Category: Budaya

XL Antilelet dan Mahal

XL Antilelet dan Mahal

Judul di atas adalah redaksi kalimat dalam iklan baliho milik operator seluler XL yang saya temui di beberapa jalan di Banda Aceh. Selengkapnya baliho itu berbunyi “XL HANYA DI SINI. RP35.000. ANTI LELET DAN MAHAL”.

Benarkah XL menjual kartu internet yang antilelet dan mahal atau menjual kartu internet yang antilelet dan tidak mahal. Saya sendiri tak tahu maksudnya apa. Yang jelas, pertanyaan seperti itu muncul dari benak saya karena bingung memahami maksudnya.

Perhatikan kembali dengan saksama kalimat di atas. Apa makna antilelet dan mahal? Tak diragukan lagi, kalimat itu memiliki makna seperti lahiriahnya, yaitu kartu yang dijual antilelet dan mahal, bukan antilelet dan tidak mahal.

Lantas, benarkah XL menjual kartu internet yang antilelet dan mahal? Hanya operator seluler itu sendiri yang tahu. Namun, menurut saya di tengah persaingan ketat operator seluler dalam menarik minat masyarakat, tidak mungkin XL menjual kartu internet dengan harga yang mahal di saat banyak operator lain menjual kartunya dengan harga yang murah alias terjangkau.

Begitu pula bila dilihat dari segi nilainya, harga kartu XL yang hanya Rp35 ribu boleh dikatakan sebagai harga yang cukup terjangkau. Ini karena saya melihat ada operator yang menjual kartu internetnya dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang ditawarkan XL, padahal kuotanya sama. Lagi pula, bila XL menjual kartunya dengan harga yang mahal, tentu XL tak akan menggunakan kata ‘mahal’. Operator itu mungkin saja akan menggunakan kata lain untuk menarik minat pembeli.

Bila dugaan saya itu benar, berarti kalimat baliho seperti yang tersebut pada judul di atas seharusnya ditulis “XL Antilelet dan AntiMahal”. Kalimat seperti ini sudah pasti bermakna XL yang antilelet dan tidak mahal”. Maksud ini tentu saja berbeda dengan judul di atas yang bermakna “XL antilelet sekaligus mahal”.

Pada perbaikan seperti yang saya sebutkan itu, kata anti ditambahkan sebelum kata mahal. Penambahan ini dilakukan karena tanpa pemakaian anti, kalimat itu bukan bermakna tidak mahal, tetapi justru memang bermakna mahal. Akan tetapi, jika memang benar maksud operator XL mengatakan kartunya mahal, kalimat dalam spanduk itu sudah benar.

Pemakaian kata anti ini sama kasusnya dengan pemakaian kata tidak, misalnya dalam kalimat Mereka tidak paham dan mengerti keadaan politik dewasa ini. Kalimat seperti ini salah secara kaidah bahasa. Kesalahan itu terdapat pada tidak digunakannya kata tidak setelah kata mengerti. Tidak mungkin dan aneh jika ada seseorang yang tidak paham politik dewasa ini tetapi ia mengerti politik dewasa ini. Kita pun tidak mungkin mengatakan Saya tidak senang dan rela pacar diambil orang, bukan? (baca: Bahasa dan Penalaran: Makan Daging Ayam daripada Kambing)[]

Rafly Kande: Seni Aceh Jangan hanya untuk Lokal, tapi Dunia

Rafly Kande: Seni Aceh Jangan hanya untuk Lokal, tapi Dunia

JAKARTA – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) yang juga penyanyi Aceh Rafly Kande berharap pengelolaan seni-seni yang ada di Aceh bukan lagi menjadi tontonan masyarakat lokal saja, tetapj harus lebih luas dan dapat menjadi ikon Indonesia di mata dunia.

“Seni-seni yang kita miliki sekarang masih menjadi dari kita untuk kita, padahal seni-seni Aceh punya nilai jual yang besar,” kata Rafly Kande ketika dihubungi portalsatu.com di Jakarta, kamis 1 Oktober 2015.

Rafly berada di Jakarta setelah Rabu sempat mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda setelah melakukan konser musik tradisonal Aceh di Inggris selama 40 hari.

Menurut pelantun lagu-lagu khas Aceh itu, banyak seni Aceh yanb memang cukup punya gereget di luar negeri, seperti tari Saman Gayo dan Rapai. Namun selema ini pertunjukannya hanya untuk kalangan lokal.

