bersedih karena sebentar lagi kuda lain yang jadi jagoannya segera masuk arena. Selama sepekan mereka bersukacita menyaksikan 330 kuda berpacu ditungganggi joki-joki cilik usia belasan tahun. Pada akhirnya, mereka bersukacita, baik kuda jagoannya menang maupun kalah.

Sebagian besar penonton dari Aceh Tengah. Ada juga penonton berangkat dari Bener Meriah yang berjarak sekitar 43 kilometer dari Takengon. Tak sedikit juga yang meninggalkan rumahnya di Gayo Lues, 136 kilometer dari Takengon.

Penonton datang atas inisiatif sendiri, tetapi pemilik kuda yang mengajak serta mereka. Sebutlah Abdurrahman Hasan (63), saudagar kopi yang memboyong sekitar 35 orang sebagai penonton sekaligus pendukung saat kudanya, Jaguar Kilat Bukit, berpacu. Ketika kuda seharga Rp 70 juta itu memasuki arena, pendukung Jaguar langsung bergemuruh meneriakkan namanya.

Abdurrahman Hasan, atau akrab disapa Pak Ecek ini, menghidupi rombongannya dengan menyiapkan penginapan berupa pondok berdinding dan beratap terpal yang disokong tiang bambu. Lokasinya persis di depan dan di samping kandang kuda.

”Saya juga menyediakan makan mereka. Selama tujuh hari ini habis sekitar Rp 15 juta. Uang tidak menjadi masalah yang penting saya dan warga bahagia,” kata Pak Ecek yang pernah 20 tahun menjadi Kepala Desa Bukit Sama, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah.

Zaini (38), pemilik kuda dari Bener Meriah, siang itu bersantap bersama dengan 25 keluarga dan tetangganya yang sengaja dia bawa serta menonton pacu kuda. Mereka lahap menyantap nasi yang masih mengepulkan asap, dipuncaki sayur nangka dan ikan asin itu.

”Makan begini saja sudah enak sekali, apalagi kalau kuda kami menang,” kata Zaini yang lima kudanya menjuarai pacuan.

Pacu kuda tradisional Gayo bukan untuk berburu hadiah, tetapi lebih pada marwah atau kehormatan. Sebab, biaya mengurus kuda jauh lebih besar daripada hadiah yang diperebutkan. Dalam sebulan, biaya makan dan vitamin seekor kuda tak kurang dari Rp 3 juta. Adapun hadiah untuk juara pertama Rp 6 juta, hanya cukup untuk dua bulan makan kuda.

”Bagi saya, kuda itu penghilang penat dan stres. Pikiran plong saat melihat kuda lincah dan sehat. Saya tidak pernah sakit serius setelah serius hobi merawat kuda. Rasa gembira saat kuda menang itu juga menyehatkan. Asal kalau kuda kalah jangan terlalu dipikir. Siapa tahu besok lagi, menang,” kata Pak Ecek yang setiap pagi selalu berjalan bersama kudanya keliling kampung selama sejam sampai satu setengah jam.

Sejarah

Kuda menjadi salah satu hewan paling kuat dan lincah yang pernah dimiliki masyarakat Gayo. Semula, kuda mereka gunakan mengangkut barang atau untuk membajak sawah. Saat panen raya, banyak kuda digerakkan ke sawah untuk mengangkut padi. Anak-anak biasa memanfaatkannya untuk berlatih menunggang kuda. Hingga akhir 1990-an, masih banyak petani menggunakan tenaga kuda untuk membajak sawah ataupun mengangkut padi.

Muhammad Samdi (71), petani Desa Uning Pegantungen, Kecamatan Bies, Aceh Tengah, menceritakan, memasuki tahun 2000, banyak petani beralih ke traktor karena ternyata jauh lebih kuat dan cepat membajak sawah. Saat ini, hampir tak ada lagi petani memakai tenaga kuda di sawah. Kuda hanya menjadi hewan dalam pacuan.

