Seperti Ejaan Bahasa Perancis

Tak dapat dipungkiri, bahasa Aceh menyimpan banyak keunikan, salah satunya ihwal tata penulisan atau lazim disebut ejaan.

Tidak seperti bahasa-bahasa daerah lainnya yang ada di Indonesia, bahasa Aceh dalam sistem penulisannya menggunakan tanda aksen. Tanda ini rada-rada mirip dengan bahasa Perancis yang meru­pakan bahasa dunia peringkat kedua pemakaiannya setelah bahasa Inggris.

Dalam bahasa Perancis tanda aksen ada 6, yaitu aksen aigu, grave, makron, sedil, dan diftong. Tidak seperti bahasa Perancis, bahasa Aceh hanya memiliki 5 tanda aksen, yaitu  aigu /é/, grave /è/, makron /ô/, trema /ö/, dan apostrof /’/.

Aigu (é) digunakan pada huruf [e] seperti malém (alim), padé (padi), bacé (ikan gabus), até (hati), kéh (kantong baju/celana), kréh (keris), dan maté (mati). Huruf [e] ini bunyinya persis seperti dalam bahasa Indonesia, misalnya pada kata adek. Jadi, jika dalam bahasa Aceh bunyi huruf e seperti pada kata adek dalam bahasa Indonesia, penulisan huruf e itu menggunakan aksen aigu.

Berbeda dengan aigu, grave (è) dibubuhkan pada huruf [e] yang bunyinya seperti pada kata bebek dalam bahasa Indonesia, misalnya kèh (korek api), bèk (jangan), malèe (malu), kayèe (kayu), bijèh (bibit).

Lalu ada makron (ô). Aksen ini dipakai jika ada huruf [o] dalam bahasa Aceh bunyinya seperti kata bobok dalam bahasa Indonesia. Kata-kata itu misalnya bôh (tuangkan, isi), crôh (goreng), lhôh (sorot), peunajôh (makanan).

Setelah makron, ada juga trema (ö). Trema digunakan pada huruf-huruf, seperti böh (buang), nyang töh (yang mana), lhöh (bongkar), meudhöh-dhöt (lambat). Bunyi huruf dengan aksen trema ini adalah khas dalam bahasa Aceh. Dikatakan demikian karena tidak ada bunyi yang sedemikian rupa dalam bahasa Indonesia.

Terakhir, apostrof. Tanda ini digunakan pada huruf-huruf berbunyi sengau dalam bahasa Aceh (su ch’o), misalnya h’iem, pa’ak, meu’a-a’, ma’op, meu’ie-‘ie. Huruf dengan bunyi sengau ini sangat produktif dalam bahasa Aceh.

Pertanyaannya adalah dari mana asal mula penggunaan tanda-tanda aksen itu? Menurut catatan sejarah, tanda itu pertama sekali digunakan Snouck Hurgronje (orientalis Belanda) ketika menuliskan kata-kata dalam bahasa Aceh. Atas dasar itu, ejaan bahasa Aceh yang menggunakan aksen-aksen seperti yang telah disebutkan di atas selanjutnya disebut ejaan Snouck. Hingga hari ini ejaan ini masih digunakan oleh kalangan akademisi ketika menulis dalam bahasa Aceh.

Sangat dianjurkan pada pengguna untuk jeli menggunakan aksen-aksen itu saat menulis. Kesalahan penggunaannya menyebabkan perbedaan arti, misalnya pada kata kreh. Kata ini jika menggunakan aigu bermakna keris (kréh), tetapi bermakna kemaluan laki-laki (krèh) jika menggunakan grave.[]