Category: Budaya

Bagaimana Mengatasi Kepunahan Bahasa

Bagaimana Mengatasi Kepunahan Bahasa

Ada banyak sebab bahasa punah, seperti lunturnya bahasa daerah adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Mereka juga enggan menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian.

Asim mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Ia mencontohkan bahasa Ibrani yang dulu hampir punah. Namun, karena adanya vitalitas yang tinggi untuk menghidupkan kembali bahasa Ibrani, bahasa tersebut kini menjadi bahasa nasional. Kedua, kata Asim, adalah faktor biaya dan keuntungan. Selama ini kecenderungan orang belajar bahasa adalah karena faktor berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang diperoleh kelak. Ia menyebutkan bahwa orang rela belajar bahasa Inggris dengan biaya mahal karena ada keuntungan yang diperoleh kelak.

Bagaimanakah menghambat kepunahan ini? bila merujuk pada pendapat Asim tersebut, usaha menghambat kepunahan bahasa dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Vitalisasi etnolinguistik ini pernah diterapkan pada bahasa Ibrani yang dipakai oleh masyarakat Yahudi. Bahasa ini pernah berada di ambang kepunahan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya orang Yahudi yang dibasmi oleh Hitler dalam sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama holocaust. Diperkirakan sebanyak 3 juta orang Yahudi dibunuh oleh Hitler. Jumlah ini belum termasuk orang Slav, orang Polandia non-Yahudi, orang Roma dan Sinti, kaum Freemason, kaum Komunis, pria homoseksual, dan saksi Yehowa. Jika dikelompokkan, jumlah pembasmian mencapai 60 juta jiwa (Widada, 2007:39).

Akibat pembunuhan terhadap 3 juta orang Yahudi tersebut, penutur bahasa Ibrani dengan sendirinya berkurang. Oleh karena itu, untuk menghambat kepunahan bahasanya, dilakukanlah vitalisasi etnolinguistik terhadap bahasa Ibrani sehingga bahasa tersebut sekarang menjadi bahasa nasional. Kedua, yang dapat dilakukan adalah dengan menggiatkan penerbitan majalah berbahasa daerah bagi media cetak dan menyediakan program khusus berbahasa Aceh bagi media elektronik. Ketiga, memasukkan sebagian kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa nasional. Berkaitan dengan hal ini, sebut saja misalnya bahasa Aceh. Kosakata bahasa Aceh juga berpotensi menjadi kosakata bahasa Indonesia layaknya bahasa Jawa, bahasa Sunda, atau bahasa-bahasa daerah lainnya.

Salah satu contohnya adalah timplak. Kata ini mempunyai arti mencela atau celaan (Aboe Bakar, dkk. 1985:985). Kata ini sangat cocok menjadi kosakata bahasa Indonesia. Secara kaidah bahasa, yaitu konsep peluluhan, bunyi awal kata ini memenuhi syarat peluluhan. Jika bunyi awal diluluhkan, kata timplak akan menjadi menimplak jika diimbuhkan imbuhan meN– dan dapat pula menjadi penimplakan jika diimbuhkan konfiks peN-an. Dari segi pelafalan pun, kosakata ini tidak sulit dilafalkan oleh penutur nonbahasa Aceh. Kasus yang sama juga dapat diterapkan pada kata padubawa. Dari segi pelafalan, kata ini sangat mudah dilafalkan oleh penutur nonbahasa Aceh. Selain itu, konsep pelafalan juga memenuhi kata ini. Jika dilekatkan imbuhan meN-, kata ini menjadi memadubawa, atau jika dilekatkan afiks peN-, kata tersebut akan menjadi pemadubawa(-an).

Keempat, menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib di berbagai jenjang pendidikan, bukan semata-semata hanya mata pelajaran muatan lokal dan juga dimasukkan ke uji UKBD. Jika bahasa Aceh, berarti uji UKBA, yaitu uji kemahiran bahasa Aceh.

Kelima, membentuk jurusan atau jika memungkinkan fakultas di perguruan tinggi yang khusus membidangi bahasa daerah. Lulusan-lulusan dari jurusan ini akan diterjunkan ke sekolah, media massa baik cetak maupun elektronik yang memiliki program atau jam tayang yang menggunakan bahasa daerah sebagai perantara dan tentunya diimbangi dengan insentif yang layak.[]

Ketika Bahasa Punah

Ketika Bahasa Punah

Bahasa mengalami pergeseran jika pemakaian antara bahasa pertama dan bahasa kedua tidak seimbang. Ketika keseimbangan ini tidak ada lagi, dua kemungkinan yang akan muncul. Kemungkinan yang pertama adalah bahasa pertama tetap bertahan, dan kedua adalah bahasa pertama tersingkirkan oleh bahasa kedua. Dari kedua kemungkinan ini, yang mengarah kepada kepunahan adalah kemungkinan kedua.

Bagaimanakah sebuah bahasa dikatakan punah? Apakah ketika sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi di seluruh dunia disebut sebagai bahasa yang telah punah ataukah sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi dalam sebuah guyup tutur, tetapi masih dipakai oleh sebagian guyup tutur juga disebut dengan bahasa yang punah.

