Category: Histori

Kisah Paus Purba, Padang Rumput, dan Sejarah Awal Manusia

Kisah Paus Purba, Padang Rumput, dan Sejarah Awal Manusia

Berlin – Sebuah fragmen fosil paus paruh berumur 17 juta tahun membantu peneliti mengetahui seperti apa tanah kelahiran manusia di Afrika Timur. Paus paruh (Ziphiidae) hidup di masa dataran tinggi Afrika Timur masih belum setinggi sekarang dan ditutupi hutan lebat.

Para ilmuwan telah lama mencoba mengungkap kapan kenaikan permukaan ini terjadi, karena saat itu berlangsung, kelembapan dari Samudra Hindia tak lagi bisa mencapai vegetasi dan pepohonan sehingga daerah tersebut berubah menjadi savana.

Nenek moyang manusia yang telah punah ada kemungkinan hidup di pepohonan di Afrika Timur, tapi setelah daerah itu berubah menjadi padang rumput, para ilmuwan menduga mereka mulai berjalan di atas kedua kaki. “Ini adalah penelitian tentang kapan bipedalisme dimulai,” kata Henry Wichura, peneliti ilmu bumi University of Potsdam di Jerman, yang terlibat dalam penelitian ini.

Arkeolog menemukan fosil paus itu pada 1964, tapi baru dipublikasikan pada 1975. Fosil itu juga sempat “hilang” hingga ditemukan kembali di gudang penyimpanan pada 2011.

Awalnya, fosil ini sempat membingungkan para peneliti. Sebab, paus berparuh merupakan perenang di laut dalam, tapi fosilnya ditemukan di ketinggian 640 meter di daratan Afrika Timur. “Kami menduga paus sepanjang 7 meter yang semula hidup di Samudra Hindia itu terdampar ke sungai dan mati,” kata Wichura.

Untuk mengungkap proses pembentukan dataran tinggi di Afrika Timur, Wichura pun mencari contoh lain paus yang tersesat di sungai. Salah satunya paus yang terdampar di Sungai Thames pada 2006 dan paus pembunuh yang berenang ke Sungai Colombia di Pacific Nortwest, Amerika Serikat.

Tim yang dipimpin Wichura kemudian mengambil sampel tersebut dan membuat modelnya. Model tersebut lalu diterapkan ke sungai prasejarah tempat paus paruh ditemukan.

Dari analisis tersebut, mereka mengasumsikan bahwa sungai purba itu naik 4 sentimeter per kilometer dari pantai, ketinggian dataran tinggi Afrika Timur tempat paus itu mati sekitar 24-37 meter. Pada saat ini ketinggian daerah tersebut 620 meter. Artinya, dataran tinggi Afrika Timur terangkat sekitar 590 meter selama 17 tahun terakhir.

Wichura mengatakan, pengangkatan tersebut terjadi karena naiknya bulu mantel-material panas yang naik melalui mantel bumi. Lapisan ini naik dengan mendorong kerak bumi. “Jika fosil paus tak ditemukan, sulit untuk menemukan umur pengangkatan,” ujarnya.

Menurut Frank Brown, dosen geologi di University of Utah, studi ini mengingatkan para geolog dan paleontologi untuk mempelajari usia fosil dan lokasi penemuannya. “Bahkan, spesimen organisme tunggal menyimpan banyak informasi tentang bumi,” kata dia.[] Sumber: tempo.co

Foto: Fosil paus purba ditemukan di Gurun Atacama, Cile. AP/Museo Paleontologico de Caldera

PKI Pernah Kuasai Parlemen Aceh, Ini Sepenggal Sejarahnya

PKI Pernah Kuasai Parlemen Aceh, Ini Sepenggal Sejarahnya

KEBERADAAN Partai Komunis Indonesia (PKI) di Aceh medio 1960-an silam, nyaris tak berbekas dalam literatur dan ingatan masyarakat Aceh. Padahal mereka pernah eksis dan berkembang hingga mempunyai basis organisasi yang kuat.

Saat ini, sejarah PKI di Aceh hanya terdengar dari mulut ke mulut orang tua di pelosok-pelosok Aceh. Merasa penasaran, akhirnya penulis mencoba menelusuri sejarah komunis di Tanah Rencong.

