Category: Oase

Akar Islam Mengakar di Masyarakat Rumania

Akar Islam Mengakar di Masyarakat Rumania

JAKARTA — Setelah lepasnya kekuasaan Turki Utsmani di Rumania pada akhir abad ke-19, Islam semakin terpinggirkan di negara ini. Kondisi ini diperparah dengan masuknya Rumania dalam Blok Timur komunis pimpinan Uni Soviet kala itu.

Pengaruh Islam pun semakin berkurang dari beberapa wilayah yang sebelumnya mendominasi. Setelah Revolusi Rumania 1989, Rumania meninggalkan Blok Timur yang komunis sehingga rakyat Rumania memiliki kesempatan untuk menemukan Islam dan merasakan hasilnya.

Akar Islam Turki dan Tartar yang tertanam kuat di sebagian wilayah tengah dan selatan Rumania membuat umat Islam di Rumania mampu bertahan. Kini agama Islam di Rumania dipeluk tidak lebih dari satu persen penduduknya, setara dengan sekitar 60 ribu jiwa.

Setidaknya 3.000 orang masuk Islam dan jumlah ini meningkat dari hari ke hari. Dengan menjadi mualaf, mereka menghadapi masalah tertentu dalam masyarakat yang tidak siap untuk menerima mereka.

Beberapa wilayah seperti di Dobruji Utara, sekitar pantai Laut Hitam memiliki lebih dari lima abad tradisi dari Kekhalifahan Turki Usmani. Sebagian besar Muslim Rumania adalah Sunni yang mengikuti Mazhab Hanafi. Sekitar 97 persen Muslim Rumania adalah penduduk dua wilayah yang membentuk Dobruja Utara, sebanyak 85 persennya tinggal di Constanta, dan 12 persen di Tulcea.

Sisanya terutama mendiami pusat-pusat perkotaan, seperti Bukarest, Braila, Calarasi, Galai, Giurgiu, dan Drobeta-Turnu Severin. Kini setidaknya terdapat 13 masjid besar yang terdaftar di Rumania. Sebagian besar masjid tersebut berada di daerah Constanta dan sebagian yang lain berada di daerah Tulcea. Umat Islam di Rumania pun kini telah memiliki Aliansi Islam Rumania untuk melindungi dan membela umat dan Islam di Rumania. | sumber: republika

Foto Masjid Karol I

Perkuat Akidah Jeanne Ester Adelaida Jadi Santri

Perkuat Akidah Jeanne Ester Adelaida Jadi Santri

JAKARTA — Praktis hanya Zaenab dan kakaknya yang Muslim, orang tua dan kakaknya yang lain masih Nasrani. Itu sebabnya, ada penolakan dari keluarganya ihwal keputusannya menjadi Muslim. Ia pun diusir karena pilihannya itu.

“Saya bisa menerima itu.  Hingga ayah meninggal, saya masih disalahkan, Kata mereka karena saya ayah meninggal,” kenang dia.

Meski mendapat penolakan, Zaenab tetap menjaga akhlak sebagai seorang anak. Ketika ayahnya jatuh sakit, ia menengok. Memang, niatan baiknya itu dibalas dengan hal yang menyakitkan. Semisal, ketika ayahnya berada di Unit Gawat Darurat, Zaenab diminta melepas jilbab.  “Saya jadi bingung, apa hubungannya melepas jilbab dengan sakitnya ayah saya,” Tanya dia.

Kegigihan Zaenab perlahan mulai melunakan hati keluarganya. Tapi bukan berarti Zaenab diterima kembali. Oleh keluarganya, dia dianggap sebagai anak yang hilang. Berulang kali, keluarganya mengajak ia ke gereja. Lagi-lagi, Zaenab dengan lantang menolak ajakan itu.

“Setiap kali saya ingin mengajak mereka, pasti ujung-ujungnya bertengkar. Saya memahami itu bukanlah hal yang mudah,” kata dia.

Hubungan dengan keluarganya tidak menjatuhkan mental Zaenab. Namun, ia merasa terpukul ketika keluarga kakaknya yang sejak lahir  menjadi Muslim justru menjelek-jelekan ajaran Islam. “Saya memahami banyak pengaruh luar yang membuat keluarga kakak iparnya seperti itu. Jujur, ini menggores hati saya. Saya yang mualaf mencintai Islam, Ini keluarga Muslim kok menghina islam,” kata dia.

