Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian IV)

Malaysia juga pernah terlibat dalam sejarah perumusan ejaan di Indonesia. Kala itu Negeri Jiran itu bersama Indonesia dalam suatu panitia yang bernama Panitia Kerja Sama Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia merumuskan ejaan yang dikenal dengan Ejaan Melindo. Perumusan ini dilakukan setelah Ejaan Pembaharuan.

Melindo merupakan akronim dari Melayu-Indonesia. Ejaan tersebut, sesuai dengan namanya, disusun atas kerja sama antara pihak Indonesia yang diwakili oleh Slametmuljana, dan Pihak Persekutuan Tanah Melayu (Malaysia), yang dipimpin oleh Syed Nasir bin Ismail.

Pada 1959 Indonesia dan Malaysia berhasil merumuskan konsep ejaan bersama yang dikenal dengan nama Ejaan Melindo. Semula ejaan ini dimaksudkan untuk menyeragamkan ejaan yang digunakan di kedua negara tersebut. Namun, pada masa itu terjadi ketegangan politik antara Indonesia dan Malaysia, ejaan itu pun akhirnya gagal diresmikan. Sebagai akibatnya, pemberlakuan ejaan itu tidak pernah diumumkan.

Substansi Ejaan Melindo pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep Ejaan Pembaharuan karena kedua ejaan itu sama-sama berusaha menyederhanakan ejaan dengan menggunakan sistem fonemis. Kecuali itu, penulisan diftong pun sama-sama didasarkan pada pelafalannya.

Seperti halnya pada Ejaan Pembaharuan, huruf e taling pada Ejaan Melindo ditulis dengan menggunakan tanda garis di atasnya. Hal itu dimaksudkan sebagai tanda pembeda dengan e pepet.

Hal yang berbeda ialah bahwa di dalam Ejaan Melindo gabungan konsonan tj, seperti kata tjinta, diganti dengan c menjadi cinta; juga gabungan konsonan nj, seperti pada kata njonja, diganti dengan huruf nc yang sama sekali masih baru. Dalam Ejaan Pembaharuan kedua gabungan konsonan itu diganti dengan ts dan ň.[]

Leave a Reply