Berkaitan dengan hal ini, Dorian (Sumarsono dan Partana, 2002:284) mengemukakan bahwa kepunahan bahasa hanya dapat dipakai bagi pergeseran total di dalam satu guyup saja dan pergeseran itu terjadi dari satu bahasa ke bahasa yang lain, bukan dari ragam bahasa yang satu ke ragam bahasa yang lain dalam satu bahasa. Artinya, bahasa yang punah tidak tahan terhadap persaingan bahasa yang lain, bukan karena persaingan prestise antarragam bahasa dalam satu bahasa. Berdasarkan penjelasan Dorian ini, dapat disimpulkan bahwa kepunahan bermakna terjadinya pergeseran total dari satu bahasa ke bahasa yang lain dalam satu guyup tutur.

Selanjutnya, Kloss (Sumarsono dan Partana, 2002:286) menyebutkan bahwa ada tiga tipe utama kepunahan bahasa, yaitu (1) kepunahan bahasa tanpa terjadinya pergeseran bahasa, (2) kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa, dan (3) kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis.

Tipe pertama yang disebutkan oleh Kloss terjadi karena lenyapnya guyup tutur pemakai suatu bahasa yang disebabkan oleh bencana alam. Dalam sebuah tradisi lisan yang hidup di Vanuata, misalnya, diceritakan bahwa sebuah pulau besar bernama Kuwee terhancurkan oleh letusan gunung berapi Pulau Tonga dan Pulau Sheperd. Sejumlah kecil penduduknya yang tersisa kemudian kembali dari pengungsian menuju ke pulau yang lebih besar, yaitu Pulau Efate. Mereka membawa pula salah satu dialek Efate dan berinteraksi dengan menggunakan dialek tersebut (Kushartanti, dkk. (eds), 2005:186).

Tipe kedua terjadi karena bergesernya pemakaian bahasa pertama. Kasus ini termasuk kasus yang paling banyak terjadi dan tentu saja kepunahan karena pergeseran bahasa ini disebabkan oleh berbagai faktor. Sebut saja misalnya masyarakat Aborijin Australia. Akibat datangnya penduduk baru dari Eropa, beberapa bahasa Aborijin Australia punah. Selain itu, banyak bahasa masyarakat Aborijin punah secara paksa, yaitu dengan adanya tekanan dari pihak pendatang Eropa. Generasi tuanya ditekan untuk memaksa anak-anak mereka menggunakan bahasa Inggris. Dengan kata lain, punahnya beberapa bahasa masyarakat Aborijin disebabkan oleh tidak seimbangnya kontak bahasa, yaitu dominasi kelompok berkuasa yang memberikan tekanan yang sangat kuat terhadap bahasa penduduk yang dikuasainya. Sebagian penduduk Maori, misalnya, karena dijajah oleh orang Eropa, mengganti bahasa ibunya dengan bahasa Inggris, sementara yang masih mempertahankan bahasa Mauri pun fasih berbahasa Inggris (Kushartanti, dkk (eds), 2005:186).

Pakar budaya dan bahasa Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Zainuddin Taha, mengatakan bahwa pada abad ini diperkirakan 50 persen dari 5.000 bahasa di dunia terancam punah, atau setiap dua pekan hilang satu bahasa. Selanjutnya, dikatakan olehnya bahwa kepunahan tersebut bukan karena bahasa itu hilang atau lenyap dari lingkungan peradaban, melainkan para penuturnya meninggalkannya dan bergeser ke penggunaan bahasa lain yang dianggap lebih menguntungkan dari segi ekonomi, sosial, politik, atau psikologis.

Di Indonesia sendiri, katanya, keadaan pergeseran bahasa yang mengarah kepada kepunahan ini semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan keluarga yang tinggal di perkotaan. Pergeseran ini tidak hanya dialami bahasa-bahasa daerah yang jumlah penuturnya sudah sangat kurang (bahasa minor), tetapi juga oleh bahasa yang jumlah penuturnya tergolong besar (bahasa mayor) seperti bahasa Jawa, Bali, Banjar, dan Lampung, termasuk bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan, seperti Bugis, Makassar, Toraja, dan Massenrempulu (http://www.gatra.com/2007-06-01/artikel).

Sumber lain, yaitu Tempo menyebutkan bahwa sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedangkan puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini dalam keadaan terancam punah. Temuan ini didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi.

Menurut Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Dendy Sugono, sepuluh bahasa daerah yang telah punah itu berada di Indonesia bagian timur, yakni di Papua sebanyak sembilan bahasa dan di Maluku Utara satu bahasa. Salah satu penyebab lunturnya bahasa daerah adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Mereka juga enggan menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian. Asim mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Ia mencontohkan bahasa Ibrani yang dulu hampir punah. Namun, karena adanya vitalitas yang tinggi untuk menghidupkan kembali bahasa Ibrani, bahasa tersebut kini menjadi bahasa nasional. Kedua, kata Asim, adalah faktor biaya dan keuntungan. Selama ini kecenderungan orang belajar bahasa adalah karena faktor berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang diperoleh kelak. Ia menyebutkan bahwa orang rela belajar bahasa Inggris dengan biaya mahal karena ada keuntungan yang diperoleh kelak.