“Sekarang sudah saatnya seni-seni yang ada di Aceh berbaur bersama seni-seni dunia lainnya. Marwah Aceh cukup kuat di luar negeri, tinggal kemasan dan pengenalannya dipikirkan bersama, termasuk Pemerintah Aceh yang merupakan representatif seni-seni yang dimiliki Aceh,” ujarnya. [] (mal)

Adat Mè Bu

Adat Mè Bu

Adat mè bu hingga kini masih lestari di Aceh. Mè bu, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘membawa nasi’. Ada banyak jenis mè bu, seperti mè bu bak ureung meuninggai (membawa nasi ke tempat orang meninggal) dan bak ureung meumè.

Adat mè bu bak ureung meumè dikenal dengan istilah keumaw’euh atau meulineun. Keumaw’euh biasanya berlangsung pada bulan keenam hingga ketujuh. Ini dilakukan oleh keluarga lintô kepada istrinya/keluarga istri. Besar kecilnya idang, tergantung pada kemampuan masing-masing. Sebelumnya, yaitu pada bulan ketiga atau keempat kehamilan, pihak keluarga lintô mengantarkan boh kayèe kepada dara barô.

Keumaw’euh merupakan adat Aceh yang sejak dulu hingga kini sangat menonjol, bermakna, dan penting. Di Aceh Besar, misalnya, mè bu adalah seperangkat upacara adat dalam bentuk nasi beserta lauk-pauknya yang dimasukkan dalam reubieng dan talam hidangan dari keluarga suami untuk diantar pada bulan-bulan tertentu kepada istri karena kehamilan.

Di daerah ini biasanya mè bu berlangsung pada saat seorang istri hamil usia 4 s.d. 6 bulan. Puncaknya adalah pada usia kehamilan mencapai bulan ke-7. Apabila kehamilan telah memasuki bulan kedelapan, apalagi bulan ke-9, mè bu itu sulit dilakukan lagi. Kedua keluarga, baik keluarga suami maupun keluarga istri akan menanggung malu aib. Dalam pandangan masyarakat, bila adat mè bu tidak dilakukan, yang bersangkutan akan terkena sanksi adat.

Yang dibawa saat mè bu adalah nasi dan lauk pauk yang pada umumnya terdiri dari nasi biasa, ayam panggang/gulai ayam, daging, gulai ikan, kuah lapik, dan lain-lain. Orang kaya biasanya membawa sampai tujuh hidangan, kadang-kadang lebih. Namun, hal itu berlaku bagi semua keluarga walaupun hidangan sederhana.

Salah satu peralatan yang dipakai dalam tradisi mè bu adalah rubieng, suatu tempat seperti baku nasi yang luasnya dapat menampung antara 5-10 bambu beras yang telah dimasak menjadi nasi. Rubieng ini semacam glông yang dipakai pada/atas talam atau dapeusi.

Rubieng biasanya dibuat dari kulit bambu atau dari batang lidi yang sering digunakan untuk alat peunyeukat, terutama padi atau nasi sebagaimana di Kampung Daroy Jeumpet, Kecamatan Darul Imarah. Talam dan dapeusi adalah alat semacam baki, tetapi bentuknya bundar , ada yang terbuat dari tembaga, ada yang dari seng plat. Talam lebih besar, sedangkan dapeusi lebih kecil.

Salah satu gulai yang dibawa dalam kegiatan mè bu, seperti yang disebut di atas, adalah kuah lapik. Kuah lapik merupakan jenis kuah dari ikan tongkol yang di dalamnya juga ada lapisan buah-buahan yang sudah dipotong-potong seperti terdapat di Kampung Pande, Banda Aceh. Ada juga kuah lapik yang dimasak dari ikan tongkol bercampur nangka muda, nenas muda, dan biasanya bumbunya tanpa kunyit seperti terdapat di Kampung Daroy Jeumpet, Kecamatan Darul Imarah.

Mè bu dilaksanakan oleh sejumlah kaum ibu dari keluarga suami yang dipimpin oleh istri geuchik, istri teungku, para ibu lainnya, serta para tokoh yang dianggap tepat atau patut di kampung itu. Kegiatan itu dilakukan sekitar pukul 11.00 WIB ke atas. Banyak sedikitnya para pengantar tergantung pada kemampuan dan besarnya hidangan. Hidangan me bu yang tiba di rumah menantu berupa bungkusan nasi khusus beserta lauk pauknya yang diistimewakan untuk menantu (meulintèe).

