Category: Histori

Ternyata Nama Indonesia Berasal dari…

Ternyata Nama Indonesia Berasal dari…

LOGAN barangkali tak pernah menyangka, kata-kata yang diciptakannya kemudian hari menjadi nama sebuah negara; Indonesia.

Seorang perantau dari Skotlandia, James Richardson Logan (1819-1869) menerbitkan majalah ilmiah The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia pada 1847.

Motivasi Logan menerbitkan jurnal ini, sebagaimana termaktub dalam nomor pertama jurnal tersebut, sebagai gelanggang para ilmuwan dan petualang Eropa akan hipotesis temuan-temuan baru mereka di kepulauan Hindia.

Dalam perkembangannya, majalah yang berkedudukan di Singapura ini karib disebut Indian Archipelago saja, yang dalam bahasa melayu berarti kepulauan Hindia.

Dua tahun kemudian, George Samuel Windsor Earl (1813-1865) ahli etnologi dari Inggris bergabung dalam jajaran redaksi majalah itu.

kata_indonesia_hlSebagai ahli etnologi, Earl mewarnai Indian Archipelago dengan menurunkan laporan tentang suku-suku, bahasa dan ragam budaya masyarakat di kepulauan Hindia. Pernah pula dia menulis perubahan karakter masyarakat dari maritim ke agraris.

Seiring waktu, begitu memahami sedikit banyak kehidupan masyarakat di kepulauan Hindia, Earl menyimpulkan bahwa wilayah ini kurang tepat disebut Indian Archipelago–sebernama majalah itu. Tak sekadar mengkritik, dia pun memberi usulan:

…the in habitants of the “Indian Archipelago” or Malayan Archipelago” would become respectively Indu-nesians or Malayunesians. I have chosen the latter for several reasons,” tulis Earl dalam On The Leading Characteristics of The Papuan, Australian, And Malayu-Polynesian Nations, termaktub di halaman 71 Indian Archipelago Vol IV, 1850.

Lebih kurang begini terjemahannya, “…penduduk “Kepulauan Hindia” atau “Kepulauan Melayu” akan dikenal menjadi Indu-nesieans atau Malayunesians. Saya telah memilih yang terakhir.”

Dengan sendirinya artikel Earl itu mengkritik nama media tempatnya bekerja. Tapi pak bos Indian Archipelago yang terbiasa hidup dalam tradisi ilmiah tak naik pitam. Dalam edisi yang sama, dia ladeni artikel Earl dengan artikel pula.

Dalam ulasan bertajuk The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries Into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders, Logan membenarkan pernyataan Earl sebagai seorang etnograf.

Bedanya, Earl memilih Malayunesians. Sedangkan Logan berpendapat, “I prefer the purely geographical term Indonesia,” sebagaimana dicuplik dari halaman 254 majalah tersebut.

Dengan ini jadilah Logan orang pertama yang mencipta-gunakan kata Indonesia.[] Laporan: Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

Chatelin, Pendiri Surat Kabar Pertama di Sumatera

Chatelin, Pendiri Surat Kabar Pertama di Sumatera

SUMATRA Courant surat kabar pertama yang terbit di tanah Andalas. Didirikan oleh Louis Numa Hipolite Arthur Chatelin pada 1859 di Padang.

Chatelin memang punya tradisi menulis yang kuat. Sebelum mendirikan Sumatra Courant, dia mencatat beberapa cerita rakyat yang biasa dibawakan secara lisan.

Pada 1881, lelaki indo Padang ini pernah membukukan kisah Laowomaru, bajak laut keturunan Bugis dari Selat Malaka yang hijrah ke pantai barat Sumatra karena kalah berperang melawan pasukan Si Djohor.

Zaman itu, “Chatelin seorang indo terkenal sekali di Padang,” tulis Rusli Amran dalam buku Padang Riwayatmu Dulu.

Saat Sumatra Courant mula-mula terbit, Chatelin turun tangan langsung menjadi pemimpin redaksi. Koran itu berukuran kecil. Terbit berkala tak beraturan. Hanya beberapa kali dalam seminggu.

Dalam perkembangannya, kepemilikan Sumatra Courant jatuh ke H.A. Mess, seorang indo yang terkenal pula di Padang. Namun Chatelin tetap sebagai pemimpin redaksi. Koran pun terbit rutin dua hari sekali.

Bila mau lihat pemberitaan-pemberitaan koran lawas tersebut, arsipnya lumayan banyak dikoleksi Jurnalistiek in de Tropen, Belanda.,

Entah apa sebabnya, sejak 1878, nama Chatelin tak muncul lagi di koran yang didirikannya itu.[] sumber: jpnn.com

Riwayat Meulaboh dalam Catatan Sejarah Aceh; Disikolah Kito Berlaboh

Riwayat Meulaboh dalam Catatan Sejarah Aceh; Disikolah Kito Berlaboh

KONON disebutkan Meulaboh dulunya dikenal dengan nama Pasir Karam. Penamaan ini kemudian berubah saat perantau asal Minangkabau tiba di daerah tersebut.

H.M Zainuddin dalam bukunya Tarich Aceh menuliskan sejarah singkat asal mula kata Meulaboh tersebut. Dalam buku itu, HM Zainuddin menukilkan penamaan Meulaboh dilakukan pada periode perang Padri di Sumatera Barat antara 1823-1837. Saat itu disebutkan perantau asal Minangkabau yang melarikan diri dari perang Padri berlayar ke Aceh. Sesampai di Teluk Pasir Karam mereka kemudian bermufakat untuk melego jangkarnya di tempat yang baik.

Salah satu di antara kepala rombongan tersebut kemudian menuju salah satu pantai yang ada di Teluk Pasir Karam. “Disikolah kito berlaboh,” katanya. Semenjak itu, tempat berlabuhnya perantau asal Minangkabau ini kemudian bersalin nama menjadi Meulaboh.

Dari sekian banyak jumlah orang yang berdatangan ke Aceh dalam rombongan tersebut, hanya ada beberapa orang yang tercatat dalam buku sejarah. Di antara mereka adalah para kepala rombongan seperti Datuk Machdum Sakti dari Rawa, Datok Radja Agam dari Luhak Agam dan Datok Radja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.

Ketiga kepala rombongan ini kemudian membuka lahan dan membuat negeri baru di kawasan Pasir Karam. Mereka membabat hutan dan membuka ladang di daerah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam tersebut. Masih menurut catatan H.M. Zainuddin, ketiga kepala rombongan ini memilih membuka lahan dan membuat pusat pemerintahan baru di daerah yang berbeda. Datok Machdum Sakti memilih daerah Merbau, Datok Radja Agam di Ranto Panjang, dan Datok Radja Alam Song Song Buluh di Ujungkala.

Datok Radja Alam kemudian juga menikah dengan anak seorang tokoh berpengaruh di di Ujungkala.