Tipe ketiga disebabkan oleh turunnya derajat suatu bahasa menjadi dialek ketika guyup tuturnya tidak lagi menulis dalam bahasa itu dan mulai memakai bahasa lain.[]

Pemertahanan Bahasa

Pemertahanan Bahasa

Pergeseran bahasa terjadi karena perpindahan penduduk, ekonomi, dan sekolah. Akan tetapi, terdapat pula masyarakat yang tetap mempertahankan bahasa pertamanya dalam berinteraksi dengan sesama meskipun mereka adalah masyarakat minoritas.

Berkaitan dengan hal ini, pemertahanan bahasa Cina di Peunayong, Banda Aceh, dapat sama-sama dicermati. Etnis yang sudah ada di Sumatera sejak abad ke-6 ini telah membuktikan bahwa meskipun berposisi sebagai masyarakat minoritas, mereka tetap mampu mempertahankan keberadaan bahasa mereka, yaitu bahasa Cina. Anak-anak mereka mampu berbahasa Cina, padahal peralihan generasi masyarakat ini sudah cukup lama.

Yang perlu digarisbawahi adalah bahasa Cina yang dikuasai oleh masyarakat Cina di Peunayong ini adalah bahasa Haak (barangkali dapat dikatakan dialek). Memang belum ada penelitian lebih lanjut tentang pemertahanan bahasa Cina dialek Haak di Peunayong. Akan tetapi, penulis sempat beberapa kali mengobservasi. Dalam observasi itu penulis sangat sering mendengar anak-anak etnis Tionghoa ini berinteraksi dengan menggunakan bahasa Cina dialek Haak ini. Komunikasi seperti itu juga saya temukan dalam ranah keluarga. Antara ayah dan ibu, orang tua dan anak-anak, mereka sama-sama berinteraksi dengan menggunakan bahasa Cina dialek Haak meskipun tak dapat dipungkiri bahwa banyak masyarakat Cina di Peunayong tidak mampu berbahasa Mandarin.

Yang menarik adalah masyarakat minoritas, sebagian masyarakat etnis Tionghoa ini mampu menguasai bahasa Aceh dengan baik, bahkan dapat dikatakan kefasihan mereka berbahasa Aceh mampu menandingi penutur asli bahasa Aceh sendiri walaupun tak dapat dipungkiri bahwa terdapat pula sebagian masyarakat etnis Tionghoa itu hanya memahami bahasa Aceh, tetapi tidak mampu melafalkannya. Apakah bahasa Cina etnis Tionghoa ini telah mengalami pergeseran? Sejauh ini setahu penulis belum ada yang meneliti. Akan tetapi, dari gejala-gejala yang teramati sekarang, tampaknya bahasa ini belum mengalami pergeseran karena masih digunakan sesuai dengan fungsinya.

Ketika berinteraksi dengan masyarakat etnis Aceh, masyarakat etnis Tionghoa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Aceh sebagai perantara. Namun, bahasa yang dipakai akan berbeda ketika masyarakat etnis Tionghoa ini berinteraksi dengan sesama mereka. Dalam konteks ini bahasa yang mereka pakai tetap bahasa Cina.

Pemertahanan bahasa Aceh sebagai bahasa pertama juga dapat dikatakan masih baik. Namun, berkaitan dengan pemertahanan bahasa Aceh ini kiranya perlu diberikan batasan antara pemertahan bahasa Aceh di kota dan pemertahanan bahasa Aceh di desa.

Jka dibandingkan dengan di kota, pemertahanan bahasa Aceh di desa jauh lebih baik. Sangat sedikit didapati anak-anak desa yang tidak mampu berbahasa Aceh. Hal ini tentu saja terjadi karena orang tua dalam lingkungan keluarga berinteraksi dengan sang anak menggunakan  bahasa Aceh. Dengan demikian, bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua bagi si anak dan umumnya bahasa ini diperolehnya ketika telah berada di bangku sekolah. Kasus ini akan sangat berbeda dengan kasus yang terjadi di kota. Di kota pemertahanan bahasa Aceh cenderung lebih memudar. Banyak didapati anak-anak di kota tidak mampu berbahasa Aceh, padahal orang tua mereka penutur bahasa Aceh. Faktor penyebabnya seperti tuntutan sekolah. Banyak guru di sekolah perkotaan menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam proses pembelajaran. Hal ini menimbulkan anggapan bagi orang tua bahwa sang anak harus diajarkan bahasa Indonesia. Jika tidak diajarkan, anak dianggap akan terhambat memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Kasus pemertahanan bahasa juga terjadi pada masyarakat Loloan di Bali. Kasus pemertahanan bahasa Melayu Loloan ini disampaikan oleh Sumarsono (Chaer, 2004:147). Menurut Sumarsono, penduduk Desa Loloan yang berjumlah sekitar tiga ribu orang itu tidak menggunakan bahasa Bali, tetapi menggunakan sejenis bahasa Melayu yang disebut bahasa Melayu Loloan sejak abad ke-18 ketika leluhur mereka yang berasal dari Bugis dan Pontianak tiba di tempat itu.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka tetap mempertahankan bahasa Melayu Loloan. Pertama, wilayah pemukiman mereka terkonsentrasi pada satu tempat yang secara geografis agak terpisah dari wilayah pemukiman masyarakat Bali. Kedua, adanya toleransi dari masyarakat mayoritas Bali untuk menggunakan bahasa Melayu Loloan dalam berinteraksi dengan golongan minoritas Loloan meskipun dalam interaksi itu kadang-kadang digunakan juga bahasa Bali. Ketiga, anggota masyarakat Loloan mempunyai sikap keislaman yang tidak akomodatif terhadap masyarakat, budaya, dan bahasa Bali. Pandangan seperti ini dan ditambah dengan terkonsentrasinya masyarakat Loloan ini menyebabkan minimnya interaksi fisik antara masyarakat Loloan minoritas dan masyarakat Bali mayoritas. Akibatnya pula menjadi tidak digunakannya bahasa Bali dalam berinteraksi intrakelompok dalam masyarakat Loloan. Keempat, adanya loyalitas yang tinggi dari masyarakat Melayu Loloan sebagai konsekuensi kedudukan atau status bahasa ini yang menjadi lambang identitas diri masyarakat Loloan yang beragama Islam. Adapun bahasa Bali dianggap sebagai lambang identitas masyarakat Bali yang beragama Hindu. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Bali ditolak untuk kegiatan-kegiatan intrakelompok, terutama dalam ranah agama. Kelima, adanya kesinambungan pengalihan bahasa Melayu Loloan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya.