Di Kampung Lambaro Angan, Darussalam, Aceh Besar nasi bungkus itu disebut bu meulineum. Ada juga nasi khusus dengan kue-kue khas Aceh (12 macam) sebagaimana berlaku di Kampung Cot Geundreut Meulayoe, Kuta Baro, Aceh Besar. Selanjutnya, semua perangkat hidangan yang telah sampai di rumah meulintèe akan dibuka dan disajikan upacara kenduri pada waktu tertentu dengan turut mengundang seluruh keluarga beserta keuchik, teungku, serta tetangga terdekat dan tokoh-tokoh lain yang patut.

Sebelum kegiatan mè bu dilakukan, ada yang unik oleh masyarakat Kampung Lam Pakuk Gleeyeung, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, yaitu membuat bu cue dari pihak keluarga suami sebagai tanda pemberitahuan awal bahwa menantu telah hamil. Namun, sebelum bu cue diantarkan, terlebih dahulu kira-kira pada waktu anak perempuan hamil lima bulan, ibunya (ma dara barô) memandikan anaknya. Pada saat itu ibunya membuat nasi ketan sekadarnya dan mengantarkan ke rumah keluarga suami (ma lintô). Penyampaian nasi ketan ini merupakan tanda (pemberitahuan) bahwa anaknya (menantu) telah hamil.

Apabila nasi ketan ini telah diterima, pihak keluarga suami (lintô) mempersiapkan bu cue. Bu cue adalah seperangkat nasi beserta lauk-pauknya sekadar satu rantang beserta seperangkat seunicah (rujak) yang diantarkan secara diam-diam (rahasia) ke rumah menantunya yang hamil sebelum acara mè bu dilakukan.

Pada saat diantarkan bu cue oleh keluarga suami, pihak istri dan seiisi rumahnya tidak mengetahui sama sekali sehingga mengagetkan mereka. Pada saat itu, ibu si istri mengatakan pada anaknya yang hamil, “Hai, hai mak tuan ka trôk.” Setelah bu cue dilaksanakan, barulah beberapa bulan kemudian acara mè bu  dilaksanakan secara resmi. Di Kampung Daroy Jeumpet, Darul Imarah, Aceh Besar, mè bu lebih populer dengan sebutan mè bu kude. Kude ini hampir sama dengan reubing.

Di Aceh Barat Daya, terutama Blangpidie, mèe bu atau lebih dikenal dengan keumaw’euh bukan hanya dilakukan oleh pihak keluarga, tetapi juga oleh tetangga sekitar.

Tujuan utama upacara mè bu adalah sebagai pernyataan kepada umum bahwa janin yang dikandung oleh dara barô adalah benar-benar asli dan sah menurut adat dan syarak sebagai bagian dalam keluarga/kerabat. Sikap pernyataan itu merupakan kebutuhan rohani/moril sang istri dalam upaya memenuhi kegembiraan dan kebahagiaan.

Sebenarnya, bukan hanya mè bu yang dilakukan ketika istri sedang hamil. Ada pula adat jak intat boh kayèe ‘mengantar buah-buahan’, puwoe eungkӧt tirom, bieng, udeung, eungkӧt meuaweuh, dan buah-buahan untuk seunicah.

Selain itu, selama masa kehamilan, ada pula pantangan/tabu yang tidak boleh dilanggar oleh suami dan istri seperti tidak boleh pulang tengah malam dan peunangkai keu pageu tubôh (Badruzzaman Ismail, 2002:157-160).[]

*Sumber bacaan: “Budaya Aceh” oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, 2009.

Wah, Indonesia Punya 5.849 Motif Batik

Wah, Indonesia Punya 5.849 Motif Batik

JAKARTA – Bandung Fe Institute dan Sobat Budaya melakukan pendataan budaya selama 9 tahun terakhir. Pendataan dilakukan melalui situs www.budaya-indonesia.org. Selama kurun waktu itu, saat ini telah terdokumentasikan sedikitnya 5.849 motif batik yang tersebar dari Aceh hingga ke Papua.

Presiden Bandung Fe Institute Hokky Situngkir menuturkan batik di Indonesia sangat beragam. Batik tidak hanya berkembang di Pulau Jawa saja, tetapi juga di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua. “Nyaris hampir setiap daerah memiliki corak batik yang khas,” katanya dalam rilis yang diterima Bisnis.
Sebanyak 5.849 motif batik ini terdapat pada aplikasi Peta Batik Indonesia yang baru dirilis kemarin. Dia menjelaskan proses pemetaan dilakukan dengan menggabungkan pendekatan matematika fraktal, ilmu komputasi warna, dan kajian biologi evolusioner.
Struktur geometris dari setiap motif batik diukur melalui pendekatan matematika fraktal. Pola karakteristik warna motif batik dikaji melalui pendekatan komputasi warna. Parameter-parameter yang diperoleh dari hasil perhitungan tersebut kemudian dianalisis melalui pendekatan pohon evolusi yang berkembang dalam kajian biologi evolusioner.
Parameter bentuk geometris dan pola warna motif batik diolah sebagai sekuen-sekuen informasi, seperti urutan DNA dalam struktur biologis. Dan dari rangkaian penelitian panjang tersebut akhirnya lahirlah Peta Batik Indonesia, yang merepresentasikan perkembangan dan kekerabatan motif-motif batik di Indonesia.[] Sumber: bisnis.com
Foto ilustrasi
Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Upacara Perkawinan

