Category: Travel

Museum Buya Hamka Kokoh di Tepi Danau Maninjau

Museum Buya Hamka Kokoh di Tepi Danau Maninjau

PADANG – Kondisi geografis Sumatra Barat yang berkelok-kelok menciptakan keindahan alam yang sangat indah. Begitu pula saat berkunjung ke danau maninjau, para pengguna jalan akan dihadapkan dengan kondisi jalan yang menikung hingga 44 kali. Sehingga daerah ini sangat melegenda dengan istilah Kelok Ampek Puluh Ampek.

Selain wisata alam, para pengunjung akan dibawa untuk belajar sejarah Islam. Sebuah tokoh agama besar, Buya Hamka terlahir di sini. Kemudian untuk mengenang sejarah perjuangan Buya dibangunlah sebuah museum di tepian danau Maninjau.

Museum ini dibangun pada tahun 2000 silam, dan diresmikan setahun kemudian. Dibentuk menyerupai rumah bagonjong dengan atap runcing serupa tanduk kerbau. Menghadap barat dan berdiri di atas ketinggian lebih dari lima kilometer. [] Baca selengkapnya di Dream.co.id

Inilah Kota Paling Nyaman di Timur Tengah

Inilah Kota Paling Nyaman di Timur Tengah

OMAN termasuk dalam deretan negara-negara kaya di Timur Tengah. Namun tak hanya dianugerahi kekayaan yang berlimpah, negara ini juga sangat beruntung karena memiliki kota yang digadang-gadang sebagai kota paling nyaman se-Timur Tengah.

Adalah Nizwa, salah satu kota di Oman yang dikenal sangat aman dan nyaman ditinggali tak seperti kebanyakan kota-kota di Timur Tengah yang terbelenggu konflik.

Selain nyaman, Nizwa juga dikenal sebagai kota bersejarah yang menyimpan banyak bangunan jejak peradaban Islam. Tak heran pada tahun 2015 ini kota tersebut dinobatkan sebagai “Ibukota Budaya Islam” oleh UNESCO.

Masyarakat Nizwa juga dikenal ramah dan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi. Hal ini lah yang kemudian menjadi daya pikat wisatawan hingga tertarik datang ke kota itu.

Nizwa dapat ditempuh sekitar 1,5 jam dari Bandara Internasional Oman, Sultan Qaboos. Kota ini memiliki sebuah ikon berupa benteng yang juga bernama Nizwa. Benteng Nizwa menyimpan catatan historis kehidupan masyarakat Oman sejak masa lampau.

Benteng Nizwa merupakan salah satu spot favorit wisatawan yang datang ke Oman. Dari puncak benteng ini, kita dapat menikmati pemandangan kota Nizwa beserta hamparan wahdi (tempat penampungan air bah dari banjir bandang gurun) dan hutan kurma, panorama khas wilayah padang pasir.[] sumber: dream.co.id

Pantai di China Mendadak Berubah jadi Merah Darah saat Musim Gugur

Pantai di China Mendadak Berubah jadi Merah Darah saat Musim Gugur

Sebuah pantai berlokasi di delta Sungai Liaohe, 30 kilometer dari kota Panjin, China, sedang jadi buruan wisatawan seluruh dunia. Saban triwulan keempat, area air payaunya mendadak diselimuti warna merah darah.

Stasiun televisi CCTV News melaporkan, Rabu (7/10), warna merah menyala tersebut ternyata dipicu suaeda salsa yang banyak di Panjin. Tanaman itu sejenis rumput laut yang bisa berubah warna karena menyerap kadar garam alkali tinggi. Rumput-rumput ini tumbuh dari bulan April sampai Mei. Saat itu tanaman tersebut masih berwarna hijau.

Baru ketika memasuki musim gugur seperti sekarang, warnanya berubah, menjadikan seluruh area pantai diselimuti merah yang indah bila dilihat dari udara.

