Category: Profil

Nonik, Psikolog Anak dari Unmuha

Nonik, Psikolog Anak dari Unmuha

ENDANG Setianingsih, M.Pd., psikolog anak sekaligus dosen tetap di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh.  Perempuan akrab disapa Nonik ini pendiri Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) di Aceh.

Perempuan kelahiran Bireuen, Oktober 1969, ini aktif di P2TP2A provinsi di bawah BP3A Aceh.

Nonik tertarik menjadi psikolog setelah bertemu seorang psikolog di Medan. Nonik yang ketika itu masih siswi SMA lantas bertanya; “Apa hebatnya menjadi psikolog dibandingkan profesi lain?”

“Lalu beliau menuntun saya keluar praktek dan mengatakan kepada saya sambil menunjukkan pamphlet (papan nama). Kalau kamu mau kaya, kuliah disitu banyak uang dan kamu bisa kaya, tetapi kalau psikolog kamu tidak bisa kaya tetapi kamu kaya hati,” ujar Nonik mengutip pernyataan psikolog asal Medan tersebut.

Nonik melihat kehidupan psikolog itu sangat sederhana, bersikap ramah, dan disenangi banyak orang.

“Hidup sederhana dan suka menolong beliau menjadi motivasi buat saya. Lalu setamat SMA saya bilang ke orangtua untuk melanjutkan studi saya ke Solo atau Yogyakarta untuk mengambil psikologi,” ujar perempuan yang hobi membaca ini.

Nonik mengaku hingga saat ini masih teringat pernyataan mengandung motivasi dari psikolog Medan tersebut dan selalu menyemangati kerjanya hingga sekarang.

“Walau terkadang saya berada di bawah ancaman saat berhadapan dengan kasus-kasus, karena saya membela korban yang kebetulan mereka orang-orang lemah, ekonomi rendah dan buta hukum,” katanya.

Kondisi tersebut tak membuat semangat Nonik patah. Sebaliknya menjadi penyemangat baginya meskipun lelah dan tidak dihargai, bahkan ia harus menyetir sendiri untuk menangani beberapa kasus.

“Niat saya untuk membantu, jadi saya pergi dengan setulus hati dan selalu mencoba memberi senyuman pada keluarga korban, baik di kepolisian maupun di pengadilan tetap saya tunjukkan sikap kuat agar korban yang saya dampingi atau kadang menjadi saksi ahli menjadi yakin dan tidak takut,” ujar ibu dua anak ini.

Nonik merasa bahagia karena bisa membantu yang lemah. Saat ia mengajar mahasiswa di kampus menjadi mudah memadukan antara teori dengan fakta. “Sehingga mahasiswa lebih paham, ini satu keuntungan bagi saya sendiri yang memiliki profesi menjadi dosen di Psikologi Unmuha,” katanya.[] (idg)

Foto: Endang Setianingsih (Nonik)

Bukan Tentara Biasa, Peltu Riyono Mengabdi Lewat Mengajar Ngaji

Bukan Tentara Biasa, Peltu Riyono Mengabdi Lewat Mengajar Ngaji

Jakarta – Matahari sudah hampir terbenam saat rombongan detikcom tiba di rumah milik H. Riyono Suhadi di Jl Haji Kocen, Kampung Kebon Duren, Kalimulya, Cilodong, Depok. Sepoian angin sore membuat udara di sekitar terasa sejuk.

Ruang kelas bergambar kartun dan dinding yang dicat warna-warni menyambut kami. Di samping pintu gerbang warna hijau ada spanduk bertuliskan “Yayasan Athfal Amri Aksani”. Seseorang pria cukup umur yang ternyata H. Riyono menyambut kami di depan rumah. Kami lalu bersalaman dan mengobrol santai.

Pisang goreng dan teh manis hangat yang disuguhkan si empunya rumah membuat suasana sore itu begitu hangat. Rumah dan pekarangan seluas 1.500 meter itu sengaja dibeli Riyono untuk kegiatan pesantren dan majelis taklim warga sekitar.

Pesantren atau majelis taklim memang biasa ada di lingkungan masyarakat, namun pesantren milik H Riyono ini agak sedikit berbeda. Bukan ajaran atau pengajarnya yang beda, namun yang punya pesantren ini adalah anggota TNI AL. Tentara yang punya kegiatan keagamaan tak banyak dan hanya ada beberapa. Salah satunya Riyono.

Riyono merupakan anggota TNI AL Korps Marinir yang berdinas di Kwitang, Jakarta Pusat. Dengan pangkat Bintara Tinggi Pembantu Letnan 1 (Peltu), Riyono biasa mengurus pembinaan mental rohani Islam (Bintal Rohis) para tentara di sana.

Pria kelahiran Brebes, 27 Mei 1970 ini mulai merintis pesantrennya sejak Desember 2010. Awalnya dia dan istrinya hidup ngontrak berpindah-pindah dari Cilandak lalu ke Jonggol dan ke Serab Depok. Setelah punya rumah di Serab, rumah itu dijualnya dan pindah ke Cilodong untuk membangun pesantren.

Pesantren miliknya memang tidak sebesar pesantren lain. Dia menyebutnya sebagai pesantren karena memang khusus untuk belajar, mengajarkan dan menyebarkan ilmu agama.

“Ini disebut pesantren bisa, padepokan bisa, majelis taklim bisa pokoknya tempat belajarlah. Alhamdulillah saya beli tanah 1.500 meter lebih. Saya jadiin majelis taklim biar bermanfaat, kalau tanah lebar nggak ada manfaatnya kan mubazir,” kata Riyono saat berbincang dengan detikcom, Rabu (30/9/2015).

Pesantren ini berada di bawah yayasan Athfal Amri Akhsani, yang tak lain adalah nama anak pertama dari Riyono. Sasarannya adalah warga sekitar yang ingin belajar mengaji.

Awalnya pesantren ini menampung santri yang ingin menginap. Namun seiring berjalannya waktu, pesantren ini hanya menggelar pengajian setiap sore dan malam hari.

“Dulu ada yang nginap, cuma mereka nggak kuat. Soalnya harus bangun subuh, ikutin peraturan saya, sudah pesantren, tentara lagi itu kenceng banget itu. Disiplinnya, bangun tidurnya, akhirnya banyak yang nggak kuat, ya udah yang penting mereka mau ngaji saja alhamdulillah. Kalau keras-keras nanti mereka kabur,” kisah Riyono sambil tertawa.

Di rumahnya Riyono membuka TK Islam Ilman Nafiah, nama itu diambil dari nama anak keduanya. Murid yang ikut sebagian besar warga sekitar dan biayanya juga murah hanya Rp 70 ribu sebulan.

“TKnya resmi sudah terdaftar di Kementerian Agama. Kalau anak yatim gratis, semua kita kasih, seragam dan uang bulanan kita santunin pertiga bulan,” ucapnya.

Saat ini murid yang belajar di tempat Riyono berjumlah 54 orang, terdiri dari TK, SD hingga SMP. Khusus yang TK kegiatan dilakukan dua kali yakni pagi dan sore hari.

“Pagi itu untuk umum baca tulis latin, tata krama, akidah akhlak. Kalau sore khusus agama, doa-doa pendek, belajar salat, baca quran,” jelas pria yang mengenyam pendidikan S1 di Ilmu Tarbiyah di Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin Al-Ayyubi ini.

Riyono mengaku tak kesulitan membagi tugasnya sebagai anggota Marinir dan mengurus pesantrennya. Meski harus mengorbankan waktu, tenaga dan uang, namun Riyono senang bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk warga sekitar.