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Upacara Perkawinan

Tak hanya dalam bentuk peusijuek, perilaku adat masyarakat Aceh juga ada dalam bentuk upacara perkawinan. Sebagaimana peusijuek, tradisi dalam upacara perkawinan telah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi itu merupakan suatu tatanan dan mekanisme yang harus dilalui seseorang dalam proses membangun rumah tangga sejak pencarian jodoh, pernikahan, dan duduk pada acara pelaminan.

Seseorang yang hendak menikah, terlebih dahulu melakukan cah rӧt. Istilah ini identik dengan ‘merintis jalan’ dalam bahasa Indonesia. Kegiatan ini dilakukan secara rahasia oleh seseorang yang dipercaya dengan melakukan pendekatan/pembicaraan pada kedua belah pihak keluarga (pihak laki-laki dan pihak keluarga perempuan) sampai mendapat kata sepakat atau tidak.

Setelah cah rӧt, kegiatan dilanjutkan dengan meulakèe dan seulangké. Ini dilakukan bila pengurusan cah rӧt berhasil. Meulakèe dapat diartikan dengan ‘meminang’. Meulakèe dilakukan secara terbuka melalui seulangké disertai beberapa orang tua. geuchik, dan teungku meunasah/imuem meunasah. Ini ditempuh melalui suatu upacara kecil yang disebut dengan ba ranup kong haba. Seulangké adalah pembicaraan resmi tentang pertunangan dengan menyelesaikan berbagai prosedur dan ketentuan yang berlaku dan dijanjikan. Tugas seulangké kadang-kadang sekaligus merangkap sebagai pelaku cah rӧt, atau kadang-kadang terpisah.

Seulangké kadang-kadang juga sekaligus melaksanakan ba ranup. Kadang-kadang tugas ba ranup dengan tugas awal seulangké juga ada yang terpisah, dan bahkan banyak tugas seulangké sekaligus dengan ba ranup kong haba.

Pada upacara ba ranup, kedua belah pihak memutuskan secara musyawarah tentang jeunamèe (mas kawin), waktu yang baik untuk meugatip (menikah), waktu yang baik untuk peuduek sandéng (peresmian), dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perhelatan perkawinan.

Setelah selesai meulakèe dan seulangké, dan semua keputusan dalam kegiatan seulangké telah dilaksanakan, dilaksanakanlah meugatip (menikah). Ini merupakan acara yang sangat sakral/suci sejalan dengan ketentuan sunah Rasul yang bernilai ibadah.

Kegiatan meugatip lantas dilanjutkan dengan peresmian perkawinan/walimatul ursyi. Peresmian perkawinan dilaksanakan pada hari yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Biasanya dipilih hari dan bulan yang baik menurut kebiasaan adat setempat. Bagi masyarakat umum biasanya dipilih waktu setelah panen padi. Ada pula sebagian masyarakat yang memilih hari dan bulan pernikahan setelah bulan Haji sehingga di daerah itu tidak satu pun didapati menikah di bulan Haji. Ini karena adanya keyakinan masyarakat bahwa menikah di bulan itu dapat membuat usia pernikahan tidak berlangsung lama. Itulah sebabnya, dalam penentuan bulan pernikahan, bulan Haji disebut bulan panas.

Tahap prosesi dalam peresmian pernikahan meliputi masa persiapan, hari pelaksanaan, dan selesai peresmian. Berkaitan dengan persiapan, pihak dara barô melakukan berbagai persiapan rumah tangga, acara kenduri, bôh gaca, manoe pucôk bagi dara barô. Adapun pihak lintô barô mempersiapkan peuneuwoe lintô, acara intat lintô, dan acara kenduri sekaligus dengan acara tueng dara baro. Kenduri perkawinan, baik bagi pihak lintô maupun dara barô berlangsung pada hari yang sama. Di daerah tertentu intat lintô dilakukan pada malam hari. Namun, biasanya ini dilakukan jika tempat lintô berdomisili tidak terlalu jauh dengan tempat domisili dara barô. Acara tueng dara barô dilakukan beberapa hari kemudian dan biasanya urusan kaum perempuan saja.