Sejak itu, Zaenab kian bertekad mempelajari ajaran Islam. Niatan itu diimplementasikannya dengan masuk pesantren Syahamah di Klender, Jakarta Timur. Di pesantren itu, Zaenab mempelajari Islam mulai dari dasar akidah.  “Saya masuk pesantren bulan Mei 2014,” kata dia.

Awalnya, Zaenab ingin total belajar Islam di pesantren. Namun, ia butuh pekerjaan guna menunjang kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia masih menerima pekerjaan di bidang konstruksi.  “Sebagai seorang mualaf, saya harus membentengi diri saya sendiri. Saya belajar akidah. Ke depan, harapan saya bisa berbagi ilmu kepada siapapun,” kata dia.

Selama belajar di pesantren, Zaenab menyimpulkan Islam tidaklah rumit. Ia merasakan keindahan Islam. Ia melihat ajaran agama lain menyembah apa yang diciptakan Tuhan. Sementara islam mengajarkan Muslim menyembah sosok yang menciptakan kehidupan. “Jadi, saya memahami, apa itu puasa, shalat. Intinya, apa yang diperintahan Allah pencipta kehidupan adalah hal terbaik bagi setiap mahluknya,” kata dia. | sumber: republika

Foto Zaenab Ester Adelaida (Kiri) bersama rekan kerjanya.@Dokpri

Santri Annaba Masuk Timnas Timor Leste

Santri Annaba Masuk Timnas Timor Leste

CIPUTAT —  Menjadi santri tidak membatasi diri untuk berkarir, dalam bidang apapun. Itulah yang dilakukan oleh Muallim Monteiro seorang pemuda berkebangsaan Timor Leste yang beberapa tahun lalu menuntut ilmu di Pesantren Pembinaan Muallaf-Yayasan Annaba Center Indonesia.

Muallim, panggilan akrab pria yang hijrah dari agama Katholik ke Islam ini, adalah sosok yang sangat gemar bermain sepak bola. Sering kali ia dipanggil oleh klub-klub sepak bola daerah dan diminta untuk bergabung memperkuat tim kesebelasan tersebut.

Nasib baik menimpa Muallim. Berawal dari hobi, sekarang ia mendapat kesempatan untuk bisa “unjuk gigi” dalam kejuaraan internasional, khususnya Asia Tenggara mewakili negaranya, Timor Leste.

Menjadi pesepak bola yang handal memang salah satu opsesi Muallim. Meskipun demikian, ia tidak melupakan kewajibannya dalam menuntut ilmu, terlebih ketika berada di pesantren Annaba Center. Ia juga alumni dari salah satu perguruan tinggi swasta dan memilih program studi manajemen informatika komputer.

Melihat latar belakang pendidikan Muallim sudah dapat dipastikan bahwa dia bukanlah seorang yang pemalas, melainkan pribadi yang juga semangat dalam menuntut ilmu. “Saya akan tetap belajar, meski sekarang sudah tidak berstatu sebagai santri dan mahasiswa lagi.”, tegasnya dengan singkat.

Pada kesempatan yang berbeda, KH. Syamsul Arifin Nababan menuturkan para santri tidak dibatasi dalam hal pengembangan minat dan bakat mereka. Sebaliknya, bila minat dan bakat mereka dapat mendatangkan hal yang positif, pesantren Annaba Center akan turut mendorong dan memberikan dukungan tidak hanya sebatas doa, melainkan juga hal-hal lain yang mampu dilakukan.

Itulah sebabnya, mengapa di pesantren Annaba Center kita dapat menemukan santri-santri yang memiliki berbagai macam minat dan bakat karena Annaba tidak membatasi mereka. Kita dapat menemukan santri-santri yang pernah mondok di Annaba menjadi sosok yang berbeda dan bermanfaat ketika di masyarakat, seperti Hasyim yang kini telah menjadi manager di “Bang Martabak”, dan juga Muallim yang kini bergabung di Timnas sepak bola Timor Leste.

“Mereka tidak harus menjadi seorang penceramah yang berdiri dari satu mimbar ke mimbar yang lain, tetapi dakwah mereka juga bisa dilakukan pada lingkungan tempat mereka berkarir”, sebut pak kiai.

Pesantren Annaba Center terus menggali potensi para santri. Hal ini sangat diperlukan mengingat semakin mereka mengetahui minat dan bakat masing-masing, maka akan semakin mudah dalam menyalurkan bakat dan minat mereka. | sumber: republika.co.id

Foto Mualim, Alumni Pesantren Mualaf Annaba Center.@Annaba-Center.com

Julie Rody: Ada Begitu Banyak Ilmu dalam Islam

Julie Rody: Ada Begitu Banyak Ilmu dalam Islam

JAKARTA — Awalnya, jilbab itu membuat Julie merasa sedikit tidak nyaman, tapi perempuan itu tampak begitu tulus. Keduanya terus bertemu. Kalau tidak janjian di luar, kadang dia yang mengunjungi Julia di kantor.