Pantai Panjin baru dikenal lima tahun terakhir, tapi sudah banyak turis ingin melihat fenomena menyaksikan pantai ‘berdarah’ itu. Hanya saja, mayoritas wilayah Pantai Merah merupakan kawasan konservasi, jadi cuma sebagian kecil saja yang terbuka untuk umum.[] Sumber: merdeka.com

Foto: Pantai merah di Panjin, China. ©2015 Merdeka.com

 

Patut Dicontoh! Cara Belanda Menjaga Gedung Bersejarah

Patut Dicontoh! Cara Belanda Menjaga Gedung Bersejarah

Maastricht – Di Indonesia, banyak gedung bersejarah yang tidak terawat atau malah digusur menjadi mal. Kita perlu belajar dari Belanda. Gedung bersejarah dialihfungsikan tanpa dihancurkan. Wisatawan pun suka.

Siapa dari Anda pernah mengunjungi kawasan Kota Tua, di Jakarta atau Semarang misalnya? Banyak bangunan bersejarah, terutama peninggalan Belanda, yang tersebar di kawasan tersebut. Ada yang ‘disulap’ menjadi hotel dan restoran, ada pula yang dibiarkan terbengkalai dan hanya jadi latar berfoto.

Lain halnya dengan Belanda, yang juga punya banyak gedung bersejarah sampai reruntuhan Romawi peninggalan abad ke-13. Situs-situs sejarah ini tidak dibiarkan begitu saja, atau sekadar jadi atraksi wisata. Fakta inilah yang detikTravel temukan saat berkunjung ke Maastricht, kota paling selatan Belanda, minggu lalu.

“Maastricht memang jadi pionir dalam hal ini, menghidupkan gedung bersejarah sebagai tempat baru,” tutur Kitty, pemandu yang mengantar detikTravel walking tour di Maastricht.

Pemerintah setempat benar-benar ‘menyulap’ gedung bersejarah. Tempat detikTravel menginap misalnya, menempati bekas biara peninggalan abad ke-15. Namun, bangunan aslinya tidak dirombak. Pihak hotel, atas persetujuan Pemkot setempat, membuat bangunan baru di dalamnya.

“Kami membuat bangunan baru sehingga tak ada yang langsung menempel pada tembok asli. Tamu bisa menikmati keindahan asli biara ini tanpa menyentuhnya langsung,” tutur Guillaume Meewis, Sales Manager Kruisherenhotel Maastricht kepada detikTravel.

Contoh lain ada di Hotel Derlon, yang terletak dekat Market Square. Area basement hotel ini disulap menjadi restoran, dengan memamerkan reruntuhan Romawi peninggalan abad ke-13 di area tengahnya. Lengkap dengan penjelasan dan sketsa peta Maastricht di masa silam.

“Reruntuhan ini berusia 2.000 tahun. Pemerintah kota mengizinkan dijadikan bagian restoran demi dipamerkan untuk publik,” papar Kitty.

Konsep tersebut juga diterapkan di gedung-gedung tua lainnya. Gereja abad pertengahan menjelma jadi perpustakaan dan toko buku. Rumah-rumah tua direnovasi dan ditinggali. Semuanya dipugar tanpa menghilangkan identitas asli bangunan tersebut.

Kembali ke beberapa kawasan Kota Tua di Indonesia, masih banyak gedung bersejarah yang terbengkalai. Jika direnovasi dan dirawat dengan benar, tentu akan makin diminati wisatawan. Kenapa tidak dimulai sekarang?[] Sumber: detik.com

Foto: Kruisherenhotel Maastricht, hotel bekas biara abad ke-15 (detikTravel)

Wah! Ada Manusia Terbang di Kota Tua

Wah! Ada Manusia Terbang di Kota Tua

JAKARTA — Taman Fatahillah, Kota Tua menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi di Jakarta.

Banyak masyarakat yang bersantai di taman ini saat sore hari, ada yang bermain, bercanda, selfie, dan nongkrong sambil minum kopi.

Namun, di tengah aktifitas masyarakat itu, baru-baru ini terdapat manusia terbang di pojok taman. Ia melayang sambil memegang tongkat dengan tangan kirinya, sedangkan kakinya tidak menyentuh tanah sama sekali. Wajahnya dicat putih, dan memakai baju belang hitam-putih.

Para pengunjung Kota Tua mengantri untuk melakukan selfie dengan lelaki itu. Dengan penuh semangat, ia pun menghibur para pengunjung dengan gerakan-gerakan pantomim sambil terbang. Ia dengan lihai memvisualisasikan sesuatu tanpa menggunakan kata-kata, sehingga pengunjung yang mengajak selfie pun lepas tawa.