*Sumber bacaan: “Budaya Aceh” oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, 2009.

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Peusijuek

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Peusijuek

Aceh kaya akan tradisi. Kekayaan ini telah dimiliki sejak dulu dan masih dilestarikan hingga kini. Tradisi yang juga merupakan warisan indatu itu bermakna amat simbolis untuk mendukung kegairahan hidup dan silaturahmi masyarakat Aceh. Salah satu tradisi yang dimaksud adalah peusijuek.

Menurut R.A. Hoesein Djajaningrat, peusijuek bermakna ‘sejuk, menyejukkan (transit), memperkenalkan sejuk, menyegarkan (figuratif), tenang, menyenangkan, berkesan, berlibur yang semuanya dilambangkan dalam percikan air tepung tawar melalui kuas tangkai dan daunan berkhasiat daun siseujuk, manek manoe, pineung, sikeumeu, mayang, tuba, dan naleung sambo.

Peusijeuk selalu diiringi dengan bacaan doa sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah swt. tentang apa yang telah dialami dengan harapan dapat memberi dorongan dan semangat kembali untuk mencapai sesuatu yang lebih di bawah rida Ilahi.

Peusijuek memiliki tradisi yang berurutan. Pertama, peusijuek dilakukan dengan menaburkan breuh sambô (beras padi), kedua, menaburkan air tepung tawar, ketiga, menyunting bu leukat (nasi ketan) pada telinga sebelah kanan, dan keempat melakukan teumeutuk, yaitu pemberian uang alakadarnya kepada orang yang di-peusijuk (baca juga tulisan teumuntuk).

Peusijuek menggunakan berbagai kelengkapan, yaitu dalông/talam satu buah, breuh pas satu mangkok, buleukat satu dapeusi/talam kecil/piring besar, bersama dengan tumpoe/kelapa merah/daging ayam panggang, teupông taweu ngon ie (air), ôn sisijuek, ôn manèk manoe, ôn naleung sambô, glok ie tempat cuci tangan, dan sang (tudung saji) penutupan. Kadang-kadang ada tambahan perlengkapan lain, seperti puréh, gapu, ranup, sikin (pisau) pada peusijuek sunat Rasul.

Peusijuek telah membudaya dalam berbagai kegiatan yang bersifat mendorong kegairahan pembinaan kehidupan dalam masyarakat Aceh, seperti peusijuek pada acara pernikahan, upacara memasuki rumah baru, upacara hendak merantau atau pulang dari merantau, berangkat naik atau pulang haji, kurban (keureubeun), peusijuek perempuan yang diceraikan suami, peusijuek orang terkejut dari sesuatu yang luar biasa, perkelahian, permusuhan sehingga didamaikan.

Peusijuek juga banyak dilakukan oleh anggota masyarakat terhadap seseorang yang memperoleh keberuntungan, misalnya berhasil lulus sarjana, memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan masyarakat, memperoleh penghargaan anugerah bintang penghargaan tertinggi, dan peusijuek kendaraan baru.

Peusijuek dapat dikatakan sebagai simbol kompensasi yang bertujuan memperoleh kedamaian, memperkokoh silaturahmi antarsesama, memantapkan rasa syukur melalui doa kepada Allah swt. Tradisi ini juga dapat memberikan rasa khidmat dan kekaguman bila ditilik dari konteks pariwisata spiritual. Oleh karena itu, peusijuek perlu selalu dipelihara dan diluruskan sehingga sejalan dengan kebersihan, ketauhidan/akidah, bahwa kedamaian dan kesyukuran yang didambakan tetap bersumber dari Allah swt., tidak perlu ditafsirkan atau berorientasi pada orang lain (Badruzzaman, 2002:160-162).

Upacara peusijuek yang masih populer dalam masyarakat Aceh di antaranya adalah (1) peusijuek peutrӧn lintô dari rumahnya untuk diantarkan ke rumah dara barô, (2) terima/teurimong lintô, (3) seumanoe dara barô, (4) uroe meuandam (koh andam), (5) meusandéng lintô-dara barô, (6) sunat Rasul, (7) penyelesaian sengketa/perkelahian/permusuhan, (8) padé bijéh, (9) tempat tinggal (rumoh barô), (10) buka lampôh, (11) peuwoe seumangat/lepas dari bahaya/bencana, (12) keberuntungan, (13) jak meurantoe/woe bak rantoe, (14) keureubeuen, (15) keberhasilan/prestasi.[]

*Sumber bacaan: “Budaya Aceh” oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, 2009.