Dalam penelusuran tersebut, ditemukan sebuah salinan berjudul; Atjeh Mendakwa yang ditulis oleh Thaib Adamy dan dibukukan oleh Comite PKI Atjeh 1964. Buku ini berkisah tentang pembelaan Thaib Adamy di hadapan sidang Pengadilan Negeri Sigli, 12 September 1963. Saat itu, Thaib Adamy dibekuk petugas keamanan karena terlibat kegiatan revolusioner di bawah payung Komunis Indonesia.

Menurut Muhammad Samikidin, Sekretaris Pertama Comitee PKI Atjeh dan Anggota CCPKI dalam buku Atjeh Mendakwa tersebut mengatakan, belum pernah perkara politik di Atjeh yang mendapat perhatian begitu besar dari rakyat seperti yang terjadi pada masa persidangan Thaib Adamy.

Sejak pengumuman penangkapan pentolan PKI tersebut hingga masa persidangan, kata Muhammad Samikidin dalam pengantarnya, hampir 5 ribu dan bahkan pernah mencapai 10 ribu warga Aceh ikut serta dalam persidangan tersebut.

Teristimewa pada waktu kawan Thaib Adamy membatjakan pembelaannya selama 5,5 jam,” tulis Samikidin dalam buku tersebut.

Saat itu, kata Samikidin, banyak rakyat yang mendukung pembelaan Thaib Adamy di Pengadilan Negeri Sigli dengan memberikan wesel serta petisi-petisi penolakan penahanan pentolan komunis tersebut.

Dalam pembelaannya, Thaib Adamy yang saat itu menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pertama Committee PKI Atjeh sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Aceh dari Fraksi PKI mengatakan, dirinya tidak bersalah.

Kalau pemimpin PRRI, Permesta dan DI/TII yang sudah terang melawan pemerintah RI dengan kekerasan, merusak bangunan-bangunan dan sebagainya bahkan sampai berakibat hilangnya puluhan ribu nyawa rakyat tidak dihukum, apakah adil kalau saya dipersalahkan dan dihukum karena melakukan aktivitas revolusioner, membela rakyat dan revolusi memperkuat Manipol dengan mengganjang kontra revolusi kapitalis, birokrat, pencoleng harta negara?” kata dia yang disambut dengan tepuk tangan massa yang menghadiri persidangan.

Pembelaan Thaib Adamy tersebut berlangsung hingga lima jam lebih. Dia membacakan pledoi setebal 122 halaman dengan berbagai pertimbangan politik seraya membenarkan perjuangan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Aceh.

Meskipun begitu, berdasarkan literature Atjeh Mendakwa tersebut, pembelaan Thaib Adamy sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Pengadilan Negeri Sigli. Dia dijatuhi hukuman dua tahun penjara dipotong masa tahanan dan diwajibkan membayar denda perkara sidang.

Thaib Adamy saat itu didakwa atas tindakan melakukan aksi propaganda yang menyebabkan terjadi kerusuhan. Dakwaan tersebut didasarkan pada pidato Thaib Adamy dalam rapat umum PKI di Sigli pada 3 Maret 1963.[]

Adat Seumeulung, Tradisi Penabalan Raja Daya Sejak Abad 15

Adat Seumeulung, Tradisi Penabalan Raja Daya Sejak Abad 15

BANDA ACEH – Sejumlah raja di Aceh hari ini berkumpul di tradisi Seumeulung, penabalan raja Meureuhom Daya, di Aceh Jaya, Sabtu, 26 September 2015. Raja-raja yang hadir di antaranya Raja Teunom, Raja Rigah, dan Kuala Batee serta pewaris Sultan Mahmudsyah dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Selain para raja, turut serta anggota Majelis Zikrullah pimpinan Ustadz Samunzir ke lokasi, tim Peusaba, Aceh Lamuri Foundation, dan SILA. Hadir juga dalam kegiatan ini Teungku Abdurrahman Kaoy dari Majelis Adat Aceh dan sejumlah tamu lainnya.

“Sangat luar biasa adat Seumeulung di Nanggroe Daya,” ujar Koordinator Alif, Mawardi Usman, kepada portalsatu.com.

Dia mengatakan adat Seumeulung ini paling lama bertahan sejak 1480 hingga 2015. Menurutnya, Seumulung dilaksanakan pertama kali di masa Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah Ibnu Sultan Inayat Syah yang adalah Raja Darul Kamal.

“Jadi adat Seumuleung ini bermakna menyuap nasi bagi raja yang dinobatkan. Adat ini dimulai setelah Portugis mencoba mengadu domba kerajaan-kerajaan di Aceh karena kepentingan perdagangan di pesisir barat Aceh,” kata pria yang konsen pada sejarah dan budaya Aceh ini.