Salah satu pengunjung asala Manado, Rahman (54) mengaku di daerahnya belum ada manusia terbang seperti ini. “Ini perilaku kreatif, saya baru pertama kali lihat ini, kalau yang pantomim biasa sudah ada di Monas,” katanya sambil menfoto istrinya berasama lelaki itu.

Setelah pengunjung melakukan foto selfie bersamanya, pengunjung memberinya uang sukarela melalui sebuah wadah yang ada di depannya. Pengunjung terheran-heran melihat aksi lelaki itu, beberapa bahkan bertanya kepadanya.

“Kok bisa sih mas, bagaimana caranya?,” katanya. Ia tetap tak mau bicara, Ia hanya menunjuk kepalanya seolah-olah ingin mengatakan kepada pengunjung itu, ‘caranya pakai otak’.

Lelaki itu, Ari Kotu (30) menjalani ide terbangnya ini sejak tahun 2014. Namun, dalam mamainkan gerakan pantomim ia sudah menjalaninya sejak tahun 2009. Bersama teman-temannya di komunitas Kota Tua ia mencari nafkah untuk istri dan anaknya di tempat ini.

“Kalau belajarnya saya otodidak mas, dulu (sebelum terbang) saya bebas beraksi di sini, bisa berada di tengah-tengah pengunjung, tapi sekarang pengelola tidak membolehkannya, harus di pinggir taman,” katanya kepada Republika.co.id belum lama ini.

Pada hari-hari biasa, dia terbang mulai dari jam 13.00 WIB siang sampai waktu maghrib. Sedangkan pada weekend sejak jam 08.00 WIB pagi sudah berada di taman ini untuk beraksi di bawah terik matahari seharian.

“Tujuannya pertama ya untuk cari duit mas, terus kedua untuk menghibur dengan karya seni,” jelas lelaki asal Tegal yang besar di Jakarta ini.

Jika penasaran dengan aksi terbangnya, Anda bisa datang ke Kota Tua, tepatnya di depan Café Batavia. Anda bisa mengamatinya dengan seksama bagaimana cara ia terbang, namun jangan sekali-kali bertanya kepadanya karena dirinya sedang memerankan karakter Culun Disiplin (Cuplin) yang tanpa kata-kata.[] Sumber: republika.co.id

Foto: Manusia Terbang di Kota Tua

Pulau Gosong, Setumpuk Mutiara Aceh Barat Daya

Pulau Gosong, Setumpuk Mutiara Aceh Barat Daya

Dermaga Ujong Serangga hanya berjarak 5 kilometer dari kota Blangpidie atau dengan waktu tempuh sekitar 15 menit jika mengendarai sepeda motor. Tepatnya berada di Kecamatan Susoh. Selain menjadi tempat bongkar muat hasil tangkapan nelayan, juga sebagai tempat penyeberangan ke Pulau Gosong.

Segaris kecil warna putih terlihat jauh dari depan Dermaga Ujong Serangga. Di atas garis itu sejumput dedaunan hijau mengerucut menunjuk langit. Semua tampak kecil seperti seolah sengaja diletakkan di sana sebagai ornamen Samudra Hindia agar tak melulu hamparan air berwarna biru saja.

Garis putih dan kerucut hijau itu adalah pulau yang disebut warga lokal dengan Gosong. Gosong tercipta akibat tumpukan pasir yang terbawa arus dan terus menerus tertimbun akibat tertahan oleh tumpukan karang di tengah laut.

Pulau Gosong tampak kontras dengan warna laut hijau tosca dan biru gelap. Pulau ini terlihat jauh karena ukurannya yang kecil. Tapi sebenarnya jaraknya dekat sekali dengan dermaga. Bahkan tak sampai setengah jam untuk menyeberang ke pulau yang dihuni oleh banyak belalang ini. Ya, belalang hidup makmur di sini. Beberapa pohon waru juga tumbuh subur di antara cemara laut di pulau ini menjadi makanan favorit ratusan ekor belalang yang akan segera kabur jika didekati.