“Satu hal yang benar-benar menyenangkan adalah dia tidak pernah memaksa,” kenang Julie. Dia tipikal perempuan yang tidak suka dipaksa, dan sikap sahabat-sahabat barunya sangat membantu. Kadang, keduanya berbicara di telepon. Lain waktu, mereka pergi berempat.

Perempuan itu dan suaminya, sedangkan Julie dengan Salah. Julie dan Salah sebenarnya belum menikah saat itu, tapi ada kalanya mereka keluar untuk makan siang bersama. Lewat interaksi dengan ketiga Muslim itu, Julie mulai mengenal Islam.

Penerimaan Awal-awal belajar Islam, Julie tanpa sengaja bertemu seorang teman lama yang sudah masuk Islam setahun sebelum itu. Temannya itu bahkan sudah mengenakan jilbab! Julie pun langsung bertanya tentang jilbabnya.

Pasalnya, itu sebuah ganjalan besar bagi Julie. Ia melihat temannya tampak sangat berubah.  Pertemuan itu semakin meneguhkan keputusannya berislam.

Pada 1982, Julie pun memutuskan masuk Islam. Salah turut andil meyakinkannya. Semula, Julie merasa pengetahuan keislamannya masih sangat dangkal. Dia sudah belajar banyak, tapi selalu merasa kurang. Ia merasa masih saja tidak tahu banyak tentang Islam.

Tak terkecuali, saat perempuan itu sudah melafalkan syahadat. Sampai sekarang pun, kata Julie, setiap kali melihat ke belakang, ia merasa pengetahuannya baru berada di permukaan. Pada titik itu, Salah meyakinkan Julie.

Pria itu bilang, ada begitu banyak ilmu dalam Islam. Tak akan ada habis-habisnya dipelajari. “Dia berkata, sekalipun saya yang terlahir Muslim, saya tidak tahu segala sesuatu tentang Islam. Kita memiliki ulama, tempat kita belajar. Mereka orang- orang yang dikaruniai keluasan ilmu agama,” kata Julie menirukan ucapan suaminya.
Di tengah komunitas baru, Julie bahagia.

Minimal, dia merasa nyaman. Tidak pernah ada seorang yang memaksanya. Salah atau teman-temannya sekalipun. Mereka membiarkan Julie berproses dengan caranya sendiri. Ketika mengucapkan syahadat, dia hanya mengenakan syal kecil yang diikatkan ke belakang. Tidak ada yang menyuruhnya mengenakan pakaian seperti ini, berperilaku seperti itu, dan seterusnya. Mereka bersikap sangat lembut dan tenang padanya.

“Itu sangat banyak membantu,” ucap Julie bahagia.

Tak mudah Konversi bukan pilihan mudah. Pilihannya untuk tidak keluar minum-minum lagi membuatnya terpaksa kehilangan beberapa te man lama. Julie pun sempat khawatir dengan respons keluarga. Ibunya, orang yang paling membuatnya khawatir akan menolak keislamannya, ternyata menerima dengan tangan terbuka. Lain halnya dengan Penny, sikap adiknya itu agak berbeda.

Julie mempunyai dua orang adik perempuan.  Penny, adik perempuan pertamanya, berusia dua tahun lebih muda. Awalnya, sikap Penny agak lain bila mereka kebetulan keluar rumah bersama. Apalagi, jika Julie memakai jilbab dan keduanya pergi ke suatu tempat yang orang- orangnya mengenal Penny. Julie tahu, Penny merasa sedikit malu memperkenalkannya.

Semua ketidaknyamanan itu lebur seiring waktu. Memang tidak singkat, tapi adiknya akhirnya mengerti bahwa tidak ada sesuatu pun yang berubah di antara mereka. Setelah beberapa tahun, mereka bisa tertawa bersama, berjalan bersama, dan berbicara dengan santai.  Penny bisa memperkenalkan Julie tanpa sungkan kepada siapa pun. “Oh. Ini saudaraku, Julie.” | sumber: republika.co.id

Foto ilustrasi

Dari Tanah Volga, Islam akan Kembali Berjaya di Rusia

Dari Tanah Volga, Islam akan Kembali Berjaya di Rusia

JAKARTA — Meski merupakan kekaisaran Islam, Golden Horde memiliki sejumlah wilayah yang didiami penduduk Kristen, seperti Rusia, Armenia, Alans, dan Krimea Yunani. Sejarah mencatat, Golden Horde mampu mempertahankan agama Islam hingga lebih dari dua abad.