“Dinas mah tinggal dinas, berangkat tinggal berangkat. Saya berprinsip kepada hadis nabi yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Kira-kira saya hidup bermanfaat nggak buat orang, kalau saya nggak manfaat kayaknya rugi banget. Kebetulan saya punya sedikit ilmu, bisa baca quran, jadi saya ngajarin itu,” katanya.

Dia juga biasa menghadapi kesulitan dalam mengembangkan pesantrennya. Apalagi pesantren ini berbasis sosial yang tidak mengharap keuntungan. Sehingga seringkali dia mengalami kesulitan biaya. Namun dengan kayakinan dan usaha semua itu bisa dihadapi.

“Masa-masa sulit itu pasti ada. Misalnya kesulitan ekonomi, tapi terlewatkan asal kita mau usaha yang penting halal. Alhamdulillah ada jalannya,” katanya.

Di rumah yang asri dan berada di atas empang itu Riyono dan istrinya banyak menghabiskan waktu untuk mengurus anak-anak didiknya. Meski tidak selalu mengajar langsung, dia merasa lega bisa memberikan tempat untuk warga sekitar belajar agama. Selain TK ada juga taman untuk anak-anak, ruang mengaji dan dia juga sedang membangun ruangan dua lantai untuk tempat murid-muridnya bermukim nanti.[] Sumber: detik.com

Foto: Peltu Riyono.

Nunu Husien; Pendiri Komunitas Darah Untuk Aceh

Nunu Husien; Pendiri Komunitas Darah Untuk Aceh

Nurjannah Husien namanya. Perempuan berkacamata itu akrab dipanggil Nunu. Ia salah seorang perempuan Aceh yang patut diapresiasi. Empatinya yang tinggi terhadap anak-anak penderita thalasemia membuatnya berhasil merangkil anak-anak muda untuk melindungi Aceh dari krisis darah.

Lewat gerakan tersebut, aktivis sosial kelahiran Lhok Kruet, Aceh Jaya, 24 April 1969 ini mendirikan komunitas Darah Untuk Aceh atau DUA.

“Komunitas ini saya dedikasikan untuk almarhumah ibu saya, dalam  kesederhanaannya tapi bisa memberi manfaat bagi orang lain. Apa yang saya lakukan bersama teman-teman di Komunitas Darah Untuk Aceh hanya sebatas berkontribusi dengan apa yang saya lihat bertolak belakang dengan apa yang saya alami,” kata Nunu pada portalsatu.com pada Sabtu malam, 3 Oktober 2015.

Nunu mengisahkan, bermula ketika almarhumah ibunya dirawat selama dua bulan di rumah sakit. Karena penyakitnya ibunya harus transfusi darah sampai 10 kantong. Setahun setelah ibunya meninggal dunia, ia pun memilih resign  dari pekerjaannya sebagai District Manager di sebuah perusahaan swasta nasional.

“Minggu pertama masih happy dan tanpa kendala, saya terbebas dari rutinitas yang membosankan tetapi ternyata itu awal dari masalah. Karena saya yang biasanya  produktif dan kreatif harus diam di rumah, terus terlintas di benak saya, kalau begini terus saya bisa mati, saya tidak mau mati (tidak produktif) karena saya tidak bekerja secara profesional, pasti ada cara yang lain,” ujarnya.

Dua bulan setelah tidak bekerja lagi, ia teringat pada Yayasan Bumiku Hijau (YABUMI) yang ia dirikan pada 24 April 2009. “Saya rencanakan ini untuk donor darah massal, tetapi saya juga tidak ingin seperti yang lain, donor darah massal hanya pada momen ulang tahun atau event-event tertentu saja, sementara saya ingin ini berkelanjutan. Tapi bagaimana caranya?”

Kegudahannya lantas terjawah. Dengan semangat untuk berbagi kemudahan, terbentuklah DUA yang bekerjasama dengan PMI Kota Banda Aceh. Awalnya DUA bergerak untuk menggalang donor darah untuk memenuhi kebutuhan darah di Unit Donor Darah PMI Kota Banda Aceh.

“Namun, setelah saya bertemu dengan Direktur Unit Donor Darah dr. Ridwan Ibrahim, SpK, di situ saya baru tahu bahwa ada satu kondisi di mana ada orang-orang yang membutuhkan darah rutin demi perpanjangan usia mereka. Mereka itu adalah pasien penyandang thalassemia,” katanya.

Awalnya ia berpikir solusi dari masalah ini mudah dan sederhana. Karena penderita thalassemia yang transfusi darah ke Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin pada April 2012 lalu berkisar 97 orang.

“Berarti donor rutin akan menyelesaikan masalah. Ternyata saya salah, permasalahannya tidak sesederhana yang saya pikirkan. Kebutuhan darah bagi penderita thalassemia sangat banyak, variatif tergantung dari tingkat keparahan dan kadar hemoglobin (hb) dalam darah,” katanya.

Thalassemia, kata Nurjannah, merupakan penyakit di mana sel darah merahnya cepat rusak dan ditandai dengan anemia akut. Kerusakan sel darah merah pada orang normal 120 hari sedangkan pada penderita thalassemia kurang dari itu, bahkan ada yang hanya dua minggu. Penyakit yang belum  ditemukan obatnya ini harus rutin transfusi  untuk mempertahankan kadar hemoglobin dalam darah penderitanya.

“Saya dan teman-teman relawan masih awam tentang penyakit ini, hanya saja berusaha mencari pendonor  yang bersedia mendonor tetap dan rutin untuk penderita thalassemia. Akhirnya dikenal lewat program #10for1thalassemia dengan maksud meringankan beban orang tua yang selalu mengeluh tentang susahnya mendapatkan darah yang berkualitas,” ujar Nurjannah.

Dua hari yang lalu, Nurjannah Husien barusaja pulang dari Hanoi, Vietnam dalam rangka Thalassemia Conference. “Untuk berbagai kesempatan, saya selalu berterimakasih kepada relawan, tim, dan pendonor atas bantuannya dan mau berbagi untuk saudara kita penderita thalassemia yang semula tidak saling kenal menjadi seperti keluarga, semoga Allah yang akan membalasnya,” kata Nunu.[] (ihn)

Foto Nurjannah (dua dari kanan) saat di Vietnam

Cerita Rikar Saat Ikuti Kapal Pemuda Nusantara Sail Tomini

Cerita Rikar Saat Ikuti Kapal Pemuda Nusantara Sail Tomini

BANDA ACEH- Rikar Maulana Putra merupakan salah satu anak muda asal Aceh yang mengikuti Kapal Pemuda Nusantara (KPN).

KPN merupakan salah satu program dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk seluruh pemuda Indonesia yang ingin berkiprah di dunia bahari. Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia dengan segala potensi bahari yg ada, sangat disayangkan jika para pemuda tidak sadar akan potensi tersebut.

Dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut dan Kemenpora membuat program KPN dengan tujuan hasil dari program tersbut seluruh peserta nantinya mampu menjadi pengelola bahari disetiap daerah.

“Apapun itu, baik dalam bentuk kewirausahaan, budidaya hasil laut, konservasi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bahari,” kata Rikar Maulana Putra,  saat dihubungi portalsatu.com, Kamis, 1 Oktober 2015.