Pacuan kuda tradisional Gayo konon sudah dilakukan sebelum Belanda menjajah Indonesia. Mengacu pada buku Pesona Tano Gayo karya AR Hakim Aman Pinan (2003), pacu kuda atau pacu kude dalam bahasa Gayo dilakukan sebagai hiburan rakyat jauh sebelum Belanda datang. Pacu kuda digelar setelah musim panen yang biasa bertepatan dengan bulan Agustus karena saat itu cuaca cerah.

Sumber lain, setidaknya seperti dikatakan Piet Rusdi dalam Pacu Kude: Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo (2011), acara ini bermula dari kebiasaan sekelompok anak muda yang iseng menangkap kuda menggunakan sarung di sekitar Danau Lut Tawar. Kala itu banyak kuda digembalakan di sana. Mereka lalu memacunya. Kelompok pemuda dari satu desa sering bertemu dengan pemuda dari desa lain yang akhirnya berlomba memacu kuda tanpa sepengetahuan pemiliknya. Lama-lama keisengan itu menjadi tradisi tahunan yang digelar di kampung masing-masing. Tahun 1850, pacu kuda sudah tenar di sekitar Danau Lut Tawar

Antusiasme warga dalam lomba pacu kuda menarik perhatian Pemerintah Belanda yang kemudian menggelar pacuan kuda di Belang Kolak, Takengon, pada 1912. Acara ini dilakukan berbarengan dengan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina. Belanda memberi pakan kuda, piagam, dan sejumlah uang sebagai hadiah. Tradisi ini kemudian berkembang hingga sekarang. Pacu kuda dilakukan setiap memperingati hari kemerdekaan RI pada 17 Agustus atau ulang tahun Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Jika dulu hanya menggunakan kuda lokal Gayo, kini banyak kuda Australia atau peranakan Australia-Gayo (Astaga).

Tujuh hari

Acara ini digelar selama tujuh hari berturut-turut dan gratis. Semua warga dari tiga kabupaten tersebut tumpah ruah di dalam arena seluas 10 hektar di Belang Bebangka, Aceh Tengah. Jumlah penonton di awal-awal pertandingan hanya 3.000 orang. Namun, pada dua hari terakhir, yakni babak semifinal dan final, jumlah penonton meningkat hingga tiga kali lipat.

Menonton pacuan kuda adalah piknik. Selain kumpul keluarga, mereka bertemu teman lama. Bahkan, ada yang bertemu jodoh di sana. ”Ini asyiknya menonton pacu kude. Bisa berkumpul keluarga. Makan bersama. Lupakan dulu kerja,” kata Junaidi (65) yang saat itu datang bersama tujuh anggota keluarganya dari Kabupaten Gayo Lues.

Jika tak sempat membawa makanan, penonton mencari makan di sekitar arena pacu kuda. Warung-warung itu menyediakan berbagai makanan khas Aceh, Padang, hingga Mandailing. Juga tersedia pakaian yang dijual pedagang dari Medan. Selain makanan dan pakaian, penonton dapat membawa anaknya bermain di berbagai wahana yang mengepung arena pacu kuda. Arena pacu kuda seolah berubah menjadi taman bermain raksasa.

Koordinator Teknis Pacuan Kuda Tradisional Gayo, Badi Silat, memperkirakan, jumlah pedagang dan penyedia wahana mainan mencapai 900 orang. Adapun perputaran uang tak kurang dari Rp 500 juta per hari di awal pertandingan, dan Rp 1 miliar per hari pada dua hari terakhir.

Pemandangan jamak di sela-sela penonton adalah lembar-lembar rupiah yang berpindah tangan. Penonton usia belasan tahun sampai lima puluhan tahun ikut bertaruh untuk kuda-kuda yang mereka jagokan. Nilai taruhan mulai Rp 10.000 sampai jutaan rupiah. Mereka secara terbuka menata uang dan mencatat masing- masing kuda yang dijagokan.

Taruhan ini tak kenal kelas sosial dan ekonomi. ”Soal judi itu semua sudah tahu. Selesai pacuan ada yang bisa beli mobil baru karena menang taruhan juga biasa,” kata seorang pemilik kuda yang ikut dalam pacuan.