Bisnis ladang ketiga tokoh asal Minangkabau ini kian hari semakin ramai. Merbau, Ranto Panjang dan Ujungkala kemudian berubah menjadi negeri yang makmur. Daerah ini pun semakin dikenal di kawasan barat pesisir Aceh pada masa itu. Menyadari hal tersebut, ketiga tokoh dari Minangkabau ini kemudian sepakat menghadap Sultan Aceh Mahmud Syah atau dikenal Sultan Buyung (1830-1839). Ketiganya juga sepakat membawa masing-masing satu botol mas urai sebagai cinderamata untuk Sultan Aceh.

Setelah menjumpai Sultan Aceh, ketiga orang tersebut lantas meminta izin kepada sultan untuk memberikan batas wilayah kepada daerah baru yang ada di pantai barat tersebut. Sultan Buyung memenuhi permintaan ini dan mengangkat mertua Datok Radja Alam Song Song Buluh menjadi uleebalang Meulaboh. Penentuan Uleebalang Meulaboh ini harus berdasarkan keputusan sultan. Mereka juga diwajibkan untuk mengantar upeti tiap tahunnya kepada Bendahara Kerajaan Aceh Darussalam. Perintah ini diterima oleh ketiga Datok tersebut.

Di perjalanan perkembangan daerah Meulaboh, ketiga Datok tersebut kemudian merasa lelah pulang pergi ke Bandar Aceh hanya untuk mengurusi hal-hal kecil. Mereka juga mulai keberatan tiap-tiap tahun mengantar upeti langsung ke Sultan Aceh. Saat itu, Sultan Aceh telah dijabat oleh Sultan Ali Iskandar Syah (1829-1841).

Ketiga Datok ini kemudian meminta kepada Sultan Ali Iskandar Syah agar menetapkan seorang wakil Sultan di daerah Meulaboh. Permintaan ketiga Datok tersebut dikabulkan oleh Sultan Aceh yang kemudian mengirim Teuku Tjhik Purba Lela. Saat itu Teuku Tjhik Purba Lela menjabat sebagai Wazir Sultan Aceh untuk pemerintahan dan menerima upeti-upeti dari Uleebalang Meulaboh.

Keberadaan Teuku Tjhik Purba Lela sebagai wakil Sultan Aceh di Meulaboh mendapat sambutan baik dari ketiga Datok. Namun mereka masih mengeluhkan adanya beberapa pelanggaran dalam hukum dan adat yang membutuhkan penanganan khusus oleh pejabat khusus di bidang tersebut. Mereka kemudian kembali memohon kepada Sultan agar dikirimkan lagi seorang wakilnya yang menangani bidang khusus soal adat dan hukum. Saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam telah diperintah oleh Sultan Mansyur Syah.

Sultan Mansyur Syah mengabulkan permintaan para Datok tersebut. Sultan kemudian mengirim Penghulu Sidik Lila Digahara ke Meulaboh sebagai wazir kerajaan. Para Datok kemudian kembali meminta seorang wakil Sultan Aceh yang mampu mengurusi hal-hal keagamaan termasuk perkara nikah, pasah dan sebagainya.

Permintaan tersebut kembali dikabulkan oleh Sultan Aceh. Dia kemudian mengirim Teuku Tjut Din, seorang ulama yang bergelar ‘Almuktasimu-binlah’ menjadi kadhi Sulthan Aceh di Meulaboh.

Meulaboh kemudian berkembang pesat di bawah pemerintahan Sultan Ibrahim Mansyur Syah (1841-1870). Apalagi saat itu banyak perantau dari Sumatera Barat eksodus ke Meulaboh dan Tapaktuan. Mereka kemudian membuka kebun dan menanam lada di daerah ini. Akibatnya produksi lada di pesisir barat Aceh menjadi melimpah dan terdengar ke pedagang-pedagang asing, termasuk Inggris. Lada yang menjadi primadona perdagangan dunia pada saat itu sangat diburu oleh bangsa-bangsa Eropa.

Di masa kejayaannya tersebut, kepala-kepala negeri di Meulaboh kemudian menyusun tata negara berbentuk federasi uleebalang yang disebut Kawai XVI. Federasi ini diketuai oleh Uleebalang Kedjruen Tjiek Ujong Kala. Kawai XVI ini terdiri dari Meulaboh/Tandjung, Udjung Kala, Seunagan, Teuripa, Woyla, Peureumbeue, Gunung Meuëh, Kuala Meureubok, dan Ranto Pandjang.

Selain itu, daerah lainnya yang bergabung di Kawai XVI ini adalah Reudeueb, Lango Tangkadeuön, Keuntjo, Gumé/Mugo, Meuko, Tadu, dan Seuneu ‘Am.

Saat itu ada federasi lainnya terbentuk di perbatasan Meulaboh dengan Pedir selain Federasi Kaway XVI. Federasi ini disebut Kaway XII yang terdiri dari 2 uleebalang yaitu Pameuë, Ara, Lang Jene, Reungeuët, Geupho, Reuhat, Tungkup/Dulok, Tanoh Merah/Tutut, Geumpang, Tangse, Beunga, dan Keumala. Federasi Kaway XII ini diketuai oleh seorang Kedjruën yang kedudukannya berada di Geumpang.[]

Foto: Simbol Kota Meulaboh. @Diliputnews.com

Daan Mogot, Bukan Sekadar Nama Jalan

Daan Mogot, Bukan Sekadar Nama Jalan

DAAN Mogot berumur 17 tahun ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pemuda kelahiran Manado, 28 Desember 1928 itu mati muda. Gugur saat hendak melucuti senjata tentara Jepang di Desa Lengkong, Serpong, Tangerang.

Hari itu almanak bertarikh 25 Januari 1946. Setelah salat Jumat, Mayor Daan Mogot memimpin para taruna Akademi Militer Tangerang (AMT) berangkat dengan tiga truk dan satu jip militer dari markas Resimen IV TRI menuju markas Jepang di Desa Lengkong.

Dalam rombongan itu ada empat orang eks-Gurka–tentara bayaran Inggris–dari India yang membelot ke republik. Keempatnya didandani bak pasukan Sekutu. Mengenakan uniform ala tentara Inggris. Maksudnya mau tipu-tipu, seolah itu operasi gabungan TKR-Sekutu sebagai pemenang perang dunia kedua yang akan melucuti Jepang.

Aksi ini sudah direncanakan baik-baik oleh Daan Mogot, selaku pendiri sekaligus Direktur Akademi Militer Tangerang bersama Kapten Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo. “Keberangkatan siang itu diliputi suasana optimis,” tulis Moehkardi dalam buku Pendidikan Perwira TNI AD di Masa Revolusi.