Kata Rikar, awal mulanya tertarik dengan KPN karena sadar kalau tanah airnya luas, potensi bahari sangat luar biasa namun banyak pemuda yang tidak sadar akan potensi bahari tersebut. “Nah saya penasaran bagaimana sebenarnya Indonesia itu, bagaimana sebenarnya bahari yang ada di pulau sebelah timur dan tengah Indonesia itu, bahari itu apa sih sebenarnya,” ujar mahasiswa Ilmu Politik FISIP Unsyiah ini.

Menurutnya, selama ini hanya bisa melihat negara belahan timur dan tengah ini melalui peta namun melalui KPN hal-hal yang sebelumnya tidak mungkin dilihat bisa didapatkan di KPN. “Selain jalan-jalan gratis ke beberapa destinasi yang sudah di tentukan kita juga banyak mendapat ilmu dan mempelajari budaya dari setiap peserta KPN yang ada di Indonesia dari Sumut sampai Papua Barat,” ujarnya

Sementara Sail Tomini merupakan kegiatan Sail Indonesia yang tiap tahunnya rutin dilakukan dengan tujuan agar daerah-daerah yang menjadi tujuan sail dapat berkembang baik secara pembangunan fisik serta baharinya.

“Intinya mempromosikan bahari Indonesia dimata dunia. Sail-sail Indonesia itu setiap tahunnya berbeda-beda mulai dari Sail Bunaken 2009, Sail  Banda 2010, Sail Belitong dan Wakatobi 2011, Sail Morotai 2012, Sail Komodo 2013, Sail Raja Ampat 2014 dan yang terakhir Sail Tomini 2015,” kata pencinta traveling ini.

Namun, katanya, KPN lebih spesifik dipegang oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda di bawah naungan Kemenpora sedangkan Sail Tomini di bawah Kemenko Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (PMK).

“Nah, Sail Tomini ini program besar dari Sail Indonesia tadi. Sub programnya adalah Kapal Pemuda Nusantara yang tahun ini rute pelayarannya ke Kota Baru Kalimantan Selatan, terus lanjut ke Pulau Siau, Pulau Tahuna, dan Pulau Melonguane di Sulawesi Utara, terus ke Ternate Maluku Utara. Kemudian ke lokasi acara Sail di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah di teluk Tomini, lalu rute terakhir ke Pulau Muna di Sulawesi Tenggara,” kata Rikar.

Program KPN tersebut selama satu bulan penuh yang dimulai sejak 26 Agustus hingga 26 September 2015 lalu. “Kemarin acara puncak Sail Tomini pada 19 September 2015 di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah dan selama sebulan tersebut kami mampir di rute-rute yang telah ditentukan itu,” katanya.

Peserta KPN ini, kata Rikar, direkrut dari lembaga yang berbeda-beda. Setiap Dispora Provinsi  diutus lima orang peserta. Peserta meliputi dari BKKBN, Teknik Perkapalan UI, dari Kemenko PMK, Palang Merah Indonesia (PMI), dan dari Kemenpora.

“Ada juga dari lokasi-lokasi singgah seperti Kota Baru ada perwakilan dua orang, seperti Pulau Siau, Tahuna, Melonguane, Parigi Moutong, dan Pulau Muna,” ujar mahasiswa asal Aceh Barat Daya ini.

Sementara dari Dispora Aceh terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan, salah satunya Rikar Maulana Putra. Adapun keempat peserta lainnya adalah Hanif Muchdatul Ayunda asal Aceh Selatan, Thesa Andhita asal Aceh Barat, Ikhwanul Fitri, dan Ashra Winda Berliyani, keduanya asal Banda Aceh. [] (mal)

 

Bos Tambang Batubara Ini Kayuh Becak dari Aceh ke Jakarta

Bos Tambang Batubara Ini Kayuh Becak dari Aceh ke Jakarta

Direktur perusahaan pertambangan batubara Harum Energy, Scott Thompson akan memulai kayuh becak dayung dari Aceh menuju Jakarta. Pria kelahiran Skotlandia ini kayuh becak dilakukan bukan untuk membuktikan ketahanan fisik yang dimilikinya, akan tetapi dilakukan untuk mengumpulkan dana sosial untuk sejumlah yayasan, seperti Yayasan Cinta Anak Bangsa, Marys Cancer Kiddies, Yayasan Wisma Cheshire, dan Yayasan Puspita.

Scott Thompson bersama tim memulai kayuh becak dari Museum Tsunami Aceh yang dilepaskan langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Reza Fahlevi, Minggu (27/9). Scott akan menempuh perjalanan selama 22 hari dengan jarak tempuh 2.612 Km.

Sebelum dilepaskan, Scott Thompson di depan awak media menjelaskan bahwa, memulai kayuh becak dari Museum Tsunami sebagai simbul bencana terdahsyat tahun 2004 silam. Seluruh rakyat Aceh mampu menghadapinya.

“Saya memulai dari Aceh, karena rakyat Aceh sangat luar biasa, meskipun saya kayuh sepeda hingga ke Jakarta, tidak ada apa-apanya dibandingkan rakyat Aceh menghadapi tsunami dulu,” kata Scott Thompson saat hendak dilepaskan.

Sebelum dilepaskan, pihak kepolisian dan sejumlah stakeholder lainnya terlebih dahulu memeriksa kondisi fisik becak kayuh tersebut, termasuk memastikan bukan becak motor. Selain itu becak tersebut dilengkapi dengan GPS dan juga lampu penerang malam menggunakan baterai.

“Ini becak dimodifikasi selama 1 tahun agar tahan untuk perjalanan sejauh 2.612 km, tidak ada menggunakan mesin, semua menggunakan kayuh,” kata Project Director Becak Terus, Farhan. Becak Terus nama yang diberikan untuk perjalanan Scott Thompson selama 22 hari.

Katanya, Scott Thompson nantinya dalam perjalanan menuju perbatasan Jakarta akan melintasi 8 provinsi. Selama dalam perjalanan, Scott Thompson juga akan berinteraksi dengan masyarakat dan mengajak semua pihak untuk mendonasikan sedikit hartanya untuk bantuan social ini.

Menurut Farhan, Scott Thompson menggunakan becak dayung ini memiliki filosofi tersendiri. Karena becak dayung ini merupakan transportasi tradisional Indonesia. Kendaraan kayuh dengan tenaga manusia ini masih terus digunakan hingga sekarang.

“Becak ini juga saat dulu Indonesia terpuruk, becak menjadi satu-satunya kendaraan yang tetap beroperasi, makanya digunakan becak,” ungkap Farhan.

Sebelumnya Scott Thompson pada tahun 2010 lalu pernah berlari dari Gurun Sahara untuk membantu anak-anak penderita kanker. Lalu pada tahun 2012 dia kembali berlari dari Bali ke Jakarta sejauh 1,250 Km mengumpulkan dana untuk membangun rumah belajar YCAB Foundation Bali, Banyuwangi, Situbondo dan Marunda.

“Perjalanan ini Scott berharap ada kesadaran dari masyarakat untuk misi ini mengumpulkan dana bantuan sosial,” harap Farhan.

Sementara itu Kepala Disbudpar Aceh, Reza Fahlevi mengatakan, ini merupakan sebuah penghargaan yang luar biasa memulai misi sosial kayuh becak dari Aceh. Apa lagi Scott Thompson telah mengorbankan waktu, materi dan fisik untuk membantu orang yang lemah.

