Sekjen Mapesa Apresiasi Event Gebyar Seni Budaya Gayo

BANDA ACEH – Sekjen Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Mizuar Mahdi, mengapresiasi kegiatan Gebyar Seni Budaya tingkat Pelajar yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Aceh Tengah. Kegiatan yang digelar di Kompleks Umah Pitu Ruang, Takengon, dan diikuti oleh 70 sekolah tersebut dinilai bisa memupuk semangat pelajar dalam menggali dan melestarikan seni dan budaya daerah.

“Ini program yang sangat bagus dalam mengampanyekan pentingnya nilai budaya kepada pelajar. Atas nama Mapesa, kami sangat mengapresiasi event yang dilakukan oleh Disbudparpora Aceh Tengah ini,” ujar Mizuar melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Rabu, 7 Oktober 2015.

Ia berharap program seperti ini rutin diselenggarakan tiap tahunnya. Namun dia meminta event ini bisa melibatkan para peserta yang lebih banyak.

“Jika pada tahun ini eventnya lebih kepada seni dan fashion, diharapkan ke depan bisa ditambahkan kegiatan lain seperti wisata sejarah menelusuri jejak budaya di Gayo, seminar budaya, cerdas cermat dan kegiatan-kegiatan lain yang bisa menumbuhkan kecintaan para pelajar akan sejarah dan budaya sendiri,” ujarnya.

Selain itu, Mizuar berharap Gebyar Seni Budaya Pelajar Gayo bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain di Aceh untuk menyelenggarakan kegiatan serupa.

“Sangat bagus jika Gebyar Seni Budaya Gayo, dijadikan event provinsi. Di mana peserta yang mengikuti event tersebut nantinya berasal dari kabupaten di dataran tinggi Gayo, jadi tidak sebatas hanya kabupaten Aceh Tengah. Selain itu, Pemerintah Aceh juga berkewajiban membuat atau mendorong dibuat kegiatan serupa untuk kawasan lain seperti Tamiang, Kluet, Singkil, Pase, Alas, Simeulue dan kawasan lainnya,” ujar Mizuar.

Dia menilai kegiatan ini mampu memperkuat jati diri dan identitas pelajar di Aceh. Selain itu, dia mengatakan acara tersebut juga akan menguatkan posisi Aceh di kancah nasional.

“Untuk memperkuat kebudayaan di Aceh, organisasi Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) telah melakukan survey. Mereka berpendapat wilayah Aceh bisa dibagi ke dalam 3 wilayah zonasi kebudayaan, yaitu kawasan budaya Leuser dan dataran tinggi Gayo, pantai barat selatan, dan pantai utara timur Aceh,” ujar Mizuar.

Mizuar menambahkan survey PuKAT juga merekomendasikan agar tiga wilayah yang dizonasikan tersebut bisa dibangun pusat sejarah dan kebudayaan atau “Heritage and Culture Centre”.

“Di mana setiap kawasannya bisa dibangun kota budaya. Blangkejeren atau Takengon untuk wilayah Leuser dan Gayo, Jeuram atau Meulaboh untuk wilayah barat selatan Aceh, dan Bireuen atau Lhokseumawe untuk wilayah utara timur Aceh,” kata Mizuar.[](bna)