 

Masyarakat Melayu Loloan ini, selain menggunakan bahasa Melayu Loloan dan bahasa Bali, juga menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia diperlakukan secara berbeda oleh mereka. Dalam anggapan mereka bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada bahasa Bali. Bahasa Indonesia tidak dianggap memiliki konotasi keagamaan tertentu. Ia  bahkan dianggap sebagai milik sendiri dalam kedudukan mereka sebagai rakyat Indonesia. Oleh karena itu, mereka tidak keberatan menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Pergeseran Bahasa

Pergeseran Bahasa

Saat dilahirkan ke dunia ini, manusia mulai belajar bahasa. Sedikit demi sedikit, bahasa yang dipelajarinya sejak kecil semakin dikuasai sehingga jadilah bahasa pertamanya. Dengan bahasa itu, ia berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya.

Beranjak remaja, ia sudah menguasai dua bahasa atau lebih. Semua itu ia peroleh ketika berinteraksi dengan masyarakat atau ketika di bangku sekolah. Hal ini menyebabkan ia menjadi dwibahasawan atau multibahasawan. Ketika menjadi dwibahasawan atau multibahasawan,  ia dihadapkan pada pertanyaan, yaitu manakah di antara bahasa yang ia kuasai merupakan bahasa yang paling penting? Di saat-saat seperti inilah terjadinya proses pergeseran bahasa, yaitu menempatkan sebuah bahasa menjadi lebih penting di antara bahasa-bahasa yang ia kuasai.

Contohnya, bahasa pertama seorang anak adalah bahasa A. Lalu, di sekolah dia menguasai bahasa B. Lambat laun ia menyadari bahwa bahasa B lebih penting atau membawa manfaat yang sangat besar baginya. Hal ini membuat dia lebih memilih bahasa B daripada bahasa A dalam berinteraksi. Dengan demikian, posisi bahasa A sebagai bahasa yang utama bagi si anak menjadi bergeser sebagai bahasa yang ‘termarginalkan’ atau dinomorduakan. Kasus seperti ini disebut dengan kasus pergeseran bahasa.

Akan tetapi, faktor kedwibahasaan bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya pergeseran bahasa. Faktor lainnya seperti perpindahan penduduk. Hal ini sesuai dengan pernyataan Chaer (2004:142), pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain.

Pergeseran bahasa juga dapat terjadi karena masyarakat yang didatangi jumlahnya sangat kecil dan terpecah-pecah. Dengan kata lain, pergeseran bahasa bukan disebabkan oleh masyarakat yang menempati sebuah wilayah, melainkan oleh pendatang yang mendatangi sebuah wilayah. Kasus seperti ini pernah terjadi di beberapa wilayah kecil di Inggris ketika industri mereka berkembang. Beberapa bahasa kecil yang merupakan bahasa penduduk setempat tergeser oleh bahasa Inggris yang dibawa oleh para buruh industri ke tempat kecil itu.

Kedua, pergeseran bahasa juga disebabkan oleh faktor ekonomi. Salah satu faktor ekonomi itu adalah industrialisasi. Kemajuan ekonomi kadang-kadang mengangkat posisi sebuah bahasa menjadi bahasa yang memiliki nilai ekonomi tinggi (Sumarsono dan Partana, 2002:237). Kasus ini dapat dicermati pada bahasa Inggris. Jauh sebelum bahasa Inggris muncul, bahasa yang pertama sekali dipakai di tingkat internasional adalah bahasa Latin. Bahasa ini menjadi bahasa yang dipilih oleh masyarakat, terutama masyarakat pelajar. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, bahasa Latin kemudian ditinggalkan. Konon katanya bahasa ini ditinggalkan karena terlalu rumitnya struktur bahasa Latin ini. lambat laun orang beralih kepada bahasa Prancis. Bahasa ini memiliki kedudukan layaknya bahasa Latin dulu. Akan tetapi, sebagaimana bahasa Latin, bahasa ini kemudian ditinggalkan orang. Karena semakin maju perekonomian di Inggris yang ditandai oleh adanya revolusi industri, orang kemudian beralih ke bahasa Inggris. Bahasa ini akhirnya menjadi bahasa internasional, mengalahkan bahasa Latin dan bahasa Prancis.