“Ini mengajarkan kita untuk berbagi sesama dan juga membantu sesama, ini luar biasa, kami bangga ini dimulai dari Aceh, apa lagi museum tsunami sangat bersejarah bagi masyarakat Aceh,” ungkap Reza Fahlevi. | sumber: merdeka

Foto Scot Thompson Bule asal Skotlandia kayuh becak dari Aceh ke Jakarta. ©2015 Merdeka.com

Nora Aini Yunita; Si Koki Cantik dari Unsyiah

Nora Aini Yunita; Si Koki Cantik dari Unsyiah

GADIS cantik ini bernama Nora Aini Yunita. Ia kelahiran Banda Aceh, 28 Juni 1993 serta sedang menempuh pendidikan di FKIP PKK Unsyiah, konsentrasi Tata Boga.

Oleh teman-teman seangkatan, ia diberi gelar Ahli Memasak. Hobi Nora selain memasak, juga gemar membaca, dan menulis cerpen. Nora adalah alumni siswi berprestasi di SMK 3 Banda Aceh.

Kata Nora, awalnya masuk ke SMK Negeri 3 Banda Aceh bukanlah karena keinginannnya.

Gadis yang tinggal di Desa Ajee Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, mengaku tidak dapat melanjutkan sekolahnya di SMA Oemar Diyan, karena musibah orangtuanya, Drs. Burhanuddin Banta Cut, M.A, mengalami sakit keras sehingga harus dirawat di RSUZA Banda Aceh.

“Nora yang ingin menyambung sekolah dari SMP Oemar Diyan, harus memupuskan niatnya untuk menyambung ke SMA Oemar Diyan dan harus melanjutkan pendidikannya ke SMK 3 Banda Aceh. Kamu masuk aja ke SMK 3 Banda Aceh, daripada kamu tidak sekolah,” katanya.

“Waktu itu cuma SMK 3 Banda Aceh yang masih membuka pendaftaran sekolah, bahkan siapa pun yang tidak memiliki ijazah juga dapat masuk untuk meneruskan pendidikan di SMK 3 Banda Aceh tahun 2008. Yaudah pasrah dan menerima segala kehendak Tuhan, yakin aja kalau jalan Tuhan kedepan jauh akan lebih baik dari apa yang aku harapkan,” ujar Nora Aini Yunita lagi.

Nora mengaku mendapatkan prestasi sejak duduk di Sekolah Dasar. Berbagai juara diraihnya, seperti juara 1 lomba MTQ tingkat Madrasah Dasar Negeri 110 Percontohan Banda Aceh.

Nora mengaku melatih kemampuan irama mengajinya dari Ibunya yang sering meraih juara I MTQ. Nora juga mendapatkan juara harapan I lomba bercerita islami oleh kepanitiaan masjid raya tingkat provinsi di 2004, serta beragam prestasi lainnya.

Karena prestasi yang didapatkannya, Nora masuk sebagai mahasiswi FKIP PKK/Tata Boga Unsyiah angkatan 2010 melalui jalur Undangan. Nora juga aktif sebagai anggota Al-Mudarris bidang Kestari (Kesenian dan Tari). Nora juga dipercayakan sebagai Sekretaris (HIMADSIGA) Himpunan Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga periode tahun 2013.

Sebagai mahasiswi aktif FKIP PKK/Tata Boga Unsyiah, Nora mengikut lomba memasak yang dilaksanakan oleh Himpunan mahasiswa FKIP kimia Unsyiah, dan mendapatkan juara I Cooking Competition Chemistry Expo 2012 HIMAKA FKIP Unsyiah. Kemenangan ini juga membawanya menjadi juara I dalam ajang  lomba penulisan resep penganan tradisional Aceh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh kategori “Kue Basah”.

Tak habis akal dalam meraih prestasi bidang memasak, Nora kembali melanjutkan kompetensi dalam penulisan resep penganan tradisional Aceh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh kategori “Sambai/Sambal Aceh” dan menjadi juara harapan III.

Sedangkan dalam bidang keagamaan, Nora mampu meraih juara I MTQ tingkat Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga FKIP Unsyiah. Dalam usahanya mengolah bermacam makanan, Nora juga pernah kebobolan PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) – seIndonesia tahun 2013, dalam memanfaatkan lidah mertua sebagai potensi Aceh untuk pembuatan Candy Jelly Sansevieria, didanai oleh Kemendikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Nora juga lulus di Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) tahun 2014, bidang pengabdian kepada masyarakat dalam  memanfaatkan Short Mahfudhat sebagai Pembentuk Akhlaqul Karimah di Aceh untuk menciptakan generasi cemerlang dalam IMTAQ dan IPTEK yang didanai oleh Kemendikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Nora juga mengaharumkan FKIP PKK Unsyiah sebagai juara 2 (Runner Up) Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) tingkat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Berbagai penghargaan diraih Nora diantaranya ialah, Penghargaan Pengembangan Kurikulum Berbasis Wisata Kuliner. Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh dan Grand Nanggroe Hotel tahun 2008, Praktikal di Ratu Food Industries, Malaysia, SDN. BHD tahun 2011.

Nora memimpin  penghargaan dalam seminar nasional mahasiswa menuju pasar bebas 2015 Aceh-Malaysia Youth Leader Conference dan BEM Fakultas Hukum Unsyiah di 2013.

Pada 2014, Nora juga mendapatkan penghargaan dalam Sosialisasi dan Seminar Re-Branding Aceh “City Branding Mewujudkan Aceh sebagai Destinasi Wisata Nasional dan Internasional” di Hermes Palace Hotel Banda Aceh oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia-Aceh.

“Dimana pun kamu berada, bersungguh-sungguhlah,” kata Nora.

 Laporan Maisarah Kim

Penguasa Terkaya Sejagat dari Libya

Penguasa Terkaya Sejagat dari Libya

PUBLIK di luar Libya lamat-lamat masih mengenang Moammar Gaddafi melalui siaran televisi. Di situ ia kerap digambarkan sebagai pria setengah baya yang suka berkemah. Bukan di padang hijau, melainkan di padang pasir.

Tidur di tenda, ia tampil seperti pemimpin yang merakyat. Kebiasaanya tidur di tenda padang pasir mengingatkan pada suku pengembala di Libya yang hidup nomaden alias berpindah-pindah.

Namun ironisnya, sepekan setelah meninggalnya Moammar Ghadafi, Los Angeles Times melaporkan aset pemimpin asal Libya itu yang mencapai US$ 200 miliar atau sekitar Rp 2.400 triliun. Atau lebih besar dari Angaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia tahun 2015 yang hanya Rp 2.039 trilyun. Sebuah angka yang mengejukan. Aset tersebut tersebar di rekening bank, investasi real estat, dan investasi saham beberapa perusahaan.

Dengan harta itu, dia masuk urutan ke delapan dari 25 orang terkaya sepanjang sejarah. Dia merupakan satu dari tiga orang muslim yang masuk dalam daftar itu.

Kekayaan Gaddafi ini diperkirakan mencapai 3 kali lipat dari kekayaan salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates, Andrew Carnegie, dan John D. Rockefeller.

Namun, mengapa Gaddafi dengan kekayaan US$ 200 miliar ini tidak masuk dalam radar daftar orang terkaya versi Forbes?

Forbes telah mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya memisahkan kekayaan para penguasa dan diktator dengan kekayaan pribadi atau kekayaan hasil bisnis. Kekayaan dari penguasa ini yang mengaburkan antara aset milik pribadi dengan milik negara.