Teumuntuk

Teumuntuk

Di awal-awal Lebaran beberapa hari yang lalu, ada banyak hal yang diagendakan oleh setiap umat muslim, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Bagi anak-anak, perayaan yang diperingati dua kali dalam setahun ini meru­pakan masa banjir rezeki. Betapa tidak, selain mendapatkan makanan berlimpah, mereka juga diberikan uang oleh pemilik rumah yang mereka kunjungi, istilah lainnya, salam tempel. Maka tak heran, sebelum Lebaran, sebagian bocah telah merancang visiting list atau daftar rumah yang akan dikunjungi.

Dalam tradisi Lebaran sebagian masyarakat Aceh, selain salam tempel, ada tradisi teumuntuk (dalam dialek bahasa Aceh tertentu disebut teumeutuk, ada juga yang menyebut seuneumah).

Dilihat dari segi pembentukan kata, teumuntuk tergolong kata dasar, bukan kata berimbuhan. Ini karena tidak ada kata muntuk dalam pertuturan jika bentuk teu dipisahkan.

Tak seperti salam tempel, di beberapa daerah di Aceh istilah teumuntuk hanya digunakan untuk pengantin baru yang bersilaturahmi ke rumah sanak famili dan handai tolan. Mengapa ada istilah khusus? Itu karena rutinitas teumuntuk yang dilakukan pengantin baru berbeda sekali dengan salam tempel.

Pada teumuntuk, pengantin baru bersilaturahmi ke rumah sanak keluarga dan handai tolan. Saat akan pulang, si pengantin baru–diberikan uang, baik dalam amplop maupun tidak. Jumlah uang tergantung pada si pemberi. Tak ada patokan khusus untuk itu. Saat pengantin berkunjung ke rumah, uang teumuntuk diberikan kepada mempelai yang merupakan menantu dalam suatu keluarga besar. Artinya, uang teumuntuk tidak boleh diberikan kepada mempelai yang memang bagian dari keluarga besar sejak ia belum menikah.

Tak setiap rumah yang didatangi oleh pasangan pengantin baru memberikan uang teumuntuk. Bila rumah yang didatangi itu adalah keluarga yang usianya lebih muda daripada mempelai yang memang bagian dari keluarga besar sejak ia belum menikah, keluarga yang didatangi itu tidak berkewajiban memberikan uang teumuntuk.

Tradisi teumuntuk tidak berlangsung setiap Lebaran, tetapi hanya saat si pengantin baru menjalani pertama setelah menikah. Artinya, ketika memasuki Lebaran berikutnya, apakah Iduladha di tahun yang sama atau Idulfitri di tahun berikutnya tradisi ini tidak lagi berlaku.

Perlu ditegaskan bahwa tidak semua daerah di Aceh ada tradisi ini. Menurut sepengetahuan saya, salah satu kabupaten yang punya tradisi teumuntuk ketika Lebaran adalah Aceh Barat Daya (Abdya). Di kabupaten ini pun kemungkinan besar tidak semua daerah ada tradisi tersebut.

Sebenarnya teumuntuk bukan hanya ada kala Lebaran. Dalam pesta pernikahan pun tradisi itu juga kerap dilakukan, terutama saat proses peusijuk (tepung tawari). Pelaku teumuntuk dalam pesta perkawinan ini adalah ibu dan bapak pengantin wanita, ibu dan bapak pengantin laki-laki, keluarga pengantin wanita, keluarga pengantin laki-laki, dan perwakilan kerabat atau handai tolan.

Teumuntuk yang dilaksanakan saat peusijuk pengantin bukan tanpa makna.  Menurut sebagian orang tua, teumuntuk berarti perlambang suami istri di dalam menjalankan bahtera rumah tangganya selalu sama-sama bertanggung jawab. []

Ukiran Kaligrafi Terpahat Rapi di Rumoh Aceh Kawasan Lamno

Ukiran Kaligrafi Terpahat Rapi di Rumoh Aceh Kawasan Lamno

BANDA ACEH – Rumah adat Aceh itu terletak di Gampong Ketapang Lamno, Aceh Jaya. Belasan tiang penyangga rumah (Aceh: tameh) masih berdiri tegak menopang bangunan yang berkonstruksi kayu tersebut.