Sekarang orang berbondong-bondong belajar bahasa Inggris. Bahkan demi bahasa Inggris, orang rela meninggalkan bahasa pertamanya. Kedudukan bahasa Inggris ini semakin diperkuat oleh adanya perusahaan-perusahaan, baik swasta maupun negeri yang menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pelamar kerja. Bukan hanya itu. Di tingkat perguruan tinggi saja lulus TOEFL merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti sidang sarjana. Alasannya tentu saja karena Eropa merupakan penguasa ekonomi di dunia ini.

Pergeseran bahasa, menurut Sumarsono dan Partana (2002:237), juga disebabkan oleh sekolah. Sekolah sering juga dituding sebagai faktor penyebab bergesernya bahasa pertama murid karena sekolah biasanya mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak. Hal ini pula yang kadangkala menjadi penyebab bergesernya posisi bahasa daerah. Para orang tua enggan mengajari anaknya bahasa daerah karena mereka berpikir bahwa anaknya akan susah memahami mata pelajaran yang disampaikan oleh gurunya dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, anak tidak mampu berbahasa daerah atau paling tidak anak hanya dapat memahami bahasa daerah tanpa mampu berinteraksi.[]

Sekjen Mapesa Apresiasi Event Gebyar Seni Budaya Gayo

Sekjen Mapesa Apresiasi Event Gebyar Seni Budaya Gayo

BANDA ACEH – Sekjen Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Mizuar Mahdi, mengapresiasi kegiatan Gebyar Seni Budaya tingkat Pelajar yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Aceh Tengah. Kegiatan yang digelar di Kompleks Umah Pitu Ruang, Takengon, dan diikuti oleh 70 sekolah tersebut dinilai bisa memupuk semangat pelajar dalam menggali dan melestarikan seni dan budaya daerah.

“Ini program yang sangat bagus dalam mengampanyekan pentingnya nilai budaya kepada pelajar. Atas nama Mapesa, kami sangat mengapresiasi event yang dilakukan oleh Disbudparpora Aceh Tengah ini,” ujar Mizuar melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Rabu, 7 Oktober 2015.

Ia berharap program seperti ini rutin diselenggarakan tiap tahunnya. Namun dia meminta event ini bisa melibatkan para peserta yang lebih banyak.

“Jika pada tahun ini eventnya lebih kepada seni dan fashion, diharapkan ke depan bisa ditambahkan kegiatan lain seperti wisata sejarah menelusuri jejak budaya di Gayo, seminar budaya, cerdas cermat dan kegiatan-kegiatan lain yang bisa menumbuhkan kecintaan para pelajar akan sejarah dan budaya sendiri,” ujarnya.

Selain itu, Mizuar berharap Gebyar Seni Budaya Pelajar Gayo bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain di Aceh untuk menyelenggarakan kegiatan serupa.

“Sangat bagus jika Gebyar Seni Budaya Gayo, dijadikan event provinsi. Di mana peserta yang mengikuti event tersebut nantinya berasal dari kabupaten di dataran tinggi Gayo, jadi tidak sebatas hanya kabupaten Aceh Tengah. Selain itu, Pemerintah Aceh juga berkewajiban membuat atau mendorong dibuat kegiatan serupa untuk kawasan lain seperti Tamiang, Kluet, Singkil, Pase, Alas, Simeulue dan kawasan lainnya,” ujar Mizuar.

Dia menilai kegiatan ini mampu memperkuat jati diri dan identitas pelajar di Aceh. Selain itu, dia mengatakan acara tersebut juga akan menguatkan posisi Aceh di kancah nasional.

“Untuk memperkuat kebudayaan di Aceh, organisasi Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) telah melakukan survey. Mereka berpendapat wilayah Aceh bisa dibagi ke dalam 3 wilayah zonasi kebudayaan, yaitu kawasan budaya Leuser dan dataran tinggi Gayo, pantai barat selatan, dan pantai utara timur Aceh,” ujar Mizuar.

Mizuar menambahkan survey PuKAT juga merekomendasikan agar tiga wilayah yang dizonasikan tersebut bisa dibangun pusat sejarah dan kebudayaan atau “Heritage and Culture Centre”.

“Di mana setiap kawasannya bisa dibangun kota budaya. Blangkejeren atau Takengon untuk wilayah Leuser dan Gayo, Jeuram atau Meulaboh untuk wilayah barat selatan Aceh, dan Bireuen atau Lhokseumawe untuk wilayah utara timur Aceh,” kata Mizuar.[](bna)

Sekolah Hamzah Fansuri Mulai Kelas Angkatan II

Sekolah Hamzah Fansuri Mulai Kelas Angkatan II

BANDA ACEH – Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri (SHF) angkatan II (Oktober-Desember 2015), akan dimulai pada 11 Oktober di Taman Hutan Kota BNI Banda Aceh.