Saat itu, kata dia, Raja Darul Kamal Sultan Salatin Alaudin sebagai sultan yang mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam mendengar rencana Portugis ini. Dia kemudian bergerak ke Nanggroe Daya untuk mengusir Portugis dan kemudian menabalkan raja di daerah tersebut sebagai perwakilan kerajaan Aceh.

“Sultan Salatin-lah yang kemudian dikenal dengan sebutan Po Teumeurhom. Adat penabalan ini kemudian dilakukan selama setahun sekali sesudah masa Sultan Salatin hingga sekarang. Jadi prosesi ini berjalan hingga saat ini, bahkan saat Aceh masih dilanda konflik tidak mempengaruhi adat Seumuleung,” katanya.

“Pada awalnya, adat Seumuleung dilaksanakan bak uroe phon Idul Adha nibak seupot uroe (pada petang hari pertama Idul Adha). Hal ini tetap dilakukan hingga sekarang, tapi bergeser seremonialnya jeut keu uroe ke lhee Idul Adha (menjadi hari ke tiga Idul Adha). Pertimbangannya karena banyak tamu jauh yang tidak bisa berhadir di hari pertama Idul Adha lantaran mengikuti salat Id. Makanya seremoninya digeser menjadi hari ke tiga,” katanya lagi.

Dia mengatakan, adat Seumeulung kali ini merupakan penabalan terhadap raja penerus Daya. “Sultan Daya sekarang adalah Sultan Alaiddin Riayat Syah ke 13 yaitu Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah,” ujarnya.[]

Kata Shalahuddin al-Ayyubi Usai Membebaskan Al Aqsa

Kata Shalahuddin al-Ayyubi Usai Membebaskan Al Aqsa

KEZALIMAN Zionis Israel pertengahan September ini terhadap al-Aqsa, kembali mengingatkan kita akan penguasan penuh Islam terhadap situs suci ini, saat Dinasti Ayyubiyah, di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi berhasil merebutnya.

Detik-detik kemenangan Shalahuddin al-Ayyubi dan bala tentaranya merebut kembali Masjid al-Aqsa, terekam dengan baik dalam sejarah. Setelah hampir 90 tahun, kiblat pertama umat Islam itu, berada di bawah cengkeraman Tentara Salib.

Pada 2 Oktober 1187 M/27 Rajab 582 H di malam Isra, Kota Yerusalem berhasil direbut oleh Shalahuddin. Semua bersujud syukur, termasuk pimpinan tertinggi Dinasti Ayyubiyah tersebut. Kerinduan akan al-Aqsa pun terobati.

Semua berbondong-bondong menuju masjid kebanggaan umat Islam tersebut untuk menyiapkannya sebagai tempat shalat. Masjid itu dibersihkan dari simbol-simbol kekufuran. Selama berada di kuasai Tentara Salib, al-Aqsa dijadikan sebagai istana dan pusat komando perang. Patung salib tegak berdiri di tiap sudut al-Aqsa. Belum lagi, puluhan babi yang dipelihara di lingkungan al-Aqsa.

“Kumandangkan iqamat,” titah Shalahuddin. Shalat yang pertama kali dilaksanakan di al-Aqsa setelah 90 tahun tak terjamah azan dan lantanunan ayat suci Alquran, adalah shalat Jumat.

Di hadapan para tentara, Qadi Muhyiddin bin Zaki ad-Din, menyampaikan khotbah Jumat yang penuh makna dan pesan-pesan suci. Ia menukilkan ayat ke-45 surah al-An’am sebagai pembuka pidatonya: “ Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

“Wahai segenap manusia, berbahagialah dengan ridha Allah SWT yang merupakan tujuan utama, Dia telah memudahkan untuk mengambalikan kembali Aqsa yang sirna dari umat yang tersesat. Ini adalah tanah air bapak kalian, Ibrahim AS dan lokasi Mi’raj Muhammad SAW, serta kiblat pertama kalian. Di sinilah Rasul shalat dengan para malaikat.

Beruntunglah para tentara, di tangan kalian telah nyata mu’jizat kenabian, dan tanda-tanda kemenangan Perang Badar, tekad seorang Abu Bakar, penaklukkan Umar, kehebatan tentara Utsman, kepiawaian Ali!

Kalian telah mengembalikan kejayaan Qadisiyah, peristiwa Yarmuk, Khaibar, untuk Islam. Allah SWT akan membalas jasa dan segala daya upaya yang kalian kerahkan untuk melawan musuh. Allah akan menerima darah para syahid dan menggantinya dengan surga kelak.