DCIM100GOPROG0161034.

Pulau Gosong baru-baru ini menjadi populer di kalangan anak muda. Khususnya mereka yang berdomisili di Blangpidie dan Susoh. Pada musim liburan, pulau ini ramai dikunjungi. Umumnya mereka datang berpiknik dengan membawa perlengkapan memasak dan bahan makanan untuk dimasak sebelum waktu makan siang. Sebuah pondok dibangun untuk memfasilitasi para pengunjung. Sayangnya pondok yang dibangun pemerintah ini tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Lantai papannya bolong-bolong karena dicopot untuk dijadikan kayu bakar! Nyan buet awak Aceh!

Pulau kecil ini memiliki taman bawah laut yang menarik untuk diamati. Airnya yang bening memiliki visibilitas yang memungkinkan kita untuk snorkeling dan diving. Tutupan karang pada dasar lautnya juga terbilang luas dengan aneka ragam terumbu karang dan jenis ikan. Seorang penyelam yang tergabung dalam Pusong Dive Club (PDC)menyebutkan adanya populasi ikan Napoleon di perairan Pulau Gosong. Hal ini juga diamini oleh Rikar, delegasi Aceh untuk Kapal Pemuda Nusantara Sail Tomini 2015 ini sempat menemukan seekor Napoleon yang bermain-main di perairan dangkal ketika dia sedang snorkeling.

Pulau Gosong-2@citra rahman-hananan-com

Kekayaan hayati yang terkandung di perairan Pulau Gosong terus dijaga oleh para pencinta alam bawah laut seperti PDC ini. Mereka rutin setiap bulan melakukan pembersihan pada koral-koral dan penanaman kembali untuk menggantikan terumbu karang mati akibat arus panas yang disebabkan oleh global warming. Semoga ekosistem di Pulau Gosong tetap lestari dan bersih dari sampah-sampah.

Pantai pasir putih yang melingkari daratan, kilau riak ombak dari lautan yang bening bak kristal, dan keindahan ekosistem yang berjuang melawan pemanasan global adalah potensi wisata bahari yang selayaknya mendapat perhatian pihak-pihak terkait serta kepedulian bersama untuk terus menjaganya dari kerusakan dan eksploitasi yang berlebihan.

Mutiara Aceh Barat Daya ini akan bertahan selamanya. Atau bisa saja hancur dalam sekejap jika tak ada peraturan yang mengatur pemanfaatannya. Penangkapan ikan karang yang masif dan terus menerus, pemboman, buang jangkar sembarangan, meracun ikan, bahkan menginjak terumbu karang adalah kontribusi negatif pada kelangsungan ekosistem di Pulau Gosong.[]

Penulis adalah travel blogger. Pemangku blog www.hananan.com | Foto @Citra Rahman

[Foto]: Indahnya Pesona Pantai Lhok Keutapang

[Foto]: Indahnya Pesona Pantai Lhok Keutapang

JANTHO – Pantai Lhok Keutapang mungkin tidak terdengar asing lagi bagi para penikmat alam. Ya, pantai yang satu ini memang memiliki panorama yang sangat indah, tak heran banyak pendaki yang ingin mencicipi indahnya pantai Lhok Keutapang walau harus mendaki bukit yang terbilang terjal.

Pantai yang terletak di Aceh Besar ini memang sering menjadi destinasi para penikmat alam khususnya bagi para pendaki. Betapa tidak, untuk melihat indahnya pantai Lhok Keutapang Anda harus mendaki bukit yang dimulai dari Desa Ujong Panju Aceh Besar selama lebih dua setengah jam. Sementara letak Desa Ujong Pancu dari pusat kota Banda Aceh sekitar 20 menit jika menggunakan sepeda motor dengan laju kecepatan sedang.

Tentu saja sangat melelahkan dan menguras tenaga. Namun hal ini akan terbayar saat Anda tiba di lokasi. Hamparan pasir putih dan air laut yang jernih memang sangat indah dinikmati saat matahari terbit maupun saat matahari terbenam. Lebatnya pepohonan di sekitar menambah nilai eksotisme pantai ini. Saat malam tiba, Anda dapat menikmati taburan bintang yang sangat indah.