“Sebelumnya, kelas serupa telah berlangsung dari Mei hingga September 2015. Pada angkatan pertama, dari sepuluh pendaftar yang diterima, hanya enam orang yang mengikutinya sampai akhir,” kata Thayeb Loh Angen, pengurus SHF melalui siaran pers diterima portalsatu.com, Selasa, 6 Oktober 2015.

Thayeb menyebut sebagian besar pendaftar angkatan II berstatus sarjana, sisanya mahasiswa di Banda Aceh. “Pola belajar kali ini serupa angkatan lalu. Belajar di alam luas. Juga dalam ruangan pada masa mengedit tulisan,” kata penulis novel Aceh 2025 ini.

Aktivis kebudayaan itu mengatakan SHF sebuah organisasi yang sementara ini membuka dua cabang. Pertama, kelas menulis bidang sastra dan perkabaran, secara cuma-cuma (gratis). Kedua, bidang pertemuan dan perkemahan.

“Diskusi setiap akhir bulan untuk umum. Insyaallah, akan kita mulai pada akhir Oktober ini. Kemah Sastra Hamzah Fansuri akan kita laksanakan pada akhir Januari atau awal Februari 2016, untuk umum alumnus SHF, setahun sekali,” ujar Thayeb.[]

Berbahasa Jangan Boros

Berbahasa Jangan Boros

Berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan, seharusnya mengutamakan kehematan. Tujuannya agar komunikasi lebih efektif. Bila itu dilakukan, tentu saja tidak ada kata yang sia-sia dan terkesan bertele-tele. Begitu pula dari segi pendengar atau penerima pesan, semua yang dia dengar atau baca merupakan kata yang benar-benar diperlukan. Faktanya tak demikian. Sebagian kita banyak memboroskan kata ketika berkomunikasi. Akibatnya, banyak waktu terbuang, begitu pula biaya.

Pemborosan dalam berbahasa sebenarnya juga banyak ragamnya. Namun, dalam tulisan kali ini, saya menspesifikkan pembahasan pada dua hal, yaitu penggunaan kata yang maknanya sama dan kata yang sebenarnya tidak diperlukan. Kata yang bermakna sama maksudnya penggunaan dua kata atau lebih yang memiliki kesamaan arti atau masih memiliki relasi arti yang sama meski bentuknya yang berbeda. Adapun kata yang sebenarnya tidak diperlukan maksudnya adalah kata itu tidak mengganggu kegramatikalan kalimat, tetapi tidak dibutuhkan karena tanpanya kalimat itu masih berterima.

Anda barangkali pernah menggunakan atau mendengar orang memakai kata adalah yang disertai dengan merupakan dalam kalimat, misalnya “Tujuan diutusnya Nabi Muhammad ke dunia adalah merupakan untuk memperbaiki akhlak manusia.” Karena sama-sama dapat dipakai untuk mendefinisikan sesuatu, pemakaian adalah dan merupakan secara berdampingan dapat digolongkan sebagai pemborosan. Seharusnya salah satu kata itu yang harus dipakai, bukan kedua-duanya. Jadi, pada kalimat di atas, kata yang digunakan hanya adalah atau merupakan.

Begitu pula ekskombatan, misalnya. Eks pada kombatan berarti ‘mantan’. Dengan demikian, karena telah bermakna ‘mantan’, tidak tepat alias pemborosan jika kata mantan digunakan lagi mendampingi kata eks, yaitu mantan ekskombatan.

Dalam kasus yang lain, misalnya, pada pemakaian kata bermakna ‘jamak’, misalnya banyak dan para. Pemborosan semakin diperparah dengan pengombinasian kedua kata itu dengan kata ulang yang juga bermakna ‘jamak’. Sebagai contoh, “Banyak para pegawai-pegawai tidak masuk kerja hari ini karena meliburkan diri.” Pada kalimat itu, selain banyak dan para, pegawai-pegawai juga bermakna ‘jamak’ (lebih sari satu). Seharusnya, di antara ketiga kata itu, cukup salah satu saja yang dipilih, boleh banyak, para, atau pegawai-pegawai sehingga menjadi banyak pegawai, para pegawai, atau pegawai-pegawai.

Kata ulang yang bermakna ‘saling’ juga sering disertakan penggunaannya dengan kata ‘saling’, misalnya pada saling pukul-memukul. Bentuk seperti ini sebenarnya masih dapat dihemat lagi dengan menggunakan kata saling atau kata ulangnya saja, pukul-memukul sehingga menjadi saling memukul atau pukul-memukul tanpa menggunakan kata saling. Ini dilakukan karena pukul-memukul memang bermakna ‘saling’ sehingga tak perlu dieksplisitkan kembali kata saling.

Adalah dan merupakan, selain digunakan secara berdampingan, juga sering dipakai dalam kalimat yang sebenarnya tidak membutuhkan kata itu. Bila adalah tidak pakai, keutuhan kalimat masih tetap terjaga. Kata adalah dalam kalimat “Dia adalah orang tua saya”, misalnya, tidak perlu digunakan atau dihilangkan saja karena tanpanya kalimat itu masih tetap benar secara kaidah. Begitu pula dengan kalimat, “Komputer merupakan alat tercanggih di zaman sekarang.” Ini dapat diperhemat dengan menghilangkan kata merupakan.