Bersyukurlah atas nikmat ini dan jaga selalu nikmat-Nya, inilah penaklukkan yang pintu-pintu langit dibuka untuknya. Wajah orang yang teraniaya kembali cerah, dan para malaikatnya pun bersuka cita. Mata para nabi dan rasul-Nya teduh kembali. Bukankah al-Aqsa adalah rumah yang dimulaiakan raja, dipuji para rasul, dan tersebut dalam empat kitab suci dari Tuhan kalian?

Pujilah Allah yang telah membimbing kalian atas apa yang tak mampu dilakukan generasi terdahulu, Dia menyatukan kalian yang tercerai berai, Dia pula menggantikan kata-kata yang “lalu dan konon” dengan kata “akan dan hingga”.

Sekarang, para malaikat langit akan meminta ampunan dan mendoakan doa terbaik untuk kalian. Pertahankan selalu anugerah dan jaga nikmat ini selalu dengan ketakwaan kepada Allah, yang dengan takwa itulah, siapapun akan selamat, dan barang siapa berpegang teguh dengan talinya akan terjaga.

Dan waspadailah kehadiran setan yang akan membisikkan di telinga kalian, bahwa kemenangan ini mutlak dari hunusan pedang, kehebatan kuda kalian di medan jihad. Padahal tidak karena “Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Anfal [8]: 10) .[] sumber: republika.co.id

Ini Sebab Tradisi Meugang Begitu Melekat di Aceh

Ini Sebab Tradisi Meugang Begitu Melekat di Aceh

BANDA ACEH – Dosen FKIP Sejarah Universitas Syiah Kuala, Teuku Abdullah atau TA Sakti, mengatakan tradisi meugang di Aceh begitu kental dan melekat dalam kehidupan masyarakat. Ini karena tradisi ini sudah diwariskan secara turun temurun.

“Sejak masa raja-raja terdahulu. Oleh karena itu sulit untuk dihilangkan,” kata TA Sakti kepada portalsatu.com, Selasa 22 September 2015.

Kata TA Sakti, pada masa raja-raja terdahulu, termasuk Sultan Iskandar Muda, kerajaan membuat aturan khusus soal meugang. Dimana, pihak kerajaan mendata seluruh fakir miskin dan janda untuk diberikan uang, daging serta pakaian di satu hari jelang lebaran.

“Ini berlaku ratusan tahun. Makanya kemudian berkembang menjadi tradisi. Seolah-olah membeli daging dan membawa pulang ke rumah adalah kewajiban. Seorang pria Aceh yang tak membawa pulang daging meugang akan merasa hilang marwahnya,” ujar TA Sakti.

Usai masa kerajaan, kata TA Sakti, minat masyarakat membeli daging saat meugang tetap tinggi.

“Masyarakat meuripee (patungan-red) membeli daging. Yang tidak punya uang akan membayar usai panen padi. Yang pasti, meugang tetap berlangsung,” kata TA Sakti.

Kata TA Sakti, demikian juga dengan saat ini. Animo masyarakat membeli daging meugang tetap tinggi.

“Jadi adalah hal yang wajah jika harga daging meugang tinggi di Aceh. Bagi laki-laki Aceh, membawa pulang daging meugang ke rumah adalah marwah, walaupun harus mengutang,” katanya. [] (mal)

Kisah ‘Dukun yang jadi Menteri Urusan Mistis’ di Era Soeharto

Kisah ‘Dukun yang jadi Menteri Urusan Mistis’ di Era Soeharto

Ada seseorang yang sangat dekat dengan Soeharto pada saat kepemimpinan dia di masa Orde Baru. Dialah Mayor Jendral Sudjono Humardani yang merupakan staf pribadi Soeharto yang memegang urusan keuangan dan ekonomi.

Menurut buku biografi Liem Sioe Liong dengan judul “Liem Sioe Liong’s Salim Group: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia” yang ditulis oleh suami-istri Nancy Chng dan Richard Borsuk, Sudjono terkenal dekat dengan Soeharto. Bahkan, hanya dia yang mendapatkan izin masuk ke kamar Soeharto selain Ibu Tien. Selain menjadi staf pribadi Soeharto, Sudjono juga dikenal sebagai dukun yang handal dan merupakan penasihat spiritual Soeharto.