Sesampai di tujuan, Daan Mogot berunding dengan Kapten Abe, pimpinan tentara Jepang di Lengkong. Mereka sudah saling kenal sebelumnya, mengingat semasa pendudukan Jepang, pemilik nama asli Elias Daniel Mogot ini pernah menjadi pelatih PETA di Bali dan Jakarta.

Perundingan berlangsung baik. Daan didampingi Alex Sajoeti, taruna AMT yang mahir berbahasa Jepang. Di luar ruang runding, Soebianto dan Soetopo sudah mengerahkan para taruna AMT masuk barak. Sekira 40 serdadu Jepang dijejer di lapangan. Senjata mereka dikumpulkan. Para “saudara tua” itu termakan muslihat.

“Mereka percaya bahwa yang sedang bertugas adalah operasi gabungan TKR-Sekutu,” tulis Rosihan Anwar, Ramadhan KH, Ray Rizal, Din Madjid dalam buku Kemal Idris–Bertarung dalam Revolusi.

Tiba-tiba sore yang tenang itu berubah gaduh. Terdengar rentetan senapan. Entah dari mana arahnya. Ini terjadi di luar rencana. Serdadu Jepang yang sudah terlatih sontak merebut senjata. Terjadi baku tembak hingga “perkelahian sangkur satu lawan satu,” kenang Moehkardi.

Pasukan republik tak mampu mengalahkan saudara tua. Daan Mogot, dua perwira yang mendampinginya–Soebianto dan Soetopo–serta 33 orang taruna AMT gugur. Tiga puluhan orang lainnya ditawan. Para tawanan dipaksa menggali dan mengubur para kawannya.

Empat hari kemudian, 29 Januari 1946 diadakan pemakaman ulang. “Saya spesial datang ke situ sebagai wartawan harian Merdeka,” kenang Rosihan Anwar.

Hari itu, sebagaimana ditulis Rosihan, banyak pejabat hadir. Ada Haji Agus Salim, yang anaknya Sjewket Salim—taruna AMT turut gugur. Hadir juga Margono Djojohadikusumo pendiri BNI yang kehilangan dua putranya; Kapten Subianto dan taruna Soejono.

Saat prosesi pemakaman ulang, dari kantong baju jasad Soebianto–paman dari Prabowo Soebianto yang tempo hari nyapres–ditemukan selarik puisi karya Henriette Roland Holst, penyair perempuan komunis Belanda sahabat Bung Hatta.

wij zijn de bouwers van de temple niet/wij zijn enkel de sjouwers van de stenen/wij zijn het geslacht dat moest vergaan/opdat een betere oprijze uit onze graven

Rosihan menerjemahkan, “kami bukan pembangun candi/kami hanya pengangkut batu/kamilah angkatan yang mesti musnah/agar menjelma angkatan baru/di atas kuburan kami telah sempurna.”

Kini, sajak itu terukir di pintu gerbang Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang. Dan untuk mengenang keberanian sang pemimpin pertempuran tersebut, nama Daan Mogot diabadikan pada sebuah jalan raya di Jakarta Barat.[] sumber: JPNN.com

Penulis: Wenri Wanhar

Ada Makam Tokoh Siak di Situs Siron?

Ada Makam Tokoh Siak di Situs Siron?

BANDA ACEH – Tim Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) menemukan satu nisan tokoh asal Siak di situs bersejarah Aceh, di Dusun Lampoeh Raya, Gampong Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu , 30 Agustus 2015. Hal ini diketahui berdasarkan hasil bacaan inkripsi yang ditemukan di situs tersebut pada Senin, 31 Agustus 2015.

“Nisan yang berada di Siron ini tampaknya memiliki suatu hubungan dengan Siak. Inskripsi di satu sisi nisan berbunyi هذا القبر …؟ سياء ini kubur… (?) Siak (dengan hamzah, bukan dengan kaf). ان شاء الله تعالى Jika dikehendaki Allah Ta’ala [niscaya] أعطاه الله Allah pasti memberikan kepadanya,” ujar Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi, kepada portalsatu.com, mengutip keterangan Musafir Zaman yang mengunggah hasil inskripsi tersebut dalam akun facebooknya.

Dia mengatakan jika menilik sejarah, Aceh memang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan Siak di masa lalu. Pengakuan itu sering datang dari para pakar sejarah Riau sendiri.

“Namun sejak kapan hubungan itu telah terjalin, tentu, masih perlu pengkajian yang lebih luas. Saya kira, penyelidikan tentang hal ini perlu dilanjutkan,” kata Mizuar.

Sebelumnya diberitakan, Mapesa mengadakan meuseuraya atau gotong-royong membersihkan dan menata situs bersejarah Aceh, di Dusun Lampoeh Raya, Gampong Siron,Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu , 30 Agustus 2015.

“Ini merupakan meuseuraya pekan ke empat pascalebaran. Kali ini, Mapesa beserta masyarakat meuseuraya di kompleks makam Teungku Di Geudong (Jrat Manyang),” ujar Mizuar Mahdi, Sekretaris Jenderal Mapesa melalui siaran pers diterima portalsatu.com, Senin, 31 Agustus 2015.

Berdasarkan hasil pengamatan Mapesa dari tahap ekspedisi sampai dilaksanakan meuseuraya, di kompleks ini terdapat beberapa makam bertipologi nisan Aceh Darussalam dari periode Abad ke-16 Masehi sampai 19 Masehi, baik dari seni penulisan kaligrafi dan corak ornamen yang terdapat pada nisan. (Baca: Mapesa Meuseuraya di Kompleks Makam Teungku Di Geudong).[]

Foto: Inskripsi yang memuat nama serta sebuah negri yang bernama siak. @Dok Mapesa

Mapesa Meuseuraya di Kompleks Makam Teungku Di Geudong

Mapesa Meuseuraya di Kompleks Makam Teungku Di Geudong

 BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mengadakan meuseuraya atau gotong-royong membersihkan dan menata  situs bersejarah Aceh, di Dusun Lampoeh Raya, Gampong Siron,Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu , 30 Agustus 2015.

“Ini merupakan meuseuraya pekan ke empat pascalebaran. Kali ini, Mapesa beserta masyarakat meuseuraya di kompleks makam Teungku Di Geudong (Jrat Manyang),” ujar Mizuar Mahdi, Sekretaris Jenderal Mapesa melalui siaran pers diterima portalsatu.com, Senin, 31 Agustus 2015.

 Berdasarkan hasil pengamatan Mapesa dari tahap ekspedisi sampai dilaksanakan meuseuraya, di kompleks ini terdapat beberapa makam bertipologi nisan Aceh Darussalam dari periode Abad ke-16 Masehi sampai 19 Masehi, baik dari seni penulisan kaligrafi dan corak ornamen yang terdapat pada nisan.

 “Namun yang sangat memprihatinkan, kondisi makam yang sebagian inskripsinya sudah hancur, patah, bahkan ada sebagian nisan yang tidak lengkap lagi pasangannya. Di komplek ini terdapat 18 makam,” kata Ayi, koordinator kegiatan meuseuraya.