Pada awal abad ke-15, sejumlah kerajaan Islam muncul sebagai pecahan dari Kekaisaran Golden Horde. Kerajaan-kerajaan itu di antaranya Nughay, Astrakhan, Krimea, Siberia, dan Kazan. Kerajaan-kerajaan itu menguasai hampir semua wilayah Rusia modern, kecuali wilayah antara Moskow dan Kiev.

Namun, tak lama kemudian, Rusia berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil tersebut dan membentuk Kekaisaran Rusia yang dengan cepat mulai menjajah negara-negara tetangga. Kerajaan Khazan yang terletak di wilayah bekas Kerajaan Bulgar jatuh ke tangan Rusia pada 15 Oktober 1552. Berikutnya, wilayah Volga dan Laut Kaspia dibuka oleh Rusia.

Pada 1556, giliran Kerajaan Astrakhan dikalahkan Rusia. Lalu menyusul Bashqor dan Udmurt pada 1557. Lalu, pada 1598, seluruh wilyah Siberia berada di bawah pemerintahan Rusia.

Akhirnya, Kekaisaran Rusia pun lahir secara brutal. Toleransi agama dan ras yang pernah tumbuh subur di wilayah Golden Horde sirna. Selama lebih dari empat abad, Rusia yang kemudian menjadi Uni Soviet menerapkan kebijakan untuk mengenyahkan Islam. Sepanjang era Uni Soviet, umat Islam mengalami masa-masa suram. Tak sedikit ulama yang diculik dan dipenjara.

Ketika era Soviet tumbang, cahaya Islam pun mulai merekah kembali. Situasi politik yang membaik memungkinkan terjadinya pembaruan Islam di negara ini. Di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan misalnya, puluhan masjid didirikan. Salah satunya, Masjid Qul Sharif, yang dinobatkan sebagai salah satu masjid terbesar di Eropa. Bahkan, pada tahun 2000, masjid ini dinyatakan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Universitas dan sekolah-sekolah Islam pun tumbuh dan berkembang di salah satu republik di Rusia ini. Pada saat yang sama, Muslimah berjilbab bukan lagi pemandangan aneh di Kazan, yang kini merupakan salah satu kota terbesar di Rusia.

Rasanya tak berlebihan jika berharap suatu saat Islam akan kembali berjaya di Rusia, termasuk di tanah Volga. | sumber: republika.co.id

Foto Rustam Sarachev, 21 tahun, tengah beribadah di masjid agung di Volga, Rusia.@washington post

Tiga Situs Bersejarah di Yerusalem

Tiga Situs Bersejarah di Yerusalem

JAKARTA — Palestina adalah negeri bersejarah. Peradaban timbul tenggelam di negara yang kini dijajah oleh Zionis Israel tersebut. Di antara kota yang kaya dengan sejarah di negara ini, ialah Alquds atau Yerusalem.

Di kota ini, peradaban Islam tumbuh subur. Ini tampak dari situs-situs yang masih bertahan dan terancam keberadaannya akibat rencana rakus Zionis Israel. Selain Masjid al-Aqsa, Yerusalem juga masih menyimpan bangunan bersejarah lainnya.

Kota ini juga dikenal memiliki riwayat panjang perebutan dari berbagai entitas bangsa. Yerusalem pernah ditaklukkan oleh Babilonia, Romawi, Persia, dan dalam masa yang cukup lama menjadi saksi kegigihan tentara Islam melepaskan cengkeraman Tentara Salib di lokasi Masjid al-Aqsa ini berada.

Tempat Singgah al-Ghazali

Di tempat inilah, tokoh sufi terkemuka Abu Hamid al-Ghazali tinggal selama berada di Yerussalem usai mengembara dari sejumlah negara, seperti Makkah, Madinah, dan Mesir. Lokasinya berada di belakang Masjid al-Aqsa. Di sebuah ruangan, di bawah kubah rumah itu, ia menulis karya fenomenal dan monumentalnya, yakni Ihya’ Ulum al-Din. Kitab ini menjadi sumbangsih berharga bagi dunia Islam hingga saat ini.