Itulah sebabnya, kata pihak Forbes, para penguasa seperti Raja Thailand, Sultan Brunei, dan Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum tidak masuk dalam daftar jutawan terkaya di dunia. Meski diperkirakan harta para penguasa ini bisa mencapai 11 digit.

Gaddafi sendiri meraih kekuasaan dari nol. Dia bukanlah seorang anak dari orang tua yang kaya. Dia berasal dari keluarga miskin suku pengembala Bedouin yang hidup berpindah-pindah.

Ia lahir dan menjalani masa mudanya di Qasr Abu Hadi, sebuah daerah pedesaan di luar kota Sirte di gurun barat Libya. Ayahnya, Mohammad Abdul Salam, adalah pengembala domba dan unta.

Gaddafi muda memang sudah suka berorganisasi bahkan membentuk kelompok revolusioner militan. Dia sangat terinspirasi tokoh Mesir anti-Barat, Gamal Abdul Nasser.

Setelah lulus dengan nilai sangat memuaskan di Fakultas Sejarah Universitas Libya, Gaddafi memutuskan masuk akademi militer. Dia berencana membentuk kelompok yang bertujuan menjatuhkan pemerintahan monarki pro-Barat.

Alhasil, setelah melakukan berbagai pelatihan kemiliteran, pria yang lahir di Tripolitania, 7 Juni 1942, mampu menjadi pemimpin negara Libya pada tahun 1969.

Pada saat iru, ketika masih berpangkat Kolonel, ia melakukan kudeta terhadap pemerintah Raja Idris yang korup dan tidak populer. Melalui jaringan intelejen dan simpatisan yang mulai ia bangun ketika menjadi kadet di akademi militer, tahun itu ia berhasil mengulingkan Raja Idris ketika ia tengah bepergian ke luar negeri.

Sejak saat itu dia menjadi orang nomer satu di Libya hingga digulingkan tahun 2011.

Gaddafi Diktator di Negeri Kaya

Lalu dari mana kekayaan Gaddafi? Harian Inggris The Guardian sempat melaporkan terdapat “celah” dalam anggaran Libya yang berupa selisih dari pendapatan minyak dan gas bumi serta pengeluaran negara. Harian tersebut yakin, pendapatan migas yang tidak dibelanjakan oleh negara itu merupakan harta kekayaan keluarga Gaddafi.

Dari sebuah sumber yang dirahasiakan, The Guardian mengutip bahwa keluarga Gaddafi menyimpan uang miliaran dolar AS dalam rekening gelap di Dubai, kemungkinan juga di beberapa negara Teluk yang lain dan di Asia Tenggara.

Financial Times dalam laporannya yang mengacu pada memo diplomasi yang bocor melalui Wikileaks, menuding Gaddafi membangun “imperium kekayaan” yang diolah oleh anak-anaknya.

Gaddafi tidak membeda-bedakan kekayaan pribadi dengan uang negara sehingga membuat sulit media untuk mengungkap kekayaannya. Sang pemimpin revolusi dan keluarganya menggunakan uang negara seperti memakai uang sendiri, begitu kata Assanoussi Albseikri, seorang pakar politik di Libya.

“Pejabat tinggi negara langsung ditunjuk oleh Gaddafi. Contohnya saja Farhat Kaddara, Direktur Bank Sentral yang sangat loyal terhadapnya,” katanya.

Para pejabat, begitu lanjut Albseikri, berada di bawah pengawasan langsung Gaddafi dan dilarang untuk menananyakan soal anggaran. Gaddafi mengawasi sumber daya alam dan menentukan pengeluaran negara secara langsung.

Tahun 2010, Libya memproduksi dua persen dari kebutuhan minyak dunia, yakni sekitar 2,6 juta barrel minyak bumi per hari. Pemasukan dari sektor migas tahun lalu mencapai sekitar US$ 45 Miliar. Menurut informasi National Oil Coorporation (NOC), negara di Afrika Utara itu tahun 2009 masih memproduksi 1,6 juta barrel minyak per hari dan mendapat pemasukan sekitar 35 milyar dolar AS.

Pengacara asal Libya, Alhadi Shallouf yang merupakan salah seorang anggota di Mahkamah Kejahatan Perang di Den Haag, memperkirakan, bahwa penerimaan negara dari sektor migas sejak 1969 berjumlah ratusan miliar dolar AS dan separuhnya mendarat di kantung pribadi keluarga Gaddafi.

“Gaddafi”, kata Shallouf, “memiliki rekening tambahan untuk pendapatan dari minyak. Isunya ia saat ini memiliki US$ 82 miliar, tapi itu jumlah yang muncul pada tahun 90-an, kini jumlahnya pasti lebih tinggi lagi,” tukasnya.

Tokoh oposisi Libya, Mohammad Abdul Malik memperkirakan kekayaan Gaddafi sebesar US$ 80 miliar, dan kekayaan seluruh klan-nya mencapai US$ 150 miliar. “Pemasukan negara, langsung mengalir ke kantong keluarga yang berkuasa. Rakyat tidak mendapat sepeser pun,” kata Abdul Malik.

Gaddafi Habiskan Kekayaannya untuk Teror dan Dukungan Politik

Seperti kita ketahui, Gaddafi merupakan Raja dari ladang minyak terbesar di Afrika dalam 42 tahun masa jabatannya sebagai pemimpin negara Libya.

Namun, tidak seperti pemimpin Arab Saudi dan pemimpin negara penghasil minyak lainnya, Gaddafi hanya menginvestasikan sedikit uang untuk infrastruktur seperti sekolah dan rumah sakit, serta tidak melakukan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Gaddafi justru menghabiskan sebagian besar uangnya untuk membeli dukungan para pemimpin di Afrika. Ghadafi pun memiliki akses menarik uang di bank-bank karena Bank Sentral Libya dan Otoritas Investasi Libya ada di bawah kekuasaan dia.

Pengacara asal Libya, Alhadi Shallouf meyakini, dengan uang tersebut Gaddafi membangun pasukan serdadu bayaran untuk melindungi rezimnya sendiri.

Banyak pihak meyakini, pasukan bayaran yang digunakan Gaddafi untuk memberantas para demonstran di negaranya, berhubungan dengan kelompok pemberontak di Afrika. “Gaddafi banyak membantu kelompok teror, seperti IRA di Irlandia dan banyak kelompok lain di Italia dan juga Chad,” kata Abdul Malik.

Kini, sebagian besar tokoh oposisi Libya menuntut pemerintahan asing untuk membekukan rekening Gaddafi dan keluarganya, seperti juga dalam kasus Tunisia dan Mesir.

Sementara Libya sendiri tercatat sebagai produsen minyak terbesar ketiga di Afrika. Cadangan minyaknya ditaksir mencapai 45 miliar barrel. Sementara cadangan gas bumi yang diperkirakan sekitar 1.500 miliar kubikmeter, berada di urutan ke-empat di Afrika.

Tahun 2006 lalu Gaddafi membentuk Libyan Investment Authority (LIA) yang sejauh ini diduga telah menginvestasikan dana sebesar US$ 60 miliar di luar negeri. Di antaranya di sektor perbankan, media, klub olahraga dan di sektor otomotif.

Menurut Guardian, Libya bahkan menguasai 7,5% dari sektor perbankan Italia. Selain itu LIA juga mengakuisisi 2,6% saham FIAT dan 7,5% di klub Juventus.

Menurut Financial Times, Gaddafi menginvestasikan uang sebesar US$ 21,9 juta di sebuah kompleks hotel di L’Aquila, sebuah kota di Italia yang 2009 lalu terkena bencana gempa bumi.