Keluarga pemilik tanah komplek makam itu mengungkapkan bahwa masyarakat menyebut lokasi ini kompleks makam Jeurat Manyang, kompleks Abdurrahman dan kompleks Teungku Di Geudong. Warga bahkan menyebutkan silsilah keluarga mereka merupakan keturunan dari Teungku Di Gudong.

Keluarga pemilik tanah tempat kompleks makam berada mengapresiasi kegiatan meuseuraya Mapesa . Mereka berharap agar Mapesa bisa secepatnya melakukan penilitian dan kajian secara epigrafi dan arkeologi agar bisa mengungkapkan nama–nama tokoh yang terdapat di kompleks makam ini. Hal itu disampaikan Muhammad Yusuf, salah satu dari keluarga pemilik tanah komplek makam itu, yang  saat ini menjabat Kepala Mahkamah Syar’iyah Takengon.[]

Foto meuseuraya Mapesa di kompleks makam bersejarah di Gampong Siron.@Mapesa

 

 

Sejarah Islam di India

Sejarah Islam di India

Peradaban Islam telah menyinari ujung-ujung dunia. Cahayanya menyebar di tiap jengkal wilayah yang pernah dimasukinya. Di antara kisah yang menarik tentang keagungan Islam dan betapa besar peradabannya adalah kisah Islam di India. Negeri dimana syiar Islam tegak kokoh dalam kurun yang lama. Masyarakat hidup dalam keimanan dan keamanan. Serta keadilan dan kebaikan.

Geografi India

Pertama-tama, kita harus mengetahui geografi India. Karena India dalam sejarah Islam berbeda dengan India yang kita kenal pada hari ini. Dalam istilah sejarah Islam, India adalah suatu wilayah yang saat ini meliputi beberapa negara. Yaitu: India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka, dan Maladewa. Inilah wilayah India yang dimaksud dalam pembahasan kita. Wilayah yang sebelah selatannya berbatasan dengan Pegunungan Himalaya. Sebelah barat berbatasan dengan Pegunungan Hindukus dan Sulaiman, yang terletak di wilayah Afghanistan dan Iran. Di sepanjang perbatasan utara, wilayah India berbatasan dengan semenanjung Laut Arab dan Teluk Bengal.

India Pra Islam

Sebelum datangnya Islam, kemerosotan akhlak, nilai-nilai kemasyarakatan, dan keyakinan sangat jelas terlihat. Kemunduran pilar-pilar kemasyarakatan ini tampak sedari abad ke-6 masehi. Ditandai dengan banyaknya sesembahan dan Tuhan. Tersebarnya perzinahan. Nafsu syahwat diumbar tak terarah. Ketimpangan lingkungan sosial. Dan meratanya ketidak-adilan (Madza Khasara al-Alam bi Inhithath al-Muslimin oleh Abu Hasan an-Nadwi, Hal: 88).

Di masa-masa itu, begitu banyak agama dan kepercayaan di India. Yang terbesar adalah Hindu, Kemudian Budha. Di sana juga terdapat sedikit orang-orang Nasrani dan Yahudi (Tarikh al-Islam fi al-Hind oleh Abdul Mun’in Namr, Hal: 24).

Sulit untuk menentukan kapan pertama kalinya terjadi kontak antara masyarakat India dengan orang-orang Arab Islam. Hanya saja dapat diketahui bahwa kontak budaya mereka dimulai dengan adanya perniagaan. Kapal-kapal Arab singgah di banyak pelabuhan India. Bahkan sampai ke Teluk Bengal dan negeri-negeri Melayu. Termasuk Indonesia. Sehingga bisa kita temukan perkampungan Arab di wilayah-wilayah tersebut.

Mengenal Islam

Wilayah-wilayah India; India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka, dan Maladewa merupakan komunitas terbesar agama Hindu dan Budha. Ada beberapa berita yang menyebutkan bahwa kontak dunia Islam dengan wilayah India telah terjadi sejak zaman Nabi ﷺ. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengirim surat kepada raja India, Raja Malipar. Beliau ﷺ menawarkan Islam kepadanya. Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Raja Kudunglur (Arab: كدنغلور) mengunjungi Nabi ﷺ di Madinah.

Kemudian di masa Khalifah Rasyidin, utusan-utusan Islam telah mencapai Bombay. Dan di masa Muawiyah, raja pertama dalam Islam ini pernah mengirim pasukan ke wilayah Sindh. Seiring waktu, kontak dengan wilayah India kian menemui puncaknya. Pada masa Abdul Malik bin Marwan, Muhammad bin Qasim datang ke India. Ia memerangi orang-orang India yang menyandera kaum muslimah. Mulailah wilayah-wilayah India dibebaskan. Islam pun diterima masyakarat dan tersebar di sana.

Di masa berikutnya, Umar bin Abdul Aziz menyurati beberapa raja India. Di antara mereka ada yang menerima Islam. Kemudian disempurnakan oleh Hisyam bin Abdul Malik yang berhasil menstabilkan wilayah India.

Di awal kekuasaan Daulah Abasiyah, terjadi kerusuhan di negeri Hindustan ini. Kemudian Khalifah Harun al-Rasyid mengangkat sejumlah gubernur bergantian memimpin wilayah Sind hingga wilayah India pun tunduk kepada kekhalifahan di Baghdad.

Ketika kekhalifahan mulai melemah, orang-orang India tunduk kepada orang-orang Samani. Salah satu kepercayaan yang meyakini bahwa air dan api adalah bendak suci. Hingga datang Mahmud Ghaznawi. Islam pun kembali Berjaya. Sampai-sampai raja wilayah Kasymir pun memeluk Islam melalui perantaranya.

Setelah era Dinasti Ghaznawi, India dikuasai oleh orang-orang Dinasti Saljuk. Kemudian Turkman. Setelah itu orang-orang Ghuri. Lalu berganti lagi dikuasai orang-orang Mamalik. Dinasti Mamluk berhasil menjaga India dari serangan Mongol. Setelah itu, India dikuasai oleh Dinasti Khilji yang merupakan orang-orang Turk.

Beberapa lama dikuasai pihak luar, akhirnya orang-orang India kembali memerintah di daerah mereka. Pada masa ini wilayah India terpecah menjadi enam negara. Namun Dinasti Lodi berhasil menyatukannya kembali. Ketika kekuasaan Dinasti Lodi melemah, muncullah Dinasti Mughal. Yang kemudian menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar di abad pertengahan. Namun sayangnya, kerajaan ini pula yang menjadi penguasa muslim terakhir di wilayah India yang luas ini.