Masjid Umar bin Khatab

Di tempat inilah, Khalifah Umar bin Khatab RA melaksanakan shalat setelah menaklukkan   Yerusalem pada 638 M. Ia sempat ditawari shalat di Gereja Makam Suci, tetapi ia menolak karena khawatir gereja itu kelak akan dianggap sebagai milik Islam.

Masjid ini kembali dibangun oleh putra dari Shalahudin al-Ayyubi, yakni Afdhal Ali, pada 1193 Masehi. Masjid yang berada tak jauh dari Masjid al-Aqsa ini bukan bangunan qubbah as-sahkhra (Dome of the Rock).

Khanqah Shalahudin

Di ruangan  yang terletak di kawasan Muslim Kota Tua Jerussalem, Shalahudin al-Ayyubi tinggal dan mengasingkan diri untuk mendirikan shalat-shalat sunah, atau menyendiri guna beribadah kepada Allah SWT.

Shalahudin adalah pendiri sekaligus khalifah pertama Dinasti Ayyubiyah. Ia dikenal sebagai pemimpin ulung. Ia sukses meraih kemenangan melawan Tentara Salib. Selain dikenal sebagai ahli strategi dan kehebatannya memimpin negara, ia adalah seorang ahli ibadah.  | sumber: republika.co.id

Foto Menara Masjid Umar bin Khatab (kiri) di Yerusalem, Palestina.@Muqata.com/ca

“Kalau Saya Percaya Adam Hingga Isa, Mengapa Tidak Dengan Muhammad?”

“Kalau Saya Percaya Adam Hingga Isa, Mengapa Tidak Dengan Muhammad?”

JAKARTA – Tatkala berkeliling ke pelosok negeri itu, ia yakin telah menemukan tempat yang dia kehendaki. Tempat untuk mengembangkan diri, karier, dan kehidupan. Semua orang bersikap baik sejak pertama kali dia datang.

Seiring lekatnya interaksi hari demi hari, Amy mulai tertarik dengan budaya dan tradisi mereka. “Pada waktu itu juga, saya jatuh cinta dengan Oman dan orang-orangnya! Saya kira, itu awal perjalanan saya memeluk Islam,” ungkap Amy.

Lantaran mayoritas warga Oman memeluk Islam, Amy tertarik mempelajari Islam. Ia mulai membaca Alquran yang dibawakan Nishat Furkunda, koleganya asal India. Amy bahkan bertanya pada beberapa rekan senegara soal Islam.

Tapi, kebanyakan menjawab dengan nada negatif.

Pada 2013 menjadi masa pencarian kehidupan spiritual perempuan tersebut. Ia mengamati agama dan pengaruhnya terhadap perilaku siswa. Amy terkesan. Anak-anak mengatakan, InsyaAllah, setiap kali dia menyuruh mereka mengerjakan sesuatu.

Pemisahan siswa laki-laki dan perempuan di kelas juga menarik perhatian Amy. Itu menjadi semacam “Saya merinding dan air mata mulai jatuh. Saya tahu, detik itu saya akan menjadi seorang Muslimah.”

Suzanne Plunk, Reuters islamicaxis.com antitesis atas apa yang ia perjuangkan sebagai kesetaraan jenis kelamin.

Ketika dia membaca Alquran dan buku-buku keislaman, Amy menemukan, baik Kristen maupun Islam berlandaskan pada ajaran cinta, kasih sayang, dan kebaikan. Hanya saja, perbedaan antara keduanya juga cukup memukul hati Amy.

Iman Kristiani yang menganggap Yesus sebagai anak Allah tidak cocok dengan Islam. Islam hanya menganggap Yesus atau Isa sebagai seorang Nabi yang membawa pesan Tuhan kepada kaumnya.

Amy memikirkan hal ini untuk waktu yang sangat lama. Dia bertanya pada diri sendiri, apakah dia bisa menerima gagasan ini. Ketika Amy membaca Alquran, disebutkan Isa Al Masih akan turun untuk kedua kalinya pada hari kiamat. Lalu, tanya Amy, di mana peran Nabi Muhammad saat itu? Benarkah Muhammad seorang nabi? Ia menjadi gelisah dan tidak yakin dengan informasi yang dia terima.

Suatu sore, seorang kenalan di Oman yang bekerja untuk Pusat Informasi Islam di Muskat menyerahkan publikasi tentang Nabi Muhammad. Membaca publikasi itu, semua menjadi jelas. Muhammad adalah utusan Allah. Dia membawa ajaran yang sama seperti ajaran Nabi-Nabi sebelumnya; tauhid.

