XL Antilelet dan Mahal

Judul di atas adalah redaksi kalimat dalam iklan baliho milik operator seluler XL yang saya temui di beberapa jalan di Banda Aceh. Selengkapnya baliho itu berbunyi “XL HANYA DI SINI. RP35.000. ANTI LELET DAN MAHAL”.

Benarkah XL menjual kartu internet yang antilelet dan mahal atau menjual kartu internet yang antilelet dan tidak mahal. Saya sendiri tak tahu maksudnya apa. Yang jelas, pertanyaan seperti itu muncul dari benak saya karena bingung memahami maksudnya.

Perhatikan kembali dengan saksama kalimat di atas. Apa makna antilelet dan mahal? Tak diragukan lagi, kalimat itu memiliki makna seperti lahiriahnya, yaitu kartu yang dijual antilelet dan mahal, bukan antilelet dan tidak mahal.

Lantas, benarkah XL menjual kartu internet yang antilelet dan mahal? Hanya operator seluler itu sendiri yang tahu. Namun, menurut saya di tengah persaingan ketat operator seluler dalam menarik minat masyarakat, tidak mungkin XL menjual kartu internet dengan harga yang mahal di saat banyak operator lain menjual kartunya dengan harga yang murah alias terjangkau.

Begitu pula bila dilihat dari segi nilainya, harga kartu XL yang hanya Rp35 ribu boleh dikatakan sebagai harga yang cukup terjangkau. Ini karena saya melihat ada operator yang menjual kartu internetnya dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang ditawarkan XL, padahal kuotanya sama. Lagi pula, bila XL menjual kartunya dengan harga yang mahal, tentu XL tak akan menggunakan kata ‘mahal’. Operator itu mungkin saja akan menggunakan kata lain untuk menarik minat pembeli.

Bila dugaan saya itu benar, berarti kalimat baliho seperti yang tersebut pada judul di atas seharusnya ditulis “XL Antilelet dan AntiMahal”. Kalimat seperti ini sudah pasti bermakna XL yang antilelet dan tidak mahal”. Maksud ini tentu saja berbeda dengan judul di atas yang bermakna “XL antilelet sekaligus mahal”.

Pada perbaikan seperti yang saya sebutkan itu, kata anti ditambahkan sebelum kata mahal. Penambahan ini dilakukan karena tanpa pemakaian anti, kalimat itu bukan bermakna tidak mahal, tetapi justru memang bermakna mahal. Akan tetapi, jika memang benar maksud operator XL mengatakan kartunya mahal, kalimat dalam spanduk itu sudah benar.

Pemakaian kata anti ini sama kasusnya dengan pemakaian kata tidak, misalnya dalam kalimat Mereka tidak paham dan mengerti keadaan politik dewasa ini. Kalimat seperti ini salah secara kaidah bahasa. Kesalahan itu terdapat pada tidak digunakannya kata tidak setelah kata mengerti. Tidak mungkin dan aneh jika ada seseorang yang tidak paham politik dewasa ini tetapi ia mengerti politik dewasa ini. Kita pun tidak mungkin mengatakan Saya tidak senang dan rela pacar diambil orang, bukan? (baca: Bahasa dan Penalaran: Makan Daging Ayam daripada Kambing)[]