Raja Mughal yang terkuat adalah Raja Jalaluddin. Kekuasannya meliputi seluruh wilayah India, kecuali wilayah ujung selatan. Wilayah selatan ini dikuasai oleh raja-raja Bijapur dan Kalinga yang telah menerima Islam pula. Pada saat itu, muncul seorang Indian yang bernama Vijayankir (Arab: فيجايانكر). Ia berobsesi menyatukan seluruh agama yang ada di India menjadi satu aliran kepercayaan. Dari sini kita ketahui, isu pluralism agama adalah sebuah pemikiran lama yang booming kembali di abad modern ini.

Di pesisir barat India, orang-orang Portugal mulai menunjukkan ambisinya. Belanda menyimpan obsesi. Dan Perancis turut bergerak. Inggris pun merangkul mereka. terbentuklah sebuah perserikatan dagang Inggris di India. Muncullah took-toko kecil. Kemudian dijaga oleh orang-orang Inggris. Dari sini terbentuklah militer yang kemudian. Mulailah terjadi ketegangan antara pribumi, dengan penjajah Kristen Eropa.

Muncullah gerakan jihad di tanah Hindustan. Inggris pun mulai memainkan tipu muslihat dengan berusaha memecah belah kelompok-kelompok jihad. Mereka mengadakan konspirasi pemecah belah dengan menyerukan agar India lepas dan bebas dari pengaruh asing. Orang asing di sini maksudnya adalah pendatang Islam yang sudah mendarah daging dengan penduduk setempat.

Sama halnya dengan seruan saat ini, kampanye pemisahan budaya Arab dan budaya lokal begitu deras dihembuskan. Padahal dari beberapa contoh yang disebutkan tentang budaya Arab adalah Islam itu sendiri.

Akhirnya, India pun jatuh ke tangan penjajah Inggris.

Untuk membela kepentingan Islam, kaum muslimin mendirikan Hizb Rabithah al-Islamiyah (Muslim League). Dibuatlah sebuah media cetak agar suara umat Islam kian cepat tersebar. Pada perang dunia pertama, umat Islam dijanjikan kemerdekaan. Namun janji tersebut tidak ditepati. Terjadilah gejolak. Hizb Rabithah al-Islamiyah menuntut agar umat Islam dimerdekakan dan membentuk negara Pakistan. Akhirnya parlemen Inggris mengizinkan umat Islam mendirikan negara Republik Islam Pakistan.

Pada 15 Agustus 1947, Inggris menyerahkan kekuasaan secara terpisah kepada India dan Pakistan. Deklarasi kemerdekaan tersebut mengakibatkan perpindahan penduduk besar-besaran. Sekitar 6 juta pemeluk Hindu dan Sikh keluar dari Pakistan menuju India. Dan kurang lebih 8 juta umat Islam bermigrasi dari India menuju Pakistan.

Sejak saat itu, terbagi-bagilah wilayah India seperti yang kita lihat sekarang ini. India, Pakistan yang kemudian juga terpecah dan muncullah Bangladesh. Umat Islam kurang lebih berkuasa selama 5 abad di wilayah ini. Suka dan duka, kemajuan dan kemunduran, damai dan perang, silih berganti menulis sejarah perjalanan wilayah ini. | sumber : kisahmuslim

Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

SJAMAUN Gaharu merupakan salah satu tokoh pendidikan, militer dan tokoh sosial Aceh yang ikut terlibat aktif dalam perang melawan Belanda di era kemerdekaan Indonesia. Sjamaun telah mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk pembangunan keamanan nasional di berbagai daerah di Indonesia. Sebelum menekuni karier militernya, dia adalah seorang guru Taman Siswa di Kutaraja dan aktif dalam pembinaan pendidikan dasar di Daerah Istimewa Aceh.

Dia juga berperan penting dalam pembangunan Kampus Universitas Syiah Kuala dan IAIN Jamiah Ar-Raniry. Sebagai seorang tokoh sosial, Sjamaun Gaharu aktif dalam menjembatani berbagai konflik sosial yang terjadi di Daerah Istimewa Aceh, baik dalam revolusi sosial pada masa perjuangan kemerdekaan maupun dalam berbagai gejolak yang terjadi setelah Indonesia merdeka.

Sebagai pelaku sejarah, Sjamaun Gaharu berhasil merekam jejak bagaimana peralihan kekuasaan terjadi di Aceh pada masa Perang Dunia II. Hal tersebut kemudian diceritakannya kepada Ramadhan KH yang lantas menyusunnya dalam buku autobiografi “Sjamaun Gaharu; Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal.”

Berikut kesaksian Sjamaun Gaharu mengenai kondisi Aceh di masa Perang Dunia II:

“Perang Dunia II pecah. Saya tengah sibuk mengajar putera-putera bangsa yang akan jadi generasi masa depan, ketika dunia bergejolak dan masuk ke dalam suatu konfrontasi bersenjata. Ideologi yang saling bertentangan mencapai puncak pertikaiannya. Jerman dengan fasisnya bersepakat dengan Italia dan Jepang. Mereka bergerak hampir bersamaan dan memporak-porandakan banyak negeri.

Di daratan Eropa, 10 Mei 1940, Hitler memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda, Belgia dan Perancis. Ketiga negeri tersebut takluk dan dapat direbut Jerman dalam waktu yang singkat. Malah Belanda jatuh pada hari pertama penyerangan itu. Ratu Belanda terpaksa mengungsi ke Inggris hari itu juga, pada pukul 02.30 GMT. Negerinya menjadi negara terjajah. Kejadian itu dapat saya ketahui melalui radio dan sedikit dari berita surat kabar. Seluruh orang Belanda yang berada di Aceh menjadi loyo, semangat mereka terbang entah ke mana.

Sekarang mereka merasakan bagaimana derita menjadi jajahan! Tanah air mereka berada dalam cengkeraman Jerman yang terkenal kejam.

Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia II. Dengan mendadak mereka membombardir pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawaii), Minggu, 7 Desember 1941. Pemboman tersebut bagaikan aba-aba. Ia jadi pemicu bagi rencana besar militer Jepang. Bala tentara Jepang bergerak sangat cepat ke Asia Selatan (Nan Yo), dan tidak ada yang dapat menghalanginya.

Menjelang Februari 1942, tentara ke XXV Jepang telah bermarkas di Singapura (Syonanto). Wilayah peperangang bertambah luas. Jepang bergerak. Merambah dataran Asia dan terus ke selatan. Pada 8 Desember 1941, pukul 02.30 GMT, pemerintah Belanda dalam pengasingan di Inggris mengumumkan pernyataan perang kepada Jepang, melalui duta besarnya di Tokyo.

Pernyataan ini berarti tidak saja mencakup pemerintah Belanda di negerinya, tapi juga melibatkan pemerintahan kolonial mereka di Hindia Belanda (Indonesia). Babak baru yang dinamakan Perang Asia Timur Raya telah dibuka. Saya tidak mengetahui secara tepat pernyataan perang itu pada saatnya, baru kemudian saya membacanya di surat kabar. Yang saya lihat dan ketahui adalah kesibukan pasukan Belanda meningkat tinggi.

