Cara Unik Menyiasati Mahar di Aceh Utara, Demi Cinta Apa Saja Bisa

LHOKSUKON – Berbicara soal mahar atau jeulame’ (red-Bahasa Aceh), ragam cerita unik terselip di dalamnya. Pepatah, “Banyak jalan menuju Roma” mungkin cocok disematkan dalam kisah ini. Jika sudah cinta, apa saja bisa. Tingginya mahar bukan lagi masalah besar. 

Di Aceh Utara, banyak jalan dan cerita cinta dalam menyiasati mahar. Ada berupa kesepakatan antara keluarga mempelai wanita dan pria. Ada pula hanya kesepakatan pribadi antara kedua mempelai. Namun ada juga yang pinjam pakai, bahkan hutang dulu.

Soal bentuk, tak selamanya mahar di Aceh Utara berupa emas. Ada pula dengan uang (red-rupiah). Seperti halnya yang dibeberkan Tgk Zahril, salah satu staf pengajar di Dayah Nurul Islam Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

“Abang saja yang baru melepas masa lajangnya memberi mahar berupa uang tunai Rp 8 juta. Sesuai dengan permintaan mempelai wanita. Saat ijab Kabul berlangsung, yang disebutkan memang mahar berupa uang tunai Rp 8juta, bukan emas,” ujarnya saat ditemui ATJEHPOST.com, Sabtu 19 Januari 2013 di rumahnya.

Berbicara tentang mahar di Aceh Utara, menurut Tgk Zahril, pada dasarnya hampir sama dengan daerah lainnya di Aceh. Tidak selamanya berupa emas. Meski kebanyakan memang memakai emas.

Ia menjelaskan secara singkat, Mahar berasal dari perkataan dalam Bahasa Arab. Di dalam al-Quran istilah mahar disebut dengan al-sadaq, al-saduqah, al-nihlah, al-ajr, al-faridah dan al-‘aqd.

Menurut istilah syara’, mahar ialah suatu pemberian yang wajib diberikan oleh suami kepada isteri dengan sebab pernikahan. Terdapat banyak dalil yang mewajibkan mahar kepada isteri.

Di antaranya,

Surah al-Nisa’ ayat 4 : “Dan berikanlah kepada perempuan-perempuan (istri) akan mas kahwin mereka itu sebagai pemberian (yang wajib). Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebahagian dari mas kahwinnnya, maka makanlah (gunakanlah) pemberian tersebut sebagai nikmat yang baik lagi lazat“

Surah al-Nisa ayat 24: “Mana-mana perempuan yang kamu nikmati percampuran dengannya (setelah dia menjadi isteri kamu) maka berikanlah mereka maharnya (ajr) sebagai satu ketetepan yang difardhu (diwajibkan oleh Allah Taala)”

Kisah lainnya diceritakan Zawar (41 tahun) warga Kota Juang, Bireun yang melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang wanita asal Kota Lhoksukon, Aceh Utara.

“Kadar mahar yang diminta mempelai wanita hanya berupa 5 mayam emas murni. Karena uang saya yang tidak mencukupi, berdasarkan kesepakatan antara pihak keluarga wanita dan keluarga saya. Akhirnya disepakati mahar yang digunakan saat ijab Kabul adalah pinjam pakai,”

Kata Zawar, emas (mahar) itu dipinjam dari kerabat dekat. Hanya untuk ditunjukan di publik saat ijab Kabul berlangsung. Setelah prosesi akad nikah selesai, emas itu dikembalikan lagi.

“Namanya juga sudah cinta, mau bagaimana lagi sedangkan usia sudah dewasa. Nanti jika ada rejeki pasti diganti,” ucapnya tersenyum malu.

Seorang pria lainnya yang enggan namanya ditulis mengatakan, ia bersama istrinya saat menikah beberapa tahun lalu sepakat, mahar yang ditentukan pihak wanita akan ditanggung bersama, yakni masing-masing 50 persen. Dan kesepakatan itu tentunya tanpa pengetahuan keluarga wanita.

“Secara kebetulan, istri saya sudah mapan dalam kariernya, sedangkan saya baru memulai menjajaki karier. Keluarga istri saya, kala itu menetapkan mahar berupa 20 mayam emas. Saya katakan terus terang kepada istri saya (red-saat itu calon),  mahar itu memberatkan.”

Karena cinta yang mendalam, dikatakan “Agar tidak berat, bagaimana jika kita tanggung bersama. Saya ikhlas. Tetapi harus kita rahasiakan kepada orangtua saya (red-wanita), karena takut tidak akan disetujui. Yang penting kita menikah secara sah,” terang si pria mengutip menyataan istrinya kala itu.

Hingga saat ini, enam tahun berlalu, namun tidak ada yang mengetahui rahasia itu. “Alhamdulillah cerita itu hanya saya, istri dan Allah yang tahu. Tentunya Anda (red-wartawan ATJEHPOST.com). Maka dari itu saya meminta identitas saya dirahasiakan. Rumah tangga kami saat ini sangat bahagia, dengan sepasang putra dan putri,” tutup si pria tersenyum simpul.

Berita selengkapnya tentang mahar Klik di tautan ini: Liputan Khusus Mahar di Aceh. [](ihn)

  • Uncategorized

Leave a Reply