Badi Silat menjelaskan, sejak dulu taruhan dalam pacuan kuda menjadi pemandangan biasa. ”Hanya saat ini saja. Sebelum dan sesudah pacuan kuda, itu (judi) enggak ada lagi. Dari zaman Belanda sudah ada.”

Orientalis dari Belanda, C Snouck Hurgronje, pada tahun 1903 lewat buku Het Gajoland en zijne Bewoners menceritakan, orang Gayo kerap berjudi di jambur (sejenis pendapa atau tempat pertemuan warga). Biasanya mereka judi untuk sabung ayam. Di Gayo Lues biasa dilakukan pada pagi hari, sementara di daerah Danau Lut Tawar pada malam hari.

Itu mungkin hanya efek samping kegembiraan rakyat. Yang utama, mereka bahagia berpesta di antara deru kaki-kaki kuda.[] Sumber: kompas.com

Foto: Penonton berinteraksi dengan kuda sebelum lomba.@Kompas/Adrian Fajriansyah

 

Foto: Pesona Gua Tujoh di Laweung

Foto: Pesona Gua Tujoh di Laweung

SIGLI – Gua ini memiliki tujuh pintu. Letaknya berada di KM 100 Jalan Banda Aceh-Medan. Tepatnya di Desa Meunasah Cot, Laweung Kecamatan Muara Tiga, Pidie. Masyarakat sekitar menyebut tempat ini sebagai Gua Tujoh. (Baca: Menikmati Keindahan Gua Tujoh)

Gua Tujoh1
Pemandangan menuju Gua Tujoh, Laweung, Pidie. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
gua tujoh2
Pemandangan menuju Gua Tujoh, Laweung, Pidie. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
gua tujoh3
Pengunjung meninggalkan lokasi Gua Tujoh di Laweung, Pidie. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
gua tujoh5
Gua Tujoh di Laweung, Pidie. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
Gua pertama masuk
Gua Tujoh di Laweung, Pidie. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
Resep Akhir Pekan, Mi Soba dengan Salad Asparagus

Resep Akhir Pekan, Mi Soba dengan Salad Asparagus

Soba biasanya dihidangkan dengan kuah yang panas dan pedas atau disajikan dingin dengan makanan pendamping seperti tempura. Kali ini bagaimana bila mencoba soba yang dipadu dengan salad asparagus, dan tahu serta alpukat sebagai pelengkapnya.

Soba adalah mi ala Jepang yang terbuat dari tepung gandum dan diyakini sebagai mi sehat karena rendah gula. Masyarakat Negeri Sakura meyakini, soba banyak memiliki khasiat yang bagus untuk kesehatan, misalnya  mengontrol tekanan darah.

Berikut resep soba dengan salad kaya protein yang cocok dinikmati kala cuaca panas, dan bisa disantap oleh vegetarian sekalipun!

Persiapan memasak (termasuk membumbui): 1 jam 15 menit

Waktu memasak: 4-5 menit

Tingkat kesulitan: mudah

 

Bahan-bahan

Bumbu untuk tahu:

1 siung bawang putih, dicincang

2 sdt kecap manis

1 sdt minyak wijen

2 sdt cuka (rice wine vinegar)

 

Salad soba:

300 gram tahu, dikeringkan dan potong dadu

180 gran mi soba yang telah dikeringkan

1 sdt minyak wijen

1 sdt mirin (bumbu masak jepang yang terbuat dari fermentasi beras)

1 sdt kecap asin (ringan)

1 ikat asparagus, dipotong diagonal 2 cm

1 buah timun Lebanon, diiris

50 gram jahe, dipotong

1 wortel berukuran sedang, dipotong

2 buah bawang bombai, dipotong diagonal dan tipis-tipis

1/4 cangkir daun ketumbar

 

Hiasan (pelengkap):

1 buah alpukat, potong, lalu tambahkan perasan jeruk nipis

1 ikat kacang kapri

4 gram kacang mente panggang (non-garam)

1 sdm biji wijen yang sudah dipanggang

 

Cara memasak

Campurkan semua bahan yang telah dibumbui dan tambahkan tahu yang sudah dipotong dadu. Diamkan di kulkas selama 1 jam.