Di bawah komandan mereka, Kolonel Gosenson, yang mukanya berparut bekas tetakan pedang putera Aceh, mereka mengangkut peralatan dan logistik perang mereka ke Takengon atau ke Rimba Gayo.

Bukan saya saja yang melihat, tetapi hampir semua rakyat Aceh. Putera Aceh hanya melihat dan diam sementara. Dalam diam, mereka diam-diam mengasah parangnya. Sekolah Pertanian tetap berjalan, dan saya tetap berdiri di depan kelas. Tapi mata saya tetap liar melihat kesibukan pasukan Belanda di tanah Aceh.

Seluruh perbekalan militer Belanda ditempatkan di perkebunan Teh Redelong, yang berada dalam wilayah Aceh Tengah, tidak berapa jauh dari Takengon. Saya dapat melihat seluruh kesibukan mereka karena bertempat tinggal di Bireuen. Untuk mencapai Takengon mereka harus melalui tempat saya, dengan sendirinya saya dapat memperhatikan lebih saksama.

Pasukan Belanda terus mondar mandir antara Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dengan Takengon. Kesibukan bidang pemerintahan yang dipimpin Residen Pauw juga meningkat. Kesibukan itu terjadi di awal tahun sampai awal Maret 1942. Perhatian seluruh rakyat Aceh tertuju ke mari.

Dahulu Belanda datang dari Laut, sekarang lari ke dalam rimba. Dalam pikiran, saya berharap agar di rimba Aceh pasukan Belanda akan dihancurkan pasukan musuh mereka. Bagaimana dengan rakyat Aceh? Apakah mereka berdiam diri dan hanya melihat saja musuh bebuyutan melenggang di bumi pusaka? Belanda memang menghadapi dua bahaya besar. Di samping takut terhadap Jepang yang tengah bersiap untuk menerkam Aceh, Belanda menghadapi api dalam sekam. Setiap saat putera-putera Aceh bisa bangkit melawan mereka.

Hal itu memang terjadi. Awal bulan Maret pecahlah perlawanan terhadap Belanda. Di Aceh Besar yang berpusat di Lam Nyong, Teuku Nyak Arif mengangkat senjata. Inilah perang yang berlangsung 9-10-11 Maret 1942. Teuku Nyak Arif menepati ucapannya, ketika beliau menganjurkan saya untuk mengajar di Taman Siswa. Sayang, saya sendiri tidak berperan, karena saya sibuk dengan mendidik bangsa di bidang pertanian. Rasa hormat dan segan saya terhadap Teuku Nyak Arif pun bertambah. Pejuang memang harus memegang kata-katanya!

Sebelum tentara ke XXV Jepang mendaratkan pasukan-pasukannya di Pantai Aceh (Ujung Batee, Aceh Besar, dan Kuala Bugak, Peureulak), Teuku Nyak Arif sebagai pemimpin Aceh menyampaikan ultimatum kepada penguasa Belanda di Aceh. Ia meminta agar pemerintah Hindia Belanda menyerahkan kekuasaan dan senjatanya kepada rakyat Aceh dengan jaminan keselamatan untuk mereka.

Belanda mengabaikan ultimatum itu. Mereka malah menteror rakyat Aceh dengan bermacam-macam provokasi. Pimpinan tentara Belanda mengeluarkan surat perintah penangkapan Teuku Nyak Arif dan tokoh-tokoh lain, hidup atau mati. Keadaan demikian membangkitkan amarah rakyat Aceh untuk melawan tentara kolonial Belanda. Militer Belanda waktu itu sedang panik dan ketakutan menghadapi bahaya Jepang, mereka akhirnya tergesa lari terbirit-birit. Ketika kemudian bala tentara Jepang mendarat di Aceh, Aceh telah bersih dari pengaruh kekuasaan Belanda.

Salah satu contoh dari teror Belanda di masa akhir keberadaannya di Bumi Rencong adalah kisah ini. Pemberontakan meletus setelah Belanda mengabaikan ultimatum Teuku Nyak Arif. Tetapi Residen Belanda sempat juga mengundang beberapa Uleebalang untuk mengadakan rapat kilat di Kutaraja. Teuku Nyak Arif sudah berpesan agar rapat itu jangan dihadiri. Namun pesan itu tidak semuanya sampai ke alamat.

Waktu rapat sedang berlangsung, tiba-tiba muncul Kolonel Gosenson, sang komandan tentara Belanda yang terkenal kejam di Aceh, diiringi Mayor Palmer van den Broek. Sambil mengacung-acungkan sebutir peluru di tangannya, ia mengatakan kepada yang hadir bahwa peluru itu pasti berasal dari Teuku Nyak Arif yang sudah berani mengangkat senjata melawan Belanda.

Kalau Nyak Arif bisa saya tangkap, kata Kolonel Gosenson, saya akan hisap darahnya, seraya memperagakan bagaimana caranya menghisap darah. Kemudian dengan lantang Gosenson menambahkan, “Teuku-Teuku yang hadir di sini semua saya tangkap dan Teuku Nyak Arif akan saya tangkap, hidup atau mati”.

Gosenson segera memerintahkan pasukan Marsose/KNIL untuk menyerang rumah Teuku Nyak Arif di Lam Nyong yang lebih kurang 6 kilometer jaraknya dari Kutaraja. Ketika terjadi penyerangan itu kebetulan Teuku Nyak Arif tidak berada di rumah, karena sedang memimpin rapat perlawanan terhadap Belanda di Lubok.

Mendengar rumahnya diserbu dan ditembak secara membabi-buta, Teuku Nyak Arif nekad berangkat pulang karena menyangka keluarganya sudah ditembak atau ditangkap Belanda. Beberapa orang pengikutnya mencoba menahan Teuku Nyak Arif karena khawatir Belanda akan menyergapnya. Tetapi Teuku Nyak Arif mengatakan, “Saya bukan laki-laki kalau saya tidak pulang sekarang ini juga”.

Setiba di Lam Nyong ternyata tentara Belanda yang menyerbu dan mengobrak-abrik rumah Teuku Nyak Arif baru saja beberapa menit kembali ke Kutaraja. dengan membawa beberapa orang yang dapat mereka tawan, di antaranya Teuku Hanafiah Tungkop (kemenakan Teuku Nyak Arif), Ismail Penghulu Akub, M. Daud dan lain-lain. Keluarga Teuku Nyak Arif ternyata dapat menyelamatkan
diri karena kebetulan sedang berada agak jauh di belakang rumah, lagi mempersiapkan dapur umum.