Rumah Aceh2
Ukiran kaligrafi di pintu masuk Rumoh Aceh kawasan Lamno, Aceh Jaya. @Dok Tim Peusaba
Rumah Aceh3
Ukiran kaligrafi yang turut menjelaskan tahun pembinaan Rumoh Aceh di Gampong Ketapang Lamno, Aceh Jaya. @Dok Tim Peusaba

“Rumah ini dibina pada tahun 1952. Hal tersebut bisa kita lihat dari ukiran kaligrafi yang ada pada dinding rumahnya. Di Lamno masih banyak bangunan Rumoh Aceh yang full ukiran. Termasuk rumah ini yang terpahat ukiran ayat kursi di pintu masuk. Namun sayang, sang pemilik rumah hampir 10 tahun tidak menempatinya,” ujar Koordinator LSM Peusaba, Mawardi Usman AB, kepada portalsatu.com, Minggu, 28 September 2015 malam.

Selain ukiran ayat kursi, di rumah ini juga terdapat beberapa ukiran kaligrafi lainnya. Di dalam rumah juga terdapat ragam perabotan rumah tangga. Salah satunya seperti lemari klasik tiga pintu berwarna coklat muda dan guci yang terbuat dari tanah.Rumah Aceh1

“Rumah adat ini belum masuk dalam cagar budaya yang dilindungi. Namun, kita berharap agar pemerintah setempat mau menyosialisasikan kepada pemilik agar tidak merusak rumah ini,” ujarnya.

Tim Peusaba juga berharap juga berharap agar pemerintah mau merenovasi rumah ini agar menjadi destinasi wisata yang juga menjaganya dari ambang kepunahan. “Karena juga motif dan kaligrafinya sangat indah dan hal ini jarang kita temukan yang memiliki khas ukiran Aceh,” katanya.[]

Bahasa Daerah Didorong Masuk di Muatan Lokal

Bahasa Daerah Didorong Masuk di Muatan Lokal

BANDA ACEH – Pra-Kongres Peradaban Aceh merekomendasikan agar bahasa-bahasa lokal di Aceh masuk dalam kurikulum di sekolah. Sehingga anak-anak sekolah bisa mempelajari bahasa ibunya dengan lebih tersistem dan sesuai kaedah yang benar.

“Ini penting agar mereka akrab dengan bahasa lokal masing-masing,” kata Mustafa Ismail, Sekretaris Panitia Kongres Peradaban Aceh, di Banda Aceh, Senin, 28 September 2015.

Namun, dia menekankan, kewajiban mempelajari bahasa lokal itu hanya diperuntukan bagi siswa-siswa yang berada di wilayah masing-masing sesuai dengan bahasa ibu mereka. Misalnya, siswa di Gayo hanya mempelajari bahasa Gayo, siswa di pesisir Aceh hanya memperlajari bahasa Aceh, siswa di Aceh Tamiang hanya mempelajari bahasa Tamiang, dan seterusnya.

“Jadi mereka tidak diwajibkan mempelajari atau bisa menuturkan semua bahasa lokal yang ada di Aceh,” ujar Mustafa.

Ia mengatakan sangat tidak mungkin semua siswa di Aceh harus mempelajari semua bahasa lokal di Aceh.

“Mereka hanya didorong untuk mempelajari dan mahir bahasa ibunya serta tak malu-malu menggunakan bahasa lokal itu dalam pergaulan di lingkungannya,” tutur dia.

“Mereka tidak diharuskan bisa menuturkan semua bahasa. Itu sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal,” katanya.

Ia mencontohkan, di Jawa, hal itu telah dilakukan. “Misalnya di Jawa Barat, ada pelajaran muatan lokal Bahasa Sunda,” kata Mustafa yang bermukim di Jakarta dan tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Depok (DKD), Jawa Barat, itu.

Jadi, dia menambahkan, muatan lokal itu diterapkan secara terbatas di wilayah yang menjadi teritorial penuturan bahasa itu sendiri. Tidak belaku umum untuk semua wilayah.

Fahmi Mada, salah seorang insiator KPA2015, mengatakan hal serupa juga terjadi di Banten. “Ada muatan lokal bahasa Sunda di sekolah-sekolah di sana,” ujar pengusaha bidang farmasi yang tinggal di wilayah Tangerang Selatan, Banten, itu.

Jadi, menurut Fahmi, meskipun siswa-siswa itu berada di Pulau Jawa, mereka tidak diharuskan belajar semua bahasa yang ada di Pulau Jawa.

“Mereka hanya mempelajari bahasa di wilayah mereka masing-masing. Bukan semua bahasa di Jawa,” tuturnya.