Masak mi soba dalam air mendidih sesuai dengan instruksi di bungkusnya, atau sampai tingkat kematangan ‘al dente’ (matang tapi tidak lembek). Lalu cuci dengan air dingin. Keringkan dan celupkan ke dalam campuran minyak wijen, mirin dan kecap asin (ringan). Tiriskan agar dingin dan meresap lebih lama.

Masak asparagus di dalam air mendidih hingga warnanya hijau terang dan cukup lunak. Kemudian cuci dengan air dingin dan keringkan.

Tempatkan soba yang telah didinginkan, asparagus dan tahu, timun, jahe, wortel, bawang bombai, dan daun ketumbar di dalam mangkuk besar. Aduk pelan agar tercampur rata. Bagi salad ke dalam 6 porsi.

Tambahkan potongan alpukat, kacang kapri, wijen, serta kacang mente di atasnya.

Memasak mi tak perlu repot lagi dan cukup praktis. Selamat menikmati![] Sumber:  republika.co.id

Foto: Soba dengan salad asparagus, tahu, dan alpukat ini kaya protein dan cocok dinikmati kala cuaca panas.

Kolam Renang Paling Unik di Dunia, Kolam `Mulut Naga`

Kolam Renang Paling Unik di Dunia, Kolam `Mulut Naga`

Setiap kali berbicara menganai Hong Kong pasti yang terpikirkan pertama kali adalah keindahan kolam renangnya. Negara yang satu ini banyak memiliki kolam renang yang sangat terkenal di kalangan wisatawan mancanegara.

Bebagai desain kolam renang unik terdapat di sini, seperti misalnya kolam tertinggi di dunia, kolam alami yang tak bertepi di kota Krucil dan berbagai taman air menghiasi setiap sudut kota yang membuat Hong Kong menjadi lebih sejuk.

Hotel Indigo memiliki kolam renang yang berlantai kaca. Sehingga terlihat menyerupai mulut naga yang terbungkus mutiara mempercantik pemandangan di sekitar hotel.

Selanjutnya, hotel Ritz Carlton Hong Kong yang mempunyai kolam renang tertinggi di dunia karena dibangun pada ketinggian 484 meter di atas jalan. Kolam yang dibuat dengan menggunakan 144 layar LED ini tepat berada di lantai 118.

Layar-layar dipasang pada dinding dan atap untuk menciptakan ilustrasi kanopi pohon, terumbu karang dan berbagai pemandangan alam lainnya. Ditambah dengan layanan jacuzzi atau kolam renang untuk rileksasi di bagian luar ruangan.

Bersaing dengan hotel lainnya, W hotel turut membangun sebuah kolam renang di puncak gedung yang terletak di lantai ke -76. Indahnya pemandangan kota dapat disaksikan dari tempat ini, kemudian membuat W hotel lebih dikenal sebagai tempat tempat pesta saat musim panas.

Sedangkan hotel Indigo, menawarkan pengalaman unik untuk para pengunjung hotelnya. Kolam renang yang didesain menggunakan kaca di bagian bawahnya ini sedikit menonjol keluar dari bangunan hotel. Sehingga orang-orang berada di lantai bawah dapat melihat tamu hotel yang sedang berenang di kolam itu.

Selain itu ada pula kolam renang dengan pemandangan indah menghadap pelabuhan Victoria. Seperti yang disajikan Hotel Four Season dalam memanjakan para tamunya. Satu lagi hal yang unik dari kolam ini, yaitu dengan dimasukkannya sebuah pipa musik ke dalam air. Hal ini bertujuan agar para perenang tetap dapat mendengarkan musik sambil berenang.[] Sumber: dream.co.id

Foto: Foto: Cnn.com

Koper atau Ransel? Ini Pilihan Tas untuk Berpelesir

Koper atau Ransel? Ini Pilihan Tas untuk Berpelesir

TAS yang akan digunakan untuk berwisata tentu tak bisa dipilih secara sembarang lantaran hal ini sangat berpengaruh pada kenyamanan.