“Jadi, saya pikir kalau saya percaya semua Nabi sejak Adam sampai Isa, mengapa saya tidak percaya pada Muhammad?” Sampai di sini, Amy belum bersyahadat.

Puncaknya, saat Amy menghadiri ceramah di Departemen Pusat Pendidikan dan Pelatihan di Nizwa yang disponsori Islamic Information Center Masjid Agung Sultan Qaboos. Fatima Al Harrasi, seorang pembicara, melemparkan pertanyaan pada Amy. “Mengapa Allah menciptakan kita?”

Amy menjawab, “Ada dua alasan; untuk menyembah-Nya dan mencintai ciptaan- Nya.” Jawaban itu sangat tepat. Bagi Amy, itu meyakinkan bahwa imannya sejalan dengan Islam. Ia merasa semua semakin logis. “Saya merinding dan air mata mulai jatuh. Saya tahu, detik itu saya akan menjadi seorang Muslimah.”

Amy kemudian menelepon Saud, rekan dekatnya di kantor. Perempuan itu menangis saat berbicara di telepon. Saud meyakinkan. Tidak ada gunanya menunda keputusan untuk menjadi seorang Muslim.

Akhirnya, Amy memutuskan masuk Islam tepat pada 3 Mei 2015. Ia tak henti gemetar menjelang ikrar syahadat.

“Saya telah menemukan kebenaran. Seperti banyak mualaf yang mengalami kekosongan hidup, saya berusaha mencari makna. Menjadi seorang wanita Muslim di masa kontemporer adalah sumber sukacita dan kebahagiaan di tengah dekadensi yang merusak dunia,” aku Amy.

Kedamaian dan kebahagiaan luar biasa ia rasakan setiap kali sujud, saat dahinya menyentuh tanah. Perempuan itu kini sibuk menjadi dosen bahasa Inggris di Nizwa College of Technology, Oman.[] sumber: republika.co.id

Sepuluh Kebaikan Bagi Mereka yang Berkurban

Sepuluh Kebaikan Bagi Mereka yang Berkurban

JANTHO – Setiap langkah menuju masjid untuk melaksanakan salat Idul Adha memiliki pahala yang sangat besar, baik pejalan kaki maupun berkendara. Terlebih pejalan kaki itu adalah orang fakir bukan orang kaya.

Hal ini disampaikan oleh Teungku Muhammad Shaleh saat memberi khutbah Idul Adha di Masjid Brunei Darussalam, Gampong Deah Mamplam, Kecamatan Leupung, Aceh Besar, Kamis, 24 September 2015.

Teungku Shaleh mengatakan Idul Adha identik dengan kurban. Barangsiapa yang mencari tempat dan membeli hewan kurban, maka ia mendapatkan sepuluh kebaikan. Beberapa di antaranya adalah dihapuskan sepuluh kejahatan dan dinaikkan sepuluh pangkat.

“Lalu ketika melakukan transaksi jual beli hewan, oleh malaikat mencatat sebagai tasbih dan ketika membelinya dengan uang, saat masa Rasulullah menggunakan dirham, maka tiap-tiap satu dirham diberikan 700 kebaikan,” katanya.

Kemudian saat membawa kurban ke tempat persembelihan dan ditidurkan hewan kurban tersebut, maka segala makhluk Allah hingga lapisan bumi ke tujuh akan naik saksi meminta ampunan kepada pemilik hewan kurban.

“Serta di saat darahnya mengalir, satu tetesan darah sepuluh malaikat meminta ampun untuk pemilik kurban hingga hari kiamat dan ketika irisan daging yang dipotong itu dalam tiap-tiap irisan daging tersebut, pahalanya bagaikan memerdekakan budak (hamba sahaya) keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam,” ujarnya.

Teungku Shaleh menyampaikan sungguh besar pahalanya bagi orang-orang yang berkurban.

“Ini merupakan pengorbanan untuk melihat sejauh mana seseorang hamba mencintai Allah dibandingkan hartanya. Allah SWT berfirman, barangsiapa yang memiliki keluasan rezeki tetapi tidak bersedia berkurban maka jangan dekatkan diri dengan tempat-tempat salat (masjid) karena hukum berkurban ini mendekati wajib bagi orang yang mampu untuk berkurban selama tiga hari yang disebut hari tasyrik,” ujar Teungku Shaleh mengutip firman Allah SWT.[](bna)

Petani di Abdya Kesulitan Mencari Buruh Panen

Petani di Abdya Kesulitan Mencari Buruh Panen

BLANGPIDIE – Petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Provinsi Aceh, kesulitan mencari buruh untuk memanen, sehingga banyak tanaman padi yang belum bisa dipanen.