Hanya beberapa jam setelah peristiwa itu sudah berduyun-duyun rakyat berkumpul di Lam Nyong, dengan rencana akan melakukan penyerangan ke Kutaraja selepas Isya. Pada waktu barisan rakyat mulai bergerak dan baru sekitar limaratus meter jaraknya dari rumah Teuku Nyak Arif, mereka melihat di seberang jembatan Lam Nyong ada beberapa kendaraan lapis baja milik Belanda. Beberapa orang serdadu Belanda tampak sedang sibuk berusaha menyingkirkan batang-batang kayu yang sudah ditumbangkan rakyat di tengah jalan.

Barisan rakyat yang dipimpin Waki Harun itu langsung menghadang dan menghujani Belanda dengan tembakan-tembakan gencar. Maka pertempuran seru segera berkecamuk di sana. Pasukan Belanda tidak dapat menembus barisan rakyat, sehingga mereka terpaksa mundur ke pangkalannya di Kutaraja. Dalam pertempuran ini telah jatuh korban di kedua belah pihak. Akhirnya ribuan rakyat dari segenap penjuru menyerbu ke Kutaraja, sehingga pasukan Belanda pun lari terbirit-birit ke Aceh Tengah.”[]

Foto: Ilustrasi perang dunia ke II. @dok

Tokoh Aceh Penggagas Angkatan Perang Indonesia

Tokoh Aceh Penggagas Angkatan Perang Indonesia

Saya menamakan barisan kami ini API, kependekan dari Angkatan Pemuda Indonesia, tetapi yang secara akronimnya juga bisa berarti Angkatan Perang Indonesia. Saya ingat, waktu itu sudah pukul 04.00 dinihari. Teuku Hamid Azwar dan saya bekerja keras, tidak kenal lelah. Secara mendetail, ia membuat analisa mengenai kemampuan personil yang ada. Hasil analisa kami malam itu menghasilkan formasi sementara. Said Ali punya pengetahuan cukup banyak mengenai senjata, ia dicalonkan untuk memegang bidang persenjataan.”

Demikian salah satu penggalan kalimat Sjamaun Gaharu dalam buku “Sjamaun Gaharu; Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal” yang ditulis oleh Ramadhan KH. Sjamaun merupakan salah satu tokoh Aceh yang terlibat langsung dalam perang memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Dia juga kemudian menjadi salah satu pejabat militer berpengaruh di Aceh.

Sjamaun Gaharu yang awalnya adalah seorang guru di Taman Siswa kemudian berperan aktif dalam mewujudkan Angkatan Perang Indonesia. Hal ini dicatat dengan baik oleh Ramadhan KH dalam autobiografi Sjamaun Gaharu yang diterbitkan pada 1995 lalu.

Dalam buku tersebut, Sjamaun Gaharu turut menemui Teuku Nyak Arief bersama dengan rekan-rekannya Teuku Hamid dan Azwar pada 26 Agustus 1945. Mereka ingin agar tokoh Aceh tersebut memberikan restu pembentukan angkatan perang di Aceh.

“Teuku Nyak Arif berkata, ‘..saya sangat setuju dengan dibentuknya pasukan tentara. Tidak mungkin ada pemerintahan tanpa tentara. Karena itu saya akan meresmikan API, sebagai barisan resmi pemerintahan daerah Aceh.”

“Tapi Teuku Nyak Arif memperingatkan supaya perkataan tentara jangan dipergunakan dulu, karena kita belum mempunyai senjata. Di samping mengatur serta menyusun pembentukan tentara, beliau menganjurkan untuk berusaha dengan sekuat tenaga dengan kebijaksanaan dan keberanian merebut senjata Jepang sebanyak mungkin. Beliau juga menyarankan agar bekas tentara KNIL (Tentara Hindia Belanda) diikutsertakan,” ujar Sjamaun Gaharu.

Dia mengatakan alasan Teuku Nyak Arif agar API turut merekrut bekas tentara KNIL dalam API didasari atas beberapa pertimbangan. Pertama karena bekas tentara KNIL pada umumnya terdiri dari bangsa Indonesia yang umumnya berasal dari suku Jawa, Ambon dan Manado. Selain itu, bekas tentara KNIL juga diketahui telah ahli mempergunakan senjata.

“Di samping itu, dengan merangkul mereka, kemungkinan Belanda memperalat mereka lagi bisa dicegah. Teuku Nyak Arif merencanakan penempatan bekas anggota KNIL ini sebagai anggota “Polisi Istimewa” (semacam Brigade Mobil) yang langsung di bawah komando Residen,” ujar Sjamaun Gaharu.

Rencana pembentukan angkatan perang tersebut mendapat sambutan baik dari Teuku Nyak Arief. Hal ini membuat Sjamaun Gaharu dan teman-temannya menyambut gembira. Hasil konsultasi dengan Teuku Nyak Arif segera disampaikan kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia di Aceh.

“Mereka sudah tidak sabar lagi menunggu. Merdeka! Mereka menyambut dengan pekik yang gemuruh. Ya, hari-hari itu pekik merdeka telah diinstruksikan kepada masyarakat. Di mana-mana terdengar kata itu diserukan dengan bersemangat sambil mengacungkan tangan dan mengepal tinju. Dan sepanjang hari itu kami semua sibuk mempersiapkan acara peresmian dan susunan personil yang lebih lengkap untuk API,” kata Sjamaun Gaharu.[]

Temuan Terbaru: Pemakaman Keluarga Pelaut Samudra Pasai di Syamtalira Bayu

Temuan Terbaru: Pemakaman Keluarga Pelaut Samudra Pasai di Syamtalira Bayu

LHOKSEUMAWE –  Ketua Centre for Information of Samudra Pasai Heritage (Cisah), Abdul Hamid, dan salah seorang ekskombatan, Muhammad Nasir atau Bang Syin, menemukan satu kompleks pemakaman kuno di Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Jumat pekan lalu.

Hasil penelitian sementara tim Cisah terungkap bahwa kompleks pemakaman tersebut milik keluarga pelaut/pelayar zaman Samudra Pasai. “Ini merupakan salah satu temuan terpenting, bahkan paling bernilai dalam jenisnya bagi sejarah Samudra Pasai, sebab merupakan kompleks pemakaman keluarga pelaut yang berada dalam wilayah Aceh Utara dan terdekat dengan kawasan bekas pusat pemerintahan Samudra Pasai (kawasan inti),” demikian keterangan Cisah melalui akun Facebook Musafir Zaman.

Disebutkan pula bahwa sebelumnya, sejak beberapa tahun silam, Cisah sudah berhasil menemukan sebaran pemukiman masyarakat pelaut (tinggalan era Samudra Pasai) dalam wilayah Lhokseumawe: Di antaranya, di Desa Blang Weu, Jileukat, Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kandang, Kecamatan Muara Dua, dan juga di Kecamatan Banda Sakti.