Namun, setelah Gaddafi 42 tahun berkuasa, musim semi demokratisasi pun merebak di Arab dan Afrika atau lebih dikenal sebagai Arab Spring. Gelombang musim semi demokrasi itu menyapu para pemimpin diktaktor. Tak terkecuali Gaddafi.

Pemberontakan pun meletus di Libya. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ikut turun tangan melumpuhkan kekuatan militer Libya. Gaddafi pun harus menyingkir dari Istana dan hidup di persembunyian. Tapi itu pun tak lama. Milisi pemberontak berhasil menangkap dan menyiksa Gaddafi hingga tewas tanggal 30 Oktober 2011. Menurut Wikipedia dalam “Death of Muammar Gaddafi,” seorang mata-mata NATO dari Perancis lah yang mengekusi Gaddafi. Spion NATO itu membonceng di belakang milisi pemberontak Libya.

Setelah kematian bengis itu, barulah kekayaan dia dikuak. Hartanya konon begitu tambun. Menempatkan dia sebagai salah satu orang paling kaya sejagat sepanjang sejarah manusia. Pemerintah di Amerika dan Eropa pun ramai-ramai membekukan hartanya. Itulah akhir tragis petualangan seorang anak suku pengembala yang dicitrakan populis, Muammar Gaddaf.[] sumber: dream.co.id

Mengenal Singa Mali, Orang Terkaya Sepanjang Sejarah

Mengenal Singa Mali, Orang Terkaya Sepanjang Sejarah

SEJARAH mencatat, Afrika bagian barat, Mesir, hingga Saudi Arabia pernah mengalami inflasi parah pada abad ke 14. Harga-harga barang melonjak sementara harga emas jatuh di harga paling rendah. Kondisi ini berlarut selama hampir 20 tahun. Apa sebabnya?

Penyebab krisis itu ternyata rombongan karavan Raja Mansa Musa dari Mali di Afrika Barat yang hendak menunaikan ibadah haji. Apa hubungannya ?

Begini kejadiannya. Pada 1324, Raja Mansa berangkat dari Mali menuju tanah suci Mekah. Saat itu Mali dikenal sebagai kerajaan yang teramat sangat kaya karena menjadi penghasil emas terbesar dunia. Tak heran jika rombongan calon haji itu menjadi arak-arakan besar dan mewah. Rombongan itu jumlahnya tak kurang dari 60 ribu lelaki, 12 ribu diantaranya para pelayan.

Setiap pelayan sekurangnya membawa dua kilogram emas batangan, baju sutra bertahta emas, ribuan kuda, dan berkoli-koli perbekalan. Di dalam rombongan juga terdapat 100 ekor unta yang masing-masing memanggul sekurangnya 100 kilogram emas. Sehingga rombongan haji itu setidaknya membawa bekal 34 ton emas batangan.

Perjalanan yang memakan waktu hampir satu tahun itu tentu saja membutuhkan perawatan dan belanja yang cukup besar. Sang Raja sendiri dikenal sangat dermawan. Di setiap tempat yang dilewati, mereka tak sungkan-sungkan membayar menggunakan emas dengan nilai yang lebih besar dari harga barang. Mungkin sekalian sedekah dan beramal.

Saat rombongan sampai di Kairo, Mesir, mereka berkemah selama tiga hari di dekat kompleks piramida. Saat itu Raja Mali memberikan hadiah 50 ribu dinar emas kepada Sultan Mesir, Mamluk Al-Nasir Muhammad. Setiap wilayah yang dilewati rombongan menikmati hujan emas yang berlimpah. Mereka menerima rombongan dengan sajian terhebat, pelayanan nomer wahid, dan jaminan keamanan yang terbaik.

Kisah perjalanan haji Raja Mansa Musa ini bukanlah hikayat semata. Hampir semua sastrawan di sepanjang wilayah yang dilewati rombongan, menulis dengan akurasi yang nyaris serupa.

David Tschanz, dalam esainya Lion of Mali: The Hajj of Mansa Musa edisi Mei 2012, menulis, Musa tak hanya memberikan emasnya ke kota-kota yang ia singgahi, termasuk Kairo dan Madinah, tetapi juga menukarnya dengan souvenir. Ia dilaporkan juga membangun sebuah masjid setiap hari Jumat.

Meski pundi-pundi emas Musa terus dibagikan saat berhaji, sumur rejekinya tak pernah kering. Maklum raja muslim itu menguasai tambang emas dan menguasai rute trans Sahara.

Namun apa yang terjadi kemudian? Setelah berlalunya rombongan, nilai emas langsung anjlok. Karena emas yang beredar berlimpah yang terjadi bukan orang berburu emas, tetapi orang berebut menjual emas. Berlimpahnya uang hasil penjualan emas, membuat harga-harga barang melonjak naik. Kondisi ini tidak hanya terjadi satu atau dua tahun, namun berlarut-larut hingga 20 tahun.

Melihat situasi itu, Raja Mali merasa prihatin. Emas produksi Mali yang selama ini bisa dijual ke negara-negara Timur Tengah juga merosot permintaannya. Guna menggendalikan situasi, Raja Mansa Musa mengambil keputusan membeli atau meminjam (layaknya pegadaian) sebanyak mungkin emas yang pernah dia bagi-bagikan. Bahkan sang Raja siap memberi imbalan dengan harga tinggi.

Membaca kisah tersebut terbayang seberapa kayanya Raja Mansa Musa. Dia bukan hanya kaya pada jamannya, namun diakui sebagai orang paling kaya yang pernah ada di muka bumi, hingga hari ini.

Majalah Time mencatat, jika disesuaikan dengan inflasi saat ini Mansa Musa mempunyai kekayaan senilai US$ 400 miliar (Rp 6.000 trilliun). Angka itu mengungguli harta keluarga Rothschild (US$ 350 miliar), John D Rockefeller (US$ 340 miliar), ataupun Henry Ford (US$ 199 miliar).

Bersujud di Hadapan Allah

Kerajaan Mali pada masa jayanya, terbentang dari Samudera Atlantik di barat hingga Sungai Niger di timur. Sepanjang wilayah ini dianggap sebagai penyimpanan garam dan emas terbesar di dunia. Raja Mansa Musa berkuasa selama 1312 hingga 1337.

Mengutip laporan theroot.com, selama tiga bulan tinggal di Kairo, Mesir, Musa sempat menceritakan kisahnya hingga menjadi Raja Mali kepada seorang penulis sejarah.

Ia menceritakan bahwa pendahulunya, Abubakari II, berlayar menyeberangi Atlantik dengan 2.000 kapal, plus tambahan 1.000 perahu untuk membawa perbekalan dan air. Mereka tidak pernah kembali, dan tidak ada yang tahu nasib ekspedisi tersebut.

Para peneliti modern mengetahui tentang Mansa Musa melalui tenun dari Arab, sejarah lisan, dan mungkin yang paling penting, sejarawan abad ke-17 dari Timbuktu, Ibn al-Mukhtar. Pendiri dinasti Musa adalah Sundiata yang kemungkinan adalah kakek atau paman Musa, menurut ensiklopedia Britannica.

Musa digambarkan sebagai seorang raja saleh dan sangat dihormati di seluruh Afrika. Ia sangat antusias dalam mempelajari Alquran. Ia seorang yang tegas dan enggan bersujud pada penguasa lain. Ia hanya mau bersujud dihadapan Allah.