Kesalahan yang mirip dengan itu dapat pula dilihat dalam kalimat seperti ini, “Guru harus mampu membuat jadi pintar peserta didiknya.” Kalimat ini sebenarnya masih dapat diperhemat lagi dengan menghilangkan kata membuat jadi, lalu melekatkan imbuhan me- pada kata pintar dan menempatkan akhiran –kan setelahnya. Setelah pengubahan seperti yang saya jelaskan itu, kalimat menjadi “Guru harus mampu memintarkan peserta didiknya”.

Ada banyak jenis pemborosan kata lain yang dapat ditemukan dalam berbagai tulisan. Sejatinya, pemborosan itu tidak perlu terjadi agar komunikasi benar-benar efektif. Cermatlah dalam menulis agar kita dapat menghemat kata. Ingat, jangan boros dalam berbahasa![]

Agar Sejarah Samudera Pasai Tidak Menjadi Dongeng

Agar Sejarah Samudera Pasai Tidak Menjadi Dongeng

TEUNGKU Taqiyuddin Muhammad mencoba memberikan gambaran baru perihal sejarah Samudera Pasai dan latar belakang penamaan daerah ini. Sebagai ahli epigraf Islam, Taqiyuddin banyak mempertanyakan sumber-sumber sejarah dari kaum orientalis yang selama ini meneliti sejarah Samudera Pasai. Dia juga kerap bersandar dengan sumber-sumber Timur Tengah dan aksara yang terukir di batu nisan. Konon, nisan-nisan yang mencatat sejarah seseorang di masa kerajaan dahulu tersebut banyak tersebar di Aceh.

Lulusan Timur Tengah ini memulai tulisannya dengan sejarah latarbelakang penamaan Sumatera. Dia menukilkan banyak sumber asing yang menyebut nama Sumatera dalam catatannya. Baik dari sumber penjelajah asing, Belanda, hingga sumber lokal.

Namun Teungku Taqiyuddin lebih sepakat menyebut asal kata Sumatera itu berawal dari bahasa Kurdi atau Persia, yaitu Syā-mā-t dan dā-ra[h]. Menurutnya dalam bahasa Kurdi, kata Syā-mā-t berarti tanah mengandung garam, dan dā-ra[h] dalam bahasa Persia atau Kurdi adalah berasal dari kata dark, yang berarti lembah, sungai, alur, air, tanah.

Taqiyuddin kemudian menyimpulkan Syummuthrah asal kata Sumatera mirip dengan Syā-mā-t dan dā-ra[h] yang artinya adalah lembah tanah mengandung garam. Kesimpulan penamaan tersebut, oleh Teungku Taqiyuddin kemudian dicocokkan dengan beberapa nama tempat di kawasan Aceh Utara, yaitu Syamtalira. Lira, menurut Taqiyuddin, berasal dari Layyira[h] dalam bahasa Kurdi. Artinya adalah “di sini.”

Taqiyuddin terus menyebutkan Syamtalira berarti bermakna di sini, tanah mengandung garam.

Dugaan tersebut kemudian diperkuat oleh Taqiyuddin dengan bukti otentik daerah Syamtalira yang disebutkan sebagai zona penghasil garam di Aceh Utara sejak zaman dulu.

Selain mengupas tentang asal usul makna kata Sumatera, Taqiyuddin juga mendobrak hasil penelitian para orientalis tentang Samudera Pasai. Salah satunya adalah hasil penelitian Dr. C Snouck Hougronge yang pernah meneliti tentang sejarah Samudera Pasai.

Taqiyuddin turut membantah penamaan Samudera Pasai yang bersandar pada Hikayat-hikayat Raja Pasai. Dalam hikayat tersebut dituliskan bahwa Samudera memiliki arti “semut besar” dan Pasai berasal dari kata “anjing”. Tentu saja, dengan bersandar pada hikayat ini, sejarah Samudera Pasai menjadi kabur: antara dongeng dan fakta.

Bahkan hasil penelitian Dr. C Snouck Hougronge ini pernah dijadikan sebagai sandaran ilmiah oleh penulis-penulis sejarah Samudera Pasai dalam beberapa dekade.

Selain dua hal tersebut, banyak sejarah-sejarah lain yang ditulis oleh Taqiyuddin dalam buku Daulah Shalihiyyah di Sumatera ini. Dengan begitu, penulis merekomendasi buku ini sangat layak dibaca untuk para peneliti sejarah, akademisi, mahasiswa dan pecinta sejarah jika ingin menambah referensi tentang sejarah Sumatera, khususnya tentang Samudera Pasai. []

Judul: Daulah Shalihiyyah di Sumatera

Sub Judul: Ke arah penyusunan kerangka baru historiografi Samudra Pasai

Penulis: Taqiyuddin Muhammad

Penerbit: Lhokseumawe, Center for Information of Samudera Pasai Heritage (CISAH), 2015

Tebal: xxvi + 286 halaman

Harga: Rp 70.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Cetakan: Kedua, Mei 2015

ISBN: 979137270-5

 

Bagaimana Menulis Kata Ambulance dan Photocopy?

Bagaimana Menulis Kata Ambulance dan Photocopy?

Tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang memiliki kosakata lengkap untuk menyebutkan sesuatu. Bahasa Inggris, yang katanya merupakan bahasa untuk komunikasi internasional, juga tak luput dari hal itu. Sebut saja kata soldier, misalnya. Jangan anggap kata ini asli dari bahasa Inggris. Sebenarnya kata tersebut diserap dari bahasa Prancis.

Karena alasan tidak memiliki kosakata yang lengkap itulah setiap bahasa di dunia ini menyerap kosakata dari bahasa lain. Ketika penyerapan terjadi, kata yang diserap itu haruslah disesuaikan penulisannya dengan bahasa yang menyerap kosakata itu. Penyerapan itu salah satunya disebabkan oleh penyesuaian pelafalan bahasa sumber dengan bahasa asal.

Umumnya penyesuaian pelafalan itu telah ditetapkan dalam suatu aturan, tak terkecuali bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia aturan itu disebut Pedoman Penulisan Unsur Serapan.

Bahasa Indonesia menyerap cukup banyak kosakata dari bahasa asing, salah satunya bahasa Inggris. Cukup banyak kata bahasa Inggris diserap oleh bahasa Indonesia, seperti ambulance dan photocopy. Kedua kata ini ketika digunakan dalam bahasa Indonesia harus disesuaikan pelafalannya. Penyesuaian ini harus berpedoman pada Pedoman Penulisan Unsur Serapan.

Berdasarkan pedoman itu, ambulance harus ditulis ambulans. Jadi, bukan ambulan seperti yang ditulis oleh sebagian orang selama ini. Kasus yang hampir sama juga terjadi pada kata response. Kata yang juga dari bahasa Inggris ini ketika ditulis dalam bahasa Indonesia haruslah respons, bukan respon.

Photocopy juga harus disesuaikan penulisannya. Kata itu haruslah ditulis fotokopi, bukan photo kopi, photokopy, atau fotocopy. Aturan pengubahannya adalah sebagai berikut. Bila ph di depan vokal o, ph menjadi f, c menjadi k, dan y menjadi i. Ini juga berlaku pada kata-kata bahasa Inggris lainnya seperti phase menjadi fase dan comodity menjadi komoditas. Fotokopi juga tidak ditulis terpisah (foto kopi) karena dari bahasa sumbernya pun tidak mengalami perubahan.

Mari menulis sesuai dengan ejaan yang benar. []

Masjid-masjid Megah Ini Hanya Dibuka Setahun Sekali

Masjid-masjid Megah Ini Hanya Dibuka Setahun Sekali

DAMMAM — Kebanyakan masjid di dunia ini sama dari segi bentuk maupun pengoperasiannya. Namun berbeda dengan ketiga masjid ini yang hanya dibuka ketika musim haji saja. Ketiga masjid tersebut diantaranya masjid Namirah, masjid Al khaif dan masjid Al Baiaa.

Masjid-masjid tersebut jauh dari pusat kerumunan warga, sehingga ketiganya hanya difungsikan ketika musim haji. Masjid Namirah, yang terkenal dengan menaranya yang megah ini terletak di Arafah dekat Makkah. Jika musim haji sekitar 450 ribu jamaah haji beribadah sepanjang siang dan malam di sana.

Masjid tersebut telah melewati beberapa tahapan masa kehidupan. Dibangun pertama kali selama abad ke-2 Hijriah. Selama era Saudi, terdapat perluasan terbesar sebagai area mencapai sekitar 18.000 meter persegi.

Selain itu, sudah dilakukan renovasi dan peningkatan penyediaan toilet. Sehingga masjid tersebut menjadi masjid terbesar ketiga dalam hal ruang setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Masjid Al Khaif berdiri kokoh dengan warna merahnya yang khas di Mina. Masjid tersebut terkenal dengan sebutan masjid 30 hari, hal itu karena masjid ini hanya dibuka selama 30 hari per tahunnya selama musim haji. Masjid ini sudah beberapa kali mengalami pemugaran, dan kini sudah terdapat banyak pintu masuk untuk perempuan.

Masjid Al Khaif ini menurut informasi dari Arabnews, Sabtu (3/10), dapat menampung sekitar 100 ribu jamaah untuk melakukan shalat lima waktu.

Masjid yang memiliki 403 tiang ini terletak di dekat kantor administrasi Kementerian Keislaman Arab Saudi. Di dekatnya juga dibangun penginapan untuk tamu besar Kementerian Keislaman Arab Saudi.

Masjid Al-Baiaa terletak di bagian timur Makkah. Masjid ini bentuknya masih membawa keaslian sejarahnya. Masjid ini diyakini  dibangun pada era khalifah Abu Jaafar Al-Mansour tahun 144 AH.

Di masjid ini Nabi Muhammad SAW mengikrarkan sumpah kesetiaan 12 pemimpin dari dua suku Arab besar: Al-Aws dan Al-Khazraj, yang berasal dari Madinah.

Masjid sebesar 500 meter persegi sedikit berbeda, karena termasuk bangunan tua yang tidak memiliki atap, menara atau jendela. Masjid tersebut dibangun dari batu dan batu bata dan biasanya ditutup kecuali selama musim haji.[] Sumber: republika.co.id

Foto: Jamaah haji yang tengah melaksanakan ibadah wukuf, menunaikan salat Jumat di sekitar kawasan Masjid Namirah, Arafah, Jumat (2/10). @Reuters