Berikut beberapa foto yang berhasil diabadikan oleh M Fajarli Iqbal, wartawan portalsatu.com, dan mungkin bisa menambah pilihan wisata akhir pekan Anda.[]

Lhok Keutapang1
Sunset di Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal
Lhok Keutapang4
Pantai yang asri di Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal
Lhok Keutapang5
Hamparan pasir putih di Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal
Lhok Keutapang
Wisatawan lokal menikmati indahnya pantai di Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal
Lhok Keutapang3
Panorama daratan Aceh dari bukit menuju Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal

 

Wisatawan Asing Ini Tak Tahu Nama Sabang, Tapi…

Wisatawan Asing Ini Tak Tahu Nama Sabang, Tapi…

BANDA ACEH – Nama Sabang tidak asing lagi di telinga masyarakat Aceh dan Nusantara. Keindahan dan kemasyurannya sudah terdengar sampai ke mancanegara. Namun uniknya, seorang wisatawan asal Spanyol, Pau mengaku tidak tahu nama Sabang, tetapi ia mengunjungi pulau tersebut karena tertarik keindahannya.

I don’t know the name of that island, but i know if go there with the ferry i will find the beautiful island,” ucap Pau saat mengobrol dengan wartawan portalsatu.com di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, akhir Agustus 2015 lalu.

Pau yang sedang menunggu kapal feri mengatakan bahwa kabar tentang keindahan Pulau Weh itu ia dengar dari orang tuanya. Pau menunggu kapal untuk berangkat ke Sabang sembari membaca novel yang ditulis dengan bahasa Inggris.

Amatan portalsatu.com Pelabuhan Ulee Lheue dipadati wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang akan berangkat ke Sabang.

Berdasarkan informasi dari petugas penjualan tiket, pengunjung sudah membeli tiket sejak pukul 09.00 untuk kapal feri yang berangkat pukul 14.00 WIB. Sedangkan tiket kapal cepat itu yang berangkat pukul 10.00 WIB sudah lebih dulu habis terjual.[] Laporan M. Fajarli Iqbal

Foto lokasi wisata di Sabang. @kompas

Begini Suasana Rumah Pemotongan Hewan di Mekkah

Begini Suasana Rumah Pemotongan Hewan di Mekkah

Menyambut hari raya Idul Adha 1436 H, umat Muslim di berbagai penjuru dunia akan disibukkan dengan aktivitas pembelian dan pemotongan hewan kurban.

Tak terkecuali para jemaah Indonesia yang tengah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Sebagian besar jemaah haji Indonesia melakukan pembelian dan pemotongan hewan kurban di Pasar Hewan Kaqiyah yang berada di wilayah Jabbal Nur, Mekah.

Biasanya jemaah secara rombongan akan menaiki bus ke Pasar Kaqiyah untuk membeli kambing, sapi, atau unta sebagai pembayar dam. Harga kambing di pasar tersebut berkisar antara 350 hingga 500 riyal, sedangkan harga unta mencapai 4.000-5.500 riyal. Harga tersebut sudah termasuk biaya pemotongan.

Di Pasar Kaqiyah, pemotongan hewan untuk pembayaran dam haji dilakukan sebelum pelaksanaan wukuf. Sementara pemotongan hewan untuk kurban akan dilakukan tepat pada hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah dan hari-hari Tasyriq pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Pasar Kaqiyah berdiri di sebuah tanah lapang dengan luas sekitar 5.000 meter persegi. Nyaris seluruh pekerja di tempat ini adalah orang berkulit hitam. Tukang jagal atau pemotong hewan di sini seluruhnya mengenakan seragam merah menyala hingga ke serban. Tujuannya, agar pakaian dan serban yang terkena percikan darah tidak terlihat kotor.

Selain di Kaqiyah, pembayaran dam dapat juga dilakukan melalui Bank Ar-Rajhi. Ar-Rajhi mematok harga 400 riyal untuk seekor kambing atau domba. Harga tersebut termasuk biaya pemotongan serta pendistribusian. Selain di Ar-Rajhi, loket pembelian hewan dapat pula ditemukan di Mina.