Sang raja akhirnya memutuskan berhaji. Perjalanan panjang melewati gurun Sahara membawanya ke Mekah, kiblat bagi umat Islam. Saat itu, perjalanan ke Mekah terasa seperti ekspedisi ke sebuah planet nun jauh.

Tapi itu menunjukkan nenek moyang Afrika ingin tahu tentang dunia luar dan bepergian seperti penjelajah lainnya. Ini bertentangan dengan stereotip, mereka tetap tinggal di rumah mereka di benua menunggu untuk ‘ditemukan’.

Legenda ‘Singa Mali’

Selama bertahun-tahun setelah kunjungan Mansa Musa, rakyat jelata di jalan-jalan di Kairo, Mekah dan Baghdad membicarakan tentang perjalanan haji yang megah hingga menyebabkan ekonomi Timur Tengah terguncang selama dua dekade itu.

Saat perjalanan pulang yang panjang dari Mekah pada 1325, Musa mendengar berita pasukannya telah merebut kembali Gao. Ini adalah wilayah ramai yang menjadi pusat perdagangan penting pada saat itu. Musa kemudian meminta Muslim Abu Ishaq sebagai arsitek untuk memulai program pembangunan besar-besaran. Musa mendirikan masjid dan madrasah di Timbuktu dan Gao.

Yang paling terkenal adalah pusat studi Islam kuno, Madrasah Sankore atau Universitas Sankore yang dibangun pada masa pemerintahannya. Musa juga melakukan hubungan diplomatik dengan Maroko. Dia mengirim mahasiswa belajar ke luar negeri.

Sayang, puncak kejayaan Mali itu hanya berlangsung sekejap. Musa meninggal pada 1337 setelah 25 tahun memerintah Mali. Negeri yang dulu gemah ripah loh jinawi berubah 180 derajat. Sekarang justru masuk dalam daftar termiskin di dunia.

Sepanjang sejarah Mali, tak ada raja pengganti yang mampu menandingi kualitas Mansa Musa. Meski Musa telah meninggal 678 tahun silam, tapi legendanya sebagai ‘Singa Mali’ tetap dikenang.[] sumber: dream.co.id

Mengenal Raja Muslim India Terkaya Sepanjang Masa

Mengenal Raja Muslim India Terkaya Sepanjang Masa

PAGI itu sang raja itu duduk dengan tenang di singgasana. Tangan kirinya berada di atas lutut. Sementara tangan kanannya ditopang sebilah pedang berbungkus kulit hewan langka.

Di hadapan pria itu, orang-orang petingi negeri India sudah duduk berkumpul. Hari itu mereka tengah menggelar rapat dengan sang raja.

“Selama ini kita mengirim rempah-rempah ke Inggris dengan harga yang mereka tentukan. Saya ingin kita sendiri yang menjual rempah-rempah itu,” kata raja itu berwibawa. Raja itu adalah Jalaluddin Muhammad Akbar.

Hadirin terdiam. Memikirkan maksud perkataan pria yang begitu dihormati tersebut. Sejenak, sebagian hadirin mulai menyatakan pendapat. Mereka semua menyetujui pikiran jenius tersebut.

Hari itu kemudian akan dikenang sebagai hari ketika ekonomi India berubah total. Dari sebelumnya hanya sebatas negara penyedia rempah-rempah atas permintaan Inggris, lalu beralih menjadi penentu harga.

Alhasil, India menjadi salah satu negara pengekspor sekaligus penentu harga rempah-rempah yang menjadi komoditas unggulan dunia kala itu.

Pikiran itu keluar dari seorang muslim penguasa tanah India. Sosoknya tegas, namun bersahaja. Semua orang di seluruh penjuru tanah Hindustan begitu mengagungkan pria ini lantaran mampu memadukan ketegasan dengan kemurahan hati.

Dialah Jalaluddin Muhammad Akbar, Raja Mughal yang menguasai sebagian besar tanah India. Akbar hidup antara tahun 1542 hingga 1605 Masehi dan merupakan Raja Mughal ketiga setelah Babur dan Humayun.

Di tangan Akbar, Mughal dikenal sebagai dinasti yang paling berpengaruh di India, dengan jumlah kekayaan sebesar 25 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia saat itu. Pakar sejarah ekonomi Angus Madison sampai menyebut kekayaan Akbar kala itu setara dengan harta Ratu Elizabeth saat jaya, meski tidak disebutkan angka secara pasti.

Hal itu dikuatkan oleh Ekonom Bank Dunia Branko Milanovic. Dalam salah satu penelitiannya tentang ketidaksetaraan di India, Branko menyebut Akbar merupakan raja yang mampu menciptakan kesetaraan dalam kesejahteraan rakyat India kala itu, juga penerapan sistem birokrasi yang sangat efektif.

***

Pencetus Modernitas Tata Kelola Pajak

Akbar lahir pada 15 Oktober 1542 di Umarkot, Sindh, yang saat ini menjadi wilayah Pakistan. Dia sebenarnya tidak memiliki darah India. Ayahnya adalah keturunan bangsa Mongol dan ibunya merupakan orang Persia. Kakeknya, Babur, memiliki garis keturunan dengan Gengis Khan, Raja Mongol.

Akbar menggantikan peran ayahnya sebagai raja di usia yang masih sangat muda, 14 tahun. Sang ayah, Humayun, meninggal dalam sebuah pertempuran. Saat itu, Akbar tidak sepenuhnya berkuasa meski sudah resmi menjadi raja. Kendali pemerintahan dipegang oleh orang kepercayaan ayahnya, Bairam Khan.

Di tengah perjalanan, Bairam Khan ingin menguasai wilayah utara India yang notabene masuk kekuasaan Mughal. Bairam berdalih, dia berhak atas tanah utara India meliputi Afganistan lantaran berhasil mengalahkan Raja Hindu Hemu dalam Perang Paripat.

Setelah cukup dewasa, di tahun 1560, Akbar mengambil alih kekuasaan dari tangan Bairam dan sepenuhnya memegang kendali pemerintahan. Bairam berusaha melakukan pemberontakan, tetapi Akbar mampu meredamnya.

Setelah memegang kekuasaan penuh, banyak persoalan yang harus diselesaikan Akbar. Baik kakek maupun ayahnya tidak punya cukup waktu untuk menata pemerintahan. Sementara wilayah yang menjadi kekuasaannya begitu luas dengan penduduk yang majemuk. Alhasil, Akbar harus memutar otak.

Akbar lalu melakukan perombakan total pada sistem administrasi dan keuangan kerajaan. Dia mulai menata administrasi dengan membentuk sejumlah badan yang dipimpin oleh tenaga-tenaga sipil maupun militer. Sistem itu dikenal dengan istilah Mansabdari, dengan pekerjanya mendapat mansab, sejenis bayaran dan mereka disebut sebagai Mansabdar.

Setiap orang yang bekerja di badan tersebut mendapat upah resmi dari kerajaan. Ada dua cara pembayaran mansab. Cara pertama dengan memberikan tanah, sedangkan cara kedua dengan memberi upah bulanan. Langkah tersebut dinilai oleh sejumlah pakar sejarah sebagai terobosan cemerlang yang dibuat Akbar.

Dalam dunia modern, Mansabdari dapat diibaratkan dengan sistem pemerintahan berjenjang. Pusat kekuasaan ada di tangan Raja, kemudian dijalankan oleh badan-badan yang tersebar di setiap daerah kekuasaan Mughal. Atau bisa diibaratkan sebagai pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota.