“Banyak padi petani sekarang belum dipanen, karena sulit untuk mencari pekerja saat ini, padahal, ongkos panen sekarang cukup mahal,” kata Hasan, petani di Desa Tangan-Tangan Cut, Kecamatan Setia di Blangpidie, Selasa.

Menurut Hasan, sulitnya mencari pekerja saat ini disebabkan, panen raya padi tahun ini terjadi bersamaan dengan pembangunan proyek pemerintah yang ada di desa ditambah lagi dengan musim panen secara serentak.

“Buruh lebih memilih bekerja pada proyek desa dari pada turun sawah memanen padi. Sementara warga dari luar kecamatan tidak ada yang datang untuk menawarkan diri bekerja memanen padi. Tidak seperti tahun lalu,” katanya.

Pada tahun lalu, lanjutnya, ketika panen raya padi tiba, banyak warga luar desa dan kecamatan sengaja datang untuk menawarkan diri meminta bekerja memanen padi, karena ingin mendapatkan imbalan.

“Pada tahun lalu, cukup ramai buruh datang dengan ongkos memanen padi sekitar Rp1,5 juta per hektare. Tetapi, pada musim panen tahun ini upahnya naik menjadi Rp2,4 juta per hektare ditambah makan siang dan rokok,” katanya.

Meskipun tingginya ongkos, kata dia, masyarakat tetap enggan untuk menjadi buruh tani dan kebanyakan mereka lebih memilih untuk berkerja di proyek desa yang kini sedang dalam proses pelaksanaan pekerjaan.

“Sedangkan sebagian petani lain sibuk memanenkan padi milik sendiri. Apalagi panen raya ini serentak ditambah lagi dengan musim hujan, tentu mereka lebih memfokuskan pada miliknya sendiri dari pada makan gaji pada orang lain,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh M Amin, tokoh masyakarat Kecamatan Tangan-Tangan. Menurut dia, bukan buruh memanen saja yang sulit dicari, akan tetapi termasuk dengan buruh pekerja pada mesin perontok padi juga susah didapatkan.

“Terkadang petani sudah menunggu sampai satu Minggu, mesin perontok tidak datang juga, hal tersebut karena minimnya warga yang mau bekerja pada bidang ini, padahal mesin perontok padi cukup banyak di desa,” katanya.

Menurut dia, minimnya buruh tani bukan disebabkan faktor proyek desa, hanya saja waktu musim panen padi tahun ini bertepatan dengan musim hujan dan menyebabkan, sebagian sawah tergenang dengan air hujan.

Selain air hujan, katanya, masih banyak lahan sawah milik petani di pedesaan seperti payau dengan kedalaman lumpur rata-rata hampir selutut orang dewasa, sehingga mesin potong padi, Rice Combine Harvester milik pemerintah pada musim hujan tidak dapat difungsikan pada semua lahan sawah.

“Masih banyak lahan sawah di daerah kita ini belum bisa masuk Rice Combine untuk potong padi, karena masih banyak yang tergenang air bagaikan payau memiliki lumpur yang dalam,” katanya.

Kendatipun demikian, kata dia, semua ini terjadi akibat dari ulah petani sendiri yang tidak mau mematuhi jadwal tanam serentak yang telah ditentukan oleh pemerintah bersama-sama dengan ketua kelompok tani.

“Sebelumnya, pemerintah sudah menetapkan jadwal tanam padi pada serentak pada bulan Mei 2015, dengan masa panen akhir Juli 2015. Sementara, sebagian petani tidak mengikuti, malah mereka tanam padi bulan Juni, tentu panennya musim hujan,” katanya.

Diharapkan, ke depan para petani di Kabupaten Abdya mau mengikuti dan mentaati peraturan ataupun jadwal turun sawah yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga musim panen raya padi sawah tidak lagi bertepatan pada saat musim hujan. | sumber: antara

Curhat Mualaf Soal Indahnya Sujud dalam Islam

Curhat Mualaf Soal Indahnya Sujud dalam Islam

JAKARTA — Tatkala berkeliling ke pelosok negeri itu, ia yakin telah menemukan tempat yang dia kehendaki. Tempat untuk mengembangkan diri, karier, dan kehidupan. Semua orang bersikap baik sejak pertama kali dia datang.