Sangking kuatnya pengaruh Sudjono kepada Soeharto, para jurnalis juga menjulukinya sebagai “Rasputin” Indonesia. Grigori Rasputin adalah ahli mistis dan orang terpercaya keluarga Nicholas II (Kekaisaran terakhir Rusia) pada tahun 1915an.

Sudjono juga merupakan orang yang membawa nama konglomerat Liem Sioe Liong kepada Soeharto sehingga mereka bisa bersahabat lebih erat di masa pemerintahannya.

Pandangan jurnalis asing tentang Sudjono memang unik. Selain menjulukinya sebagai “Rasputin” Indonesia, para jurnalis asing tersebut juga juga memandang Sudjono sebagai orang yang aneh, terutama untuk jurnalis asing yang tidak mengerti konsep mistis Jawa.

Bagaimana tidak? Sudjono sering menyambut tamu dengan kaki telanjang di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin. Salah satu jurnalis pernah menulis: “Dia (Sudjono) pernah menerima duta besar negara Barat di ruangan yang gelap, dengan beberapa barang yang sepertinya mengandung kekuatan gaib menguar di cahaya yang remang-remang; dia mengenakan semacam kostum Jawa dan berjalan-jalan dengan kaki telanjang”.

Salah satu julukan yang diberikan kepada Sudjono adalah “Menteri Urusan Mistis”.

Namun, bila ditilik ke belakang, hubungan antara Soeharto dan Sudjono memang sudah lama terjalin. Keduanya adalah murid spiritual Romo Diyat. Pada suatu waktu, Romo Diyat pernah berpesan kepada Sudjono untuk menjaga Soeharto yang diramalkan akan menjadi orang hebat.

Soeharto sendiri mengecilkan peran Sudjono. Dia membantah menjadikan Sudjono sebagai guru spiritualnya. Menurut Soeharto, ilmunya tak kalah dengan Sudjono. Selama ini dia hanya mendengarkan saja tanpa melaksanakan apa-apa yang disarankan Sudjono.

Hal itu disampaikan Soeharto dalam buku biografinya yang berjudul “Soeharto: My Thoughts, Words and Deeds; An Autobiography”

“Saya mendengar orang-orang mengatakan bahwa dia mengetahui ilmu mistis lebih dari saya, namun Djono dulu sering sungkem ke saya. Dia menganggap saya sebagai senior yang mempunyai lebih banyak mengetahui soal mistis.

Beberapa orang mengatakan ilmu mistis adalah suatu hal yang bisa dipelajari dari guru. Namun, untuk saya, ilmu mistis adalah cara untuk dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Memang benar Djono sering datang dan bertemu saya membawa buku catatannya. Dia percaya dengan pengajaran spiritual dan dalam kapasitas tersebut, dia sering menasihati saya.

Saya hanya mendengarnya agar dia bahagia, namun tidak saya anggap semua yang dia katakan. Saya menganalisis dan berpikir mengenai hal tersebut apakah masuk akal atau tidak. Jika masuk akal, masuk nalar, maka saya menerimanya. Jika tidak, saya tidak akan mengikuti nasihatnya. Jadi bagi siapa yang berpikir bahwa Djono adalah guru mistis saya, maka dia salah.”[] Sumber: merdeka.com

Foto: Sudjono Humardani. ©2015 national library of australia

Dipamerkan, Surat Kabar Melayu Terbitan Amsterdam 1897

Dipamerkan, Surat Kabar Melayu Terbitan Amsterdam 1897

Malang – Surat kabar berbahasa Melayu terbitan Amsterdam Belanda, Pewarta Boemi, dipamerkan di gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya, Malang, Rabu, 16 Agustus 2015. Surat kabar edisi 2 Juni 1897 yang dibingkai dalam kaca itu berjudul “Radja Koetai di Nederland”. Surat kabar ini melaporkan kunjungan Raja Kutai yang tengah bertemu dengan para bangsawan Kerajaan Belanda.

“Surat kabar ini saya peroleh di Jakarta,” kata kolektor naskah klasik, Erwin Dian Rosyidi. Surat kabar Pewarta Boemi juga menjelaskan apa saja yang diperbincangkan dalam pertemuan itu.

Pewarta Boemi terbit pada 1890 dan dikelola mantan Asisten Residen Y. Strik. Ia adalah guru bahasa Melayu di sekolah pertanian. Pewarta Boemi bukan surat kabar pertama berbahasa Melayu yang terbit di Belanda. Sebelumnya, surat kabar Bintang Utara terbit pada 1856 di Rotterdam, Belanda. Redaksi dikelola P.P. Roorda van Eysinga.