Pra-Kongres Peradaban Aceh bertemakan “Penguatan Bahasa-bahasa Lokal” berlangsung di Hotel Grand Nanggroe, Sabtu, 26 September 2015. Persoalan kebahasaan dibahas dalam tiga komisi, yakni Komisi I tentang kebijakan, Komisi II tentang tata bahasa dan ejaan, dan Komisi III tentang output dan tidak lanjut. Acara itu juga diwarnai dengan orasi peradaban oleh Prof DR. Nazaruddin Syamsuddin.

Sementara pada Malam Peradaban Aceh juga diisi pidato kunci oleh Wali Nanggroe, Tgk Malik Mahmud Al-Haytar, penampilan kelompok seudati Syech Jamal Cut Kruenggeukueh, pembacaan hikayat oleh M Yusuf Bombang, rapai dabus Sanggar Tuha dari Lamrheueng, pembacaan puisi oleh LK Ara, Fikar W. Eda dan Sulaiman Juned.

“Juga laporan panitia tentang hasil rekomendasi dari Pra-Kongres,” ujar Fahmi Mada.

Salah satu rekomendasi dari kegiatan ini adalah perlunya kurikulum muatan lokal bahasa-bahasa di Aceh, mulai tingkat dasar hingga menengah. Rekomendasi lain adalah diperlukan majelis bahasa daerah atau nama lain yang berada langsung di bawah lembaga wali nanggroe atau Gubernur, yang cabangnya ada di setiap kabupaten/kota seluruh Aceh. Diperlukan kebijakan penggunaan bahasa lokal pada acara-acara tertentu seperti rapat-rapat adat/nonformal atau upacara khusus.

“Juga perlu dicanangkan hari berbahasa lokal satu hari dalam satu minggu pada instansi pemerintah,” kata Ahmad Farhan Hamid, ketika membacakan hasil rekomendasi Pra-Kongres.

Kegiatan itu juga merekomendasi perlunya qanun atau peraturan gubernur sebagai payung hukum dalam pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa lokal di Aceh dan perlunya jurusan/prodi ilmu bahasa dan sastra daerah Aceh pada perguruan tinggi.

Rekomendasi lain, tutur Farhan, kongres perlu mendorong para pengambil keputusan pada tingkatan provinsi, kabupatan/kota untuk membuat qanun yang menetapkan ejaan bahasa-bahasa lokal di Aceh. Rekomendasi yang tak kalah penting adalah diharapkan semua bahasa lokal di Aceh memiliki kamus dalam bentuk cetak dan digital.

“Juga perlu disusun ensiklopedia Aceh cetak dan digital,” ujar Farhan.

Pra-Kongres juga merekomendasikan agar Kongres Peradaban Aceh dilakukan pada Desember 2015.

“Ini bergeser dari jadwal yang direncanakan panitia pada 23 Oktober 2015,” kata Nully Nazlia, project officer KPA2015.

“Ini artinya kami punya waktu lebih panjang untuk mempersiapkan Kongres sehingga acaranya menjadi lebih matang.” Menurutnya kongres nanti akan melibatkan sekitar 300 peserta.[](bna)

Ini Kata Pewaris Raja Daya Soal Adat Seumuleung

Ini Kata Pewaris Raja Daya Soal Adat Seumuleung

BANDA ACEH – Keturunan Sultan Alaidin Riayat Syah Meurhom Daya ke 13, Tuanku Raja Saifullah Alaiddin Riayat Syah, mengatakan prosesi Seumulueng diadakan setiap tahun di Hari Raya Idul Adha. Prosesi Seumulueng ini berarti suap yang bermakna dilakukan dalam penabalan sultan sejak 1480 Masehi.

“Pertama kali dilaksanakan pada masa Sultan Alaiddin Riayat Syah. Setiap tahun dilaksanakan, tapi bukan berarti setiap tahun ada penabalan raja, melainkan seremoninya,” kata Tuanku Raja Saifullah kepada portalsatu.com, Sabtu, 26 September 2015.

Pewaris Raja Daya ini mengatakan prosesi adat Seumulueng pernah ditiadakan usai tsunami melanda Aceh. Pada saat itu, kata dia, banyak warga yang mengungsi, bahkan ada keluarga raja yang ikut menjadi korban. Selain itu, bangunan-bangunan tempat diadakan prosesi Seumuleung ikut musnah akibat gelombang gergasi.

“Saat ini bangunan-bangunan tersebut sedang diperbaiki,” katanya.[]

Foto: Ilustrasi prosesi adat Seumuleung di Meurhom Daya. @Dok Antaranews.com