“Temuan kali ini adalah di luar Lhokseumawe, namun tetap memiliki akses langsung ke Teluk Samawi, dikarenakan letak pemakaman atau permukiman kuno di Syamtalira Bayu tersebut hanya berjarak sekitar 2 km dari bibir laut Teluk Samawi (Kuala Lancok), dan dihubungkan oleh sebuah aliran sungai yang sekarang sudah tidak berfungsi lagi”.

Cisah menjelaskan, kompleks pemakaman itu diketahui milik keluarga pelaut, dari beberapa nama yang terpahat pada batu nisan. Meski epitaf makam tidak memuat penanggalan wafat, namun dari bentuk-bentuk batu nisannya diperkirakan pemakaman tersebut berasal dari abad ke-14 dan ke-15 M.

“Sesuatu yang unik pada beberapa batu nisan di pemakaman ini ialah pemahatan nama dalam kotak pada sisi kiri nisan sebelah utara (nisan kepala), sehingga terlihat seperti pelat nomor. Ini unik dan baru kali ini ditemukan yang demikian rupa, dan sengaja dibuat hanya untuk dapat dikenali pemilik masing-masing kubur”.

Peneliti Cisah yang menggunakan akun Facebook Musafir Zaman mengatakan, “Dari data-data sejarah tersebut, saya kira sangat penting untuk disimpulkan bahwa di kompleks makam yang terdapat di kawasan Syamtalira Bayu ini ternyata telah dikuburkan tokoh-tokoh dari sebuah keluarga yang bukan saja pelayar tapi juga ulama sekaligus pendakwah (khatib). Maka perlu untuk dinyatakan sekali lagi bahwa Samudra Pasai sesungguhnya memiliki segenap modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan Islam di Asia Tenggara.”

“Namun apa yang ditulis di sini jelas hanya berupa catatan singkat, dan dapat dianggap sebagai sebuah tawaran bagi yang berminat untuk menelitinya lebih lanjut. Banyak pertanyaan yang belum terjawab, antara lain tentang Barjan, Hadashtan, Thahud, dan banyak persoalan lainnya yang perlu kepada pengkajian khusus. Saya berharap ada yang akan bersedia untuk itu,” tulis pemilik akun Facebook Musafir Zaman lagi.

Ketua Cisah, Abdul Hamid yang dikonfirmasi portalsatu.com, Selasa, 25 Agustus 2015, membenarkan data yang dipublikasi lewat akun Facebook Musafir Zaman itu merupakan hasil penelitian sementara tim Cisah, setelah ia dan Bang Syin menemukan kompleks pemakaman tersebut pada Jumat lalu

Berikut nama-nama pemilik kubur dalam kompleks pemakaman itu sesuai inskripsi yang terdapat pada nisan, dan keterangan hasil penelitian tim Cisah yang dipublikasi lewat akun Facebook Musafir Zaman:

Barjan Al-Hadashtan (?) Khatib Husain. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Pemilik kubur bernama Khatib Husain. Gelar “khatib” pada awal nama tampaknya berkaitan dengan pekerjaan resminya sebagai khatib masjid.

Dikarenakan sebelum nama Khatib Husain terdapat nama lain, yaitu Barjan Al-Hadashtan, maka timbul keyakinan bahwa Barjan Al-Hadashtan ini adalah gelar atau sebutan untuk Khatib Husain. Dengan demikian, Khatib Husain adalah kepala keluarga dari orang-orang yang dikuburkan dalam kompleks ini.

 Isma’il (bi..?) Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Salah seorang putra Barjan.

Bab ibnu Paduka; Mu’allim Khoja; Ibnu Malik Thahud bin Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-15 M. Bab adalah putra dari Paduka Mu’allim Khoj atau Khoja. Dari gelar “paduka” tampak jelas orang yang dipanggil dengan Mu’allim Khoj ini salah seorang pejabat kerajaan. Mu’allim adalah gelar terkenal untuk seorang pelayar atau nakhoda, sementara Khoja selain dapat berarti syaikh (guru) dalam bahasa Persia, kata ini juga berarti pedagang.

Khoj di sini tampaknya bermakna pedagang. Dari sini tampaknya dapat dibuat kesimpulan sementara bahwa ayah Bab adalah seorang pelayar dan pedagang yang memiliki kedudukan penting dalam Kerajaan Samudra Pasai. Namun ayah Bab tidak ditemukan kuburnya dalam kompleks makam ini. Sekalipun demikian, dan andai kata pun kuburnya sama sekali tidak ditemukan dalam kawasan Syamtalira Bayu, maka ini adalah suatu hal yang dapat dimaklumi sebab dari namanya Paduka Mu’allim Khoj dapat dimengerti dialah orang yang telah ditugaskan untuk berkelana ke berbagai pelosok dunia.

Kakek Bab adalah seorang berstatus Malik atau Raja dan bernama Thahud bin Barjan. Kuburnya berada di sebelah kiri (timur) kubur Bab (cucu dan kakek berdampingan).

Malik Thahud bin Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Di kompleks ini, Thahud adalah satu-satunya putra Barjan yang bergelar “malik” atau raja. Ia dengan demikian merupakan seorang pembesar kerajaan yang memerintah suatu wilayah geografis atau mengurusi sebuah bidang penting dalam kerajaan. Mengingat beberapa saudaranya adalah mu’allim (pelayar), kiranya, boleh pula diduga bahwa jabatannya sebagai Malik erat kaitan dengan kelautan dan pelayaran.

Mu’allim Husain Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Husain adalah putra Barjan yang bergelar Mu’allim atau pelayar, dan jika benar sebagaimana diyakini bahwa Barjan itu adalah Khatib Husain, maka dengan demikian Barjan telah menamakan putranya dengan nama Husain pula (Husain Anak).

Khatib Zainuddin; Ahmad bin Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-15 M. Dalam kompleks makam ini, Zainuddin adalah satu-satunya pewaris profesi kakeknya Barjan sebagai khatib. Ayahnya, Ahmad bin Barjan, seorang pengasuh dan pengajar para raja dan pangeran dalam istana Samudra Pasai. Ahmad bin Barjan adalah orang kedua yang ditemukan namanya, namun tidak ditemukan kubur yang menyebutkan namanya dalam kompleks ini sebagaimana halnya Paduka Mu’allim Khoj. Khatib Zainuddin mengingatkan kita seorang tokoh ulama lainnya yang memiliki nama yang sama di Lamreh, Aceh Besar, yaitu Syaikh Zainuddin.

Nasifah (?) Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Ini satu-satunya nama wanita yang ditemukan dalam kompleks ini, putri dari Barjan. Namanya masih agak sulit untuk dipastikan, tapi saya mengunggulkan Nasifah.[]

Foto: Kompleks makam keluarga ulama sekaligus pelayar tampak dari sisi barat, di kawasan Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Foto: Facebook Musafir Zaman