Erwin juga memajang sejumlah naskah klasik lain dalam Pameran Naskah Klasik Nusantara ini. Total 12 koleksi naskah dan kitab kuno yang ditulis pada 1700-1800 miliknya dipamerkan. Erwin juga memamerkan surat kabar Persatoean Indonesia yang diterbitkan PNI pada 20 Januari 1931.

Untuk mendapatkan naskah kuno itu, Erwin berkeliling Nusantara. Menurut dia, naskah itu tak ternilai harganya. Erwin juga memajang naskah kuno Surat Darmogandhul Gatholotjo yang dibuat pada 1800. Ada yang menafsirkan, pengarangnya adalah Ronggo Warsito yang menggunakan nama samaran Ki Kalam Wadi. Nama itu artinya rahasia atau kabar yang dirahasiakan.

Pameran naskah klasik ini diselenggarakan Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya. Pameran tersebut menghadirkan naskah klasik, buku, dan surat kabar kuno koleksi Perpustakaan Bung Karno Blitar, Yayasan Sastra Lestari, Pusat Studi Peradaban UB, Museum Mpu Tantular, dan koleksi pribadi Erwin Dian Rosyidi.

“Pameran ini untuk mendidik masyarakat mengenal kitab atau naskah klasik,” ujar Wakil Ketua Studi Peradaban UB, Jazim Hamidi. Menurut dia, naskah klasik ini menunjukkan kebudayaan dan perkembangan sastra di Indonesia. Selain itu, naskah klasik merupakan peninggalan sejarah yang harus dilestarikan.[] Sumber: tempo.co

Foto: Petugas merawat lembaran salah satu dari tujuh naskah yang diperkirakan berasal dari akhir abad 19 di Museum Sri Baduga, Bandung, Jawa Barat, Senin (7/1). Naskah yang sedang diteliti tersebut berhuruf Cacarakan berbahasa Jawa Cirebonan Kuno, Arab Pegon dan Arab Gundul.@TEMPO

FKIP Sejarah Unsyiah Observasi Bekas Kerajaan Lamuri

FKIP Sejarah Unsyiah Observasi Bekas Kerajaan Lamuri

JANTHO – Puluhan Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sejarah mengobservasi bekas Kerajaan Lamuri di Bukit Lamreh, Aceh Besar, Minggu, 13 September 2015.

Kegiatan tersebut dipandu oleh Arkeolog Aceh, Dr. Drs. Husaini, M.A, yang melibatkan Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah dan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Budaya Aceh. Kegiatan ini juga didukung oleh Badan Pelestarian peninggalan Cagar Budaya (BPPCB) dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA).

“Penelitian ini dilakukan penggalian di tiga titik di bukit Lamreh yang nantinya diharapkan dalam penelitian ini menghasilkan satu bukti bahwa situs Lamuri ini sangat penting sebagai situs tertua, bukan hanya di Aceh tapi juga Nusantara. Situs ini juga mewakili sejak masa sebelum Islam maupun sesudah masa Islam sampai memperoleh kejayaan, yang nantinya setelah Lamuri berpindah ke Kerajaan Aceh yang berpusat di Gampong Pande,” kata Husaini yang juga dosen FKIP Sejarah Unsyiah.

Sementara itu, salah satu mahasiswa Sejarah FKIP Unsyiah, Fahzian Aldevan, menyayangkan sejarah Lamuri sangat terbengkalai. “Ada sebagian batu nisan juga sudah dicabut dan dipindahkan, jika seperti ini siapa lagi yang menjaga situs -situs tersebut,” ujarnya.[](bna)

Cinta di Ujung Selatan

Cinta di Ujung Selatan

ESOK hari genap sepekan ia berada di Kota Subulussalam, dan akan menjadi hari terakhir keberadaannya di sana untuk kedatangannya kali ini. Besok, ia akan meninggalkan wilayah di selatan Aceh itu dan kembali ke pesisir utara Aceh, ke wilayah Pasai.

Teungku Amad (panggilan akrab Muhammad bin Ilyas; Ahmad Akhirat) tak mau meninggalkan wilayah yang acap kali dikunjunginya itu tanpa terlebih dahulu melakukan peninjauan ke beberapa kampung yang memiliki peninggalan sejarah. Ia selalu berharap ada informasi baru yang dapat disampaikannya kepada CISAH.