Pemerintah Mekah di Arab Saudi menggunakan teknologi modern dan canggih untuk proses pasca penyembelihan hewan kurban dengan anggaran sebesar 56 juta riyal atau setara dengan Rp143 miliar. Meski begitu, penyembelihan tetap dilakukan secara manual sesuai dengan syariat Islam.[] sumber: dream.co.id

Menikmati Keindahan Gua Tujoh

Menikmati Keindahan Gua Tujoh

SIGLI – Gua ini memiliki tujuh pintu. Letaknya berada di KM 100 Jalan Banda Aceh-Medan. Tepatnya di Desa Meunasah Cot, Laweung Kecamatan Muara Tiga, Pidie. Masyarakat sekitar menyebut tempat ini sebagai Gua Tujoh.

Jarak antara Gua Tujoh dengan Jalan Banda Aceh-Medan terbilang jauh. Butuh waktu 30 menit menuju lokasi jika menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang. Jalan menuju ke lokasi juga sempit dan berbatu. Informasi yang dikumpulkan wartawan menyebutkan pengerjaan jalan ini sedang dalam proses.

Namun jarak tempuh tersebut tidak menjadi kendala bagi pengunjung. Pasalnya sebelum sampai ke lokasi, wisatawan akan disuguhi pemandangan yang indah. Mata para pelancong juga akan dimanjakan dengan langit biru jika cuaca cerah dan hamparan pantai laut selatan Selat Malaka. Pemandangan perbukitan karst juga turut menyuguhi perjalanan menujut Gua Tujoh.

Di lokasi, wisatawan akan disambut oleh tiga penjaja makanan. Mereka terlihat telaten mempromosikan dagangannya sembari menawarkan jasa pemandu. Guide lokal ini hanya meminta jasa mereka dibayar Rp 5 ribu per wisatawan.

+++

Gua ini sedikit menurun ke dalam. Mulutnya besar menganga ke daratan. Suasana di dalam gua juga terlihat gelap.

Saat memasuki gua kita harus menuruni sebuah tangga yang terbuat dari kayu. Senter sangat diperlukan untuk menerangi jalan menyusuri gua karst ini. Menurut cerita warga setempat, dulunya orang-orang yang masuk ke dalam gua ini memakai obor. Namun asap obor membuat dinding gua menjadi hitam. Mereka akhirnya beralih menggunakan senter.

Udara di dalam gua ini terasa sejuk. Tanahnya becek karena rembesan air mengucur dari langit-langit gua. Dinding sekitarnya dipenuhi bebatuan yang terasa sangat dingin.

“Dulu ramai orang dalam gua ini, rata-rata para ambia beribadah di dalam ini dan terdapat ruang-ruang bersemedi (kalut) khusus di sini. Bahkan tanpa lampu penerang maupun senter saat itu,” kata Anbia, 43 tahun, salah satu pemandu Gua Tujoh, sembari menunjukkan ruang bertapa yang tidak diperbolehkan masuk ke portalsatu.com, awal September 2015 lalu.

Anbia mengatakan di dalam gua ini juga terdapat batu berbentuk bedug. Masyarakat setempat menyebutnya tambo. Tambo ini dulunya bisa mengeluarkan bunyi saat ditabuh. Namun sekarang tidak ada yang pernah mencoba memukulnya lagi. Pasalnya letak tambo ini berada jauh di langit-langit gua. Di dalam gua ini juga terdapat batu mirip burung rajawali yang sebelah sayapnya patah.

Selain itu, Gua Tujoh juga dilengkapi dengan tiang-tiang penunjuk arah. Tiang ini berbentuk kristal padat mengkilat. Tiang-tiang ini sebenarnya adalah stalagmit yang terbentuk dari kumpulan kalsit yang berasal dari air yang menetes. Stalagmit ini kemudian dimanfaatkan oleh pengunjung Gua Tujoh sebagai penunjuk arah yang letaknya dekat dengan pintu utama gua.

Di dalam Gua Tujoh juga terdapat batu gantung yang sisi samping kanan kiri hanya sedikit menempel dengan dinding gua. Biasanya orang setempat menyebutnya batu melayang.

“Ini baru gua bawah tanah, belum lagi lantai atas yang juga sangat luas tetapi di atas sedikit terang karena ada cahaya dari atas,” ujarnya.[](bna)