Selain mempertimbangkan waktu perjalanan, jenis aktivitas dan barang-barang bawaan memengaruhi tas seperti apa yang paling tepat untuk digunakan. Berikut ini adalah jenis-jenis tas yang dapat dipilih.

Koper

Jenis yang satu ini sangat tepat digunakan jika selama perjalanan, Anda tidak akan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kelebihan dari tas yang satu ini adalah kemudahan saat mengepak dan bisa menjaga barang-barang di dalam tetap rapi.

Di beberapa model dilengkapi dengan roda sehingga saat dibawa tidak akan membebani punggung, tapi cukup menarik pegangan koper. Namun, jika medan yang dilalui sulit dan Anda akan sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tas ini akan sangat merepotkan karena harus dijinjing ke sana kemari.

Carrier

Tas ini sangat cocok digunakan untuk perjalanan panjang berhari-hari di medan yang cukup berat atau untuk tipe perjalanan yang berpindah dari satu titik ke titik lain. Selain mudah dibawa ke mana-mana, tas jenis ini juga bisa memuat banyak barang.

Untuk perjalanan singkat yang hanya dua sampai tiga hari, carrier  berkapasitas 30-40 liter bisa digunakan. Sementara itu, untuk waktu yang lebih panjang, carrier berkapasitas 50 liter dirasakan sudah cukup. Untuk menjamin kenyamanan, pastikan carrier yang digunakan sesuai dengan proporsi tubuh dan dilengkapi dengan beberapa fitur seperti tali bahu yang nyaman, bantalan pada punggung dan pinggul, hingga ada ruang untuk sirkulasi udara.

Berbeda dengan koper, mengepak barang di carrier perlu strategi khusus yaitu dengan sedapat mungkin meletakkan barang yang berat di bagian atas, maksudnya agar membagi beban ke pundak.

Daypack

Sejenis dengan tas ransel, tetapi dengan kapasitas yang lebih kecil. Cocok untuk digunakan pada perjalanan singkat atau menjadi tas pendamping koper atau carrier yang berfungsi untuk menyimpan barang berharga seperti laptop dan kamera atau sebagai wadah barang-barang yang bakal sering diambil, seperti tempat minum, jaket, dompet, dan lain sebagainya.

Bagi yang tidak banyak berpindah tempat selama perjalanan, tas ini sangat berguna untuk mendukung mobilitas. Jadi, sementara tas koper atau carrier ditinggal di tempat penginapan, Anda bisa bepergian dengan tas daypack ke mana pun. | sumber : kompas

Kisah Masjid Hunto yang Pernah Menjadi Mahar Pinangan Sultan

Kisah Masjid Hunto yang Pernah Menjadi Mahar Pinangan Sultan

GORONTALO – Berada di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Provinsi Gorontalo, Masjid Hunto berdiri kokoh persis menghadap sebuah persimpangan jalan yang arus lalu lintasnya cukup ramai.

Masjid Hunto dibangun pada tahun 1495 Masehi atau 899 Hijriah. Kala itu struktur bangunannya hanya berukuran 12×12 meter. Namun setelah berkali-kali direnovasi kini luasnya menjadi 17×12 meter dengan tambahan ruang salat bagi jemaah perempuan.

Keempat tiang masjid semula terbuat dari kayu kelapa. Namun saat ini seluruhnya telah diganti menjadi beton.

Meski telah direnovasi, pengelola masjid secara turun-temurun berupaya tetap mempertahankan bentuk dan ukuran bangunan utama masjid.

Masjid Hunto menyimpan banyak cerita menarik di balik pembangunannya. Masjid ini tak hanya menjadi simbol masuknya Islam ke Gorontalo, tetapi juga memiliki kisah ‘romantika’ masa lalu yang selalu dijaga dari generasi ke generasi.

Dikisahkan, dahulu Masjid Hunto merupakan ‘mahar’ pinangan Sultan Gorontalo. Saat itu, Sultan Amai ingin mempersunting seorang putri bernama Boki Autango, anak dari Raja Palasa yang memerintah di Moutong, daerah perbatasan antara Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

Raja Palasa yang merupakan seorang Muslim kemudian mengajukan dua syarat agar pinangan tersebut diterima, yakni Sultan Amai harus memeluk agama Islam dan membangun sebuah masjid di Gorontalo sebagai mahar pernikahan.