Laki-laki muda, ayah dari dua orang putri ini, Niswatul Amira dan Nuril Alya, memang sudah dipesankan untuk menjaring dan menghimpun berbagai informasi dari sana, terutama wilayah Kecamatan Rundeng. Sebab, CISAH berasumsi, wilayah ini merupakan salah satu wilayah bekas Fansur kuno yang terkenal di dunia zaman lampau. Dan untuk waktu sekarang ini, satu-satunya anggota CISAH yang dapat menjangkau wilayah di ujung selatan itu hanya Muhammad.

Meskipun harus seorang diri melakukan pelacakan, tapi tekad pemuda asal Peurlak, Aceh Timur, ini tidak pernah goyah, kecintaannya kepada sejarah negerinya di seluruh penjuru mata angin tidak pernah luntur walaupun sesaat.

Sore hari Kamis, 10/9/2015, selesai salat ‘Ashar, Teungku Muhammad memacu motornya dari pusat kota Subulussalam menuju arah barat, ke Rundeng, yang berjarak sekira 12 km. Di dinding benaknya sudah tergantung gambar samar-samar dari sebuah kompleks pemakaman yang disebut dengan makam Batu 44. Menurut informasi yang pernah diterimanya, di kompleks pemakaman itu terdapat makam-makam dengan batu nisan kuno.

Setengah jam kemudian ia telah tiba di tempat yang dimaksud. Namun sayang, setelah ia memeriksa kompleks pemakaman itu ternyata tidak ada makam yang berbatu nisan kuno. Tapi laki-laki tamatan dayah ini tidak mau segera kembali. Ia justru menambah jarak tempuhnya sore itu untuk perjalanan 3 km lagi. Ia ke Kampung Binanga, yang masih dalam wilayah Kecamatan Rundeng.

Sebuah situs pemakaman kuno dari era Aceh Darussalam di Kampung Binanga sudah pernah dikunjunginya satu tahun silam. Ia ingin mengunjunginya kembali untuk melengkapi informasi yang telah pernah disampaikan kepada CISAH.

Pemakaman itu berada dalam kompleks masjid, di sebelah utaranya. Dalam kompleks yang sama juga terlihat bangunan Madrasah Ibtidaiyah dengan halamannya yang lumayan luas. Saat tiba di lokasi, Muhammad melihat ramai sekali anak-anak yang sedang bermain bola. Untuk beberapa saat, ia berdiri memperhatikan permainan mereka dan kemudian langsung menuju batu-batu nisan peninggalan sejarah itu. Ia memeriksa kembali beberapa batu nisan bersurat dengan kaligrafi Arab di pemakaman yang disebut warga setempat dengan makam Raja Ade.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba beberapa anak sudah menghentikan permainan mereka dan menghampirinya. Mereka menanyakan apa sedang dilakukan lelaki dari luar kampung mereka itu. Muhammad lalu menjelaskan ia sedang memeriksa batu nisan makam ini. “Makam ini makam bersejarah!” Muhammad menambahkan penjelasannya.

Mendengar itu, anak-anak semakin ramai berkumpul, mereka semakin antusias. Salah seorang dari mereka jadi ingat bahwa Teungku Muhammad pernah datang ke makam itu tahun lalu. “Abang yang datang tempo hari kan?” tanyanya yang dibalas Teungku Muhammad dengan anggukan dan seulas senyuman.

“Siapa nama orang di makam itu, Bang?” anak yang lain bertanya.

“Kalau namanya kita belum tahu,” jawab Teungku Muhammad, “sebab tulisan di makam ini belum dibaca. Makanya, sekarang badan nisan yang tertutup tanah harus nampak semua terus kita foto dulu yang lengkap baru kemudian kita bawa ke Pasai, di wilayah utara sana. Nanti baru bisa ketahui siapa nama yang dalam kubur ini.”

“O ya, bang! Foto ini betul akan dibawa ke Pasai? Ke Pasai, bang?” tanya bocah itu lagi tidak dapat menutup kegirangannya.

“Iya, betul. Malah nanti gambar ini akan dilihat di seluruh dunia,” ucap Teungku Muhammad yakin.

“O, begitu bang, ya! Betul dibawa ke Pasai kan. Kalau begitu saya ikut kerok tanahnya, bang! Nanti abang kasih tahu ya, saya yang menemukan nisan ini ya. Abang fotolah, biar nampak saya lagi menemukan nisan ini!”

Teungku Muhammad pun tidak menyia-nyiakan lagi kesempatan ini. Ia menjepret beberapa foto, sementara anak-anak itu beramai-ramai sedang menyingkirkan tanah yang menutupi badan nisan untuk dapat digambar dengan lengkap.