Untuk pemasukan negara, Akbar menerapkan sistem pajak terpusat. Para Subah, pejabat sekelas gubernur mendapat mandat untuk mengawasi pemungutan pajak. Sedangkan pemungutan pajak sendiri dilakukan petugas khusus, terpisah dari gubernur.

Para petugas pemungut diwajibkan membuat catatan pajak yang berhasil ditarik. Pajak yang sudah dipungut wajib langsung dikirimkan ke pusat. Sementara catatan mereka harus diserahkan secara berkala. Cara ini menciptakan sistem check and balances yang stabil.

Semua kendali keuangan ada di pemerintah pusat. Para pejabat mendapat upah, tetapi tidak diberi fasilitas pasukan. Sementara pasukan digaji langsung dari pemerintah pusat. Hal itu menjamin tidak adanya upaya pemberontakan dari masing-masing pejabat daerah.

Tidak hanya itu, Akbar juga membuat beberapa kategori jenis tanah sebagai sumber penghasilan. Terdapat empat kategori tanah yang dibuat Akbar berdasarkan jangka waktu pemanfaatan.

Keempat kategori tersebut yaitu Tanah Polaj, yaitu tanah yang digarap secara rutin. Kemudian, Tanah Parauti, yaitu tanah yang digarap untuk musim tertentu. Lalu ada istilah Chachhar, yaitu tanah yang tidak dimanfaatkan dalam jangka waktu tiga sampai empat tahun. Terakhir, Banjar, yaitu tanah yang sudah tidak digarap selama lebih dari empat tahun.

Kategori tersebut digunakan untuk menetapkan tarif pajak sekaligus insentif bagi para petani yang bersedia menggarap lahan tersebut.

***

Pengendali Komoditas Rempah-rempah Dunia

Pemerintahan Akbar diakui sebagai pemerintahan yang paling efektif di seluruh India. Dia menerapkan sistem birokrasi yang begitu ringkas, sehingga setiap permasalahan dapat segera tertangani.

Tidak hanya itu, Akbar juga terkenal sebagai raja yang memiliki kemampuan diplomasi begitu baik. Hal ini terbukti dengan berhasilnya dia menjalin hubungan dagang dengan Inggris dan Perancis.

Alhasil, perdagangan India maju dengan begitu pesat. Mughal kala itu menjadi salah satu pemasok utama rempah-rempah untuk kebutuhan pasar Eropa.

Atas kejayaan tersebut, Majalah Time kemudian memasukkan Akbar sebagai salah satu dari 10 tokoh paling kaya sepanjang sejarah umat manusia. Sebagai seorang muslim, ia berada di urutan ketiga dari 10 orang terkaya sepanjang sejarah.

Berapa besar harta Raja Akbar? Majalah Time tidak menyebut angka secara rinci. Tapi jumlah kekayaannya diperkirakan seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) dunia saat itu. Jadi, jika PDB dunia saat itu sudah mencapai 2 trilyun dolar AS, maka kekayaannya mencapai 500 milyar dolar AS. Sungguh luar biasa besar.[] sumber: dream.co.id

Tiara Sucia; dari Rohis hingga Aktivis

Tiara Sucia; dari Rohis hingga Aktivis

NAMANYA Tiara Sucia. Dia adalah mahasiswi aktif yang sedang mengambil konsentrasi ilmu di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Banyak lini yang telah dikiprahkan mahasiswi yang kerap disapa Tiara ini dalam dunia organisasi dan memiliki peran pada beberapa komunitas pemuda-pemudi Aceh.

Pemilik IPK 3,63 tersebut merupakan anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa Unsyiah (DPMU), Gubernur Sumatra Sobat Bumi Indonesia dan Pembina Akademik Keluarga Besar Alumni Wira Bangsa (KARSA) periode 2015-2016.

Pada tahun 2014, Tiara juga dipercayakan sebagai Wakil Ketua Pendidikan Unsyiah International Club, ketua Bidang Mading 2014-2015, Wakil Ketua Bidang Syiar Lembaga Dakwah Kampus Pertanian Unsyiah 2013-2014.

Saat baru saja menduduki bangku kuliah, ia sudah bergabung dalam Himpunan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Bendahara LDK Pertanian.

Sementara saat Tiara masih mengenakan seragam abu-abu, ia juga melibatkan diri pada Sanggar Tari dan Osis SMAN 4 Wira Bangsa Aceh Barat bidang Rohis serta anggota inti pramuka dan koperasi saat ia masih menduduki bangku SMP.

Peraih posisi pertama debat bahasa Inggris tingkat Kabupaten Aceh Barat ini aktif diberbagai organisasi karena termotivasi dengan kata-kata Soekarno yang mengatakan, ‘Berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncangkan dunia.”

“Alasan Tiara aktif karena dalam waktu kita ada hak orang lain dan hak itu sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Serta keaktifan itu semacam hobi dan senang membantu orang yang membutuhkan potensi saya dan aktif berbagi itu sudah seperti nafas dalam hidup saya,” kata anak dari pasangan Andang Teruna dan Safridah ini.

Tiara mengakui ketagihan aktif dimana-mana karena hal tersebut berdampak drastis dalam perubahan hidupnya. Terlebih efek dari berorganisasi, katanya, menambah pengalaman hidup baik dan ilmu yang tidak ada di perkuliahan, pengalaman melatih berbicara (public speaking) dan keliling sebagian Indonesia. Selain itu, juga bertambah keluarga, teman dan kerabat sehingga memperluas informasi, link dan koneksi yang membuatnya menjadi mudah menjangkau informasi.

“Serta saya ingat kata-kata memberi sebanyak-banyaknya bukan meminta sebanyak-banyaknya. Saya ingin menyadarkan pemuda betapa pentingnya potensi dan aksi nyata pemuda sekarang ini karena tidak patut seorang pemuda apabila berdiam diri ditempat,” kata mahasiswi pencinta travelling ini.

Tak heran, dengan keaktifan gadis kelahiran Meulaboh, 8 juli 1994 ini mengantarkannya memperoleh segudang prestasi. Di tahun 2015 pemilik tinggi badan 156 sentimeter ini dinyatakan sebagai penerima Beasiswa Sobat Bumi Indonesia Pertamina Foundation dan menjuarai Honda Wow Case Competition  se-Kota Banda Aceh 2015, juara 3 MTQ karya tulis tingkat fakultas di Unsyiah, dan juara dua debat agama. Serta pernah menyambangi Duta Daerah Lawatan Sejarah dan LCC MPR tingkat provinsi.

Selain gemar berorganisasi, anggota The Leader ini juga sering mengikuti training dan seminar, baik lokal maupun nasional, berupa Dream Meaker, Peringatan Hari Air Sedunia, Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Unsyiah Leadership Development Camp.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini juga sering terlibat dalam kepanitiaan pada event-event besar, seperti Bakti Sosial Nasional Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEP), Entrepreneurship di Hermes Mall, Unsyiah Fair 9, Dream Maker, Lomba Sirah Nabawiyah, dan Islamic Agriculture Festival.

“Jangan menunggu orang lain untuk membuat perubahan, jangan menunggu diri sendiri untuk berdiam diri, jangan terlalu fokus dengan kelemahan tetapi fokuslah pada kemampuanmu karena hal itu akan menjadikanmu ‘From Zero to The Hero’,” kata mahasiswi penggemar organisasi ini kepada portalsatu,com, Jumat malam, 18 Septemebr 2015. [] (mal)