Pada masa itu, Raja Amai dan seluruh rakyatnya memang masih menganut animisme. Tak pikir panjang, syarat tersebut pun langsung dipehuni Sultan Amai.

Sang Raja mengucapkan dua kalimat syahadat dibantu oleh seorang ulama bernama Maulana Syekh Syarif Abdul Aziz, yang didatangkan langsung dari tanah Arab demi membantu masuknya Islam ke daerah Amai.

Sejak saat itulah gelar Sultan diberikan pertama kali kepada Raja Amai. Pasca hijrahnya sang raja menjadi Muslim, seluruh rakyat yang dipimpinnya pun turut memeluk Islam.

Kemudian, Sultan Amai membangun sebuah masjid dan memberinya nama Hunto. Nama Hunto berasal dari kata Ilohuntungo yang berarti ‘basis atau pusat perkumpulan dan penyebaran Islam’.

Setelah Masjid Hunto berdiri, sang sultan pun akhirnya dapat menikahi Putri Raja Palasa dengan menggelar pesta tujuh hari tujuh malam. Seluruh rakyat menyambut pernikahan dengan mengikrarkan sebuah janji atau sumpah yang berbunyi ‘bolo yingo yingondiyolo monga boyi’ yang berarti ‘hari ini hari terakhir makan babi’.

Sejak saat itu, Masjid Hunto menjadi pusat keagamaan bagi masyarakat setempat. Kisah romantika Sultan Amai dan Putri Raja Palasa pun terus menjadi bagian yang terpisahkan dari masjid ini sampai sekarang.

Kini, Masjid Hunto telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo karena masih terdapat beberapa peninggalan bersejarah di dalamnya.

Masjid Hunto terus berfungsi aktif sebagai pusat dakwah bagi umat Muslim Gorontalo sampai saat ini. Tak hanya digunakan untuk salat, masjid ini juga kerap dijadikan tempat melangsungkan berbagai kegiatan syiar seperti pengajian Al-Quran, pengajian Kitab Kuning, hingga buka puasa bersama saat bulan Ramadan.[] sumber: dream.co.id

[Foto] Masjid Tuha Indrapuri dan Bukti Sejarah yang Tertinggal

[Foto] Masjid Tuha Indrapuri dan Bukti Sejarah yang Tertinggal

JANTHO – Masjid Tuha Indrapuri terletak tak jauh dari pasar Indrapuri, Aceh Besar. Sekitar 24 kilometer dari Banda Aceh. Masjid ini akan terlihat saat kita mulai memasuki sebuah jembatan di Indrapuri berdekatan dengan jalan lintas nasional.

Dibangun di atas reruntuhan candi Hindu, masjid itu juga menjadi saksi bisu masuknya Islam di Aceh dan jayanya Islam sehingga dapat meruntuhkan berbagai macam kepercayaan lain sebelum Islam datang.

Menurut cerita sejarah, mesjid ini awalnya merupakan candi yang didirikan orang-orang Hindu di Aceh, kemudian dihancurkan setelah masuk dan berkembangnya agama Islam di tanoh indatu tersebut. Di atas reruntuhan candi tersebut, selanjutnya dibangun masjid yang diberi nama Masjid Indrapuri oleh Sultan Iskandar Muda sekitar  tahun 1607-1636.

Sekarang Masjid tersebut masih ada dalam bentuk bangunan tradisional yang tetap dilestarikan serta difungsikan sebagai tempat ibadah. Masjid tersebut kini akrab disebut sebagai Masjid Tuha Indrapuri.  Ukiran dan arsitektur masjid tergolong unik. Berikut beberapa foto yang diabadikan portalsatu.com pada Sabtu, 1 Agustus 2015:

masjid tua 1

masjid tua 2

masjid tua 3

masjid tua 3 masjid tua 4

Foto: Fajarli