Seiring lekatnya interaksi hari demi hari, Amy mulai tertarik dengan budaya dan tradisi mereka. “Pada waktu itu juga, saya jatuh cinta dengan Oman dan orang-orangnya!  Saya kira, itu awal perjalanan saya memeluk Islam,” ungkap Amy.

Lantaran mayoritas warga Oman memeluk Islam, Amy tertarik mempelajari Islam. Ia mulai membaca Alquran yang dibawakan Nishat Furkunda, koleganya asal India. Amy bahkan bertanya pada beberapa rekan senegara soal Islam.
Tapi, kebanyakan menjawab dengan nada negatif.

Pada 2013 menjadi masa pencarian kehidupan spiritual perempuan tersebut.  Ia mengamati agama dan pengaruhnya terhadap perilaku siswa. Amy terkesan.  Anak-anak mengatakan, InsyaAllah, setiap kali dia menyuruh mereka mengerjakan sesuatu.

Pemisahan siswa laki-laki dan perempuan di kelas juga menarik perhatian Amy. Itu menjadi semacam “Saya merinding dan air mata mulai jatuh. Saya tahu, detik itu saya akan menjadi seorang Muslimah.”

Suzanne Plunk, Reuters islamicaxis.com antitesis atas apa yang ia perjuangkan sebagai kesetaraan jenis kelamin.

Ketika dia membaca Alquran dan buku-buku keislaman, Amy menemukan, baik Kristen maupun Islam berlandaskan pada ajaran cinta, kasih sayang, dan kebaikan. Hanya saja, perbedaan antara keduanya juga cukup memukul hati Amy.

Iman Kristiani yang menganggap Yesus sebagai anak Allah tidak cocok dengan Islam. Islam hanya menganggap Yesus atau Isa sebagai seorang Nabi yang membawa pesan Tuhan kepada kaumnya.

Amy memikirkan hal ini untuk waktu yang sangat lama. Dia bertanya pada diri sendiri, apakah dia bisa menerima gagasan ini. Ketika Amy membaca Alquran, disebutkan Isa Al Masih akan turun untuk kedua kalinya pada hari kiamat. Lalu, tanya Amy, di mana peran Nabi Muhammad saat itu? Benarkah Muhammad seorang nabi? Ia menjadi gelisah dan tidak yakin dengan informasi yang dia terima.

Suatu sore, seorang kenalan di Oman yang bekerja untuk Pusat Informasi Islam di Muskat menyerahkan publikasi tentang Nabi Muhammad. Membaca publikasi itu, semua menjadi jelas. Muhammad adalah utusan Allah. Dia membawa ajaran yang sama seperti ajaran Nabi-Nabi sebelumnya; tauhid.

“Jadi, saya pikir kalau saya percaya semua Nabi sejak Adam sampai Isa, mengapa saya tidak percaya pada Muhammad?”Sampai di sini, Amy belum bersyahadat.

Puncaknya, saat Amy menghadiri ceramah di Departemen Pusat Pendidikan dan Pelatihan di Nizwa yang disponsori Islamic Information Center Masjid Agung Sultan Qaboos. Fatima Al Harrasi, seorang pembicara, melemparkan pertanyaan pada Amy. “Mengapa Allah menciptakan kita?”

Amy menjawab, “Ada dua alasan; untuk menyembah-Nya dan mencintai ciptaan- Nya.” Jawaban itu sangat tepat. Bagi Amy, itu meyakinkan bahwa imannya sejalan dengan Islam. Ia merasa semua semakin logis. “Saya merinding dan air mata mulai jatuh. Saya tahu, detik itu saya akan menjadi seorang Muslimah.”

Amy kemudian menelepon Saud, rekan dekatnya di kantor. Perempuan itu menangis saat berbicara di telepon. Saud meyakinkan.  Tidak ada gunanya menunda keputusan untuk menjadi seorang Muslim.

Akhirnya, Amy memutuskan masuk Islam tepat pada 3 Mei 2015. Ia tak henti gemetar menjelang ikrar syahadat.
“Saya telah menemukan kebenaran. Seperti banyak mualaf yang mengalami kekosongan hidup, saya berusaha mencari makna. Menjadi seorang wanita Muslim di masa kontemporer adalah sumber sukacita dan kebahagiaan di tengah dekadensi yang merusak dunia,” aku Amy.

Kedamaian dan kebahagiaan luar biasaa ia rasakan setiap kali sujud, saat dahinya menyentuh tanah. Perempuan itu kini sibuk menjadi dosen bahasa Inggris di Nizwa College of Technology, Oman. | sumber: republika.co.id