Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian V)

Setelah Ejaan Melindo, muncul Ejaan Baru. Ejaan ini pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh Panitia Ejaan Melindo. Para pelaksananya pun, di samping terdiri dari Panitia Ejaan LBK (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, sekarang bernama Pusat Bahasa), juga dari Ejaan Bahasa Malaysia. Panitia itu bekerja berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 062/67, tanggal 19 September 1967.

Panitia tersebut berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Namun, karena kepanitiaan itu dibentuk oleh Kepala Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) dan diberi nama Panitia Ejaan LBK, ejaan baru yang dirumuskan itu pun diberi nama Ejaan LBK.

Konsep ejaan yang dihasilkan oleh panitia itu disusun berdasarkan beberapa pertimbangan teknis, praktis, dan ilmiah. Pertimbangan teknis adalah pertimbangan yang menghendaki agar setiap fonem dilambangkan dengan satu huruf. Pertimbangan praktis berarti pertimbangan yang menghendaki agar perlambangan secara teknis itu disesuaikan dengan keperluan praktis, seperti keadaan percetakan dan mesin tulis. Pertimbangan ilmiah merupakan pertimbangan yang menghendaki agar perlambangan itu mencerminkan studi yang mendalam mengenai kenyataan bahasa dan masyarakat pemakainya.

Lantas, bagaimana konsep ejaan yang dihasilkan oleh panitia tersebut? Ada beberapa perubahan yang dihasilkan oleh Ejaan Baru. Mustakim (1992:11-13) menyebutkan bahwa perubahan-perubahan itu meliputi hal-hal berikut.

Perubahan dalam hal gabungan konsonan. Gabungan konsonan dj diubah menjadi j (remadja—remaja), tj menjadi c (tjakap—cakap), nj menjadi ny (sunji—sunyi), sj menjadi sy (sjarat—syarat), ch menjadi kh (tachta—takhta), j menjadi y (padjak—pajak), e taling dan e pepet penulisannya tidak dibedakan dan hanya ditulis dengan huruf e, tanpa penanda (ségar—segar). Lalu, huruf asing f, v, dan z dimasukkan ke dalam sistem ejaan bahasa Indonesia karena huruf-huruf itu banyak digunakan. Hal ini berbeda dengan ejaan sebelumnya yang tidak memasukkan huruf f, v, dan z.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ejaan ini benar-benar berbeda dengan ejaan sebelumnya. Jika pada “para pendahulunya” tidak terdapat huruf f, v, dan z, pada Ejaan Baru sudah mulai digunakan. Selain itu, terjadi penyederhanaan beberapa huruf yang merupakan hasil penyesuaian dari keadaan percetakan dan mesin tulis. []

Leave a Reply