Mereka tampak giat sekali. Ini nisan sejarah, dan foto mereka menemukan nisan bersejarah ini akan dibawa ke Pasai. Mereka tampak sangat bahagia, Teungku Muhammad apalagi! Tak pernah ia menyangka akan memperoleh bantuan demikian sempurna di sore hari itu.

Teungku Muhammad telah melihat cinta di mata mereka; cinta kepada sejarah negeri mereka, cinta kepada saudara-saudara mereka di wilayah yang jauh di utara, dan cinta kepada dirinya. Betapa bahagia hatinya dianugerahi cinta yang demikian lengkap, cinta di ujung selatan. Dan cinta itu telah direkam dalam gambar ini.

Maka berkatalah Musafir Zaman: “Sejuta salam sejahtera kepada anak-anakku di ujung selatan. Saksikanlah bahwa hati ini selalu diisi rindu kepada kalian”.

Sebagai catatan tambahan sebagaimana disampaikan Teungku Muhammad, umumnya warga Gampong Binanga adalah warga yang telah berpindah dari gampong asal mereka di Tualang yang berjarak sekitar 6 km dari kota Kecamatan Rundeng ke arah pedalaman. Mereka dihijrahkan ke Gampong Binanga pada masa konflik bersenjata di Aceh disebabkan situasi tidak aman di Tualang.[]

Catatan: Tulisan dan foto ini juga sudah dipublikasikan peneliti sejarah dan kebudayaan Islam dari Centre for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) melalui akun Facebook Musafir Zaman. Portalsatu.com memublikasikan tulisan dan foto ini atas izin CISAH. 

 

Arkeolog: Banda Aceh Sudah Ramai Sejak 1000 Tahun Lalu

Arkeolog: Banda Aceh Sudah Ramai Sejak 1000 Tahun Lalu

BANDA ACEH – Kawasan Ujung Pancu hingga Krueng Raya, Aceh Besar, sudah dipadati oleh pendatang sejak 1000 tahun lalu. Hal tersebut dapat diukur dari penemuan keramik Cina yang sudah tua di kawasan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Arkeolog Aceh lulusan Universitas Gajah Mada (UGM), Deddy Satria, saat diskusi bersama yang digelar Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa, 8 September 2015 sore.

“Dari keramik cina tua yang sudah ribuan tahun inilah dapat kita prediksikan bahwa Banda Aceh diperkirakan sudah ramai sejak 1000 tahun yang lalu,” katanya.

Ia mengatakan telah ditemukan jalur kapal Timur Tengah dan Cina yang melancong ke Banda Aceh. Hal ini juga terdapat tulisan yang terpahat pada nisan.

“Terdapat salah satu nisan yang terpahat bertuliskan tahun 1555 M. Namun sayangnya tidak tercantumkan lagi nama karena sudah hilang dan yang seperti ini layak untuk ditangani,” kata Deddy.

Dia kemudian mencontohkan kawasan Lampulo. Menurutnya sejak 800 tahun lalu sudah ada Cina muslim yang tinggal di sana. Di kawasan tersebut juga terdapat peninggalan belanga tanah, orang Eropa seperti Vietnam dan Thailand saat berdagang ke Aceh.

“Sekarang 60 titik lokasi pengamatan benda sejarah tersebut terdapat di Lampulo. Setengahnya terdapat keramik dan kaca rumah penduduk di lokasi makam tersebut,” ujarnya.

Kasus lain juga terdapat di Aceh Besar, Lhokseumawe, dan Lamno. Dari aspek arkeologi, kata dia, ada target terdekat yang harus dicapai yaitu makam yang terdata dalam daftar emergency. Menurut Deddy, ini harus segera ditelusuri secepatnya karena takut tertimbun dengan pembangunan.

Ia juga mencontohkan di Indrapuri, masih terdapat tokoh-tokoh dari Thailand pada abad ke-16, Ayu Thayya yang hijrah dari Thailand ke Aceh. Selain itu juga ada makam Khalifah Abasiyah, tokoh dari Persia, India, dan Cina muslim yang belum terpublikasi.

“Informasi dari batu nisan sangat penting untuk diselamatkan. Kalau bisa membuat gedung ataupun meseum nisan karena dengan jumlahnya yang jutaan. India punya Taj Mahal, sementara kita di Aceh memiliki nisan,” ujarnya.[](bna)